
Xavier Wiliam Miller adalah sepupu Wilson, anak dari bibinya adik kandung sang ibu. Sejak Xavier masih kecil, Wilson selalu turun tangan dalam mengurusnya karena orang tua Xavier benar-benar sibuk. Tidak bisa dipungkiri, Wilson adalah tipe kakak yang sangat perhatian dengan adiknya. Apalagi mengingat jika ia adalah anak tunggal yang tiap harinya selalu merengek meminta adik, wajar saja ia sangat menyanyangi Xavier dan sampai sukarela untuk mengurus sepupunya yang kala kecil dulu sangatlah imut.
Katakan saja Wilson mengurus segalanya, apa pun itu yang berhubungan langsung dengan Xavier. Mulai dari masuk playground di umur tiga tahun sampai mereka berpisah ketika orang tua Xavier memutuskan untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri.
Bisa dibayangkan betapa dekatnya Wilson dengan Xavier. Orang-orang bahkan sering mengatakan, mereka bagai pinang dibelah dua, kepada dua kakak beradik berbeda orang tua tersebut.
Usia mereka terpaut cukup jauh, semua itu dikarenakan sang Bibi susah untuk mendapatkan anak, harus menunggu sepuluh tahun sejak pernikahan sebelum akhirnya, tanpa terduga, Tuhan menitipkan Xavier pada mereka. Padahal sebelumnya mereka sempat memiliki niatan untuk mengadopsi anak agar usaha mereka dapat diteruskan dan berlanjut sampai generasi-generasi selanjutnya.
Kehadiran Xavier di tengah-tengah keluarga Miller sungguh merupakan sebuah berkah yang membuat mereka tak berhenti bersyukur menyebut nama Tuhan. Xavier sebenarnya adalah anak baik yang selalu patuh pada perkataan orang yang lebih tua darinya, sikapnya juga ramah, walaupun kaya dia bahkan tidak pernah memilih ingin berteman dengan orang yang satu kasta dengannya juga.
Hanya saja dia adalah anak lelaki yang petakilan, sering heboh sendiri, berisik, dan yang terakhir, selalu menggoda wanita cantik yang pada dasarnya hanya sebuah keisengan.
Dan ya... Wilson paling tidak tahan dengan kebiasaan Xavier yang terakhir kali dijabarkan itu. Kepalanya terasa pusing setiap kali mendapat telepon dari seorang wanita tak dikenal. Sepupunya ini betul-betul kurang ajar, seenaknya memberikan nomor telepon miliknya pada setiap wanita yang ia goda. Dan saat dimarahi dan ditanyai alasan, Xavier dengan cengirannya membalas; aku tidak hafal nomor teleponku, Kak.
Umurnya masih terlalu muda, tahun ini masuk tujuh belas tahun, tetapi tingkahnya sudah seperti orang tua, lebih tepatnya mirip lelaki mata keranjang. Bahkan ibu Xavier sendiri memanggil anaknya dengan sebutan buaya darat karena saking banyaknya para gadis yang dipermainkan.
Senyuman Xavier yang awalnya lebar kini perlahan mulai menghilang saat mendapati Veila yang berada di depannya dengan jarak yang masih lumayan jauh. Melihat itu, Wilson pun berusaha untuk mengatakan jika wanita itu adalah Veila Amor, seseorang yang sempat ia katakan pada Xavier lewat telepon beberapa bulan lalu, tepat tiga hari sebelum pernikahannya.
Awalnya memang Xavier sempat menentang pernikahan kedua Wilson, membela Maureen mati-matian, berkata jika istri pertama Wilson pasti akan merasa kecewa. Namun, setelah berdebat lama dengan kakak sepupunya dan tak mungkin juga mencampuri pilihan sang kakak, Xavier pun akhirnya menyetujui dan memilih untuk tidak datang ke acara pernikahan kedua Wilson. Tidak, bukan karena ia membenci istri kedua Wilson kala itu, hanya saja ia sedang dihadapi dengan ujian tengah semester.
"Xavier, dia adalah Veila Amor, wanita yang pernah ku-"
"Ssstt, diam dulu, Kak. Aku sedang mengamati wajah cantik kakak di depan sana. Kakak itu terlihat familiar, seperti pernah bertemu ....“ Xavier menyela ucapan Wilson dengan pandangan yang tertuju pada Veila.
