
"Apa maksudnya bu? Jangan bicara omong kosong!" akhirnya Shin mengutarakan ketidak setujuannya. Dia tidak tahu bagaimana ibunya bisa mempunyai pikiran seperti ini.
Tapi dia melihat kakaknya yang sedang menahan tawanya. Dia tahu orang itu pelakunya. Kakaknya pasti menceritakan hal yang tidak-tidak pada ibunya.
Jadi dia langsung melempar kan lototan tajam pada Ren. Ren yang melihatnya hanya tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya yang mengisyaratkan "Bukan aku. Aku tidak tahu apa-apa"
"Ini bukan omomng kosong. Ibu selalu ingin mengatur pertunangan mu dengan Lista. Tapi kau selalu menolak. Kalau kau lebih menyukai keluarga Fent ini, aku akan melamarnya untukmu. Aku tidak mau kau tiba-tiba membawa gadis aneh ke rumah." kata sang ibu bersikeras.
'Gadis aneh? Gadis di depanku ini sangat aneh dan kau ingin kami bertunangan?' pekik Shin dalam pikirannya. Tentu saja dia tidak berani mengatakannya terang-terangan.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Ibu membuat semua orang jadi salah paham kalau berbicara topik aneh seperti ini. Aku tidak mau dikekang, aku ingin menentukan pasanganku sendiri" Shin mengutarakan pendapatnya langsung.
"Tapi kau selalu menolak semua gadis. Shin..." Ibu Shin menatap putranya dengan tajam. "Jangan bilang ibu kau menyimpang. Jangan-jangan kau menyukai pria..." kata Ibu Shin dengan nada curiga
"Pftt...hahahaha!" Ren tidak bisa menahan tawanya lagi.
Darwin terdiam di tempatnya. Dia bergidik sambil menatap Shin dengan aneh.
'Benar sekali! Kenapa aku tidak memikirkan hal ini! Dia selalu menjauhi gadis-gadis, tapi selalu dekat denganku. Jangan-jangan dia menyukai ku..." pikiran Darwin mulai mengembara dan dia merinding.
Shin menatap Ibunya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana ibunya bisa memikirkan hal seperti ini? Dia adalah seorang pria normal!
Dia mendengus kesal dan berjalan pergi. BAM! Shin mengamuk dan mulai membanting pintu kamarnya lagi.
Tapi sedetik kemudian, dia menjulurkan kepalanya untuk menatap Darwin dan Nana. "Apa yang kalian tunggu, masuk!" titahnya.
Darwin dan Nana langsung memberi hormat pada ibu Shin dan menyusul Shin untuk masuk ke dalam kamar.
Ibu Shin melihat mereka sambil menggelengkan kepalanya skeptis. Sementara Ren masih berusaha keras menahan tawanya.
"Haa~ ibu sangat cemas memikirkan adik anehmu itu" kata Ibu Shin dengan nada mengeluh.
"Jangan terlalu cemas bu. Lagipula kita tidak tahu. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi antara Shin dengan gadis kecil itu" jelas Ren.
Mata ibu Shin langsung menyipit tajam. "Kau harus menyelidikinya dengan benar oke. Jangan lupa beritahu ibu informasi terbarunya."
Ren langsung mengangkat jempolnya dengan cepat " Tentu saja"
***
Aku dan Darwin yang sudah masuk ke kamar Shin hanya bisa terdiam. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Maksduku aku benar-benar terkena syok aku saat ini.
Bagaimana bisa ibu Shin tiba-tiba datang lalu meminta ku untuk bertunangan dengan anaknya! Dan aku juga tidak tahu bahwa selama ini ibu Shin mengira anaknya gay!
Haa~ aku menggeleng kan kepalaku. Kalau aku tidak membaca novelnya mungkin aku akan mengira Shin menyimpang juga. Tapi aku tahu alasan kenapa Shin bersikap seperti itu. Ternyata cukup menyenangkan saat kau sudah tahu jalan cerita aslinya. Jadi kau tidak akan berburuk sangka pada semua tokoh itu.
"Nana, Nana" Darwin memanggil ku dengan suara kecil yang membuat lamunanku seketika menjadi buyar.
"Em? Kenapa?"
"Duduk" kata Darwin sambil menunjuk sofa yang sudah didudukinya.
"Ah" aku langsung cepat-cepat duduk di sampingnya.
Nana tidak tahu bahwa Shin sudah memperhatikannya dengan tatapan tajam sedari tadi.
"Kau benar-benar kemari karena ingin diajari?" Shin tiba-tiba membuka mulutnya dan langsung membuat Nana sedikit tersentak.
Mata Shin menyipit "Baiklah" katanya kemudian.
"Kemari" dia berkata sambil menujuk meja belajar yang ada di depannya. "Kemari dan tunjukkan materi mana yang sama sekali tidak kau mengerti"
Aku mengangguk patuh, lalu cepat-cepat pindah ke meja belajar itu. Karena suasana masih menegangkan untukku, aku sama sekali tidak memperhatikan kamar Shin dengan detail. Tapi kamar ini benar-benar luas dan diselimuti aura dingin yang keren.
