Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Feno dan Shin (2)


"Lepaskan!" balas Shin sambil menepis tangan Feno. "Berani-beraninya kau menganggu orangku!"


"Orangmu?" aku bergumam tidak senang. "Sejak kapan aku menjadi bawahnmu!" bentakku sambil menatap kesal Shin.


Shin mengernyitkan kening tidak senang. "Aku ingin membantumu....Tapi kau benar-benar tidak tahu diri....ya sudahlah!" dia berkata dengan nada merajuk.


Entah kenapa muncul perasaan aneh dalam hatinya saat mendengar penolakan Nana.


"Eh? Eh? Tidak!" dengan gerakan cepat aku langsung bersembunyi di belakang Shin. "Cepat urus pria kasar itu!" Aku menunjuk Feno dan memerintah Shin dengan nada tak tahu malu. "Bukankah dia musuhmu? Kalau begitu musuh kita sama!"


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Feno. "Gadis sialan!" dia mengumpat. "Aku bilang ikut aku!" dia bersikeras sambil berusaha menarik tangan Nana.


Tentu saja Shin langsung menghalanginya. Akhirnya kedua orang itu saling melempar tatapan mata tajam lagi.


Hmmm, kurasa kedua orang ini memang musuh bebuyutan. Tapi mereka berkelahi dengan adu mulut dan tatapan tajam. Bukan dengan tinju? Bukannya Feno itu cukup panas dan brutal? Maksudku, dia bisa dengan mudah menumbangkan Shin, tapi dia menahan amarahnya. Ternyata orang liar itu bisa menahan amarahnya dihadapan musuh terbesarnya.


"Sudah, sudah, sudah!!" akhirnya Rin berteriak histeris dengan suara imutnya. "Hentikan kalian semua! Kalian menganggu pekerjaanku! Kalian juga menganggu para pelanggan!" kata Rin sambil menatap kami satu per satu.


"Kau tidak bisa seperti ini! Aku harus menintograsi gadis ini. Aku yakin dia merencanakan sesuatu yang jahat. Dan dia masih menyembunyikan sebuah rahasia!" kata Feno bersikeras.


Mendengar pernyataannya, aku melotot tidak senang. "Kau benar-benar keras kepala. Aku bilang aku tidak sengaja ke sini. Aku tidak menguntit atau pun merencanakan sesuatu yang jahat!!"


"Hentikan!" Rin berteriak lagi. Dia mengarahkan tatapan padaku. "Apa benar kau mengawasi kami?"


"Uhh..."


Aku menundukkan kepalaku dengan perasaan tidak enak. Bagaimana ini? Aku tidak bisa berbohong pada sahabatku sendiri. Atau Rin tidak akan pernah percaya padaku lagi! Aku harus menemukan cara untuk mengatasi semua ini....


Ah! Aku tahu....


"Maaf Rin" kataku sambil membungkukkan badanku. "Aku memang mengawasi kalian...Tapi aku tidak punya maksud lain. Saat itu aku melihatmu sedang asyik berbincang dengan seorang pria. Besoknya aku melihat kalian lagi. Jadi aku tidak bisa menahan rasa penasaran dan mengikuti kalian. Aku kira kalian sedang...yah...PDKT....kau tahu maksudku kan..." kataku dengan wajah polos yang memerah malu.


Psshhh~ Wajah Feno dan Rin langsung memerah.


Pfttt~ Shin terkikik, berusaha menahan tawanya.


Ini cara terbaik! Kita percepat saja alur antara kedua orang ini agar mereka sadar bahwa mereka saling tertarik satu sama lain.


Aku menatap Shin dengan sedih "Maafkan aku tokoh utama...aku tidak bermaksud menjodohkan malaikatmu dengan musuhmu sendiri...Tapi yah...perkembanganmu dengan Rin terlalu lambat. Aku yakin Rin pasti mempunyai kesan baik tentang Feno daripada dirimu. Apalagi mengingat kau pernah menghancurkan sepedanya dan tidak meminta maaf....Aku benar-benar kasihan pada tokoh utama ini. Kalau dia tidak bersama Rin, dia akan bersama nenek sihir Lista. Aku tidak yakin hidupnya akan bahagia. Kau harus semangat...mungkin akan terjadi keajaiban dan Rin akan menyukaimu....Jangan menyerah! Kau masih mempunyai dua saingan lagi (Ken dan Darwin). Aku akan mendukungmu dari belakang!' pikirku.


