Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Pelukan


Rusa mistis ini membawaku terbang entah kemana. Aku tidak berani melihat ke bawah karena takut terjatuh. Padahal aku sudah selamat. Tidak mungkin aku membahayakan diriku lagi dengan bertindak ceroboh. Lagipula aku cukup yakin rusa ini tidak akan membawaku ke tempat aneh.


Punggung rusa ini sangat nyaman. Bulu-bulu lembut nya membuat ku terlena. Dan dengan bodoh nya, aku benar-benar terlelap di atas punggung rusa itu. Semua ini karena aku kelelahan dan hari juga semakin larut. Jadi aku tertidur tanpa sadar.


Mata raksasa rusa mistis itu bergerak ke atas saat tahu Nana tertidur.


"Nikmati waktumu penjelajah" Rusa itu berkata dengan bahasa manusia. Tapi tentu saja Nana tidak mendengar nya karena dia sudah terlelap.


Saat aku bangun, aku berada di tempat asing lagi. Aku terbaring di sebuah tumpukan jerami di dalam hutan. Bahkan langit sudah mulai terang juga.


"Sudah pagi?" aku bergumam tak percaya sambil mengucek mataku yang sepat.


Rusa itu menghilang dan meletakan ku kembali di dalam hutan. Tapi masalahnya aku tidak mengingat jalannya sama sekali. Apa aku akan tersesat dengan bodoh untuk yang kedua kalinya?


Tapi sekarang bukan saatnya untuk mengeluh. Aku harus kembali ke villa. Semua orang juga pasti sedang mencariku kan? Aku sudah hilang selama satu malam, mereka pasti mencariku. Walaupun aku sedikit ragu bahwa mereka melakukan nya. Lagipula, aku bukan tokoh yang terlalu penting juga untuk dicari....


Aku tidak mau berdiam diri di tempat ini. Aku merasa haus dan sedikit dehidrasi. Aku harus menjelajah hutan ini kembali untuk menemukan beberapa petunjuk. Setidaknya aku harus menemukan manusia lainnya untuk bisa kembali.


Haaa~ Aku lelah...


Kenapa aku harus mengalami nasib buruk seperti ini? Kecemburuan seorang wanita benar-benar menakutkan! Tidak bisa membayangkan apa yang dilalui Rin selama bertahun-tahun dengan wanita gila ini.


Aku hanya berjalan beberapa langkah, tapi tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras di atas langit. Sontak aku langsung menoleh ke atas.


Heli itu? Bukankah itu milik Shin?


Itu adalah helikopter yang pernah ku naiki sebelumnya.


"HEIII! HALOOOO!" Aku berteriak dengan kerasnya sambil melambaikan tanganku seperti orang gila.


"AKU DISINIIII!" Aku berteriak sangat keras. Mungkin paru-paruku akan lepas.


Aku berteriak dan terus berteriak. Sampai akhirnya helikopter itu turun mendekat dan berhenti.


Sebenarnya tidak mungkin benda itu mendarat di tengah hutan karena tidak ada lahan kosong disini. Jadi helikopter itu hanya turun sedikit sampai pantatnya menyentuh dedaunan. Lalu pintu terbuka dan sebuah tangga gantung mulai turun. Seseorang mulai memakai tangga gantung itu turun dan melompat di depanku.


Wow! Ini sangat keren. Mengingat kanku adegan di film yang ku tonton. Tapi sekarang bukan saatnya menganggumi hal itu.


"Shin?" aku menatap Shin dengan ekspresi bersemangat. Dia benar-benar mencariku.


Shin mendarat di atas tanah setelah dia sampai di anak tangga terakhir.


Aku berlari menghampiri nya. Hampir saja aku memeluk nya. Tapi aku sadar dan langsung menghentikan langkah ku.


Shin tidak bergerak dari tempatnya. Dia mengunci tatapannya padaku dengan ekspresi sedikit menyeramkan.


Apa dia marah padaku?


Kalau benar, aku juga jadi takut untuk mendekati nya. Aku bahkan tidak sanggup untuk bertatapan dengan nya.


Krak, krak, krak


Aku berusaha memalingkan tatapan ku ke samping. Tapi aku tetap bisa melihat sosok Shin. Dia mendekati ku sampai jarak kami hanya beberapa centimeter.


"Aku minta maaf" aku membungkukan tubuh ku dengan cepat untuk meminta maaf. Ini bukan keinginan ku untuk menghilang semalaman. Sehingga menyusahkan semua orang. Aku tidak pernah menyangka bahwa ada orang yang berencana untuk membunuh ku.


