
Veila tak bisa menghitung sudah berapa lama ia berada di ruang kerja Wilson. Ada masanya ia bosan karena setiap jam yang ia lakukan hanyalah duduk di sofa seraya menatap jam dinding klasik pada tembok, dan yang bisa ia lakukan saat kebosanan melanda yaitu berjalan mengelilingi ruangan dalam diam lalu berhenti tepat di depan pengharum ruangan, menunggu semprotan dari wangian tersebut dan menghirupnya ketika benda mati tersebut sudah mengeluarkan sebuah percikan air beraroma jeruk citrus.
Ketika dirinya terbatuk kecil karena aroma jeruk yang masuk ke indera penciumannya, Wilson yang tengah fokus pada layar komputernya menegur dengan halus, menyuruh Veila untuk duduk dan tidak bertingkah aneh. Tidak bisa dipungkiri, Veila memang menyukai aroma apa pun dari pengharum ruangan.
Terkadang pun, sewaktu ia masih menjadi pekerja paruh waktu di minimarket, sesekali dirinya pergi menuju tempat di mana pengharum ruangan tersebut berada, berdiri dalam diam dan menikmati satu semprotan air. Karena kebiasaannya itu, sang pemilik minimarket sampai menjulukinya 'si gadis aneh'.
Kalimat terakhir Wilson yang berisi peringatan mampu membuat Veila akhirnya memantapkan diri untuk kembali duduk di sofa. Wanita itu menghela napasnya pelan, lalu meraih satu majalah yang memang sudah berada di atas meja sejak tadi, tetapi tidak berani ia buka. Seperti judulnya, ini bukanlah majalah fashion ataupun majalah seputaran wanita yang selalu ia lihat pada pajangan toko-toko buku, melainkan ini adalah majalah bisnis yang kebetulan sekali tengah membahas Negara Prancis. Cover majalahnya saja yang menampilkan betapa indahnya menara Eiffel, berhasil membuat Veila terkesima dan teringat dengan janji manis buatan mantannya, Charlie.
'Aku akan giat menabung agar nantinya kita bisa pergi ke Prancis berdua. Banyak tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu di sana. Dan kuharap, hubungan kita bisa bertahan lama dan berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius. Mungkin kau sudah jenuh mendengarnya, tetapi aku tidak akan pernah bosan mengatakan ini. Mengatakan bahwa aku benar-benar mencintaimu, Veila Amor.'
Jikalau Charlie adalah pria baik yang tak pernah memiliki satu niat jahat, mungkin saja perkataan tersebut dapat menjadi kenyataan.
Bisa saja sekarang atau beberapa tahun kemudian mereka sudah berada di Prancis, menikmati setiap pemandangan yang cantik dan menghabiskan waktu bersama di sekitaran pusat kota. Dan sekarang ini, yang dapat mereka berdua lakukan hanyalah meneguk ludah serta menjalani hidup yang sudah seperti kertas koyak.
Tak mau mengingat lebih jauh, Veila pun segera menggelengkan kepalanya, berharap semua momen tentang Charlie yang melintasi otaknya segera menghilang. Lagipula, apa yang bisa dibanggakan dari mengingat kenangan sepahit pil obat?
Satu persatu lembar halaman berhasil ia buka, dan kemudian tak berapa lama setelah itu ia berhenti membalikkan halaman, terpaku pada salah satu gambar kota Paris. Potret bangunan yang menjulang tinggi membuat kedua matanya berbinar, hatinya juga bergemuruh saking senangnya melihat kota cantik tersebut.
Ini baru gambar yang ia lihat lewat majalah, dan jika kota ini ia lihat secara langsung, mungkin keindahannya akan berlipat karena saking terpukaunya dengan keindahan kota Paris yang dijabarkan lewat beberapa potret majalah, mulutnya sampai terbuka, sebuah tindakan refleks yang selalu menghampirinya jika ia sedang terpukau akan suatu hal.
"Lalat saja bisa masuk ke dalam sana jika kau membuka mulutmu selebar itu."
Tanpa diperintah atau perlu mendapat tamparan pada tangannya, pria itupun segera menarik kembali jari telunjuknya yang tadi sempat dikulum oleh Veila. Sedangkan Veila pun langsung menutup majalah bisnis itu dan meletakkannya kembali di atas meja, sesuai pada tempat awalnya.
"Ayo pulang." Wilson menunjuk pintu dengan dagunya, memberi isyarat agar Veila segera beranjak dari posisi duduknya dan mulai pergi meninggalkan ruangan bersama dengannya.
"Bukannya belum masuk waktu pulang? Masih ada sisa satu jam," ujar si wanita setelah tadi sempat melirik ke arah jam dinding.
"Memangnya seorang pemimpin besar sepertiku harus pulang tepat waktu seperti pegawai lainnya?" Wilson balik bertanya, membuat Veila terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa pun tentang dunia kerja dan bagaimana peraturan di perusahaan yang Wilson kelola, karenanya yang ia lakukan adalah menggelengkan kepala daripada berceletuk, tetapi salah bicara.
Dan sebenarnya, Wilson tidak pernah sekalipun pulang cepat ataupun tepat waktu. Biasanya ia akan pulang malam karena masih banyak pekerjaan yang harus ia handle, tak bisa seenaknya dibebankan pada Leo ataupun Jack.
Namun kali ini, karena Veila ada di sini, wanita itu adalah pengecualian bagi Wilson. la sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat tanpa menunda-nunda seperti hari-hari sebelumnya. Saat bekerja pun matanya tak henti melirik Veila, membuat pria itu semakin cepat menyelesaikan pekerjaannya. Ia tahu jika Veila tengah bosan, karenanya iapun mempercepat proses penyelesaian pekerjaannya.
Satu sisi Wilson Alexander Hovers yang perlahan mulai nampak, dia adalah pria berhati baik, sebenarnya.
Bersambung ....