
Setelah melakukan ciuman sepihak guna membuat hati Maureen memanas dan Leo membeku, Wilson pun kembali menarik tangan Veila, membawanya masuk dengan terburu-buru, seperti tengah dikejar setan. Padahal Veila sudah meminta agar Wilson berjalan sedikit lebih pelan karena **** ************* masih terasa ngilu, belum bisa mengimbangi langkah Wilson yang super cepat. Namun, bukannya malah melambat, kaki Wilson makin bergerak semakin cepat, dan terkadang membuat Veila hampir saja tersandung langkahnya sendiri.
Pria ini sama sekali tidak ada baik-baiknya, selalu berlaku seenaknya pada seseorang yang tidak memiliki kedudukan sama sepertinya. Veila ingin melepaskan diri, setidaknya berjalan tanpa harus diseret Wilson akan lebih baik untuknya. Namun sayangnya, Wilson tidak melepaskan genggaman tangannya, ia malah mengancam akan menampar Veila jika wanita itu masih terus berusaha untuk melepaskan cengkeramannya.
Tak mau ditampar, Veila pun hanya mampu pasrah, membiarkan tubuhnya ditarik oleh Wilson. Yang ia lakukan saat ini ialah menggigit bibir bawahnya, menahan perih yang teramat sangat pada bagian bawahnya. Bolehkah ia berharap jika Wilson menaruh secuil simpati untuknya? Jika tak bisa memberi hal mudah tersebut, bisakah Wilson sedikit memahami kesakitan di bawah sana? Dirinya tidak bisa menjerit karena takut dengan ancaman Wilson. Veila tak ingin jika wajahnya kembali dihiasi oleh bekas kemerahan akibat tamparan.
"Tuan, ini salep yang Anda pesan semalam."
Suara berat dari seorang pelayan sukses menghentikan langkah cepat Wilson. Pria itu menoleh, menatap sang pelayan kemudian merogoh saku celananya yang kebetulan terisi beberapa lembar dolar, lalu memberikannya kepada si pelayanan sebagai tanda ganti atas salep yang kini sudah berada di tangannya.
Sebenarnya, malam itu, saat Veila terlelap, diam-diam Wilson keluar dari dalam kamar dan menyuruh seorang pelayan vila untuk membelikannya sebuah salep—ia mengambil sampel obat dari internet dan menunjukkannya. Pria itu sadar jika perbuatannya melukai **** ********** Veila, karena itu Wilson memiliki niat untuk membelikan salep sebagai penawar rasa sakit yang telah ia berikan.
Wilson melirik ke arah Veila sejenak, lalu tanpa mengatakan terima kasih pada pelayannya ataupun berbasa-basi pada Veila barang secuil kata saja, Wilson kembali melanjutkan langkahnya. Membawa si wanita ke kamar dan setelah itu membuka pintu kamar mandi.
"Kau mau apa?" tanya Veila dengan suara bergetar tepat saat Wilson menekan gagang pintu kamar mandi dan membawa mereka berdua masuk ke tempat sempit tersebut.
Air hangat, sebenarnya Wilson tak membutuhkan hal itu. Lagipula, dirinya sangat benci jika harus membasuh tubuhnya dengan air hangat. Mau cuaca sedang dingin ataupun normal, Wilson lebih menyukai jika tubuh kekarnya diguyuri oleh air dingin.
Seperti biasanya, Wilson tidak menanggapi perkataan Veila dengan nada yang dipenuhi rasa takut. Pria itu, tanpa diminta, segera mengangkat tubuh Veila, mendudukkannya di dekat wastafel kemudian segera mengeluarkan salep dari dalam plastik putih secara cepat.
"Mengangkang, cepat!" titah Wilson, membuat mata Veila terbelalak dan mengatup kedua kakinya dengan rapat.
Wanita itu tidak mau Wilson melihat bagian bawahnya lagi, cukup malam itu ia memperlihatkan segalanya, menjadi murahan di depan pria kasar yang sudah membelinya dengan nominal yang besar.
Melihat Veila yang tidak menurut, Wilson pun kembali berkata dengan nada bicara yang sengaja ia tinggikan. "Kubilang mengangkang! Jangan tuli!" Bentakan Wilson sukses membuat kepala Veila menggeleng pelan. Dipaksa bagaimanapun juga, Veila tetap tidak akan mau membuka kakinya.
