Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Suapan dan Foto


Shin meninggalkan ruangan setelah dia memastikan aku baik-baik saja. Aku juga mulai terlelap saat Shin pergi. Entah kenapa aku merasa mengantuk. Padahal hari belum petang, belum tengah hari juga, sekarang masih jam Sepuluh pagi! Mungkin karena kepalaku terluka. Jadi efek ingin beristirahat ini muncul secara tiba-tiba.


Aku tertidur sampai sore. Saat aku terbangun, seorang pelayan datang membawakan makanan ke dalam kamarku.


Aku terdiam menatap makanan di depanku. Makanannya enak. Tapi moodku untuk makan tidak ada sekarang.


Aku melamun memikirkan nasibku selama liburan ini. kalau dipikir kan lagi liburan nya sangatlah menyedihkan. Aku tidak mendapatkan foto apa pun. Juga terkena lemparan bola sampai kepalaku terluka. Untung saja kondisiku tidak parah sehingga aku tidak kehilangan ingatan. Aku hanya bersyukur bola itu bulat bukan benda tajam atau benda tumpul yang bisa membuat kepalaku robek.


Setelah meratapi nasib cukup lama. Aku muali perlahan menyentuh sendok untuk memakan makananku. Aku tidak tahu bahwa aku melamun selaam sejam lebih.


Tapi Shin tiba-tiba masuk ke dalam kamarku dan membuatku berhenti makan untuk kedua kalinya.


"Kau belum makan?" Shin melihat makanan yang tidak tersentuh di tempatnya dengan kening berkerut.


"Aku sedang makan" aku menunjukan sesendok makanan yang hampir masuk ke dalam mulutku.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Shin. Tapi pria itu tiba-tiba mengambil kursi dan duduk di depan ku.


"Apakah kau perlu disuapkan supaya mau makan?" tanya Shin dengan wajah cemberut.


"Aku akan sangat senang kalau kau melakukannya" kataku spontan. Walaupun aku sedikit bercanda.


"..."


Aku tidak tahu Shin akan tiba-tiba mengambil sendok dari tanganku dan mulai menyuapiku. "Buka mulutmu" katanya.


Aku mematung sesaat. Tapi aku dengan patuh membuka mulutku. Aku merasa nostalgia. Bukankah baru kemarin dia menyuapiku daging panggang barbeque?


Umu, apa aku sudah terbiasa dengan perlakuan Shin yang seperti ini?


"Istirahatlah. Jangan melakukan hal aneh lagi" suara Shin melembut.


Aku hanya memperhatikan Shin sambil mengerjapkan mataku, tidak memikirkan apa pun. Otakku kosong saat ini. Bahkan aku juga tidak memiliki pemikiran kotor tentang Shin. Ini sangat tidak normal!


"Terima kasih..." aku mengucapkan nya spontan, tanpa kusadari.


Tangan Shin langsung terhenti dan wajahnya memerah. Aku yang melihat sikap malu-malu Shin juga menjadi salah tingkah. Akhirnya kami diam membisu sambil menundukkan kepala kami.


"Tidak masalah" Akhirnya Shin nembuka mulutnya dan berkata lirih. Dia mulai menyuapi Nana lagi. Tapi kedua orang itu membisu, seakan-akan mereka hanya berbicara pada hati mereka sendiri. Sampai akhirnya Nana menghabiskan makanannya.


"Selesai" kata Shin lirih. Nana hanya mengangguk. "Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggil pelayan"


"Em" Nana mengangguk patuh


Mereka tetap membisu sampai akhirnya Shin keluar dari ruangan itu.


Setelah menghabiskan makanan ku, beberapa detik kemudian pelayan itu kembali masuk untuk mengambil perlengkapan makananku.


Aku merebahkan diriku di atas kasur dengan perut penuh sambil memikirkan perlakuan Shin tadi.


Apa dia khawatir padaku?


Aku memerah malu saat memikirkan nya dan tanpa sadar aku berguling-guling senang di atas kasur.


