Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 39


Wilson benar-benar kesal jika saat pekerjaan belum selesai, orang tuanya malah dengan santai menyuruhnya untuk datang ke rumah detik itu juga. Membayangkan pekerjaannya yang akan semakin menumpuk karena tidak diselesaikan sesuai dengan timeline yang Jack buat membuat Wilson benar-benar ingin menendang semua barang yang ada di ruangannya.


Bayangkan saja, ia sudah cuti selama empat hari—sudah dihitung dengan satu hari tambahan—hanya untuk mengunjungi pulau xxx, lalu baru saja ia menghirup udara Manhattan, presensinya mau tidak mau harus berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jangan salah, walaupun Wilson adalah pimpinan tertinggi di perusahaan, pria itu punya tanggung jawab serta pekerjaan paling banyak dan berat di sana. Terkadang ia sampai tidak tidur saking sibuknya dan mengklaim jika hari Minggu adalah surga untuknya—biasanya ia hanya tidur seharian di hari Minggu.


Leo Zhang tak bisa dihubungi, membuatnya harus menyetir sendiri ke rumah orang tuanya. Padahal saat ini ia tengah malas menyetir dan berniat menggunakan jasa Leo. Saat mendapati jika nomor telepon Leo tidak aktif, Wilson langsung berasumsi jika Leo tengah menghabiskan waktu dengan istrinya. Marah? Tentu saja! Rasanya ia ingin cepat melabrak dua orang tersebut, tetapi pikirannya tidak mengizinkan. Ia ingin mendapatkan Maureen kembali, bukannya ingin kehilangan Maureen. Biarkan Leo merasakan cinta yang berbunga-bunga terlebih dahulu sebelum akhirnya Maureen pergi dan kembali pada Wilson.


Butuh sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke kediaman orang tuanya. Jarak antara perusahaan dan mansion mewah ini berbeda arah, membuat Wilson harus mengambil jalan memutar. Berbeda dengan jarak perusahaan ke rumahnya yang hanya berkisar tiga puluh menitan, membuat Wilson tak memerlukan jasa sopir pribadi untuk mengantar jemputnya.


Tak butuh waktu lama untuk memarkirkan mobilnya, karena memang ia hanya memarkirnya asal, tepat di depan pekarangan rumah yang luasnya sudah seperti hutan mini.


Ada beberapa pelayan pria yang berkumpul menghampiri Wilson saat mobil tersebut sudah terparkir asal.


Melihat itu, dengan santainya Wilson melemparkan kunci mobilnya pada salah satu pelayan, mengisyaratkan agar pelayan tersebut memarkirkan mobilnya dengan rapi. Satu hal, nyonya Hovers tak suka jika Wilson ataupun suaminya memarkirkan mobil di pekarangan rumahnya secara sembarangan. Jika itu terjadi, ia tak akan segan-segan menarik rambut dua pria itu dan memakinya, menyuruhnya untuk memarkirkan mobil di tempat yang semestinya.


Tak seperti dugaan, saat ia memasuki mansion megah ini, sang ibu—tidak seperti biasa—menyambutnya, mengunggu di depan pintu dengan pelayan wanita yang berjejer di belakangnya.


Nyonya Hovers tersenyum cerah, merangkul hangat guna menyambut kedatangan anak semata wayangnya. "Ayo masuk. Daddymu sudah menunggu di dalam," ujar Nyonya Hovers membawa anaknya masuk kemudian memberi perintah agar para pelayan segera kembali pada pekerjaan masing-masing.


Dengan malas, Wilson melangkahkan kakinya sembari menyingkirkan tangan sang ibu yang kini tengah merangkul pundaknya, merasa risih akan hal itu.


"Tidak bisakah Mom mengatakannya lewat telepon saja? Apa hal yang ingin kalian bicarakan nanti adalah sesuatu yang penting?" tanya Wilson, terus mengikuti langkah sang ibu yang membawanya menuju ruang keluarga, di mana ayahnya telah menunggu. Dan benar sekali saat jarak mereka semakin dekat, manik Wilson dapat melihat sosok ayahnya yang tengah duduk memunggungi.


"Sesuatu yang penting, Wilson. Kita harus mendiskusikannya bertiga," jawab sang ibu, membawa Wilson untuk duduk berhadapan dengan suaminya.


Tepukan pelan pada pundak tuan Hovers sukses membuatnya memandang Wilson dan akhirnya membuka suara.