"Aku berusaha baik padamu, seratus ribu dolar! Cepat mengangkang atau aku yang akan membuka kakimu lebar-lebar," ancamnya seraya melemparkan tatapan tajam pada Veila, membuat manik mata si wanita bergetar karena takut.
"Aku bisa mengobatinya sendiri, tidak butuh bantuanmu," gumam Veila, tetapi masih terdengar oleh Wilson. Mau sekecil apa pun suaranya, Wilson masih bisa mendengar semua itu dengan baik. Dia tidak tuli, telinganya masih berfungsi dan terlalu peka terhadap suara.
Tak tahan lagi karena terlalu lama menunggu, Wilson pun mulai bertindak. Pria itu segera mengerahkan kedua tangannya, mencengkeram kedua paha Veila kuat lalu berusaha untuk membuat kedua kaki yang merapat itu terbuka. Padahal ia sudah mau untuk bertanggung jawab, tetapi emang dasar Veila yang tidak mau menurut, sangat susah untuk diatur dan selalu membuat Wilson kesal. Namun, kebaikan Wilson pun terkesan menakutkan bagi Veila, suatu hal yang lumrah jika ia tidak mau menurut.
"Kubilang, aku bisa mengobatinya sendiri!" pekik Veila sekuat mungkin dengan kaki yang mulai menendang perut Wilson, membuat cengkeraman pada pahanya terlepas.
Merasa jika dirinya teremehkan, Wilson pun kembali melayangkan tatapan berapinya pada Veila, tangannya pun ikut terkepal, menandakan jika kini ia benar-benar sedang emosi dan ingin menerkam Veila hidup-hidup.
Sedangkan Veila mengira jika pipinya akan dilayangkan sebuah tamparan lagi, tetapi sayang, dugaannya meleset karena yang Wilson lakukan adalah melempar salep tersebut ke arah wajahnya, yang sukses mengenai mata kirinya, membuat wajahnya tertunduk dengan tangan yang menutup area matanya yang terkena ujung lancip dari salep tersebut.
"Tidak tahu berterima kasih, kau pantas dilukai, Veila," geram Wilson, kemudian segera keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamar ini terlalu bagus untuk kau tempati, lebih baik wanita tak tahu diri sepertimu mendekam di kamar mandi. Nikmati satu harimu di tempat sempit ini, kau pantas menerimanya," celatuk Wilson, nadanya meremehkan, sungguh melukai hati Veila.
Dan ketika pintu tertutup serta suara kunci terdengar, Veila pun segera turun dari wastafel, berjalan ke arah pintu dengan tangan kiri yang menutup salah satu matanya dan tangan kanan yang berusaha untuk menghilangkan rasa perih pada **** *************.
Dengan tangan kanan yang terus menekan-nekan gagang pintu dan suara kecil yang keluar dari tenggorokannya, Veila memohon sambil menangis agar pintu kamar mandi ini dibuka. Berkali-kali melakukan tekanan pada gagang pintu dan turut menggedor juga, tak lupa bibirnya meloloskan kalimat permintaan maaf yang terlampau sungguh-sungguh.
Ia ingin meminta sedikit belas kasihan dari Wilson. Sedikit, hanya sedikit, hingga akhirnya, entah sudah berapa puluh menit ia menggedor pintu seperti orang gila, tangannya pun berhenti melakukan hal itu. Percuma, mau sampai matanya mengeluarkan darah sekalipun, Wilson tak akan pernah berbaik hati padanya. Pintu ini tidak akan terbuka seharian dan akan mengurungnya dalam sebuah rasa dingin yang teramat sangat.
Ada baiknya jika ia mengakhiri hidupnya saja sekarang. Dengan perasaan kalut, ia pun berjalan tertatih ke arah bathtub dan mulai mengisinya penuh dengan air. Terserah jika orang mau berasumsi jika imannya lemah, atau apalah itu. Yang jelas Veila sudah tidak tahan untuk hidup. Bahkan, sekarang saja, menghirup udara gratis yang Tuhan berikan adalah sebuah beban untuknya.
