
"Apa? Uji keberanian? Malam ini?" aku bertanya dengan ekspresi kaget. Jujur saja aku tidak menyukai uji keberanian sama sekali. Aku memang takut, tapi aku tidak mau menunjukkan nya karena hal itu memalukan.
"Yap. Lagipula kita akan pulang sebentar lagi. Sangat disayangkan kalau tidak ada permainan ini~" jawab Darwin antusias.
Aku sama sekali tidak bertanya balik. Aku takut Darwin mengetahui kekhawatiran ku dan berakhir mengangguku lagi. Jadi aku hanya bersikap santai walaupun hatiku sama Sekali tidak tenang.
Terlebih lagi tidak ada satu pun yang memprotes perkataan Darwin, seakan-akan mereka semua menyetujui rencananya.
Lalu Darwin pun menjelaskan rencananya dengan sangat antusias. Dia mulai mengatur kami semua untuk menjadi peserta, bahkan dirinya juga ikut menjadi peserta. Lalu membuat para pelayan villa menjadi panitia yang menyiapkan semua jebakan hantunya.
Pada akhirnya Darwin menyerahkan kepada seluruh pelayan untuk mengatur semuanya. Ini keputusan yang bagus juga menurut nya karena para pelayan lah yang paling mengetahui lokasi di pulau ini.
Semua orang mengangguk setuju dengan rencana Darwin. mereka semua menyambut dengan baik ide miliknya. Aku hanya bisa mematung menyaksikan semuanya.
Aku sama sekali tidak ingin ikut. Hutan itu terlihat lebih gelap dan menakutkan dari sekolah saat tengah malam. Tapi aku tidak bisa mengatakan apapun. Dan hanya bisa menangisi kemalangan ku di dalam hati.
Makan malam kami pun selesai. Normalnya aku akan tidur dengan bahagia. Tapi sekarang aku menunggu dengan gelisah di dalam kamar sampai tengah malam.
Apa aku harus pura-pura tidur?
Tidak. Cara itu tidak akan berhasil. Mereka pasti akan membangunkanku dengan cara apapun.
Apa aku harus pura-pura sakit?
Sebenarnya aku berpikir memakai cara ini sebelumnya. Tapi melihat wajah antusias Darwin saat merancang rencana permainan, aku mengurungkan niatku. Aku sama sekali tidak ingin menghancurkan nya.
Waktu pun berlalu...
Jadi, aku akhirnya mengikuti permainan itu dengan pasrah. Aku hanya berada di halaman villa, tapi itu sudah sangat gelap. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku berada di hutan belakang. Bukankah suasananya akan lebih menakutkan?
"Kau tidak apa-apa?" Darwin menegurku. Lamunanku pun langsung buyar.
"Tidak apa-apa" aku berpura-pura bersikap santai.
"Sekarang kita akan mengambil undian. Giliran mu" Darwin menyodorkan kaleng penuh dengan kertas lipat padaku.
Aku pun mengambil salah satu kertas dan mendapatkan nomor 5. Aku mengernyit kan kening bingung sambil membolak-balik kertasnya. Untuk apa nomor ini?
"Semuanya, tunjukkan nomor kalian" kata Darwin kemudian. Lalu dia tersenyum. "Kalau kalian mendapatkan nomor yang sama, berarti kalian sekelompok. Dan nomor itu adalah urutan kalian masuk ke dalam hutan" dia menjelaskan.
Aku langsung mencari seseorang dengan nomor yang sama denganku. Dia adalah salah satu teman pria yang dibawa oleh Lista. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Padahal aku berharap bisa sekelompok dengan Darwin atau Shin. Tapi aku benar-benar tidak beruntung.
Darwin dan Shin sekelompok dengan orang lain yang sama sekali tidak kukenal -teman Lista. Tapi Lista juga tidak beruntung. Dia sekelompok dengan salah satu teman wanitanya. Padahal dia sudah menatap Shin dengan tatapan memangsa.
Mereka sudah membuat petunjuk jalan di dalam hutan, jadi kami hanya harus mengikuti petunjuk jalan itu sampai selesai.
Sebenarnya aku menyukai tipe permainan dengan unsur petualangan atau pun penjelajahan seperti ini. Tapi yang membuatku tidak senang adalah kenapa semuanya harus dilakukan di malam hari 😠Padahal kalau dilakukan di siang hari juga akan menyenangkan.
"Kau tidak apa-apa?" tiba-tiba sebuah suara menegurku.
"Em?" aku menoleh dan ternyata itu Shin.
Shin mengamati Nana sepanjang waktu. Dan gadis itu terus berdiam diri di tempat dan melamun. Padahal biasanya dia sangat aktif. Ini sangat aneh bagi Shin. Dia berpikir gadis itu sedang sakit atau tidak enak badan.
"Aku tidak apa-apa" kataku kemudian.
Shin merespon dengan mengangguk kecil.
Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tiba-tiba seseorang memanggil Shin. Mengatakan bahwa ini adalah gilirannya.
"Aku pergi dulu"
"Oke"
Aku berada di urutan kelima. Itu adalah urutan paling akhir. Aku tidak tahu ini adalah hal yang baik atau buruk.
Kemudian aku mencari teman setimku. Pria itu berada jauh dariku, dia sedang berbicara dengan Lista. Kalau tidak salah Lista mendapat kan nomor 4. Dia akan maju lebih dulu. Lalu disusul olehku.
Teman setimku itu benar-benar dingin. Dia hanya menatapku sinis saat aku menyapanya. Lalu dia tiba-tiba pergi meninggalkan ku untuk bergabung dengan Lista dan kelompoknya. Padahal aku tidak melakukan sesuatu yang menyinggung nya sama sekali. Ini akan membuat ku lebih tidak nyaman.
Bersama dengan orang seperti itu di dalam hutan yang sangat gelap. Aku benar-benar tidak beruntung.
***
"Kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?" kata Lista.
Pria di depannya mengangguk mengerti.
Lista tersenyum dan menyentuh bahu pemuda itu.
"Lakukan tugasmu dengan baik. Aku juga akan melakukan tugasku. Kalau kau berhasil, hadiah yang besar akan menunggumu"
Mata pria itu langsung berbinar. "Aku pasti akan melakukan nya dengan baik!"