
Deg!
Aku tidak tahu kalau ada kenangan yang begitu berharga dan menyakitkan di tempat ini. Jangan salahkan aku. Tempat ini sama sekali tidak muncul di komik, jadi aku tidak mengetahui nya. tapi seharusnya aku tidak berkata kasar tentang tempat ini.
"Maafkan aku..." kataku menyesal.
"Tidak perlu minta maaf" kata Shin sambil tersenyum kecil.
Sangat jarang melihat pria ini tersenyum, jadi aku langsung terpesona sebentar.
"Lagipula bukan ini yang ingin kutunjukkan." Shin menunjuk ke langit dengan jarinya. "Lihat"
Aku langsung mengadah ke atas. Dan melihat bintang-bintang kecil yang berkelip dengan indah.
"Bagaimana mungkin..." kataku tidak percaya. Sangat sulit melihat bintang di perkotaan karena polusi, tapi kita bisa melihat bintang-bintang dengan jelas di tempat ini.
"Ini adalah salah satu keistimewaan tempat ini." kata Shin. "Beberapa pasangan akan menikmati waktu mereka untuk melihat bintang di tempat ini. Termasuk ayah dan ibuku"
Aku mengangguk. "Tempat ini memang indah. Kau benar" kataku terpesona.
"Karena itu, kita akan mengadakan pesta pertunangan di sini"
Uhuk!
Aku tersedak saat mendengar pernyataan Shin. Semua hal indah di depan mataku langsung lenyap seketika.
"Apa?"
"Aku akan merenovasi tempat ini."
"Tapi, tapi, tempat ini terlalu besar!" kataku tidak percaya. Kau ingin mengundang berapa banyak tamu. Bahkan kau bisa membangun sepuluh gedung besar di tanah ini!
"Tapi itu tidak masalah bukan?" kata Shin sambil mengedipkan matanya dengan polos.
Kalah...
Aku benar-benar kalah...
Aku tidak bisa memiliki pikiran yang sama dengan mereka. Otakku benar-benar tidak sampai...
Ada yang aneh denganku. Harusnya aku senang dengan perlakuan ini. Tapi kenapa aku merasa aneh? Seakan dia berasal dari dunia yang berbeda.
Bahkan aku diam membisu saat Shin mengantarku ke rumah.
oke, aku lupa.
Aku memang berada di dunia yang berbeda saat ini.
"Aku harus beradaptasi"
***
Keesokan harinya, aku menikmati hari liburku. Aku tidak melakukan apa pun. Hanya berguling di atas tempat tidur seharian dan menatap komputer untuk menonton beberapa drama.
Astaga! Ada banyak aktor tampan. Aku ingin mencuci mata. Tapi saat aku melihat para aktor itu, wajah Shin tiba-tiba muncul di pikiran ku.
"Shin lebih tampan" aku bergumam tanpa sadar. Saat aku menyadari bahwa aku memuji pria itu, wajahju memerah karena malu.
"Tentu saja dia tampan! Dia adalah tokoh utamanya! Kalau saja dia tidak menyebalkan, humph!"
Aku juga mendapat kan beberapa pesan dari Darwin, yang menyatakan bahwa dia meminta maaf atas kejadian kemarin. Tentu saja aku hanya membacanya dan membiarkan pesan itu. Aku tidak mau membalasnya. Lebih tepatnya nya jangan pedulikan pria jahil itu, cih!
Tanpa sadar hari ini pun terlewati.
Keesokan harinya, aku bangun pagi untuk bersiap ke sekolah. Ini cukup sulit untukku, karena aku selalu bangun siang saat liburan, bangun pagi kembali membuatku seperti zombie karena kekurangan tidur.
Kami di arahkan untuk masuk kelas seperti biasa dan duduk di bangku kami.
"Nana, aku merindukan mu~" kata Rin bersemangat. Seketika rasa mengantuk ku menghilang karena senyuman dan sentuhan malaikatku.
"Aku juga merindukanmu~" kataku.
"Kita akan libur panjang setelah ini. Ayo habiskan libur bersama" aku mengajaknya
Ha~ aku menghela napas.
Aku tahu Rin akan berkata seperti itu. Aku sama sekali sudah menduganya.
"Tidak apa-apa. Tapi lain kali kita harus berlibur bersama oke" aku memberinya semangat. Lagipula kita masih kelas 1. Kita masih mempunyai waktu dua tahun untuk menghabiskan waktu bersama. Pastinya waktu untuk itu akan datang, walaupun masih jauh di masa depan.