Bukannya dia juga perhatian terhadap Lista? Cih! Apa dia melakukan hal seperti itu kalau ada yang terluka? Berarti aku sama sekali tidak menerima perhatian khusus apapun.


Memikirkan hal itu membuatku cemberut. Rasa maluku hilang dalam sekejap.


"Lebih baik aku mandi~" Aku dengan enggan bangkit dari kasurku, tapi aku tetap harus mandi.


Nana membersihkan tubuhnya. Mengganti baju dan perbannya. Saat dia membuka perban miliknya untuk melihat lukanya, dia mengerjap kaget. Lukanya sudah mengering dan itu tidak terlalu besar. Dia bisa keluar tanpa perban. Lagipula terlalu berlebihan memberi perban pada luka seperti ini. Mereka terlalu khawatir karena kepalaku berdarah.


Aku melepaskan perbannya dan menggantinya dengan plester kecil. Lalu aku menutup luka itu dengan poni rambutku.


Tanpa terasa matahari sudah mulai terbenam. Hari sudah menjelang malam. Aku melihat bahwa langit berwarna orange dari jendela kamarku, dan matahari mulai terbenam dari laut.


Pemandangan yang indah!


Aku mengambil kameraku dengan cepat. Pelayan sudah mengembalikan kamera milikku saat aku tidak sadarkan diri. Lalu aku bergegas menuju pantai.


CEKREK! CEKREK!


Aku mengambil foto matahari terbenam. Lalu aku mulai menganguminya. Itu sangat indah sekali. Aku pun mengambil beberapa foto sebelum matahari itu terbenam sepenuhnya.


Tanpa Nana ketahui seseorang mengawasi nya. Dia adalah pria, teman Lista, yang mengarahkan bola voli itu padanya.


Pria itu melintas secara tidak sengaja. lalu dia melihat Nana keluar dari villa dan mengikutinya.


Saat dia tahu bahwa Nana berada di pesisir pantai, sesuatu yang jahat berbisik di hatinya. Dia ingin mendorong Nana ke arah pantai. Karena dia tahu, kalau rencananya berhasil Lista akan mengakuinya. Dan Jabatan ayahnya di perusahaan utama akan naik. Lalu mungkin saja nona besar itu akan tertarik padanya. Dia berangan-angan dan memikirkan banyak sekali hal


Saat dia mulai mempersiapkan mental nya untuk melakukan itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Shin datang menghampiri gadis itu. Dia mengernyitkan kening tidak senang dan berpikir bahwa gadis itu beruntung. Tapi dia tidak melakukan apa-apa dengan itu.


"Sial!" dia hanya menggerutu kesal sebelum kembali masuk ke dalam villa.


***


Matahari sudah terbenam sepenuhnya. Aku ingin kembali ke dalam villa, tapi tiba-tiba suara yang familiar menggelitik telingaku.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Shin?" Aku mengerjap kaget. "Aku hanya mengambil beberapa gambar"


Shin melirik kamera di tengannya sebelum dia mengernyit dengan ekspresi tidak senang. "Bukankah sudah kubilang padamu untuk istirahat? Kenapa kau berkeliaran di sekitar sini?"


"Aku baik-baik saja. Lagipula pemandangan seperti ini jarang terjadi. Kita hanya menginap sebentar di pulau ini. Aku ingin memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk mengambil beberapa foto yang bagus. aku juga akan tetap melakukan nya besok" kataku, berusaha menjelaskan dengan semangat.


Shin hanya bisa menghela napas pasrah. "Sebaiknya kau kembali sekarang. Istirahatlah. Aku akan menyuruh pelayan mengantar makan malam ke kamarmu" kata Shin.


Tapi Nana tidak mendengar kan. Saat dia melihat sosok Shin yang berada di sampingnya, matanya langsung berbinar. Dalam sekejap sebuah potret legendaris terbentuk di dalam pikirannya.


"Posisi ini...Pose ini...Shin! Jangan bergerak!"


"?"