
Aku merasa sangat mengantuk sekarang. Kelopak mataku sudah terasa berat. Kau tidak bisa menahannya lagi, aku akan tidur lebih dulu. Setelah pamit dengan semua orang yang ada di meja makan, aku langsung menuju kamarku dengan bahagia. Aku akan tidur nyenyak hari ini, benar-benar hari yang menyenangkan.
Semua orang juga pergi satu per satu, menyelesaikan makan mereka. Bahkan Lista juga meminta temannya untuk mengantarkannya ke kamar dengan nada lesu. Sangat mengejutkan dia tidak meminta Shin untuk melakukan itu.
Semua orang akhirnya pergi, meninggalkan Shin dan Darwin di meja makan.
TAK!
Shin meletakkan sumpitnya dan menatap Darwin serius.
"Apa maksud dari tindakan mu?" dia menatap Darwin dengan tajam.
Darwin yang normal akan ketakutan dengan tatapan itu dan memilih untuk melontarkan lelucon lalu melarikan diri. Tapi sekarang, Darwin bersikap sangat tidak normal.
"Apa maksudmu?" dia bertanya balik dengan nada berani sambil memutar-mutar sumpit kayu di jarinya.
"Kau tahu Nana tunanganku bukan? Jangan bersikap di luar batas" tegur Shin dengan nada bijak. "Ada batas antar teman, kau jelas-jelas sudah melewati nya"
"Heh~" Darwin tertawa mengejek. "Apa kau cemburu pada sahabatmu sendiri sekarang?"
Wajah Shin langsung berubah masam. "Jangan bicara omong kosong!" bentaknya. "Aku tidak akan pernah cemburu. Tidak penting untuk melakukan hal seperti itu"
"Pffttt hahahaha" Darwin langsung tertawa lebar. "Sifatmu yang seperti inilah yang aku tidak suka dari kecil." katanya tajam. "Kau kira terus bersikap seperti itu akan membuat figurmu menjadi sangat keren?" sindirnya.
"Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan?" Shin meninggikan nadanya sekarang. Dia sedikit emosi.
"Bukankah kau cemburu padaku? Kenapa tidak kau katakan dengan jujur saja? Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting juga sejak lama" dia memainkan gelas kaca yang ada di depannya. "Aku menyadari perasaanku pada kelinci kecil. Aku menyukainya" katanya berani.
Mata Shin langsung melotot. Dia dengan cepat berdiri lalu GRAB! Menarik kerah baju Darwin. "Hentikan omong kosongmu!" bentaknya dengan nada tajam.
"Omong kosong apa?" Darwin tersenyum mengejek. "Aku sama sekali tidak bercanda kali ini. Aku sangat serius"
"Dia adalah tunanganku!" Shin menekankan nadanya seakan-akan itu adalah keputusan yang mutlak.
"Tunangan hanyalah jabatan kosong. Aku masih bisa memilikinya selama dia menyukaiku" kata Darwin acuh tak acuh. "Lagipula kau tidak pantas menjadi tunangannya. Kalau kau benar-benar menyukai seseorang, kau tidak akan pernah membuat orang itu bersedih. Tapi kau selalu memperlakukan Nana dengan tidak baik. Bahkan barusan kau bermesraan dengan Lista dan membuat nya bersedih. Kalau aku menjadi kau, aku tidak akan pernah membuat sedih orang yang kusukai" kata Darwin sambil menatap tajam Shin.
DEG!
Shin merasa sesuatu menusuk jantungnya. Dan itu terasa sangat sakit.
'Apa aku melakukan hal yang salah?' pikir Shin. Dia mulai bertanya-tanya dengan tindakannya sendiri.
"...."
Darwin memperhatikan bahwa Shin mematung sejenak karena perkataan nya dan dia tersenyum. Dia melepaskan tangan Shin dari bajunya, lalu merapikan bajunya. Setelah itu dia meninggal meja makan.
"Aku benar-benar akan mendapatkannya Shin. Jangan terlalu percaya diri. Karena dia bukan seperti gadis lainnya yang selalu tergila-gila padamu" Darwin melontarkan kata-kata terakhirnya sebelum sosoknya menghilang.
Shin duduk di kursi dengan lemas. Dia menyandarkan tubuhnya di atas kursi lalu mengadahkan kepalanya ke langit-langit. Dia mengangkat salah satu lengannya ke wajahnya untuk menutupi kedua matanya.