Guru wali kelas kami akhirnya memasuki kelas. Semua murid menjadi tegang. Pasalnya sekarang hasil ujian akan diumumkan. Ini menentukan nasib kami, apakah kami akan menghadapi neraka kelas remidi atau tidak. Bahkan aku juga merasa tegang walaupun Shin sudah memberitahuku hasilnya.
"Baiklah, kita akan mulai" sang wali kelas tersenyum dan membuat semua murid semakin merinding.
Lalu guru itu mulai memanggil nama murid satu per satu sambil memberikan selembar kertas hasil tes mereka. Apabila skor keseluruhanmu adalah nilai merah, kau wajib mengikuti kelas remidi selama liburan.
Para murid maju satu per satu untuk mengambil hasil tes mereka. Sampai akhirnya tiba giliran ku. Aku agak gugup saat maju bahkan tanganku berkeringat.
"Terima kasih Bu Pin" kataku sambil menerima selembar kertas putih. Lalu aku kembali ke kursiku.
Setelah aku kembali, Rin yang duduk di sampingku segera maju karena itu gilirannya.
Kertas di tangaku hanya terlipat satu. Aku membukanya dengan hati-hati. Yang kulihat pertama apakah aku melihat warna merah di kertas itu. Tapi aku sama sekali tidak melihat warna merah. Aku tersenyum lega.
Kemudian aku melihat skor akhirku. Itu "70". Skor milikku sama sekali tidak buruk. Aku pun tersenyum senang.
Karena terlalu senang aku tidak memperhatikan bahwa Rin sudah duduk di sampingku.
"Hasilnya bagus?" tanya Rin saat dia melihat wajah Nana bersemangat.
"Hm, hm" aku mengangguk antusias.
"Rin berapa skormu?"
"Um... tidak banyak. itu cukup..." jawabnya malu-malu. Tapi aku yakin dia mengambil posisi pertama. Karena itulah Ken sangat tertarik padanya.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanyaku. Lagipula skor akhir kita sama sekali bukan rahasia. Mereka akan memajangnya di papan pengumuman setelah ini.
Rin mengangguk dan memperlihatkan kertas yang dipegangnya.
"98.5" Skor itu terlalu tinggi. Astaga! Seperti yang kuduga dari tokoh utama. Aku jadi penasaran berapa skor milik Shin.
"Baiklah, kelas berakhir hari ini. Silahkan nikmati libur panjang kalian. Untuk yang mendapat nilai merah, kalian wajib hadir minggu depan untuk mengikuti kelas" Guru itu mengakhiri pidatonya dan berjalan ke arah pintu.
Setelah wali kelas pergi, kelas menjadi sangat ricuh. Para murid itu membicarakan nilai mereka. Ada yang senang karena mereka lulus. Ada yang membanggakan skor tinggi milik mereka. Dan ada yang menunduk sedih karena mendapat kan nilai merah.
"Kelinci kecil, berapa skormu?" kata Darwin tiba-tiba. Dalam sekejap bocah itu sudah berada di dekat kami.
"Skorku lumayan" kataku bangga sambil berkacak pinggang.
Sejujurnya aku belum pernah mendapat skor 70 dalam hidup ku. Nilai ini cukup tinggi.
Ternyata aku cukup juga pintar kalau belajar hehehe...
"Tapi skor malaikatku sangat menakjubkan" kataku bangga sambil menunjukkan skor milik Rin.
"Wow, pantas saja dia menjadi murid beasiswa tunggal" kata Darwin kagum sambil menatap Rin penuh arti.
Lalu Darwin menatap Shin yang ada di dekatnya. "Aku kira posisimu akan tergeser sekarang, hahahaha" Darwin tertawa sambil menatap Shin dengan mata mengejek.
Shin merasa jengkel. Dia mengintip skor yang ada di tangannya. Itu "96".
"Aku kalah 2.5 point" gumam Shin sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Dia merasa kesal dengan skor yang diperoleh nya.
Rin menatap Shin sambil tersenyum penuh kemenangan. Dari sikap Darwin dia sudah tahu bahwa pria sombong itu mendapat skor yang lebih rendah darinya. Rin sedikit bangga pada dirinya.
"Karena itulah Nana bisa lulus juga. Semuanya karena aku, tentu saja" katanya.
Shin mendengar nya dan tatapannya menjadi tajam. Dua orang itu saling melemparkan tatapan tajam. Sampai akhirnya Nana dengan antusias mendukung Rin. "Tentu saja aku lulus karena kau, malaikat ku~" katanya manja sambil memeluk lengan Rin.
Melihat sikap Nana, Shin merasa cemburu pada Rin yang dipeluk oleh Nana.
"Cih!"