
Veila tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama di pulau ini. Akhir-akhir ini ia terlalu banyak melamun, bahkan sempat tidak sadar jika sudah berjam-jam mengosongkan pikiran dan hanya memandangi lautan biru yang membentang di depannya.
Sama seperti malam ini, seakan tergerak dengan sendirinya, ia pergi ke arah pekarangangan depan vila, menduduki bangku cokelat yang kosong, duduk di sana dan memandangi laut yang dilahap oleh kegelapan malam.
Suara deburan ombak dan juga binatang malam menyapa pendengarannya, sesekali helaan napas ia embuskan. Pulau ini memang indah, tetapi keindahan itu sirna karena ia hanya menikmatinya sendiri. Seakan sudah terbiasa, angin malam dan juga kegelapan bagaikan teman untuknya. Tidak ada rasa dingin karena terpaan angin, tidak ada pula rasa takut dengan malam yang sunyi senyap. Yang Veila rasakan adalah setitik ketenangan. Andai hidupnya bisa sedamai kegelapan malam, mungkin dirinya bisa menyentuh kata 'bahagia' walau sebentar.
Veila mengalihkan wajahnya ke kiri, mendapati sosok Leo yang baru saja ikut duduk di sebelahnya seraya membawa sebuah jaket tebal yang terlihat hangat jika digunakan.
"Tidak dingin?" tanya Leo, basa basi di awal adalah sesuatu yang sudah mendarah daging untuknya. Akan terlihat kurang ajar jika ia langsung berbicara banyak tanpa mengutarakan sebuah 'basa basi' untuk mencairkan suasana.
Tidak ada kalimat balasan dari Veila, tetapi Leo cukup merasa puas saat wanita di sebelahnya ini menggelengkan kepalanya, berkata lewat gerakan tubuh jika tidak kedinginan.
Beberapa detik terdiam dan turut memandangi kegelapan, Leo pun akhirnya berdiri, membuat Veila melirik sejenak dan berpikir jika Leo akan pergi meninggalkannya. Namun, dugaannya sama sekali tidak tepat, seolah-olah Leo adalah pria yang tidak bisa ia tebak tingkahnya.
Dengan santai, Leo memposisikan diri di depan Veila, tersenyum simpul, lalu menyampirkan jaket yang ia bawa pada pundak Veila. Dongakan yang Veila lakukan membuat kedua pandangan mereka bertemu, cukup lama, sebelum akhirnya Veila yang lebih dulu memutuskan kontak mata.
Veila cukup kaget saat telapak tangan Leo sudah menempel di dahinya, menyalurkan rasa dingin yang membuat sekujur tubuhnya menggigil. Tangan Leo terlalu dingin, entah karena angin malam atau karena hal lainnya.
Leo menurunkan wajahnya, memposisikan paras tampannya agar bisa sejajar dengan mahakarya Tuhan lainnya. "Kau sakit? Dahimu panas." Nadanya terdengar khawatir, dan inilah bukan click bait semata. Si pria benar-benar mengkhawatirkan kondisi si wanita karena ia ingat betul kejadian dua hari lalu, di mana mereka berdua saling berpelukan di bawah guyuran hujan lebat.
"Gara-gara aku memintamu berdiri di bawah hujan waktu itu kau jadi demam, Nona Amor. Sebaiknya kau masuk ke dalam dan istirahat," ujar Leo, memberi Veila isyarat agar wanita itu segera beranjak dari bangku kayu ini.
"Aku tidak sakit, percayalah," balas Veila dengan netra yang masih terkunci pada lautan di depan sana. Jika ia masuk ke dalam vila, maka ketenangan hati akan hilang. Veila belum mau kehilangan rasa itu, saat ini ia butuh rasa tenang untuk mengusir rasa resah saat ia memikirkan kehidupannya atau kejadian yang akan menimpa dirinya dikemudian hari.
Tak enak jika harus memaksa Veila masuk, Leo pun segera kembali duduk di sebelahnya, ikut memandangi lautan walau sebenarnya yang ia lihat hanyalah kegelapan.
"Lebih baik kau masuk Nona Amor. Tidak ada yang bisa dilihat saat malam hari, yang ada hanya rasa dingin akibat tiupan angin. Pagi hari nanti, akan ada banyak burung camar yang singgah di bebatuan, jika mau kau bisa kembali lagi saat fajar datang." Leo terus membujuk karena ia masih diselimuti oleh kekhawatiran.
Sedangkan Veila merasa biasa-biasa saja walau ada rasa tak enak badan yang mampir. "Kegelapan membuatku tenang. Jika kau menyuruhku untuk masuk, sama saja kau membuatku kehilangan rasa tenang," sahut Veila membuat kepala Leo tertoleh.
Ia memperhatikan wajah samping Veila yang sempurna, sayang sekali, wanita ini sudah menjadi milik Wilson. Namun, rasa ingin menjadikan Veila sebagai pelampiasan rasa sakit akibat cinta tidak akan pernah terluntuturkan. Wanita itu biarpun terlihat ketus padanya, tetapi selalu sukses membuat Leo merasa terobati. Setidaknya, wanita kelab malam ini tidak ada buruknya untuk didekati.
"Kalau begitu, aku akan duduk di sini juga dan memandangi lautan di depan sana. Kemarin kau sudah menemaniku untuk melihat senja, sekarang aku yang akan menemanimu melihat kegelapan. Hubungan timbal balik, sepertinya kita berdua saling membutuhkan, Nona Amor," tukas Leo yang disertai senyuman lebar, lesung pipinya turut keluar dari persembunyian, membuatnya semakin terlihat seperti pria manis yang tak pernah menimbun dosa.
Veila tersenyum sekilas, sangat tipis dan samar sehingga sulit untuk ditangkap oleh mata kosong. Ia ingin menyahut, tetapi perkataannya tercekat saat seseorang dari sebelah kanannya mulai mencengkeram tangannya, memaksanya untuk beranjak dari bangku yang mulai menghangat tersebut.
Bersambung ....