Aku dengan cepat mengeluarkan buku dan membuka materi yang sama sekali tidak kumengerti. Shin tiba-tiba duduk disampingku sambil melihat buku itu.
Jujur saja, kami duduk terlalu dekat. Maksudku, aku bahkan bisa merasakan napas Shin ditelingaku saat dia mendekat. Saat aku merasakannya, tanpa sadar jantungku berdegup kencang.
Akhirnya Shin mulai mengajari Nana. Dia mulai menuliskan apa yang dia tahu di buku itu. Kali ini Shin menyederhanakan rumus nya yang membuat Nana sedikit terkejut. Ternyata Shin bisa memberinya rumus yang sederhana. Tapi kenapa dia tidak melakukannya saat kita belajar di perpustakaan tadi?
" Ini benar-benar bagus. Rumusnya sama sekali tidak sulit. Terima kasih Shin" kataku tulus.
Shin tersentak dan tangannya berhenti menulis. tapi itu hanya sesaat dan dia kembali menggerakkan tangannya. Lalu dia mengangguk pelan.
Sikap lucu Shin ini benar-benar membuatku semakin deg-degan. Dia terlalu imut! Apa dia merasa malu sekarang karena aku memuji ha?
Darwin yang duduk di sofa melihat pasangan di depannya dengan wajah cemberut. Dia merasa terabaikan. Dan dalam sekejap dia menyesal menemani gadis itu ke rumah Shin.
"Hei, Shin aku ingin bicara padamu.." jawab Darwin ketus.
"....." tapi tidak ada jawaban dari Shin. Shin sibuk menjelaskan sambil menulis. Dan Nana sibuk memperhatikan.
"Shin...."
Pasangan di depannya lagi-lagi tidak menjawab. Mereka benar-benar masuk ke dalam dunia mereka sendiri.
Darwin mendengus kesal. "Jangan mengabaikanku Shin!" teriaknya memberontak.
Shin akhirnya menoleh. Tapi dia memberikan tatapan menyipit dan tajam. "Kau terlalu ribut. Aku akan meladeni mu nanti. Kalau kau ingin main, cari saja Ren diluar" jawabnya ketus.
Darwin mengangga dengan mata melonggo. Sahabatnya benar-benar mengusirnya keluar hanya karena seorang gadis? Apa-apaan ini?
'Kau ingin aku keluar bukan? Lihat saja! Aku benar-benar akan memberitahukan semuanya pada Kakak Ren!' pikir Darwin sambil meranjak dari sofa. Dia langsung menuju pintu keluar dengan wajah cemberut.
Aku memperhatikan Darwin yang melenggang keluar dari kamar.
"Jangan alihkan fokusmu. Belajar" suara tegas Shin terdengar dan aku langsung menatap buku di depanku kembali.
Akhirnya, Shin benar-benar mengajariku. Metode kali ini benar-benar berbeda dari yang lama. Dia sama sekali tidak membentakku! Ini sangat berbeda dari yang kubayangkan. Walaupun aku berkali-kali bingung karena otakku yang terlalu bodoh, dia masih dengan sabar mengulanginya. Bahkan saat aku tidak mengerti, dia langsung menjelaskan jawabannya.
Dia juga menjelaskannya dengan nada yang lembut yang membuatku sama sekali tidak fokus karena jantungku berdegup keras.
Ah! Aku lupa! Aku kemari karena ingin bertanya sesuatu padanya. Tapi dia tidak akan menjadi marah kalau aku menanyakan itu pada nya bukan? Tapi aku benar-benar penasaran....Apa dia benar-benar membenciku? Maksudku, dia tidak menyukaiku karena aku terlalu bodoh?
Jadi aku mengumpulkan keberanian ku dan menatap wajah tampan di samping ku lekat-lekat. "Shin aku ingin bertanya sesuatu padamu. Bukan tentang materi pelajaran" kataku lirih dengan nada takut-takut.
Shin langsung menatapku dengan mata menyipit yang sempat membuatku menyerah. Tapi aku sudah menguatkan tekadku. Kita harus meluruskan semua ini. Kalau Shin benar-benar tidak menyukaiku, aku tidak bisa meminta bantuannya lagi.
Lagipula aku tahu Shin itu baik. Dia akan membantu orang lain walaupun dia sama sekali tidak menyukainya. Tapi hal ini tentu saja tidak baik untukku. Aku merasa sangat tidak enak.
Kalau Shin benar-benar tidak menyukaiku, aku akan berusaha untuk tidak menganggunya. Lagipula aku masih punya Rin untuk membantuku belajar. Aku sama sekali tidak enak kalau dibenci oleh orang lain. Apalagi aku tahu sifat ku yang menyeleneh seperti ini. Lagipula melihat Shin dari jauh itu sudah cukup untuk menikmati ketampanan nya. Tidak perlu berpura-pura dekat dengan orang itu, dan membuat orang itu tidak nyaman.