Tapi tiba-tiba Shin mengangkat tangannya. Aku sedikit gugup saat melihat itu. Tapi, GRAB! Shin memelukku dengan cepat!


Aku melotot kaget karena tidak bisa memproses apa yang terjadi.


"Shin...?" aku bergumam bingung.


Tapi Shin malah mempererat pelukannya. Secara perlahan dia tiba-tiba membenamkan kepalanya di pundakku. Membuat ku tersentak kaget.


"Jangan lakukan lagi..." aku mendengar suara Shin. Suaranya sangat kecil.


"Tidak akan..." aku menjawabnya lemah.


Waktu berlalu. Kami berpelukan selama beberapa menit. Aku sangat gugup. Ini pertama kalinya aku berpelukan dengan lawan jenis. Jadi tanpa sadar wajahku memerah karena malu.


Terlebih lagi pelukan ini terasa sangat canggung. Shin hanya mengeluarkan satu kalimat dari mulut nya dan membisu setelah nya. Aku juga tidak berani berbicara. Sehingga suasana terasa sangat sunyi dan canggung.


Shin akhirnya melepaskan pelukannya setelah lima menit berlalu. Aku melihat ekspresi nya. Jujur saja ekspresi nya tenang dan datar. Aku jadi bingung dengan tingkah Shin saat ini.


Apa maksudnya pelukan itu? Apa dia mencemaskan ku? Atau dia merasa bersalah karena aku tiba-tiba menghilang?


Shin mulai menatap ku lalu mengulurkan tangannya. "Ayo" katanya lembut. "Naik lebih dulu"


"Um oke" aku pun mulai naik ke tangga gantung itu secara perlahan dengan bantuan Shin. Saat sampai di dalam helikopter, aku melihat Darwin disana, sedang duduk di kursi pengemudi dengan gugup nya.


"Kau benar-benar ditemukan" kata Darwin sambil menoleh dengan gerakan kaku.


Sebenarnya Shin menyuruh nya untuk mengendalikan pengemudi sementara saat dia menjemput Nana di bawah. Tapi Darwin tidak punya pengalaman untuk mengemudikan helikopter. Intruksi Shin sangat sederhana saat dia mulai turun "Jaga kemudinya agar tidak bergerak" hanya intruksi tidak jelas seperti itu. Jadi tentu saja Darwin sangat gugup.


Shin masuk tidak lama kemudian. Darwin mendesah lega. Setelah memindahkan tangga gantung kembali ke dalam heli, mereka mulai berganti posisi. Shin kembali ke posisi pengemudi sementara Darwin pindah ke kursi belakang, tepat di sampingku.


"Apa yang terjadi padamu kelinci kecil? Kenapa kau tiba-tiba menghilang semalaman seperti itu?" tanya Darwin sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.


"Kalau aku menceritakan cerita yang sebenarnya, apa kalian percaya padaku?" kataku sedikit mengeluh. Bisa jadi mereka menganggap ku berbohong. Atau mungkin menganggap ku orang gila dan berhalusinasi.


"Aku tidak akan melakukan itu" Shin dan Darwin berkata secara bersamaan dengan ekspresi sungguh-sungguh.


Aku mengernyitkan kening ku sambil menatap mereka satu persatu. Setelah aku mulai mengumpulkan niat, aku menceritakan semuanya. Menceritakan bagaimana pria itu mendorong ku ke dalam tebing. Lalu aku ditolong oleh rusa mistis. Rusa itu membawa ku terbang kembali ke pulau. Jujur saja, cerita ku terlihat tidak nyata. Orang yang mendengar nya mungkin akan mengkritik ku kalau aku sedang berhalusinasi.


Setelah selesai, aku kembali melihat Darwin dan Shin. Aku ingin tahu ekspresi yang mereka buat. Aku bisa melihat bahwa Darwin meragukan penjelasan ku. Sementara aku tidak bisa melihat wajah Shin karena dia sedang mengemudi di depan.


Haa~ aku sudah menduga. Harusnya aku tidak perlu menambahkan cerita tentang rusa mistis itu. Mereka akan menganggap aku benar-benar gila sekarang.


"Apa dia benar-benar mendorong mu ke tebing?" Shin tiba-tiba bertanya.


"Ya" kataku serius. "Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu" Mungkin Lista bisa menyuruh nya untuk melakukan hal itu. Tapi orang itu benar-benar gila juga karena dia dengan berani membunuh seseorang. Aku sebenarnya juga tidak yakin apakah Lista terlibat atau tidak.