
Aku mengikuti Shin dan kami segera menuju ke ruang makan. Saat kami tiba di sana, yang lainnya sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Kelinci kecil duduk di sini" Darwin memberiku aba-aba sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
Aku ingin sekali duduk di sana, tapi tiba-tiba Shin bergerak cepat dan mengambil posisi itu.
"Eh?" Aku kaget dan berusaha menahan rasa kecewaku. Kenapa? Karena hanya ada satu kursi kosong yang tersisa. Dan itu di samping Lista!
Ini gila!
Ini gila!
Tidak mungkin aku duduk di samping nenek sihir itu! Aku tidak akan bisa makan dengan tenang memikirkan dia menaruh racun dalam makananku. Memikirkan nya saja sudah membuatku sangat merinding.
Sebenarnya Lista menyisakan kursi kosong di sampingnya untuk Shin. Tapi Shin tiba-tiba berbalik dan duduk di kursi lain, membuat Lista Kecewa. Dia juga berwajah masam saat melihat orang paling di bencinya mulai duduk di samping nya. Tapi dia berusaha menahannya.
Aku duduk dengan ketakutan puncak. Sisi kiri dan sisi kananku adalah musuh. Seakan-akan aku dikelilingi dengan aura membunuh yang sangat kuat, yang membuat ku harus menebalkan mental pikiran milikku. Ini benar-benar membuatku pusing dan stress. Aku ingin liburan hanya untuk bersenang-senang. Tapi ternyata aku harus bekerja keras untuk bertempur melawan musuh seperti ini.
Makanan pun mulai diantar kan satu per satu oleh para pelayan. Hanya dalam beberapa menit meja di depan kami pun dipenuhi dengan berbagai makanan.
Dalam sekejap aku melupakan bahwa aku di kelilingi oleh musuh dan mulai menatap semua makanan dengan tatapan ganas. Sebenarnya aku bukan tukang makan. Aku hanya makan sedikit. Tapi entah kenapa sejak mempunyai gaya hidup orang kaya, aku menjumpai banyak sekai makanan enak yang tidak akan pernah ku makan jika aku menjadi orang biasa. Jadi aku cukup antusias.
Seperti kata pepatah, makanan mahal sangatlah sedikit. Tapi tak diragukan lagi makanannya sangat enak. Bahkan daging steaknya melebur di dalam mulut saking lembutnya.
Hmm, aku menyukai ini...
Aku juga menjumpai beberapa makanan dengan nama asing yang aneh. Aku tidak ingat namanya. Bagiku itu namanya hanya daging ayam, daging sapi, daging ikan, telur ikan. Masalah penamaan aku sama sekali tidak peduli.
"Kau sangat rakus kelinci kecil...." sindir Darwin.
Aku hanya memberinya tatapan tajam sebelum melanjutkan makanku.
Apanya yang kelinci? Kenapa dia suka sekali memanggil ku kelinci?
Aku tidak akan menjadi kelinci yang setiap hari makan sayuran.
Aku ini karnivora oke. Aku lebih suka dagingm Seharusnya dia mencari julukan yang lebih keren untukku. Cih!
Aku mengira juga aku akan makan dengan damai. Sampai akhirnya Lista tiba-tiba menumpahkan semangkuk sup padaku.
Lalu dengan wajah polosnya dia berkata "Maafkan aku...aku tidak sengaja, tanganku kepeleset"
Aku menatap bajuku yang sudah terkena tumpahan sup jamur. Ini menyebalkan. Aku hanya bisa menatapnya dengan tajam, sebelum akhirnya aku menumpahkan minumanku di depannya dan membasahi roknya.
"Ah! Maaf, aku panik karena pakaianku kotor dan tidak sengaja menyenggol gelasnya" kataku tidak bersalah.
Jangan berani menindasku. Walaupun aku pemgecut, aku bukan gadis lemah baik hati seperti Rin yang selalu ditindas tiap hari, humph!
Wajah Lista berubah masam.
Tak! Dia memukul meja sambil berdiri.
"Berhenti berpura-pura! Kau sengaja kan!" teriaknya.
Aku menatap nya balik. "Kau juga sengaja kan menumpahkan sup itu"
Kami saling melemparkan tatapan tajam dan suasana ruang makan menjadi senyap. Semua orang menghentikan gerakan mereka dan menatap kami.
