Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Pantai


Aku bangun dengan keadaan sangat segar hari ini~


Hari ini adalah hari kedua aku berlibur di pulau ini. Dan sekarang adalah saatnya bermain di pantai. Aku benar-benar tidak sabar.


Bahkan pagi-pagi sekali, aku melihat beberapa orang sudah ada di pantai untuk menikmati matahari terbit. Kelihatannya mereka adalah pasangan, dan mereka adalah teman-teman Lista.


Aku tidak bermaksud untuk mengintip pasangan yang sedang berkencan. Hanya saja ketika aku keluar dari villa untuk menikmati udara pagi yang segar, aku melihat pemandangan tidak terduga itu.


Jiwa penasaran ku bergetar dan tentu saja aku langsung mengintip. Aku belum melihat siapapun di villa tadi. Aku mengira mereka masih tidur. Tapi ternyata dua orang sudah bangun lebih dulu untuk berduaan.


Ada banyak tempat mengintip yang strategis. Aku hanya akan memilih salah satunya.


Sebenarnya aku merasa bersalah karena mengintip seperti ini. Tapi aku sama sekali tidak bisa menahan rasa penasaran ku! Apa yang akan kedua orang itu hanya bermesraan seperti pasangan pada umumnya. Aku bahkan sedikit merasa bosan dan sedikit iri.


"Kelinci kecil, apa yang sedang kau lakukan?"


"Uwah!"


Darwin tiba-tiba berbisik di belakangku dan membuat jantungku melompat kaget.


"Apa yang kau lakukan?" kataku protes.


"Melihatmu" jawab Darwin polos sambil tersenyum licik.


Darwin saat ini mengenakan setelan set baju olahraga berwana putih. Kelihatannya dia sedang lari pagi dan secara kebetulan melihat Nana di tempat ini.


"Baiklah, aku akan kembali ke dalam. Aku ingin makan" kataku cemberut. Kelihatannya Darwin tidak melihat keberadaan pasangan itu.


"Kelinci kecil, jangan suka mengintip orang lain. Nanti matamu bintilan. Kalau kau memang ingin seperti itu, aku bisa menjadi pasanganmu" Teriak Darwin saat dia melihat Nana mulai berbalik.


Oke, aku salah. Darwin tahu apa yang aku lakukan. Mendengar perkataannya membuatku merasa sangat malu. Dia menganggap aku seorang pengintip dari perkataanya! Padahal itu tidak benar!


"Humph!" aku hanya berbalik untuk menatapnya benci sambil mendengus kesal. Setelah itu, aku berlari dengan kecepatan kilat ke dalam villa. Aku benar-benar tidak mau melihat siapa pun sekarang saking malunya.


Walaupun aku biasanya bersikap memalukan, tetap saja mengintip orang berpacaran itu keterlaluan. Aku tidak mau dijuluki sebagai pengintip! Sama sekali tidak mau! Semoga saja Darwin tidak menyebarkan apa yang terjadi hari ini ke orang lain.


***


Shin bangun pagi-pagi sekali agar bisa mengawasi para pelayan. Sekaligus dia ingin memantau pekerjaan nya secara online dan sahamnya. Dia juga perlu menghubungi dokter yanh dikirim ke pulau ini karena kondisi kritis Lista. Intinya dia benar-benar sibuk, walaupun tidak sesibuk biasanya. Dia hanya perlu menyelesaikan semuanya di pagi hari dan dia akan mempunyai waktu bebas sampai nanti malam.


Kamar Shin berada di lantai tiga villa dan langsung berhadapan dengan halaman depan villa. Pemandangan pesisir pantai juga masih bisa terlihat dari jendela kamarnya.


Saat itu, kebetulan Shin melihat ke arah pantai dan menemukan dua sosok yang dia kenal. Shin mengernyit kan keningnya untuk memastikan kedua sosok itu. Tapi itu memang dua orang yang dia kenal, Darwin dan Nana!


'Apa yang mereka berdua lakukan? Kenapa mereka bersama-sama pagi-pagi sekali?' pikir Shin curiga.


Pikirannya tidak senang sekarang. Hatinya tidak nyaman sama sekali. Dia memikirkan banyak sekali hal sehingga dia tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya.


"Tu...tuan..." Pelayan yang dari tadi berdiri di samping nya untuk mengantar kan kopi bergetar ketakutan. Karen sekarang Shin sedang menggenggam erat layar monitor laptop yang ada di atas mejanya. Sampai menimbulkan bunyi KRAKKK yang hebat. Sehingga pelayan itu ketakutan membayangkan kekuatan dari tuan muda mereka. Padahal tuan muda mereka terlihat lemah. Tapi Shin tidak menyadari hal itu.


Shin tersadar setelah mendengar suara pelayan itu. Dan dia juga sedikit kaget saat tahu bahwa dia merusak laptopnya.


