Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 23


Setelah berkeliling cukup lama di lokasi proyek, memastikan jika segalanya berjalan dengan baik tanpa hambatan besar, Wilson pun memutuskan untuk kembali ke dalam mobil. Tentu saja Wilson datang ke sini bukan hanya untuk berkeliling mengamati proyek secara langsung, tetapi ia juga harus berbincang-bincang sejenak serta memberikan pengarahan pada si pengambil alih proyek ini.


Apa pun yang terjadi, Wilson ingin pusat perbelanjaan ini selesai tepat waktu, ia membenci sebuah keterlambatan. Karena itu, bawahan Wilson selalu menyewa tukang bangunan yang benar-benar ahli, bukan hanya yang gila uang saja.


Leo tidak ikut pulang dengannya. Pria itu berkata jika dia ingin pulang dengan Antonie, salah satu karyawan di perusahaan Wilson, yang kebetulan tengah berada di lingkungan proyek dan rumahnya satu arah dengan Leo.


Tentu saja Wilson tidak keberatan, ia tak perlu repot-repot mengantar Leo pulang dan langsung bisa kembali ke kantornya untuk menghadiri rapat terakhir. Veila? Rasanya bukan masalah besar untuk meninggalkan wanita itu di dalam ruangannya selama ia pergi menghadiri rapat. Jika dia protes, maka Wilson akan menyuruhnya untuk pulang jalan kaki saja.


Veila mengalihkan perhatiannya ke arah depan saat mendengar pintu mobil yang terbuka. Sesaat setelah mesin mobil dihidupkan, Wilson mulai bersuara.


"Pindah ke depan, aku bukan sopirmu," titah Wilson yang ditanggapi Veila dengan helaan napas dan kemudian segera berpindah ke kursi penumpang yang berada di depan.


Tidak ada yang mulai percakapan selama di dalam mobil. Malahan yang Veila tanggap sekarang ini adalah kekesalan Wilson karena jalanan yang macet. Mereka berkendara di saat jam pulang kerja, wajar jika jalanan menjadi sangat padat dan menghambat perjalanan mereka.


"Hei, seratus ribu dolar, kau tertarik dengan Leo?" Pertanyaan Wilson yang berhasil membuat Veila tercengang. Ia bahkan tak memikirkan sebuah ketertarikan seperti itu, tetapi pria ini malah memikirkannya. Bagaimana bisa ia tertarik dengan orang yang baru beberapa hari ia kenal?


"Memangnya kenapa jika aku tertarik?"


Kalimat tanya itu refleks keluar dari bibir Veila, lagipula ia penasaran tentang apa yang mendasari pikiran Wilson hingga mampu menanyakan hal tak penting semacam itu. Wilson diam sejenak, lalu beberapa detik setelahnya ia menyahut.


"Hanya ingin mengingatkan saja, kau harus jaga batasan dengan Leo sampai pernikahan konyol ini selesai. Mau diletakkan di mana wajahku jika nantinya orang-orang tahu bahwa kau menjalin hubungan dengan bawahanku sendiri?"


"Bukankah pernikahan kita tertutup? Hanya dilakukan di sebuah gereja kecil di pinggir kota dan dihadiri oleh keluargamu dan keluarga istrimu? Selama aku, kau, dan yang lainnya tutup mulut, pernikahan ini tidak ada yang tahu. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?" celetuk Veila, membuat Wilson benar-benar mati kutu, tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Kau mau kuturunkan di jalan?" ancam Wilson dan langsung membuat Veila batuk kecil, menyegarkan tenggorokannya.


"Tidak," jawab Veila singkat dan setelah itu semuanya kembali terdiam.


Dasar idiot kau Wil! Bisa-bisanya bertanya seperti itu. Pria itu hanya mampu mengumpat ketololannya karena telah menanyakan hal yang tak penting. Kenapa juga ia musti bertanya hal tersebut? Lagipula mau Veila berhubungan dengan siapapun, itu bukanlah urusannya. Wilson harus ingat, ia menikahi Veila hanya karena keturunan, bukan hal lain. Lagipula, mana tega ia mengkhianati istrinya yang sudah memberinya segenap cinta dan kasih sayang selama lima tahun lamanya?


***


Apa yang harus Veila lakukan di ruang super besar ini? Ia sudah menghabiskan dua puluh menitnya untuk duduk di sofa dan mengamati ruang kerja Wilson dengan seksama, dan sungguh, jika hanya diam seperti ini saja, Veila merasa benar-benar bosan. Lebih baik ia kembali menjaga minimarket ataupun menjadi pelayan cafe, setidaknya gerakan tubuh membuatnya tak cepat bosan.


Tak bisa mengontrol kebosanannya, Veila pun segera beranjak dari duduknya. Dilangkahkan kakinya ke berbagai sudut ruangan, hingga akhirnya tungkai jenjangnya berhenti di sebuah rak yang menyimpan banyak dokumen penting, katakan saja itu adalah rahasia perusahaan. Diraihnya sebuah dokumen yang tak terlalu tebal, hendak melihat tulisan-tulisan apa yang ada di dalamnya. Namun, baru saja halaman pertama dibuka, terdengar suara seseorang yang nyaris saja membuat dokumen tersebut terjatuh.