"Jangan berkelahi di meja makan. Ini benar-benar merusak pemandangan" sindirnya kepada dua wanita itu. Hal inilah yang menyebabkan Shin berpikir bahwa para wanita itu merepotkan.
"Shin! Wanita jahat itu membuat masalah duluan!" aku menyampaikan pendapat ku. Karena hubungan ku dengan Lista benar-benar sudah memburuk kali ini. Aku sama sekali tidak peduli lagi dengan ucapanku. Nenek sihir tetap lah nenek sihir.
"Apa orang tuamu mengajarimu sopan santun? Bagaimana bisa perkataan mu begitu kasar " sindir Lista.
"Humph! Bukan urusanmu! Aku diajarkan dengan baik sejak kecil kok. Yang aku heran apa yang diajarkan orang tuamu sehingga kau menjadi licik seperti nenek sihir." aku balas menyindir nya.
Lista tidak menerima sindiran Nana dan wajahnya berubah jelek.
"Aku sudah bilang berhenti bukan?" kata Shin lagi.
Kedua wanita itu langsung terdiam.
"Shin, kau mengajakku untuk liburan bukan? Tapi kau malah mengacaukan segalanya dengan mengajak orang ini! Aku sama sekali tidak terima! Liburanku sama sekali tidak akan menyenangkan sekarang. Aku membencinya!" aku menatap Shin lekat-lekat dan langsung meninggalkan meja makan.
Shin mematung.
Darwin salah tingkah karena merasa tidak nyaman.
Aku sebenarnya tidak terlalu marah. Tapi akhirnya aku bisa mengungkapkan unek-unek ku. Aku sama sekali tidak suka Lista ikut. Aku tidak masalah dia membawa gadis lainnya, tapi dia malah membawa nenek sihir itu. Humph!
Lihat saja, aku marah dan akan mengabaikan kalian!
Ini menyenangkan juga karena aku sama Sekali belum pernah marah pada Shin.
Tapi...tidak akan buruk kan?
Aku takutnya hubungan ku akan semakin buruk ke depannya. Ah~ tapi siapa yang peduli. Aku memang tidak ada rencana untuk akrab dengan tokoh utama. Jadi ya sudahlah ~
Aku tidak boleh menahan perasaan ku bukan? Kalau suka akan aku katakan suka. Kalau tidak suka aku akan bilang tidak suka. Seperti itulah aku. Jadi kalau aku marah, ini juga wajar. Karena suasana hatiku tidak senang saat ini.
Aku menuju kamarku sambil melihat bajuku yang kotor dan basah karena tumpahan sup itu. Benar-benar sangat tidak menyenangkan.
Jelas-jelas nenek sihir itu sengaja, tapi tidak ada seorang pun yang membelaku. Mereka menutup mata mereka seolah tidak terjadi apa pun sama sekali. Kalau aku adalah Rin, mungkin aku akan tertindas terus karena tidak melawan. Tapi sayangnya aku bukan gadis lemah lembut dan pemaaf seperti Rin. Kalau ada yang mengerjaiku, aku akan membalasnya!
Kukira aku harus mandi sebelum tidur. Aku juga harus mencuci bajuku.
Haa~ sangat tidak menyenangkan mencuci baju di saat liburan. Karena mereka tidak menyediakan pengering pakaian, kita perlu menjemur pakaian sendiri. Kalau tidak pakaianku akan menjadi bau.
Membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk mandi dan mencuci baju. Setelah selesai, aku merebahkan tubuhku di kasur lagi. Dengan nyaman berguling-guling ke kiri dan ke kanan untuk melepas stress sebentar.
Lalu aku menatap ponselku. Aku teringat rencana sebelumnya untuk menelpon Shin untuk menganggunya. Tapi aku sedang tidak mood untuk melakukan itu sekarang.
Dengan wajah cemberut aku meletakkan ponselku ke meja di samping kasur.
Aku mengantuk. Lebih baik tidur saja. Walaupun mataku tidak mau menutup. dengan pikiran kosong aku menatap langit-langit kamar.
Sampai...
Dingggg!
Aku mendengar bunyi bel. Aku mengembalikan kesadaran ku dan menatap pintu. Ada yang berkunjung ke sini. Tapi siapa? Siapa yang mau mengunjungi ku malam-malam begini?