Aku Hanya Karakter Pendukung

Aku Hanya Karakter Pendukung
Terjebak


Ujian hari ketiga berjalan lancar. Begitu pula hari keempat. Dan hari ini adalah hari terakhir. Setelah ini aku hanya perlu menunggu hasil ujian selama dua hari. Hari pengumuman adalah hari yang menentukan nasibku. Itu adalah hari yang lebih menakutkan dari pada hari ujian.


Hari ini aku bersiap untuk ujian terakhir.


Sebelum ujian, Shin membawakanku susu di pagi hari. Dia sudah melakukan hal ini selama lima hari berturut-turut sekarang. Jadi aku sudah merasa terbiasa. Walaupun dia hanya memberikan jajanan itu padaku tanpa mengatakan sepatah kata pun karena langsung melarikan diri. Hmm...apa dia malu? Karena aku menggodanya waktu itu? Kalau itu benar, pria itu sangat lucu.


Tapi, berdasarkan komik yang kubaca, kepribadian Shin tidak seperti itu. Dia memiliki sikap yang dingin dan keren. Bahkan di hadapan wanita yang dia cintai. Jadi untuk melihat Shin memiliki sifat malu itu sangat tidak mungkin.


Tapi anehnya, ternyata tidak hanya Shin. Secara tiba-tiba tiga orang teman sekelas, yang tidak akrab, tiba-tiba menghampiriku.


"Nana, bisa kita bicara sebentar?"


Aku sangat bingung dan curiga. Kenapa mereka tiba-tiba memanggilku dan ingin mengajakku berbicara?


Melihat wajah ragu Nana, tiga orang itu tersenyum ramah. "Jangan khawatir, kami hanya ingin memberitahumu sesuatu dan ingin mengajakmu kerja sama" kata mereka ambigu.


Karena rasa penasaran, akhirnya aku mengikuti mereka ke depan kelas. Aku masih sangat curiga dengan tingkah mereka, tapi aku sama sekali tidak mendapat bayangan tentang apa yang mereka bicarakan.


Salah satu dari mereka membawa 4 botol minuman yogurt lalu membagikannya ke kami. Aku menerima sati botol yogurt rasa original.


"Baiklah, aku tidak akan bertele-tele. Aku akan mengatakan rencananya" kata salah satu dari mereka.


"Kami ingin mengajakmu bekerja sama"


"Maksudnya?" aku mengernyitkan kening bingung.


"Aku mengumpulkan kita berempat, karena kita adalah orang yang paling bodoh di kelas ini" katanya blak-blakan.


Aku langsung tersentak. Aku tidak menyangkal kalau aku bodoh. Tapi haruskah dia benar-benar mengatakan kata "bodoh" dengan nada percaya diri seperti itu?


"Jadi? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali?" kataku lagi heran.


"Jadi ayo kita membentuk rencana untuk menyelamatkan diri!" jawabnya bersemangat. "Jangan pura-pura, kau pasti tahu bukan? Kita hanya perlu membujuk orang tua kita untuk berinvestasi di sekolah ini. Aku yakin ada beberapa petinggi sekolah yang akan membantu kita!"


Mulutku berkedut. Maksudnya menyuap? Kau kira aku gila? Aku memang bodoh dan sedikit mesum, tapi aku tidak akan pernah melakukan hal selicik itu. "Tidak!" aku menolak dengan tegas.


Tiga orang wanita itu langsung menatapku dengan tajam.


"Apa maksudmu tidak?"


"Kau benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama ya"


"Kau terlalu sombong dan percaya diri. Apa kau yakin bisa lulus dari semua mata pelajaran?"


"Aku yakin kau akan selalu mengikuti kelas remidi sepanjang hidupmu"


Mereka mulai berkata sarkas sambil menatapku tidak senang.


Ah~ akhirnya mereka menunjukkan wajah yang sebenarnya dan tidak berpura-pura baik padaku lagi"


"Tidak" kataku singkat, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka. Aku sama sekali tidak peduli kalau mereka membicarakanku di belakang dan menjelek-jelekanku. Tapi aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.


Aku kembali ke bangkuku. Saat bel masuk berbunyi, aku melihat tiga orang itu masuk juga. Mereka masih menatapku dengan mata dingin dan mengejek. Bahkan dari mereka mencibirku "sombong". Aku masih bisa mendengarnya, karena salah satu dari mereka duduk di depanku.


Ayolah~


Aku tidak boleh memikirkan hal-hal tidak penting seperti ini sehingga mengacaukan fokusku. Aku hanya perlu fokus pada ujian sekarang...


Aku berusaha menjawabnya semampuku. Tapi karena ujian kali ini essay dan bukan pilihan ganda, aku hanya perlu menuangkan apa yang ada di pikiranku.


Setelah beberapa menit, ujian akhirnya mendekati akhir. Aku hampir menjawab semua pertanyaan yang ada di lembar jawaban. Sampai akhirnya tiba-tiba sesuatu yang menggemparkan terjadi....


