
Setelah itu, aku menghabiskan hari-hariku seperti biasanya. Bersekolah dan bertemu dengan teman sekelas lalu tidur dan bermain game saat di rumah. Seminggu pun berlalu, dan aku sama sekali tidak menemukan kejadian istimewa yang terjadi. Aku tidak bisa seperti ini terus! Atau aku akan menjadi sampah dan membusuk di rumah!
"Argghh!" aku berteriak frustasi sambil melempar konsol game di tanganku. "Aku benar-benar bosan!!" aku berteriak.
Aku sudah masuk ke dunia lain, tapi kenapa kegiatanku tidak berbeda jauh saat aku masih berada di duniaku? AKu benar-benar tidak suka ini!
"Hmm...ayo ingat..." aku mencoba menguras otakku untuk mengingat momen penting yang ada di dalam novel. Seharusnya sehabis ini hanya ada momen pertemuan Rin dan Ken di perpustakaan. Dan sebentar lagi akan diadakan ujian permulaan. Ini juga asal mula mereka saling tertarik.
Sebelum momen ini, Rin hanya menghabiskan waktunya di tempat kerja dan bertemu Shin....
AH! Aku ingat! Kalau tidak salah, di dalam komik itu, Feno bertemu Rin di tempat kerjanya, yaitu sebuah swalayan yang ada di dekat pasar. Feno mulai tertarik pada Rin karena mereka memiliki hobi yang sama, yaitu mengoleksi novel roman! Saat aku mengetahui ini, image Feno yang keren itu benar-benar hancur! Kenapa sih author harus membuat pria keren dan dingin seperti Feno menyukai novel roman? Itu benar-benar berkebalikan dengan kepribadiannya dan merusak imagenya.
Lalu semenjak itu, Feno sering berkunjung ke swalayan itu untuk menemui Rin dan membicarkan hobi mereka. Lalu suau hari, secara tidak sengaja Shin juga masuk ke dalam toko. Akhirnya kedua musuh bebuyutan, Shin dan Feno bertemu. Ini akan menjadi adegan dimana kedua penjantan bertarung untuk merebutkan betina mereka! Untung saja Rin berhasil menenangkan mereka sehingga situasi yang mengerikan berkurang.
Apa aku harus menemui Rin ya? Untuk mengintip kejadian ini?
Oke, aku memutuskannya! Mulai besok aku akan mengintai tempat kerja Rin dan menyaksikan interaksi para tokoh utama itu. Walaupun aku tidak tahu kapan itu terjadi, mudah-mudahan saja aku belum melewatkan eventnya.
Jadi, keesokan harinya, sepulang sekolah. Aku sudah bersiap-siap untuk mengintai toko swalayan dimana Rin bekerja. Kali ini aku memutuskan untuk menyamar. Dan aku yakin penyamaranku sangat sempurna! Aku memakai baju daster khusus untuk para ibu-ibu. Memakai topi untuk menutupi rambutku dan syal untuk menutupi leherku. Aku juga memakai kacamata hitam anti sinar UV. Tidak lupa aku membawa keranjang belanja yang terbuat dari jerami. Menurutku penyamaran ini sudah cukup bagus. Aku akan membuat diriku seperti seorang ibu yang akan pergi berbelanja.
Dengan percaya diri aku mendekati toko dan aku melihatnya! Aku melihat Rin dan Feno sedang asyik mengobrol. Aku melihat Rin menjelaskan dengan antusias dan Fent yang sesekali tersenyum. Mereka memang seakrab ini ya? Bukankah perkembangan hubungan Rin dan Shin tidak ada kemajuan.
"Kalau begini, bisa-bisa Shin kalah..." gumamku sambil menggertakan gigi. Ceritanya akan jadi tidak asyik kalau para tokoh utama itu tidak bersama.