"Bagaimana bulan madumu di pulau xxx? Lancar, Wil?" Sang ayah bertanya kemudian dibalas dengan anggukan serta jawaban singkat yang mengatakan jika bulan madu itu berjalan sangat lancar, padahal sebenarnya tidak, karena banyak momen menyakitkan di sana.


Sedetik kemudian, setelah mendengar penuturan anaknya yang entah hanyalah sebuah dusta belaka atau memang kejujuran murni. Tuan Hovers kembali tersenyum dan mengangguk lega.


"Veila, dia baik-baik saja?" Tuan Hovers kembali bertanya, tetapi karena yang ditanya adalah Veila, Wilson menjadi sedikit tidak senang. Dari dua orang wanita yang ada di rumahnya, kenapa hanya Veila yang ditanyai? Kenapa bukan Maureen? Apakah ini salah satu tindakan pilih kasih?


"Kenapa Daddy menanyakan kabar Veila? Kenapa tidak bertanya tentang Maureen saja? Oh, atau keduanya sekaligus?" tanya Wilson dengan nada tak suka yang tak terlalu terdengar.


Tak menanggapinya dengan nada ketus seperti yang anaknya layangkan, tuan Hovers pun menjawab, "Maureen kemarin sudah kemari, membawakan kami buah-buahan serta mengabari keadaannya yang baik-baik saja. Daddy tahu apa yang tengah kau pikirkan sekarang, Wilson. Tapi maaf sekali, Daddy tidak punya maksud untuk menspesialkan salah satu dari dua istrimu."


Agak sedikit terkejut saat mendengar penuturan sang ayah yang mengatakan Maureen sudah kemari kemarin, padahal biasanya mereka berdua selalu pergi ke rumah orang tua—baik Wilson maupun Maureen—bersama, tidak pernah pergi sendiri.


Merasa jika Wilson tidak akan menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan Veila, tuan Hovers pun segera mengalihkan pembicaraan. "Apa Mommymu sudah mengatakan tentang hal yang akan kita bahas?" Suatu pertanyaan yang sukses membuat Wilson menggeleng. Oh, dirinya tidak mau jika kedua orang tuanya membahas perihal keturunan yang ia pun tengah berusaha untuk mendapatkannya. Ia sempat berpikir, hal penting apa yang hendak orang tuanya bahas? Pekerjaan? Proyek? Atau sesuatu yang baru?


Jika hanya mendiskusikan hal semacam ini, sang ibu ataupun ayahnya bisa mengatakannya langsung via telepon, 'kan? Tak tahukah kedua orang tuanya seberapa keras Jack harus mereschedule semua list pekerjaannya yang tertunda? Dan, oh Tuhan! Acara ulang tahun tidak begitu penting bagi Wilson! Tanpa perlu dirayakan dengan megah pun, semua orang sudah tahu jika perusahaannya akan berulang tahun.


"Bukankah itu tidak penting? Kenapa harus dirayakan jika hal semacam itu sebenarnya tidak musti untuk dirayakan?" celatuk Wilson, membuat nyonya Hovers mengusap dada setelah mendengar penuturan anaknya. Jelas-jelas bagi mereka—tuan dan nyonya Hovers—ulang tahun perusahaan itu sangat penting. Jika dilihat ke belakang mengenai bagaimana dulunya kakek Wilson mendirikan dan membangun perusahaan dari nol, membuat dua orang tua tersebut menguatkan keinginannya.


"Pokoknya mommy tidak mau tahu, kita harus menyelenggarakan pesta yang mewah untuk merayakan umur perusahaan yang sudah menginjak enam puluh tahun! Wilson Alexander Hovers, sebaiknya kau menuruti kemauan kedua orang tuamu ini. Kau itu sudah banyak membangkang, ada baiknya sekali-kali mengiyakan kemauan kami!" sindir nyonya Hovers yang justru membuat Wilson memutar bola matanya malas.


Karena tidak mau mendengar ocehan ibunya dan berlama-lama di rumah ini hanya karena mendebatkan sesuatu yang bahkan bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit saja, mau tak mau, pria itu pun menganggukkan kepalanya, menandakan jika ia setuju dan akan mengabulkan keinginan orang tuanya.


Ada alasan kenapa Wilson meniadakan pesta ulang tahun perusahaan, semua itu karena seluruh relasi bisnis yang datang memenuhi undangan selalu bertanya perihal anak. Sesuatu yang sangat Wilson benci, tetapi kehadirannya sungguh dinantikan.