"Kau tak boleh melihat dokumen penting—" Leo terdiam saat melihat Veila yang menyembunyikan dokumen tersebut di belakang punggungnya sendiri. Mata pria itu mulai memicing, seakan memberikan tuduhan yang tidak benar pada Veila.


"—kau mata-mata? Apa jangan-jangan kau adalah orang dalamnya perusahaan pesaing yang menyamar sebagai wanita kelab malam? Ah, kau mengetahui rencana Wilson tentang mencari seorang istri baru untuk menghasilkan keturunan. Lalu—"


"Aku bosan, hanya ingin membaca, itu saja. Tidak ada drama semacam itu. Lagipula aku juga tidak akan mengerti dengan apa yang kubaca nantinya," sela Veila. Leo ini sepertinya terlalu banyak mengkonsumsi drama, tuduhannya pun jadi penuh dengan drama.


"Kalau begitu, kemarikan dokumennya. Kau mengambil yang terpenting, sebuah rahasia perusahaan. Jika kau memberikannya, aku akan pergi ke toko buku untuk membelikanmu novel." Leo mulai bernegosiasi, membuat Veila benar-benar tergiur dengan janji si pria yang akan membelikannya sebuah bahan bacaan yang lebih menarik.


"Akan kuletakkan," ujarnya dengan segera meletakkan kembali dokumen tersebut pada tempatnya semula.


"Hei, Nona Amor, Wilson memerintahkanku untuk memberikan sebuah hukuman pada seseorang yang lancang, berani membuka dokumen rahasia perusahaan. Tahun lalu, aku menembak satu orang pria yang sudah membaca habis dokumen rahasia perusahaan. Tidak ada perbedaan gender, wanita juga harus diberi hukuman," sungutnya, membuat kedua mata Veila membulat.


"Aku belum membacanya, baru membuka halaman depannya." Ia membela diri, tak mau jika ia harus diberi hukuman yang harganya semahal nyawa manusia. Jika Veila mati, mungkin Wilson akan langsung mencari mesin pencetak anak yang baru. Namun, si wanita masih belum mau mati. Ia ingin merasakan kebahagiaan kecil lebih dulu.


Leo tersenyum tipis, sangat suka melihat Veila panik karena wanita itu pasti akan bermain ekspresi. Pria itu segera duduk di kursi kebesaran milik Wilson dan kemudian mulai menarik tangan Veila, membuat si wanita benar-benar terduduk di atas paha Leo. Veila kaget bukan main karena hal ini, hendak menendang Leo, tetapi pria itu benar-benar mengunci seluruh pergerakannya.


"Aku tidak akan menembakmu. Tapi sebagai gantinya, mau berciuman denganku? Aku penasaran dengan rasa bibirmu yang selalu saja tak menjawab pertanyaanku," kata Leo, wajahnya terkesan serius dan tatapannya sungguh dalam.


"Kau dan Wilson sama-sama gila ternyata. Kenapa laki-laki di dunia ini tidak ada yang waras?" lontarnya, diselimuti dengan sepercik ketakutan, lalu beberapa detik setelahnya, Veila kembali berkata dengan sedikit gemetar.


"Hei, jangan macam-macam." Ia berkata seperti itu karena tangan Leo sudah menarik dagunya, membawa wajah mereka untuk mendekat. Pria ini memang gila, bahkan lebih gila dari Wilson sepertinya. Atau memang kadar kegilaan mereka sama-sama tinggi.


Di dalam hati, Leo mulai menghitung mundur. Dimulai dari nomor sepuluh hingga akhirnya permukaan bibirnya sukses menyentuh Veila, penyatuan bibir tersebut juga bertepatan dengan hitungannya yang sudah selesai. Dan tepat sekali, tak lama setelah Leo menempelkan bibirnya, serta nomornya sudah berganti menjadi satu, pintu ruangan terbuka.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Wilson Alexander Hovers, pria itu terkejut saat mendapati dua orang yang tengah duduk berpangkuan di atas kursi kebesarannya dengan bibir yang saling bertemu pula.


Mendapati itu, hati Leo tersenyum senang, tak sia-sia ia mengenal Wilson dalam waktu lama. Atasannya ini tidak akan pernah berada di dalam ruang rapat lebih dari tiga puluh menit, dan selalu keluar sebelum tiga puluh menit. Dan perhitungannya tepat sekali, huh, ilmu matematikanya ternyata benar-benar berguna dengan baik.


Bagaimana pun juga, Leo juga harus turut andil dalam hubungan yang belum jelas di antara Wilson dan Veila agar Maureen bisa pergi dari sisi Wilson dengan tenang. Semuanya dari Maureen dan untuk Maureen. Yang harus Leo pertahankan adalah perasaannya, bagaimana caranya agar ia tak masuk ke dalam perangkapnya sendiri.


Bersambung ....