Shin melihat Nana menatapnya dengan mata kasihan. Mulutnya langsung berkedut. Dia merasa tidak enak. Pasti gadis ini memikirkan sesuatu yang aneh lagi.


'Apa yang dipikirkannya ?' pikir Shin penuh selidik.


"Oh?" aku mengangkat alisku. "baguslah Rin~" kataku senang sambil menghela napas lega. "Aku kira kau mulai PDKT dengan pria ganas ini. Aku benar-benar kasihan padamu kalau ini terjadi..." kataku dengan nada prihatin.


"Nana...."


Mulut Feno langsung berkedut saat mendengar perkataan Nana. Dia ingin menempelkan lakban pada mulut gadis itu. Kalau perlu dia ingin menjahitnya!


Aku menatap Feno dengan senyum kemenangan. Kau lihat! Karena kau tokoh utama, jangan menganggap dirimu tinggi! Bukankah aku mempermalukanmu dengan baik saat ini hehehe.


Ini balasan karena sudah melemparku ke dinding, menyergapku dan mengancamku! Selama ada tokoh utama wanita di sisiku, aku akan selalu terlindungi. Aku yakin aku bisa menaklukan para penebar madu ini. Lihat saja!


Feno tidak menjawab apa pun. Dia langsung berbalik pergi. Tapi saat sampai di depan pintu, dia menghentikan langkahnya dan menatapku. "Kau lihat saja nanti..." katanya mengancam sambil menggertakan gigi.


"Rin, kau lihat kan? Dia pria yang ganas~"


"Haa~" Rin menghela napas sambil memegang kepalanya. Dia merasa frustasi. "Kalau kau sudah selesai kau boleh pulang" dia menatapku dengan tatapan menyerah. Lalu matanya menatap Shin. "Kau juga! Kalau sudah selesai belanja kemarilah. Ada banyak antrian yang menunggu"


Shin menoleh dan melihat ada banyak orang yang mengantri dan memperhatikan mereka dengan tatapan tidak sennang.


Rin merasa frustasi karena hal ini. Dia takut para pelanggan ini marah dan melapor pada pemilik toko. Lalu dia akan kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa membiayai pengobatan neneknya. Dia benar-benar hampir menangis, memikirkan kalau hal itu benar-benar terjadi.


"Maaf..." aku merasa bersalah. Sebenarnya aku yang membawa masalah ini.


Tapi....walaupun aku terlibat, Feno dan Shin tetap saling bertemu dan membuat keributan di toko ini juga. Jadi ini bukan salahku sepenuhnya.


"Jangan khawatir...aku akan membereskan kekacauannya" kata SHin kemudian saat melihat wajah frustasi Rin.


"Hum..."


Shin langsung mengeluarkan barang belanjaannya. Apa-apaan itu? Dia hanya membeli beberapa bungkus kerpik kentang, snack poky dan dua botol minuman soda. Dia ingin bersantai ya?


Shin mengetahui bahwa Nana melonggo dan meliriknya. "Kau ikut aku" katanya.


"Ha?" aku mengernyitkan kening tidak senang. "Kenapa aku harus mengikutimu. Aku ingin pulang" kataku sambil membuat ekspresi jelek dengan bibir dimiringkan.


Kenapa dua orang tokoh utama ini selalu mengatakan "kau ikut aku"? Kenapa mereka ingin aku mengikutinya? Aku bukan pengikut! Aku bukan orang bawahan cih!


"Kau belum membayar jasaku karena sudah menyelamatkanmu" kata Shin sambil membayar belanjaannya. Setelah selesai, dia mengambil kantong belanjaan dan menarik tangan Nana. "Ayo" katanya dengan nada mendominasi.


Dalam sekejap, aku terseret untuk kedua kalinya....