Tapi apa yang dilakukan Shin bodoh itu! Aku mengawasi mereka berdua di sekolah dan mereka bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain. Sangat berbeda dengan adegan yang ada dalam komik shoujo itu. Kalau begini, Shin bodoh itu akan terlambat dan Rin akan direbut oleh Feno.
Walaupun rasa suka Feno belum tumbuh sampai event pertukaran pelajar. Tapi aku bisa melihatnya. Aku bisa melihat mata Feno berbinar, yang menyatakan bahwa dia memang sedikit tertarik pada Rin.
Aku ingin melihat dari dekat. Jadi aku memberanikan diri untuk maju secara perlahan. Lalu berpura-pura sebagai pelanggan dan masuk dengan elegan. Aku bisa mengamati mereka dengan baik dari dalam dari pada dari luar.
Rin yang polos tentu saja tidak mengenali sahabatnya.
"Selamat datang" dia hanya menyambutnya dengan ramah seperti pelayan lainnya.
Tapi kalau Shin dan Darwin melihatnya. Mereka akan tahu bahwa itu Nana. Pada dasarnya, penyamaran Nana sangat payah.
Tapi tidak dengan Feno. Melihat penampilan aneh Nana, dia merasa curiga.
'Orang ini sangat mencurigakan' pikir Feno.
Aku merasa gugup saat tatapan Feno mengawasiku. Dan keringat dingin mulai keluar dari keningku. Tapi aku berusaha tenang dan berpura-pura melihat barang yang ada di rak toko. Aku berpura-pura berpikir, seperti orang yang bingung saat berbelanja.
Setelah beberapa menit, akhirnya tatapan tajam Feno menghilang dan dia kembali berbicara dengan Rin.
Haa~ aku menghela napas lega.
Aku dengan cepat memilih rak makanan yang dekat dengan mereka agar aku bisa menguping pembicaraan mereka. Tapi ini membosankan ~ Mereka hanya membicarakan beberapa novel dan adaptasi filmnya. Akhirnya aku kehilangan minat....
Aku mengambil beberapa makanan dan membawanya ke meja kasir. Saat Rin sibuk menghitung belanjaanku, Feno undur diri. Ternyata event itu tidak terjadi hari ini karena aku tidak melihat tanda-tanda Shin datang. Aku memutuskan untuk mengawasi lagi besok.
Keesokan harinya, aku memakai penyamaran yang berbeda dan mulai mengawasi di sekitar swalayan. Aku melihat Feno dan Rin lagi. Ternyata setiap sore Feno akan datang menemui Rin di swalayan. Tapi hari ini berakhir sama. Shin tetap tidak datang. Aku memutuskan untuk mengamati lagi besok.
Akhirnya, ini sudah hari keempat. Aku memakai penyamaran yang lebih sederhana. Aku menyembunyikan rambutku dengan syal dan memakai kacamata serta masker. Aku juga membawa ransel dan mantel panjang. Aku menyamar seperti murid sekolah biasa.
Aku masih mengintai di sekitar swalayan. Kali ini aku melihat Feno menuju swalayan. Ternyata orang ini benar-benar menemui Rin setiap hari. Aku mengikuti Feno menuju swalayan.
"Ah sepatu..." aku menggumam kesal sambil membenarkan tali sepatuku yang lepas.
Saat aku memandang ke depan, sosok Feno sudah menghilang! Kemana perginya orang itu?
Aku celingak celinguk mengamati sekitar, tapi tetap tidak menemukan jejaknya. Aku juga melihat Rin sendirian di meja kasir. Tidak mungkin orang itu tiba-tiba menghilang. Kemana dia?
Saat aku sibuk berpikir, tiba-tiba sebuah tangan membungkam mulutku. Tangan itu saat besar. Lalu tangan lainnya mengunci pinggangku dan menyeret tubuhku. Aku berusaha berteriak. Tapi suaraku tidak keluar karena dibungkam oleh tangan ini.