"Mama, tunggu aku sebentar lagi. Mari kita hidup bahagia walau aku tahu tak semudah itu. Tapi, salahkah aku berharap untuk kembali tersenyum di sampingmu?" ujar Veila sambil menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Sembari menunggu bathtub itu terisi penuh, Veila pun menoleh, menatap pantulan menyedihkannya pada cermin berukuran sedang yang tergantung di dekat wastafel. Matanya yang terkena ujung lancip salep pun mulai membiru dan sedikit membengkak, nyatanya, lemparan Wilson sangat tepat sekali, sangat sukses dalam membuat luka baru.
Veila menyayangkan nasib malangnya. Ia selalu menjaga tubuhnya, tak ingin jika dirinya terluka karena hal kecil yang didasari oleh kecerobohan. Ia tak pernah sedikitpun melukai tubuh berharganya mau sesulit apa pun kehidupan dan betapa tertekannya ia. Namun, orang-orang malah dengan mudah meninggalkan luka pada fisiknya.
"Padahal aku selalu menjaga diriku dengan baik, tetapi kenapa semua orang malah melukainya? Aku berusaha untuk menyayangi diriku, berharap untuk terus hidup di tengah kepahitan. Tapi, hari ini aku harus segera mengakhirinya, mengakhiri hidupku agar fisikku tidak tersakiti lagi. Aku harap Tuhan mengerti."
Veila kemudian menoleh ke arah bathtub yang sudah terisi penuh, bahkan sudah meluap dan membuat airnya jatuh menumpahi ubin lantai. Ia menghirup napasnya dalam dan kembali menghapus derai air matanya, lalu setelah memantapkan hati, ia pun mulai masuk ke dalam bathtub tersebut.
Tak butuh waktu lama untuk menenggelamkan diri di sana. Membiarkan paru-parunya terisi oleh air dan merasakan sakit yang amat sangat. Ia tidak bisa bernapas sekarang, berusaha untuk mati dengan tenang tanpa harus meraung-raung kesakitan.
Sesulit apa pun hidupmu, jangan melakukan tindakan yang tidak disukai oleh Tuhan. Baik mama maupun Tuhan tidak menyukai yang namanya bunuh diri. Veila, kau mau berjanji pada mama untuk tidak mau menyerah pada hidup kan? Tau pepatah pelangi setelah hujan? Jika kau mampu bertahan sedikit lebih lama, kau akan melihat pelangi di hidupmu. Mama menyayangimu, teruslah hidup dan nantikanlah pelangimu.
Teringat akan perkataan mendiang ibunya, Veila pun segera membebaskan diri dari kesakitan di dalam air. Ia mengangkat tubuhnya, mendudukkan dirinya, dan mulai menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Hidung dan mulutnya mengeluarkan banyak air. Ia terbatuk, dan tadi itu benar-benar merasakan yang namanya nyawa berada di ubun-ubun. Seketika ia kembali menangis, beranjak keluar dari dalam bathtub. Dan kembali berjalan menuju pintu sambil terbatuk. Sekali lagi, ia kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, menggedor pintu sambil memohon agar dibukakan.
Sangat disayangkan jika ia tidak bisa bunuh diri karena sudah berjanji pada ibunya untuk tidak menyerah terhadap hidup. Jika ia melakukannya, mungkin sang ibu yang melihatnya di atas sana akan kecewa, merasa telah gagal mendidik anaknya untuk menghadapi kerasnya dunia. Veila tak mau melihat ibunya sedih dan menangis hanya karena melihat betapa lemahnya ia.
Lelah, Veila pun menyudahi kegiatannya menggedor-gedor pintu lalu kembali menangis lebih kencang, air matanya juga semakin deras keluar. "Mama, aku minta maaf. Aku minta maaf," ucapnya pelan.
Menangis sambil tertunduk, meratapi kesalahannya beberapa menit yang lalu. Merasa jika ada yang menetes dari hidungnya, kedua mata Veila pun terbuka. Seketika ia mendapati beberapa tetes darah yang mulai mengotori lantai kamar mandi. Buru-buru, ia segera mendongakkan kepalanya, berharap jika mimisannya segera berhenti. Dan saat ini, barulah Veila sadar dan membenarkan perkataan Leo sejak kemarin. Ia tengah sakit, dan terakhir ia mimisan saat ia terserang demam, tetapi tetap memaksakan diri untuk bekerja di minimarket.
