
Tak biasa melihat Veila yang tengah mual-mual di depan wastafel, membuat Leo yang kebetulan tengah mengantarkan berkas penting kepada Wilson pun perlahan mendekat. Pria itu melihat semuanya sejenak, lalu karena merasa sedikit tidak tega, iapun memberanikan diri untuk mengurut leher Veila, setidaknya ingin membantu meredakan rasa mual yang tengah dialami oleh si wanita.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa tiba-tiba bisa mual seperti ini?" tanya Leo sembari menarik kembali tangannya setelah Veila membasuh mulutnya dengan air.
Mendengar itu, Veila menggeleng, memberi dua jawaban yang bisa langsung di jawab hanya dengan gelengan singkat.
Pertama, ia tidak apa-apa, Leo tak perlu mencemaskannya. Kedua, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia mual seperti ini. Dan parahnya, ini sudah berlangsung selama tiga hari semenjak Wilson dan dirinya jatuh dari tangga.
"Nona Amor, bulan ini sudah kedatangan tamu istimewa?" tanya Leo, tidak bermaksud apa-apa, hanya sedikit penasaran saja. Justru pertanyaan Leo tadi membuat Veila kembali mengingat periode datang bulannya. Wanita itu menggeleng, mengatakan 'belum' setelah mengingat tanggal rutin datang bulannya.
Namun, Veila tak terlalu memusingkan hal itu karena ia memang sering kedatangan tamu secara tidak teratur. Mendengar itu, Leo pun mulai menggigit bibir dalamnya, memerhatikan Veila dan kembali mengingat jika di pulau xxx Wilson sempat menggagahi Veila dengan brutalnya. Wilson Alexander Hovers, Leo yakin jika pria itu pasti sudah menanamkan benihnya hari itu.
"Apa jangan-jangan kau sedang hamil? Bukankah mual-mual adalah salah satu tandanya? Kau juga sempat berhubungan badan dengan Wilson, kan?" Celetukan Leo yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang asal-asalan pun mampu membuat Veila terdiam, kembali memikirkan satu kemungkinan terbesar ia tengah hamil.
Namun, Veila segera menggeleng, menepis semua tuduhan Leo dan berkata, "Aku hanya masuk angin, Leo."
Tidak percaya dengan sanggahan Veila, Leo pun hendak mengatakan sesuatu seperti membelikannya sebuah testpack untuk membuktikan perkataannya, tetapi saat mulutnya sudah terbuka dan mengeluarkan satu kata, suara Wilson terdengar, membuat ia mengurungkan niat untuk berkata lebih.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucap Wilson, membuat Veila segera berlari kecil menuju si pria dan membantu pria itu berjalan.
Leo berdecih, mengatai Wilson sebagai pribadi yang manja karena sebetulnya jalan sendiripun bisa dengan kondisi kaki yang hanya terkilir seperti itu. Namun, seperti anak kecil yang bisa melakukan apa pun, Wilson malah tak meminta Veila untuk membantunya dalam segala hal, memanfaatkan kondisinya yang terbilang sangat baik-baik saja tidak membutuhkan perawat atau apa pun itu, yang sejenis.
Di saat Leo ingin pergi meninggalkan rumah ini, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Maureen di pintu depan. Sesuai perjanjian yang sudah mereka sepakati, Leo pun hanya mampu menyapa Maureen, dan kemudian segera berucap, "Sepertinya Veila tengah hamil anaknya Wilson. Segera siapkan dirimu, aku menunggumu meninggalkan dia."
Sebuah kalimat yang sukses membuat Maureen membisu, tak percaya dengan semuanya. Secepat itukah? Dan jika itu benar, apakah Wilson akan melupakannya, menarik kembali semua kasih sayangnya dan malah melimpahkannya kepada Veila sebagai bentuk terima kasih?
***
Wilson yakin betul jika kondisi kakinya sudah membaik. Namun, karena ingin terus memanfaatkan rasa tanggung jawab yang Veila tunjukkan, sampai sekarang Wilson masih meminta bantuan untuk pergi ke kamar mandi dan dalam melakukan sesuatu.
Selama seminggu ini, Veila benar-benar mengurusnya dengan telaten, membantunya dalam segala hal, dan seringkali bersama dalam waktu yang panjang. Singkatnya, seminggu ini Wilson teramat puas berada di dekat Veila dengan keuntungan bisa terus memerhatikan wajah cantik istri keduanya― satu hal, Wilson tidak bisa berbohong tentang kecantikan Veila.
Namun, lama kelamaan ia merasa kasihan juga. Veila sering tidak bisa beristirahat karena selalu ia suruh ini itu, seperti pembantu. Selalu ia marahi karena tidak becus dan beberapa kali sempat membuatnya hampir terjatuh. Apalagi Veila yang terlihat sedikit pucat dan selalu mual-mual, yang di mana Wilson berasumsi jika wanita tersebut tengah masuk angin.
Ah, perlu diingat, ia tidak akan kasar secara fisik lagi pada Veila, walaupun secara verbal masih terbilang cukup parah. Perlahan-lahan juga ia jadi memiliki rasa simpati, walau kecil untuk Veila. Karena itu, ia ingin segera mengakhiri ini. Lagipula ia sudah bisa berjalan dengan normal lagi.