Pikiran Shin sangat linglung sekarang. Dia tidak tahu apa yang salah dengan tubuh nya. Tapi perasaan sakit, sedih dan was-was itu bercampur aduk dalam dirinya. Dia bahkan tidak pernah sepusing ini saat memikirkan bisnisnya.
"Kenapa semuanya sangat rumit..." gumam Shin lirih. Dia sangat meragukan dirinya sekarang.
Shin belum pernah memiliki rasa suka kepada seseorang. Dia tidak tahu bagaimana menyadari perasaan itu. Saat dia mulai sadar bahwa dia tertarik dengan orang lain, tembok harga dirinya langsung datang dan menghalangi semua perasaan itu.
"Tuan, ada masalah" seorang pelayan tiba-tiba menghampiri nya dan membuat semua lamunannya berhamburan.
"Ada apa?"
"Nona Lista demam..." kata pelayan itu cemas.
Shin langsung tersentak. Kalau gadis itu benar-benar demam di saat-saat seperti ini akan menyusahkan. Dokter akan tiba besok, tidak ada yang bisa merawat nya malam ini.
"Bukankah tadi dia baik-baik saja?" tanya Shin.
"Saya tidak tahu tuan..." jawab pelayan itu lirih. "Teman nona Lista tiba-tiba memanggil saya untuk memberitahu tuan tentang kabar ini...."
Shin pun pergi bergegas ke kamar Lista. Teman Lista yang melihat Shin langsung panik.
"Lista demam!" sahutnya sambil menunjukkan termometer. "Dia sebelumnya baik-baik saja. Saat aku ingin menemaninya tidur, dia tiba-tiba mengigil kedinginan dan mengigau. Bagaimana ini?" katanya panik.
"Tenanglah" Shin langsung memerintahkan pelayan untuk membawa obat penurun panas dan juga plester kompres demam.
"Shin..." Lista membuka matanya. Lalu dia mulai memegang tangannya. "Jangan tinggalkan aku..." katanya lemah.
Saat Lista menyentuh tangannya, Shin merasa sedikit nostalgia. Dia mengingat kembali kejadian saat dia menemani Nana di dalam kapal. Semuanya persis seperti ini.
Tanpa sadar Shin termenung dan kembali mengingat kenangan itu. Dia bahkan masih bisa mengingat rasa lembut yang berasal sari tangan Nana dan rasa hangatnya.
'Apa aku benar-benar menyukainya?' pikir Shin serius. Dia ingin menyangkalnya lagi. Tapi dia langsung teringat ancaman Darwin dan merasa was-was. Dia bingung sekarang. Haruskah dia menyetujui perasaan aneh ini atau lebih memilih harga dirinya lagi untuk berpura-pura tidak tahu.
"Tuan, saya sudah membawanya" kata pelayan. Lamunan Shin kembali menjadi buyar.
"Rawat dia" perintah Shin.
Pelayan itu pun merawat Lista dengan hati-hati. Dia membantunya minum obat dan meletakkan kompres demam itu di kepalanya. Shin tidak melakukan apa pun dan hanya mengamati
Sementara Lista menjalani semuanya dengan suasana hati yang masam. Dia ingin Shin merawat nya. Tapi ternyata Shin menyuruh pelayan rendahan itu untuk merawatnya. Walaupun Lista ingin protes, dia juga tidak bisa mengutarakan nya karena dia berperan sebagai orang sakit sekarang.
Sebenarnya Lista tidak benar-benar sakit. Suasana hatinya menjadi memburuk karena dia diabaikan saat itu. Lalu dia mulai mengamuk.
Sahabat nya yang menemaninya menghiburnya dengan memberinya saran. Rencana berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian Shin.
Dia memanipulasi suhu di termometer itu dengan mencelupkan nya ke dalam air hangat. Lalu menyuruh sahabatnya untuk berlari panik mencari pelayan dan memanggil Shin kesini.
Dia memiliki harapan yang besar sekali pada rencana ini. Tapi targetnya tetap memperlakukan nya dengan dingin.
"Istirahatlah" kata Shin.
"Shin, jangan tinggalkan aku. Maukah kau menemaniku sampai tertidur?" katanya lirih dengan mata sedih.
"Maaf. Dokter akan datang besok untuk merawatmu. Aku benar-benar lelah sekarang dan ingin istirahat" kata Shin jujur. Dia memang benar-benar kurang tidur. Dan dia terlalu banyak pikiran juga. Tubuh dan kepalanya sangat lelah sekarang.
"..."
Shin pun meninggalkan ruangan itu sambil terus memikirkan tentang keanehan pada hatinya.