
Kedua kelopak mata Wilson terbuka dengan perlahan karena sinar mentari yang lolos tanpa izin malalui ventilasi udara serta sedikit celah jendela yang tidak tertutupi tirai.
Wilson paling malas jika dirinya harus terbangun dengan cara seperti ini, bukannya dengan panggilan sayang dari sang istri tercinta. Merasa jika otak cerdasnya menyadari sesuatu hal besar, ia pun segera mengusap paras tampannya dengan sedikit kasar menggunakan telapak tangan tangannya. Ditendangnya selimut yang membungkus tubuh polosnya semalam, membuat benda tebal nan hangat itu hampir terjatuh dan tidak menutupi tubuh bagian atasnya yang benar-benar telanjang. Tidak ada lagi sosok Veila yang tertidur di sebelahnya, sisi ranjangnya kembali kosong, serta pakaian robek yang kemarin sempat berhamburan di lantai pun sudah tak berjejak.
Kemarin ia tak menghabiskan malam bersama dengan Maureen, tak berbagai pelukan dan kecupan sebelum tidur dengan sang pujaan hati. Malam tadi ia menghabiskan waktu bersama dengan Veila Amor, menghancurkan wanita itu habis-habisan kemudian meninggalkannya tidur di sisi ranjang kosong.
Seluruh tubuh yang bergetar serta isakan kecil menemani malam sunyi seorang Wilson Hovers. Karena lelah mengatakan 'diam' dan 'berhentilah menangis dan meratapi hal yang tidak penting'. Wilson pun segera menutup mata, tidak mau peduli lagi dengan sosok wanita yang baru saja ia lecehkan tanpa ampun. Wilson tidak tahu kapan Veila berhenti menangis dan kembali tenang karena sudah dibuai oleh alam mimpi yang super indah. Setahu Wilson, saat ia hampir saja terlelap, isakan kecil itu masih sayup-sayup dapat ia dengar.
Sadar jika ia tidak akan pernah bisa melanjutkan tidur nyenyaknya, Wilson pun segera mendudukkan diri dengan kaki yang menjuntai ke bawah ranjang. Dan saat itu, tak sengaja pandangannya tertuju pada bercak darah milik Veila yang membekas di sprei putih. Sudah mengering dan tidak semerah semalam, warnanya sedikit pudar, tetapi Wilson yakin jika itu adalah darah hasil perbuatannya semalam.
Meringis ngilu, ia masih bisa mendengar pekikan tertahan yang keluar dari belah bibir sang istri kedua, lebih tepatnya sang istri yang bertugas untuk menghasilkan keturunan. Wilson tahu itu menyakitkan dan ngilu, lebih para daripada dari luka bekas cakaran di pundaknya yang sudah mulai mengering.
Ada secuil rasa bersalah yang membuncah dalam hatinya karena sudah memasuki Veila dengan kasar, seperti seseorang yang tidak berperikemanusiaan. Namun, buru-buru Wilson segera menggelengkan kepalanya, menganggap jika perbuatannya tidak sepenuhnya salah karena memang hal itu patut diterima oleh seorang pelampiasan, seperti Veila.
Tak mau memikirkannya lebih lanjut, Wilson pun segera berjalan meninggalkan ranjang, mendekatkan kakinya pada jendela kaca yang masih tertutup oleh tirai abu-abu polos. Ini hari terakhir di pulau ini, tetapi sepertinya ia tidak akan pernah mau untuk menghabiskan waktunya dengan Maureen. Ia terlanjur sakit hati dan tidak yakin bisa menerima Maureen, walau rasa cinta itu masih melekat sempurna pada hati kecilnya.
Dibukanya tirai abu-abu tersebut, membuat maniknya kembali menyipit karena sinar matahari yang masuk menerangi kamar yang tadinya sedikit gelap.
Hal pertama yang ia lihat tentunya adalah lautan biru dengan deburan ombak yang cukup tenang serta burung camar bertengger manis pada bebatuan dekat laut. Wilson bisa menangkap presensi sekumpulan burung tersebut karena jarak vila dengan bibir pantai tidak terlalu jauh. Sinar matahari yang menembus masuk pun belum begitu terlalu terang dan menyengat yang menandakan jika ini masihlah terlalu pagi, Wilson bangun lebih awal dari hari-hari libur biasanya.
Pria itu mengira jika burung camar yang bergerombol adalah pemandangan pagi yang menarik, tetapi ada pemandangan yang lebih menarik perhatiannya. Sosok wanita yang semalam ia hancurkan kini tengah duduk pada bangku cokelat yang menghadap ke arah lautan luas.
Tidak, jangan menuduh Wilson yang tidak-tidak. Ia bersikap seperti itu karena tidak mau pelampiasannya dilindungi oleh pria keparat seperti Leo. Wilson yakin betul, pikirannya dan Leo benar-benar sama, mereka berdua pasti tengah menjadikan Veila sebagai pelampiasan karena Maureen.
Bagaimana bisa Leo yang awalnya juga tidak terlalu suka dengan Veila Amor tiba-tiba bisa menaruh simpati yang cukup besar terhadap wanita malang itu? Wilson memuji dirinya karena bisa menangkap hal ganjil semacam itu, tetapi di saat yang bersamaan ia juga mengumpat kasar dirinya karena tak bisa mencium kebusukan Maureen dan Leo yang telah meluluhlantakan dirinya.
Wilson dan Leo saling berbagi tatapan tajam. Namun, sebenarnya bukan tolehan Leo yang Wilson harapkan, ia menginginkan Veila yang menoleh dan beradu tatap dengannya. Namun sayang sekali, tidak ada tolehan dari sosok Veila. Membuat Wilson menggeram kesal kemudian bercelatuk.
"Hei, seratus ribu dolar!"
Lima detik ia menunggu, tetapi tetap saja tidak ada respon. Malahan Leo sudah tidak melihat ke arahnya lagi dan kembali fokus pada lutut Veila yang terluka. Kesal karena tidak digubris, kedua tangan Wilson pun mengepal dengan urat tangan yang menyembul. Emosinya menjadi naik karena hal sepele semacam itu, paling tak suka jika diabaikan oleh seseorang yang lebih rendah daripada dirinya.
"Aku berbicara padamu, seratus ribu dolar! Siapkan aku air hangat! Aku ingin mandi!" teriak Wilson dengan nada memerintah.
Veila sebenarnya ingin menoleh, takut-takut jika Wilson berbuat kasar lagi seperti semalam. Ia paling benci jika harus menyerahkan dirinya lagi, mendesah pasrah di bawah permainan yang Wilson buat sembari menahan perih di daerah kewanitaannya. Namun Leo menghasutnya, mengatakan jika ia tidak perlu menolehkan diri hanya untuk sekedar menyahut. Ia meyakinkan jika dirinya bisa digunakan untuk melindungi Veila secara penuh.
"Jika aku sampai turun ke bawah, siap-siap untuk kutarik kau, Veila!" kesal Wilson dan kemudian segera meninggalkan balkon untuk turun ke bawah, menghampiri Veila dan Leo
Bersambung ....