***


Leo tak berhenti tersenyum saat melihat wanita di depannya ini memutar bola mata dengan kesal, berkacak pinggang, lalu memarahinya. "Bisakah kau berhenti mengikutiku? Kita bisa bertemu di parkiran jika aku sudah selesai berbelanja."


Itu perkataan Veila, suara lembutnya berhasil menusuk masuk menembus pendengaran Leo, membuat pria itu terus dan terus tersenyum, tak bisa berhenti walaupun dipaksa. Padahal tadi niatnya ingin berduaan dengan Maureen, tetapi saat melihat kekasihnya yang tengah murung dan melamunkan sesuatu, Leo pun langsung berbalik arah dan tak sengaja berpapasan dengan Veila. Hingga akhirnya mereka berdua berakhir di sebuah supermarket di pusat kota yang ramai.


"Siapa yang mengikutimu? Kebetulan saja aku juga ingin pergi ke sana," jawab Leo, seraya mendelikkan bahu, merasa superior karena bisa membalas perkataan Veila. Ia menang, sebab bisa berdalih. Membuat wanita di depannya ini merasa kesal dan akhirnya berbalik guna melanjutkan langkahnya.


Bagi Leo—untuk saat ini—meliha Veila yang tengah memilih-milih barang belanjaan untuk diletakkan pada troli adalah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi saat Veila meminta pendapatnya dalam memilih produk, rasanya seperti menemani seorang istri untuk belanja bulanan.


Jujur, Leo pernah membayangkan hal kecil seperti ini, ia dan Maureen belanja bersama untuk memenuhi kulkas besar mereka. Namun, sepertinya hal itu akan terjadi—tapi dalam waktu yang lama—atau tidak akan pernah terjadi. Ia bahkan sudah berkali-kali untuk memaksa Maureen untuk meninggalkan Wilson dan beralih kepadanya, tetapi kekasihnya selalu saja berkata ; "Nanti, jika waktunya sudah tepat aku pasti akan meninggalkan Wilson. Kau mempercayaiku 'kan Leo?" Jika 'nanti' itu tiba dan Leo sudah memutuskan untuk pergi, apakah akan ada penyesalan di dalam diri wanita yang ia cintai?


Tak terasa, kini mereka berdua sudah berada di luar supermarket dengan tangan Veila yang menenteng satu kantong plastik lumayan besar. Padahal Leo sudah menawarkan bantuan sejak kasir memberi Veila beberapa receh uang kembalian, tetapi wanita itu menolak dengan alasan; selama aku masih bisa, kenapa harus minta bantuan? Perkataan yang baru dengar dari seorang wanita serta sempat membuatnya terdiam dan akhirnya tersenyum tipis. Veila, pada dasarnya wanita itu tidak mau merepotkan siapapun. Dan mungkin saja, ada alasan tersendiri kenapa saat itu dia—Veila Amor—terjebak di kelab malam.


"Kau mau latte?" tawar Leo, sengaja berdiri di depan si wanita, membuat langkah mereka terhenti.


Veila melirik, di seberang jalan sana ada sebuah kedai kopi yang ramai. Lagipula tenggorokannya memang sedang terasa kering karena kurang minum, ditambah lagi ia sudah berkeliling supermarket selama lebih dari tiga puluh menit.


"Aku akan pergi membeli—"


"Eh, tidak perlu. Karena aku yang menawarkan, maka aku yang akan membelinya. Oh, aku juga akan mentraktirmu, Nona Amor!" ujar Leo bersemangat.


Dengan cepat, ia pun segera mendorong punggung Veila, mendudukkan wanita itu di sebuah bangku kosong di depan gedung supermarket, menyuruhnya untuk menunggu sebentar kemudian segera melesat pergi untuk membeli kopi. Sedangkan Veila hanya mempu memperhatikan punggung Leo yang menjauh. Padahal, pria itu tidak perlu repot-repot untuk membelikannya kopi. Jika mau pun, akan lebih baik kalau mereka pergi dan mengantre bersama.


Untuk mengusir kebosanan, Veila pun segera memeriksa kembali struk belanjaan, siapa tahu ada sesuatu yang kelupaan dibeli. Namun, saat dirinya tengah fokus pada tulisan kecil di atas kertas tersebut, suara bangku yang terseret di depannya sukses membuat ia mendongak. Matanya membulat sempurna dengan jemari yang ikut meremas pakaian tebalnya. Seseorang yang tengah duduk di depannya, melemparinya sebuah senyuman manis, pun berujar, "Apa kabar? Sudah lama, ya."


Dia, Charlie, akar dari semua masalah hidupnya.