Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Apa Aku akan Mati?


Dia mengingat dengan jelas intruksi dewinya.


"Aku akan merubah petunjuk jalannya. Pura-pura saja pergi ke arah itu. Lalu rubah kembali ke posisi awal tanpa ada yang memperhatikan. Petunjuk jalan kedua, arah yang benar yaitu kiri"


"Bagaimana kau bisa tahu arah petunjuk jalannya?" dia bertanya dengan ekspresi kagum.


Lista mengibaskan rambutnya percaya diri. "Aku membayar salah satu pelayan dengan sesuatu yang memuaskan".


Maka dia pun melakukan apa yang diperintahkan. Saat dia melihat plang kedua, dia berpura-pura tidak tahu bahwa itu sudah dirubah. Dan mengikuti arah yang salah. Lalu saat dia berada di dekat plang, dia memutar petunjuknya kembali ke arah kiri.


Lalu dia juga mengingat intruksi lainnya.


"Ujung pulau ini adalah tebing. Lakukan tugasmu dengan baik. Setelah itu berpura-pura lah tersesat karena semua orang pasti akan mencari kalian. Kalau mereka menanyakan kenapa kalian berdua menghilang, katakan saja gadis itu tiba-tiba menghilang, jadi kau berusaha mencari nya. Tapi ikut tersesat."


Dia mengernyit kan kening sedikit ragu. "Tapi bagaimana kalau gadis itu memberitahu yang sebenarnya?" tanyanya gugup.


Lista tersenyum penuh percaya diri. "Mayat tidak akan pernah bisa berbicara..."


***


Aku melihat tebing di bawah. Sangat menyeramkan. Bayang kan saja kalau manusia terjatuh, pasti mereka akan menjadi bubur lalu jatuh ke laut dan menjadi makanan ikan.


"Ayo kembali" aku menarik tangan pria itu, ingin mengajaknya berbalik kembali ke arah hutan. Tapi pria itu tidak bergerak dari tempatnya.


"Ada apa?" aku bingung. Kenapa dia tiba-tiba menundukkan kepalanya seperti itu? Dia bersikap aneh.


"maaf..." dia bergumam lirih.


"Kenapa kau meminta maaf..."


aku belum sempat menyelesaikan pembicaraan ku, tiba-tiba tubuhku terdorong ke belakang.


"Eh?" mataku bahkan tidak berkedip saking terkejutnya. Aku bisa melihat dengan jelas pria itu mengangkat tangannya untuk mendorong ku!


Secara perlahan tubuhku jatuh ke arah tebing. Pikiranku benar-benar membeku sesaat. Sebelum akhirnya aku berusaha menggerakan tanganku untuk menahan tubuhku agar tidak jatuh.


Aku berhasil! Aku berhasil memegang batu di sisi tebing. Walaupun batunya benar-benar tajam, bahkan telapak tangan ku terluka. Tapi aku tidak berani melemahkan peganganku sama sekali.


"Apa yang kau lakukan?! Tolong aku?!" aku berteriak dengan seluruh kekuatan ku.


"..."


tapi pria itu hanya menatapku dengan ekspresi kosong.


"Hei!"


Aku berusaha mempererat pegangan ku, walaupun itu benar-benar sakit.


Aku tidak ingin mati...


Aku bahkan belum pernah merasakan seperti apa itu kematian. Jujur saja aku takut. Membayangkan tubuhku terlempar ke bawah dan hancur. Lalu rasa sakit yang teramat sangat. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan nya.


"Hei, tolong aku!" aku berteriak dengan mata memohon. Mataku mulai berair sekarang karena ingin menangis.


"..."


Tapi pria itu sama sekali tidak merespon.


"Aku akan memaafkan mu! Aku tidak akan mengatakan pada siapapun kalau kau mendorong ku! Aku bersumpah! Tolong aku..." aku memohon dan terus memohon.


Lalu pria itu mulai bergerak. Aku menatapnya penuh harap. Berharap dia akan menolong ku. Tapi harapan itu langsung pupus saat dia mulai mengambil batu dan melemparnya ke arah tanganku.


Aku kehilangan peganganku dan jatuh ke bawah tebing. Tubuhku terasa melayang dan wajah pria itu semakin mengecil.


Aku mati. Aku menangis dengan keras. Tapi aku tetap menutup mataku karena takut. Sehingga air mataku mengering dengan cepat karena terbawa angin.


Mungkin ini tidak terlalu buruk bukan? Kalau aku mati di dunia ini, aku mungkin akan kembali ke dunia nyata? Tapi tetap saja aku tidak yakin. Bagaimana kalau aku benar-benar menghilang dari dunia ini dan tidak akan pernah kembali?


Tapi aku tidak bisa melakukan apapun sekarang...


123456789...10...


Aku terus menghitung dan akhirnya aku mendarat. Aku sudah bersiap dengan rasa sakitnya.


Em? Tapi kenapa rasanya tidak sakit? Bukannya aku menabrak batu-batu tajam?


Tapi rasanya seperti aku terjatuh ke tempat yang empuk. Bahkan aku bisa merasakan bulu-bulu lembut di telapak tanganku.


Aku pun membuka mataku. Dan melongo saat sadar bahwa aku tidak berada di tebing sekarang. Tapi terbang!


Ini terlalu mengejutkan! Aku melihat ke bawah dan menemukan bahwa aku mendarat di sebuah benda yang bisa terbang sekarang.


Apa ini? Tanduk? Kaki empat? Bukannya ini rusa? Tapi kenapa rusa bisa terbang? Dan bahkan ukurannya juga tidak normal. Rusa ini seukuran gajah dan kami benar-benar terbang ke atas!


"Anu...tuan rusa..." aku berusaha memanggil nya. Dengan bermodalkan imajinasiku saat menonton film fantasi. Mengira bahwa rusa ini bisa berbicara. Ini memang bukan komik fantasi tapi tetap saja ini dunia komik. Bagaimana pun juga kehadiran ku ke dunia komik ini sudah termasuk dalam fantasi ajaib!


Tapi sayangnya rusa itu tidak merespon sama sekali. Oke, dia tidak bisa berbicara.


Rusa itu terus terbang. Anehnya, walaupun aku berada di punggung nya, aku tidak merasakan tekanan angin sama sekali. Rasanya benar-benar bahwa aku sedang duduk di karpet bulu yang sangat empuk.


Aku tidak tahu sang rusa akan membawaku kemana karena dia tidak bisa berbicara sama sekali. Tapi aku bersyukur rusa ini benar-benar menyelamatkan ku.


Aku kembali mengingat penjelasan Shin tentang legenda pulau ini. Apa ini rusa yang disebut dalam legenda itu? sang hewan mistis?


Aku benar-benar tidak percaya akan menemuinya di tempat ini. Dan binatang mistis ini juga menolongku.


Aku selamat. Saat aku kembali, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang sudah mendorong ku. Setidaknya dia harus masuk penjara karena sudah berniat membunuh!


Terutama Lista. Walaupun aku tahu dia jahat. Tapi siapa yang mengira dia akan benar-benar merencanakan rencana pembunuhan? Gadis kejam itu. Aku akan menuntut balas saat aku kembali. Tidak akan kubiarkan satu orang pun lolos. Lihat saja, humph!