"Ayolah berhenti, ini bukan waktu yang tepat untuk sakit," rutuk Veila sembari mengusap-usap darah yang terus saja keluar dari hidungnya.
Merasa jika kepalanya mulai pusing dan pandangannya mulai mulai menggelap, Veila pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Wilson—" itu kata terakhirnya sampai ia jatuh tak sadarkan diri dengan keadaan yang sungguh memprihatinkan.
***
Wilson bertingkah seperti biasa di hadapan Maureen, berusaha untuk tidak memperlihatkan emosinya di hadapan sang istri. Ia bersikap normal, walaupun tidak terlewat manis seperti biasanya. Masih bisa memberikan Maureen sebuah senyuman dan ciuman. Maureen sudah mempermainkannya secara halus, dan akan tidak menyenangi jika Wilson langsung melabraknya. Jika hal itu ia lakukan sekarang, apa fungsi wanita seratus ribu dolarnya?
Ah, mengingat wanita seratus ribu dolarnya, Wilson pun segera membuka pintu kamar si wanita. Hari sudah berganti, mereka harus segera meninggalkan pulau ini dan kembali ke Manhattan. Awalnya Wilson sempat terkesiap karena kamar yang ia masuki tidak menampakkan wujud Veila. Dan tak berapa lama, ia pun tersadar jika kemarin sempat mengunci wanita itu di dalam kamar mandi.
Dengan langkah malas, Wilson segera mendekat ke arah pintu kamar mandi. Diputarnya kunci yang masih melekat pada daun pintu, dan saat pintu itu terbuka, yang Wilson dapati adalah Veila yang tergeletak di lantai dengan wajah tertutupi oleh rambut. Pria itu mengira jika Veila tengah tertidur, lalu dengan santainya ia menendang kaki si wanita guna membangunkannya.
"Wil, kita harus segera ke bandara jika tak ingin ketinggalan pesawat." Itu suara Leo, tetapi Wilson tak menanggapinya. Ia masih sibuk menendang kaki Veila untuk membangunkan wanita ini.
"Hei, mau sampai kapan kau tidur? Kita harus segera pulang!" ujar Wilson, tak lagi menendang kaki Veila dan mulai berjalan mendekat.
Langkah kaki Wilson terhenti otomatis saat matanya melihat beberapa bercak darah pada keramik serta telapak tangan Veila yang juga turut menampilkan bekas darah. Merasa jika tidak ada yang beres, Wilson pun dengan cepat mendekat, meraih kepala Veila dan menyingkirkan helaian rambut yang menutup wajah cantiknya.
Wilson terkejut bukan main saat melihat kondisi Veila saat ini. Mata kiri yang membiru, bibir dan wajah yang memucat, serta bekas darah yang masih melekat jelas di bawah hidung. Keadaannya mengenaskan, sungguh.
"Hei, Veila? Aish, kenapa jadi seperti ini?" Wilson gusar, tangannya menghapus jejak darah pada bagian bawah hidung Veila.
"Wil, kau mendengar apa—astaga! Nona Amor!" Leo kaget. Pria itu juga turut masuk ke kamar Veila guna menyusul Wilson. Dan saat ia berdiri di depan pintu kamar mandi, pemandangan di depannya sungguh membuat hati Leo teriris. Veila, dia terlihat sangat menyedihkan.
Dengan gerakan cepat, Wilson pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, melemparkannya begitu saja ke arah Leo dan sukses ditangkap dengan baik.
"Cepat hubungi dokter Robert, suruh dia datang ke sini sekarang. Biaya tiket aku yang akan menggantikannya," perintah Wilson, nada paniknya benar-benar terdengar.
"Bukankah itu terlalu lama? Kita bisa membawanya ke rumah sakit yang ada di sekitar sini—"
"Aku hanya ingin dokter Robert yang menanganinya! Hubungi dia dengan cepat, katakan jika aku akan membayarnya tiga kali lipat kalau dia bisa sampai dengan cepat ke sini." Wilson menoleh, melihat Leo yang masih diam kemudian lanjut membentak, "Cepatlah, bodoh! Dia demam!" bentaknya, dan kemudian segera mengambil ancang-ancang untuk menggendong Veila.
Leo menghela napasnya, kemudian segera menghubungi dokter Robert. Sungguh, ia tidak mengerti jalan pikiran seorang Wilson Hovers.
Bersambung ....