***


Akhirnya waktu bermain di pantai tiba! Aku perlu waktu untuk menyiapkan semua perlengkapan berenang dan juga kamera. Kamera kecil ini akan aku gunakan untuk mengambil beberapa foto bagus dan mendokumentasikan nya. Setelah itu aku langsung menghampiri pantai.


Di kehidupanku yang sebenarnya, karena aku tidak punya teman, aku sama sekali tidak pernah bermain di pantai dengan orang lain. Aku hanya kesana sekali untuk melihat laut. Dan merasa sedikit iri saat melihat orang lain bermain dengan teman dan keluarga mereka.


Tapi, kukira situasiku tetap sama sekarang. Saat aku tiba, semua orang sudah membentuk kelompok mereka masing-masing dan tertawa bersama. Jujur saja, aku sedikit sedih. Tapi aku tidak bisa menunjukkannya. Lagipula aku hanya akrab dengan Shin dan Darwin disini.


Sekarang aku sangat merindukan Rin. Liburan seperti ini lebih menyenangkan kalau kau bermain bersama dengan sahabat perempuan mu. Ha~ andai saja Rin bisa ikut.


Tapi aku tidak bisa bersedih seperti ini. Rasa kesepian ini adalah hal yang biasa. Aku selalu menghadapi hal seperti ini setiap hari.


Baiklah~


Aku harus semangat dan melupakan semuanya. Aku pun mengambil kameraku dan mnegambil beberapa foto bagus. Beberapa foto adalah foto pemandangan. Dan beberapa foto lagi ada foto dada pria.


Semua pria yang ada disini termasuk kategori tampan. Tentu saja mereka memiliki visual seperti itu karena mereka teman dari para tokoh utama. Aku sengaja mengatur kameraku menjadi "zoom view" dan mengambil beberapa foto dada telanjang tanpa mengambil wajah mereka. Lalu terciptalah beberapa item tambahan yang akan kusimpan di dalam jurnal harta karun milikku.


Mereka semua sekarang sedang bermain voli pantai. Jadi aku mengambil beberapa gambar yang bagus hehehe


"Kelinci kecil, apa kau menjadi pengintip lagi~" Darwin tiba-tiba berbisik di telingaku.


Aku membelalak kaget dan hampir menjatuhkan kameraku.


"Apa yang kau katakan? Omong kosong!" kataku protes sambil menyembunyikan kameraku ke belakang punggung.


Tapi tiba-tiba aku merasa kameraku lepas dari genggamanku. Saat aku menoleh Shin berada di belakangku sambil fokus melihat semua foto yang kuambil. Seketika aku merasa Shin menatapku dengan tajam.


"Kembalikan kamerakuu!" Aku bangkit dan berusaha mengambil kameraku. Tapi Shin menghindar dengan cepat dan mengangkat kamera itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.


"Barang sampah apa yang kau ambil ini" kata Shin dingin.


Wajahku berkedut. "Apanya yang sampah! Kau sama sekali tidak pernah menghargai hobi orang lain! Itu adalah karya seni! Kembalikan!" teriakku sambil berusaha menariknya walaupun sia-sia.


Wajah Shin berubah masam saat mendengar jawaban Nana. "Aku akan menghapusnya" gerakannya sangat cepat. Dia mengambil memori kamera dan melemparkannya ke dalam laut.


Aku melongo dengan semua tindakannya.


"Apa yang kau lakukan?" kataku tak percaya dengan mata membelalak ngeri.


"Aku akan menyita kameramu" dengan cepat dia melempar kameraku itu ke pelayan rumah yang sedang mengawasi mereka. Nana bahkan tidak sadar bahwa ada pelayan yang sedari tadi berdiri di dekatnya. "Bawa kembali ke dalam villa"


"Baik tuan"


Aku hanya menyaksikan semua itu dengan tubuh mematung. Astaga! Kenapa ini terjadi padaku? Aku bahkan tidak mengusiknya! Kenapa mereka selalu mengusikku! Aku bahkan hampir menangis saat membayangkan nasib mengerikan memori kameraku yang sudah terbawa ombak laut. Ada banyak sekali item bagus di dalam nya. Dan itu lenyap hanya dalam beberapa detik. Menyedihkan...


Semangatku kembali lenyap. Aku juga tidak punya energi untuk mengomel pada Shin. Entah kenapa aku merasa enggan. Jadi aku hanya bisa berbaring lemas di kursi santai dan menatap langit-langit.


'Aki tidak akan menyerah. Aku pasti akan mengumpulkan banyak pria tampan. Lihat saja! Menggoda itu sangat mudah. Apalagi aku cukup percaya diri dengan penampilan ku, humph! Aku akan berlibur sendiri ke pantai umum untuk memburu beberapa pria tampan dengan tubuh penuh karya seni. Lalu aku akan mendokumentasikan semuanya dengan baik' aku sama sekali tidak akan menyerah untuk membentuk harem yang penuh dengan pria tampan. Setidaknya izinkan aku bersenang-senang di dunia ini sebelum kembali ke dunia nyata dan menghadapi hidupku yang membosankan lagi...