
Semuanya berkumpul di meja makan guna merayakan hari jadi Tuan Hovers yang ke enam puluh dua. Bukan hanya keluarga kecil Hovers saja, melainkan seluruh keluarga besar termasuk orang tua Xavier serta orang tua Maureen.
Biasanya Tuan Hovers jarang sekali mengadakan acara makan malam hanya untuk merayakan pertambahan usianya. Namun, tahun ini ia mengikuti kemauan istrinya untuk mengadakan acara makan malam super mewah di kediaman Wilson. Sebenarnya, acara tersebut hendak diselenggarakan di kediamannya. Namun, mengingat Veila yang tengah hamil, mereka semua sepakat untuk makan malam di rumah Wilson saja.
Banyak makanan mewah yang terhidang di meja makan panjang tersebut. Mulai dari makanan laut sampai dengan jejeran dessert yang manis sudah tersusun rapi. Wilson tersenyum saat melihat ibunya yang bercengkrama manis dengan Veila, memperhatikan asupan yang akan diterima sang istri malam ini.
Namun, Wilson sama sekali tidak sadar dengan perubahan wajah ibu mertuanya sendiri. Sedangkan Maureen sudah cemas dengan mulut sang ibu yang terlihat siap untuk melontarkan kalimat menyakitkan. Perihal sang ibu yang sempat mengatakan perihal perceraian di depan nyonya Hovers, mereka bertiga, sepakat untuk tidak mengatakannya pada Wilson.
Oh, Xavier? Laki-laki itu tidak bisa ikut karena sudah kembali ke London sejak dua Minggu lalu. Sepupunya itu menghabiskan dua bulan liburannya di sini dengan penuh tawa, berkata jika masa libur berikutnya ia akan balik berkunjung dan bermain bersama keponakan barunya.
Tertawaan semua orang yang tengah duduk di ruang tamu seketika terhenti saat Nyonya Cruz mengeluarkan suaranya. "Kulihat tidak ada yang memperhatikan Maureen di sini. Semuanya hanya tertuju pada istri kedua Wilson."
Wanita itu menyindir sembari membenarkan tata letak rambutnya. Sedangkan kedua mata Maureen sudah melebar, bergumam kecil agar ibunya berhenti memanasi keadaan.
Nyonya Hovers berdehem. "Tidak ada yang mengabaikan Maureen. Anakmu sedari tadi diam, kadang juga ikut tertawa. Aku memperhatikannya."
Nyonya Cruz berdecak, membuang pandangannya ke arah lain seraya bersidekap dan menyender pada punggung kursi.
"Apa yang kalian harapkan dari bayi yang dikandung oleh seorang pelacur seperti dia? Asal kalian tahu, dia bukan berasal dari keluarga kaya di Spanyol sana! Dia hanyalah seonggok tikus got yang Wilson pungut dari kelab malam! Bodoh sekali, kalian tertipu oleh wajah polosnya," cerca Nyonya Cruz, kesabarannya sudah habis, tidak tahan untuk mengatai Veila yang baginya adalah wanita perusak rumah tangga sang anak. Tentu semuanya terkejut, beralih menatap Wilson dan Veila bergantian penuh tanda tanya.
"Jika tidak menyukainya, cukup diam nyonya Cruz yang terhormat kau merendahkan harga dirinya. Mengarang cerita jika Veila adalah wanita kelab malam!" bentak Nyonya Hovers, beliau juga kehilangan kesabarannya.
Nyonya Cruz menggeleng, menanggapi kebodohan satu keluarga Hovers yang berhasil tertipu oleh drama yang dirancang Wilson dan Veila. Ia mulai menjelaskan semuanya, menyampaikannya tanpa kurang seperti yang Maureen ceritakan padanya beberapa bulan lalu.
Mulai dari bagaimana cara Wilson membawa Veila, kebohongan perihal kehidupan, sampai dengan orang tua sewaan yang menghadiri upacara pernikahan di gereja. Maureen tidak mengatakan masalah kontrak, tahu jika semuanya akan semakin rumit karena itu. Semuanya terdiam, memandangi Wilson dan menuntut penjelasan lewat pancaran matanya.
Wilson beranjak dari kursi, menimbulkan bunyi derit yang mengalahkan kemarahan nyonya Cruz, mertuanya sendiri. Sedangkan Veila hanya mampu menunduk setelah segala kebohongannya dibongkar oleh ibu Maureen. Wanita itu tidak berani menatap wajah kedua orang tua Wilson, ia sangat takut.
Wilson menggenggam tangan kanan Veila, meremasnya lembut, memberi ketenangan. Sengaja ia berdiri membelakangi Veila agar pandangan si ibu mertua yang menatap benci Veila terhalangi.
"Jelaskan pada mommy yang sebenarnya, Wilson! Siapa Veila sebenarnya? Apa yang nyonya Cruz katakan adalah benar? Jangan permainkan kedua orang tuamu!" bentak nyonya Hovers, membuat Veila semakin meremas tangan Wilson kuat. Wilson berbalik, menoleh ke arah Veila sejenak, berbisik jika tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada Mommy, tapi biarkan Veila masuk ke kamar dulu," pintanya dan diangguki oleh nyonya Hovers.
Setelah itu, Wilson segera membawa Veila masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai bawah—sulit untuk ibu hamil saat menaiki dan menuruni anak tangga. Ia mendudukkan Veila di atas ranjang, menekan bahu sang wanita dan menatap wajah Veila yang sudah dibanjiri air mata.
"Jangan menangis, Veila. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku akan menjelaskannya pada mommy. Kau harus percaya jika semuanya akan baik-baik saja," ujar Wilson, membawa Veila ke dalam pelukan hangatnya.
Sementara Veila pun mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Wilson seraya membenamkan wajahnya pada perut sang suami. Ia takut jika Nyonya Hovers jadi tidak menyukainya dan mulai membencinya.
"Jangan memikirkan apa pun, apalagi sampai membuatmu stress. Kau harus tenang, aku akan berjanji jika semuanya akan berjalan dengan baik," lanjutnya, dan dalam diam Veila mengangguk lemah.
Perlahan, Wilson mulai melepaskan pelukannya, beralih menciumi perut Veila, mengelusnya seraya berkata, "Jaga Mamamu selama beberapa menit ya, sayang. Papa akan segera kembali." Dan setelah itu ia mulai menatap Veila, mengusap wajah istrinya, dan memberikan pangutan singkat pada birai ranum menawan milik Veila.
"Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja."
Bersambung ....
Road to ending