Beberapa detik ia terdiam, memicu otaknya untuk mengingat dengan baik tentang kefamiliaran wajah Veila di ingatannya. Dan di saat Wilson hendak menyudahi acara diam-diaman yang tidak jelas itu, Xavier pun segera berteriak dengan girangnya. "Oh Tuhan! Kau adalah putri katakku! Bagaimana ini bisa terjadi? Kak Wilson, kakak ini adalah satu penyebab kenapa saat SD kelas empat aku selalu pulang telat. Dia penjaga minimarket yang membantuku mengambil katak di gorong-gorong. Aku mengingatnya, wajah kakak katak ini tidak berubah!" seru Xavier, matanya yang sempat meredup kini kembali berbinar saat ingatan itu kembali hadir menembus otaknya yang terkadang sering berdebu dengan sendirinya.
Ya, beberapa tahun lalu, saat Xavier masih mengenakan seragam SD, setiap pulang sekolah di sore hari, ia selalu menceritakan seorang kakak yang dipanggilnya dengan sebutan putri katak kepada Wilson. Tidak heran, dia anak orang kaya, terapi mainnya dengan anak-anak kompleks yang hobi menangkap kecebong dan memelihara katak di dalam toples.
Terkadang juga Wilson sampai kewalahan jika katak peliharaan Xavier lepas dan membuat ibunya—Nyonya Hovers—terpaksa memanggil pawang katak, atau menyuruh dirinya menemukannya dan segera membuangnya. Dia berkata jika putri kataknya sangat cantik, tidak takut dengan air kubangan di dalam gorong-gorong, selalu memberinya sosis gratis juga jika dia tak sengaja mampir ke minimarket tempat putri katak itu bekerja. Dan Xavier sempat mengatakan keinginannya untuk menikahi putri kataknya jika sudah besar nanti.
"Oh astaga, Kak Wilson... kau menikungku?“ tanya Xavier dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat, membuat Wilson mengerutkan dahinya karena masih belum paham dengan maksud perkataan adik sepupunya ini. Lagipula mana Wilson tahu jika Veila adalah putri katak yang Xavier maksud sejak dulu?
Tahu jika Wilson tak akan membalas perkataannya, Xavier pun segera berlari ke arah Veila, memeluknya dengan erat dan berkata, "Kakak tidak mengingatku? Aku Xavier Miller, anak kecil yang selalu kakak berikan sosis bungkus. Karenaku juga kakak selalu dimarahi oleh pemilik minimarket. Kakak juga tak pernah menolak jika aku meminta bantuan untuk menangkap katak atau menggiring kecebong masuk ke kantung plastik."
Mendengar penjelasan itu, Veila pun berusaha untuk mengingat. Tidak membutuhkan waktu lama, iapun akhirnya mengingat siapa Xavier, membalas pelukan si pria saat sadar jika itu adalah adik kecil yang selalu merengek di depan minimarket karena diremehkan oleh teman-temannya sebab tidak bisa menangkap katak ataupun kecebong di gorong-gorong.
"Aku bahkan tidak menyangka jika kau adalah tupai manis yang selalu merengek di depan minimarket. Bukankah kau tumbuh dengan baik sekarang?" Jawaban Veila sukses membuat Wilson melongo.
Xavier sama sekali tidak mengarang indah saat ini, pria itu berkata jujur dan beruntung sekali masih diingat oleh Veila. Wilson harus berusaha untuk tidak iri dengan sepupunya sendiri.
"Demi Tuhan, Kakak makin cantik saja. Dan, oh! Apa Kakak sedang hamil? Woah, aku akan mempunyai keponakan sebentar lagi. Jika pria aku akan menganggapnya sebagai saudara, dan jika wanita aku akan menikahinya ouch...."
Belum selesai ia berkata, Wilson sudah lebih dulu memukul puncak kepalanya dengan sebuah tinjuan, membuatnya mengeluh pelan dan berlanjut mengusap kepalanya yang terasa ngilu.
Wilson tentunya semakin kesal karena Xavier memeletkan lidah ke arahnya dan kemudian menyembunyikan cekikikannya.
