
"Masih belum mau keluar Wil, lebih baik di rumah saja." Perkataan Veila berhasil memicu Wilson untuk menggelengkan kepalanya.
Pagi tadi ia sempat menemani Veila untuk berkonsultasi dengan dokter, sekaligus periksa kandungan karena sudah sering terjadi kontraksi. Dokter bilang jika Veila sudah mengalami pembukaan satu, tetapi belum dianjurkan untuk menginap karena biasanya untuk ibu hamil yang tengah mengandung anak pertamanya, bukaan satu bisa berlangsung selama satu minggu.
Namun, karena Wilson orangnya terlalu khawatir, apalagi mengingat jika dirinya akan menjadi ayah dalam hitungan jam atau hari, maka Wilson tetap bersikukuh pada keinginannya. Di saat Veila berkata jika dirinya masih ingin berada di rumah, Wilson justru sudah membereskan pakaian Veila, memasukkannya ke dalam sebuah tas.
"Tidak peduli mau pembukaan berapa ataupun belum pembukaan, HPL nya tinggal seminggu lagi, kau harus menginap di rumah sakit karena akses untuk mencari suster ataupun dokter sangat mudah. Aku tidak mau nantinya tiba-tiba kau sudah mau melahirkan tapi kita masih di rumah," jelas Wilson, terlihat seperti suami yang sudah paham betul bagaimana caranya menangani istri yang sudah berada di masa tenggang kehamilan.
Perlahan, Veila meraih tangan kiri Wilson, menggenggamnya sebentar lalu memberi kecupan singkat di puncak tangan Wilson. "Wil, di rumah saja, ya. Aku masih mau di rumah."
Biasanya, jika Veila bersikap imut di depan Wilson, maka pria itu akan langsung terguncang hatinya dan menjadi seorang suami yang penurut. Dan benar saja, walaupun sebenarnya tidak mau jika Veila masih berada di rumah di saat dirinya sudah mengalami pembukaan satu, kepala Wilson tak bisa menggeleng untuk menolak keingin kecil Veila.
"Kau tahu kelemahanku, Veila," ringis Wilson seraya tersenyum kecil, menarik lengan Veila lembut, lalu mendudukkannya di atas paha.
Ia tahu jika Veila tidak seringan dulu karena ada berat lain di dalam sana yang harus Veila tanggung. Namun, tentunya mulut Wilson tak pernah menyinggung masalah berat badan, pria itu masih berkata kalau Veila masih ringan, masih bisa ia gendong malahan. Sedikit berbohong demi menyenangkan istri bukannya tak apa? Mereka berdua saling melempar pandang dengan senyum yang terpatri nyata pada bibir keduanya.
Wilson menuntun tangan Veila untuk segera melingkar manis pada lehernya, dan setelah semuanya berjalan sesuai keinginan, mereka berdua pun saling mendekatkan wajah. Sempat memamerkan senyum manis sesaat dan kemudian mulai menutup mata dalam waktu singkat, tak perlu lama, seakan sudah tahu tempatnya, mereka berdua saling menautkan bibir dan lebih mendekatkan diri. Agak susah untuk memposisikan diri lebih intim karena kondisi perut Veila, tetapi itu tidak menjadi masalah untuk mereka dalam mengekspresikan cinta- berciuman panas.
Wilson yang mendeklarasikan jika dirinya sangat suka dengan birai ranum merah menggoda milik Veila pun langsung merasakan rasa senang berlebih yang menggerogoti hati. Pria itu sudah berniat untuk meminta ciuman yang lebih jauh dan lebih panas daripada hanya sekedar saling memangut kedua belah bibir secara bergantian. Di saat lidah Wilson hendak memasuki rongga mulut Veila, remasan pada rambutnya semakin menguat, kepalanya bahkan seperti ditarik paksa ke belakang agar menjauh.
Wilson mengerti maksudnya, karena itu dengan penuh kekecewaan yang tak ditunjukkan, iapun segera mengakhiri ciuman mereka. Selama Veila sudah memasuki masa kehamilan trimester terakhir, wanita itu sering mudah lelah dan kesulitan bernapas, karena itu, ciuman yang biasanya bisa dilakukan dalam jangka waktu yang panjang pun akhirnya terpaksa Wilson persingkat
"Tidak balik ke kantor? Jam makan siang sudah hampir habis," tanya Veila sembari mengelus kepala belakang Wilson saat suaminya kini tengah membenamkan wajah pada d***nya.
Singkat, Wilson menggelengkan kepalanya. Memberi kode bahwa ia tidak ingin balik ke kantor guna mengurusi pekerjaannya yang belum terselesaikan, yang ia inginkan adalah berada di rumah dan menemani Veila dua puluh empat jam penuh.
"Veilaku yang cantik, nanti jika baby sudah lahir mari buat satu lagi. Aku ingin punya banyak anak darimu," gumamnya, tetapi hanya ditanggapi Veila dengan senyuman tipis. Wanita itu sebenarnya juga ingin memberikan adik untuk anaknya kelak, tetapi mengingat si bayi besar ini -Wilson yang tingkahnya pasti akan lebih manja daripada anaknya membuat Veila harus dua kali berpikir. Bayangkan saja, bantal saja dicemburui, bagaimana jika mereka punya dua, tiga, atau bahkan lima anak nantinya?
"Ah, Veila, aku menyayangimu, menyayangi calon anak kita juga. Aku tidak bisa mengontrol rasa gugupku, padahal bukan aku yang melahirkan," kekeh Wilson dan seketika ia langsung mendapat elusan yang lebih lembut pada bagian belakang kepala dari Wilson.
Bersambung ....