Wilson memperhatikan Veila yang tengah menggantung handuk putih serta menyiapkan jubah mandi untuk Wilson di dekat gantungan yang berada tak jauh dari shower yang menyala. Veila melirik ke arah Wilson yang kini sudah mengguyur diri di bawah pancuran air—Wilson mandi dengan celana pendeknya, tidak telanjang, dan kemudian segera pamit untuk keluar. Dan di saat ia sudah berbalik, lagi-lagi pergelangan tangannya dicekal oleh Wilson. Saat ia hendak bertanya apa ada sesuatu yang Wilson butuhkan lagi, tiba-tiba saja tangannya sudah ditarik paksa oleh Wilson.
Pria itu membawa si wanita untuk berdiri di bawah guyuran air, menahan pinggulnya agar si wanita tidak bisa kabur darinya walau hanya menggeser sedikit telapak kakinya.
Mata Veila sesekali terpejam karena terkena tetesan air yang cukup deras. Ingin melepaskan diri dari Wilson, tetapi pria itu lebih dulu membisikkan sesuatu di telinganya.
"Karena telah merawatku," balas Wilson. Wanita itu termenung saat jawaban singkat yang ia dengar dari bibir Wilson. Dan beberapa detik kemudian, Veila mulai membalasnya.
"I-itu hanya bentuk tanggung jawabku, seperti yang kau minta tempo hari." Tak sanggup untuk terus melihat mata tajam milik Wilson, Hyewon pun segera menundukkan wajahnya. Ditambah lagi Wilson yang terus diam setelah ia mulai membalas perkataannya. Dan lagi, sampai kapan ia harus ditahan seperti ini? Pakaian dalamnya bahkan sudah terlihat karena bajunya yang tipis telah basah terkena air.
"Veila ...." Wilson memanggilnya, menarik dagu si wanita, membuat kepalanya terangkat dan netra mereka kembali bertemu untuk yang kesekian kali.
Tak butuh waktu lama bagi Wilson untuk memulai sebuah ciuman. Jujur saja, sensasinya benar-benar beda saat ia mulai menyesap bibir yang sudah basah tersebut. Ini juga kali pertama ia berciuman seperti ini, sungguh. Dan karena hal ini, jantung Veila menggila. Bukan hanya jantungnya, tetapi otak yang sudah tersambung ke hati pun rasanya ikut menggila. Ia kembali merasakan debaran kencang setelah terakhir kali merasakan hal ini saat sedang jatuh cinta dengan Charlie.
Kenapa debaran datang tanpa terduga seperti ini? Dan juga, kenapa harus dengan Wilson, si manusia yang ia labeli sebagai orang jahat?
Kenapa, kenapa, dan kenapa?
Wilson membuka matanya saat merasa jika lengan Veila sudah terkalung manis di lehernya. Wanita itu berjinjit, menyesuaikan tinggi mereka yang berbeda. Kini giliran Veila yang menciumi Wilson, pria itu malah masih sedikit syok karena wanita ini malah balik menciumnya di saat ia tengah benar-benar menikmati keranuman bibir itu.
Namun tak berselang lama, Wilson pun mulai mendorong Veila hingga punggung si wanita membentur pelan dinding kamar mandi, lalu segera kembali menciumi Veila kembali. Tidak ada permainan sepihak karena Veila juga turut mengimbangi ciuman Wilson.
Veila tidak ingin jatuh cinta lagi. Sudah cukup membagi hatinya untuk Charlie. Ia takut suatu hari dirinya akan merasakan sakit.
Ini masih pagi, tetapi Wilson menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar pergulatan dua bibir. Ciuman Wilson yang semula hanya berpusat pada birai ranum milik Veila, kini perlahan mulai turun ke area leher. Mengecupnya berkali-kali, bahkan sampai meninggalkan jejak keunguan di sana.
Tidak hanya itu, tangan Wilson juga sudah bergerak nakal, menyusup ke dalam pakaian tipisnya yang memang sudah basah, megusapnya selembut mungkin dan perlahan mulai naik ke area dada. Dan di saat tangan Wilson hampir berhasil melepaskan penyangga dada milik Veila, bibir wanita itu mulai mengeluarkan suara kecil seperti suara mual, membuat Wilson menjauhkan dirinya dan Veila pun segera berlari kecil menuju wastafel.
Melihat Veila yang mual-mual pun membuat Wilson mendekat, dan kemudian segera mengusap punggung Veila walau awalnya sedikit ragu.
"Masuk angin? Sudah seminggu kau seperti ini terus. Nanti, aku akan panggilkan Robert untuk memeriksamu," imbuh Wilson seraya meyudahi usapan pada punggung Veila. Sedangkan si wanita malah menggeleng, merasa tak perlu memanggil Robert karena ini hanya sekedar masuk angin biasa.
Veila yang baru saja mematikan keran wastafel pun segera menoleh saat sadar jika Wilson kini tengah membungkus tubuh basahnya dengan handuk.
"Kau mau membantuku, kan? Jika mau, aku akan menjadi pria baik untukmu," gumam Wilson seraya mendekap tubuh Veila dari belakang.
"A-apa?" tanyanya, sedikit dilanda rasa cemas.
Wilson menggeleng. "Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi yang pasti, kau akan terus membantuku, selalu."
Membantuku agar Maureen kembali padaku.
Bersambung ....