Setelah itu, Xavier pun kembali merentangkan tangannya di hadapan Veila, meminta pelukan secara tak langsung setelah pelukan pertamanya lepas begitu saja. Veila tentunya tidak masalah dengan itu, tetapi di saat Xavier memajukan wajahnya, pria itu langsung mendapat tabokan serta dorongan di wajah dari Wilson yang berhasil membuat pelukannya terlepas. Pria itu sadar jika Xavier pasti ingin menciumi Veila karena gemas.
"Aish! Jika aku lebih tua dari kakak, sudah pasti aku akan memiting leher kakak habis-habisan!" geram Xavier, mengusap wajahnya kasar, merajuk dengan sikap Wilson barusan.
Sudah meninju kepalanya, dan ditambah lagi dengan tabokan. Padahal kan dia tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin melepas kerinduan dengan putri kataknya sewaktu SD. Lagipula dirinya lah yang bertemu Veila duluan, dan di sini ia adalah korban tikungan kakak sepupunya sendiri.
"Kepalaku pusing mendengar celotehan kalian berdua," ujar Veila, membuat Wilson dan Xavier sama-sama menoleh ke arah Veila, menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Akan gawat jadinya jika mereka berdua membuat seorang ibu hamil stress karena tingkahnya.
Guna mengalihkan pembahasan, Xavier pun berceletuk, "Oh ya, kak Maureen mana?"
"Menginap di rumah orang tuanya."
***
Namun, sebenarnya Maureen tidak menginap di rumah orang tuanya. Wanita itu sengaja memesan kamar hotel, menginap di sana. Tujuannya hanya untuk menenangkan pikiran dan mencari jawaban hatinya. Langkah apa yang seharusnya ia lakukan selanjutnya? Dan di sini, di cafetaria hotel, ia dan Leo tengah duduk berdua.
"Seperti yang kau tahu, Wilson terlihat sudah menyukai Veila. Bukankah itu tujuan awalmu, Maureen? Lalu, jika sudah seperti ini, apa lagi yang harus kau tunggu? Perpisahan sudah menunggumu di depan mata." Leo berbicara serius, mengalihkan seluruh pandangannya ke arah Maureen yang kini tengah menundukkan kepalanya.
Napas wanita itu memburu, untuk kesekian kalinya ia berkata dalam hati, mengatakan jika dirinya tidak bisa meninggalkan Wilson.
"L-leo, bisakah menunggu sedikit lebih lama?" tanya Maureen dengan suara yang teramat kecil. Ia menunggu jawaban Leo, tetapi yang ia dapati sekarang adalah tertawaan kecil dari bibir Leo, menandakan dengan jelas jika pria itu benar-benar sudah muak dengan semuanya.
“Daripada terus menunggu lama, bagaimana jika kita akhiri saja semuanya, Maureen? Bukankah itu yang kau mau? Kau kira, perasaanku bisa kau gantung terus-terusan? Tanpa perlu kau katakan, aku sudah tahu jika sebenarnya dirimu sudah mulai mencintai Wilson. Semua itu menguat saat Veila hadir di tengah-tengah kalian. Terlalu menyakitkan untukku saat melihatmu lebih mementingkan Wilson ketika mulutmu berkata jika kau ingin pergi darinya. Kurasa, penderitaanku dan keresahanmu akan usai jika kita sepakat untuk mengakhiri semua kekonyolan ini," jelas Leo, hatinya memberat saat ia mengatakan hal itu.
"Bukan begitu, Leo. Aku hanya ingin kau menunggu sebentar lagi, sedikit lebih lama lagi. Tunggu sampai Wilson meninggalkanku."
"Ck, egois. Kau ingin membahagiakan dirimu sendiri? Kau tahu, Maureen, Veila sebenarnya adalah wanita yang paling beruntung saat ini. Dia yang awalnya hanya dijadikan bahan pelampiasan oleh Wilson kini mulai mendapatkan cinta dari pria itu. Dan aku, kurasa lebih baik jika harus berhubungan dengan Veila daripada dirimu. Jika seperti ini terus, bertindak hanya untuk membahagiakan dirimu sendiri, perlahan... kau akan kehilangan segalanya," balas Leo panjang lebar, lalu tanpa pamit segera pergi meninggalkan Maureen.
Wilson.
Leo.
Tanpa sadar, Maureen sudah kehilangan keduanya.
Bersambung ....
Maaf atas kata katak and gorong-gorong nya🤣