"Guru, saya ingin melapor!" teriak salah satu murid dengan lantang sambil mengangkat tangannya. Dalam sekejap murid itu menjadi perhatian seluruh kelas. Murid itu duduk di depanku, yang tak lain adalah salah satu dari tiga orang yang mengajakku untuk menyuap.


Jujur saja, saat dia angkat bicara aku merasakan perasaan tidak nyaman. Aku tidak tahu mengapa.


"Aku melihat ada yang mencotek" katanya. Perkataannya langsung menggemparkan seluruh kelas.


Aku juga mengernyitkan kening, heran.


"Apa maksudmu? siapa?" sang guru terpancing dan mulai menghampirinya.


"Murid yang di belakangku terus menerus meminta jawaban padaku. Dan aku melihatnya meletakkan catatan di botol minuman" jawabnya.


Mataku kosong. Murid di belakangmu? Maksudnya aku?


Hah? sejak kapan aku meminta jawaban padanya? Mataku selalu fokus di soal ujian, bahkan aku tidak memperhatikan sekitar.


"Apa maksudmu? Kau mulai memfitnahku?" kataku tidak senang. Apa-apaan orang ini!


"Diam!" sang guru itu menggertak. Lalu dia melihat si pelapor. "Apakah gadis di belakangmu mencontek?"


"Ya!"


"aku tidak melakukannya" selaku. Aku sama sekali tidak mencontek!


Tapi kelihatannya guru itu tidak mempercayai Nana. Dengan cepat dia langsung memeriksa seluruh barang yang ada di meja Nana. Dari kertas-kertas ujian, kotak pensil dan isinya, bahkan memeriksa isi kolong mejanya. Dan guru itu menemukan sebotol yogurt yang diterima Nana tadi pagi. Sang guru mengernyit melihat yogurt itu, lalu dia menarik labelnya dan dari balik label, segulung kertas kecil terjatuh. Di atas kertas itu tertulis beberapa materi pokok contekan. Sang guru langsung menatap tajam Nana. "Apa ini? Kau masih mau menyangkal?" katanya dengan keras.


Aku menganga tidak percaya. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku benar-benar dijebak seperti ini? Mereka menjebakku! tapi bagaimana aku memberikan pembelaan. "Aku mendapatkan yogurt itu darinya tadi pagi. Aku tidak tahu bahwa dia menyelipkan contekan disitu" kataku membela diri.


tapi tentu saja tidak ada yang mempercayai omongan Nana, karena tidak ada satu pun dari mereka yang melihat kejadian itu.


"Diam!" bentak sang guru. "jawabanmu sama sekali tidak masuk akal! Aku tahu kau selalu bermalas-malasan selama kelas. Tapi aku tidak tahu bahwa kau juga mempersiapkan contekan. Bahkan tidak mau mengakuinya. Aku akan memanggil orang tuamu besok. Dan sehabis ini, ikut aku ke ruang kepala sekolah"


"Aku tidak melakukannya" aku bersikeras membantah.


Tapi sang guru hanya menatapku dengan dingin sebelum kembali ke bangkunya sambil membawa barang bukti. "baiklah, ujian berakhir. Kumpulkan lembar jawaban kalian sekarang" katanya.


Aku merasa frustasi. Bagaimana bisa aku terjebak dengan rencana bodoh seperti itu. Aku bukan orang yang bisa memprediksi masa depan, dan tidak ada kejadian seperti ini di dalam komik karena alur ceritanya hampir berubah sekarang. Tapi aku tidak menyangka tiga orang itu akan menargetkanku hanya karena aku menolak tawaran mereka untuk menyuap.


Yang lebih parah lagi, bagaimana aku harus membuktikan ke semua orang kalau aku tidak bersalah? Aku benar-benar frustasi. Bahkan sudah hampir menangis sekarang, tapi aku menahannya. Aku benar-benar bodoh kali ini.


Setelah semua murid mengumpulkan jawaban mereka, sang guru menatap Nana "ikut aku".


Nana dengan patuh mengikutinya sambil menundukkan kepala. Walaupun dia cukup periang, ketika menghadapi sesuatu yang menegangkan, nyalinya sangat lemah kalau tidak ada yang mendampinginya.


Rin melihat di kejauhan dengan wajah cemas. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun, karena guru itu langsung membawa Nana pergi.


Shin dan Darwin saling memandang satu sama lain, lalu mereka mengangguk. Sepertinya kedua orang itu merencanakan sesuatu. Bahkan Shin mengepalkan tangannya erat-erat karena menahan amarahnya.


Sementara Lista sangat menikmati pemandangan di depannya. Rencananya benar-benar sempurna. Dia bisa melakukan banyak hal hanya dengan satu rencana. dia bisa membuat nama gadis bodoh itu menjadi buruk di sekolah, di mata seluruh murid dan di mayta Ibu Shin yang merupakan pemilik sekolah. Lalu dia bisa membuat gadis bodoh itu gagal ujian. Lista yakin Shin juga akan membencinya. Dia benar-benar senang. Senyum lebar terbentuk di bibirnya. Senyum yang sangat cantik.