Akhirnya tubuhku terseret ke gang kecil yang tidak jauh dari swalayan.
BAK! Orang itu melepaskan tangannya dari mulutku dan melemparkan tubuhku ke dinding.
"Uhh..." aku meringis karena merasa kesemutan pada bagian punggungku.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau menculikku! Kau tidak tahu aku siapa...."
DEG! Aku bertemu mata dengan pelaku itu dan perkataanku langsung terhenti.
Feno menatapku dengan dingin dan dia mengunci tubuhku dengan kedua lengannya yang bersandar ke dinding. Secara perlahan dia mendekatkan wajahnya dan membuatku sangat gugup. Keringat dingin sudah bercucuran dari dahiku karena berusaha mempertahankan ketenangan diri.
"Siapa kau? Mengapa kau menguntitku setiap hari? Atau kau punya tujuan lain?"
Suara dingin Feno bergema, dan membuat bulu pundakku berdiri ketakutan.
***
Feno awalnya tidak menyangka, bahwa dia akan menemukan gadis dengan pengetahuan yang sangat luas di toko swalayan itu. Gadis itu sangat ramah dan baik. Lalu analisisnya juga sangat hebat.
Mereka berdua mempunyai hobi yang sama, yaitu mengoleksi novel roman dari penulis ternama.
(Anggap saja seperti novel yang ditulis oleh Tere Liye).
Hobi mereka sering dianggap remeh dalam masyarakat karena mereka tidak tahu bahwa novel-novel itu memiliki adegan tersembunyi yang membuat mereka ingin menganalisis jalan cerita endingnya. Karena satu topik, pembicaraan mereka sangat hidup.
Kebetulan toko swalayan itu dekat dengan rumahnya. Jadi Feno memutuskan untuk singgah selama beberapa hari untuk membahas hal itu dengan gadis kasir itu. Dua hari berlalu dengan biasa. Lalu dihari ketiga, dia merasakan hal aneh. Dia melihat seseorang dengan penyamaran aneh menatap padanya dan gadis kasir itu saat mereka berbicara. Awalnya dia tidak memikirkannya. Dia hanya menganggap orang itu penasaran. Tapi tebak apa yang terjadi! Orang aneh itu selalu mengintai di dekat swalayan dan mengamati mereka. Setiap hari penyamarannya selalu berganti. Tapi Feno tetap mengetahuinya karena penyamarannya sangat payah!
Feno pun mulai waspada dengan penguntit itu. Dia tidak tahu apa yang direncanakan penguntit ini. Kenapa dia hanya mengawasinya saat di toko swalayan? Tidak sampai di rumah?
Bukan berarti dia ingin penguntit ini mengikutinya sampai di rumah. Tapi ini aneh. Kalau penguntit ini mengikutinya dia akan mengikutinya sampai ke rumah. Tapi si penguntit hanya mengawasi di sekitar swalayan. Dia takut targetnya adalah gadis kasir itu. Dia tidak boleh membiarkan hal berbahaya terjadi pada gadis kasir itu! Dia harus menghentikan penguntit ini!
Akhirnya dia merencanakan untuk menjebaknya. Dan berhasil! Dia menyeret penguntit itu ke gang terdekat untuk mengancam dan menakutinya agar tidak menguntit lagi. Dia awalnya tahu bahwa penguntit itu seorang gadis. Tapi dia tidak tahu bahwa gadis ini masih muda. Dan pinggangnya sangat kecil dan ramping.
"Aku tidak melakukan apa pun. Aku memang sering berbelanja di tempat ini. Siapa yang mengikutimu!" penguntit itu terus mengelak sambil mengalihkan matanya menghindari tatapan mengancamnya. Feno merasa kesal. Dengan cepat tangannya bergerak dan melepas masker yang dipakai oleh si penguntit.
"Eh? Kau rasanya tidak asing..." gumam Feno bingung sambil menatap serius wajah penguntit di depannya.