
Mungkin karena terlalu banyak memikirkan Leo sampai-sampai pria itu masuk ke dalam mimpi Veila semalam. Mimpinya tidak spesial, tak bisa ia ingat jelas juga, yang pasti ada Leo di sana di alam mimpinya.
Veila terpekik kaget saat kedua matanya terbuka karena pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah mengantuk Wilson. Salivanya tertelan dengan susah payah saat sadar jika Wilson tak kunjung mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuat ia jadi tak bisa mengontrol debaran dadanya.
"K-kenapa bisa di sini?" Veila bertanya, berusaha keras untuk menormalkan nada bicaranya agar tidak terlihat gugup walau pada akhirnya gagal juga karena suaranya tetap bergetar.
Bukannya menjawab, Wilson malah balik bertanya, "Apa yang kau mimpikan semalam? Aku mendengar nama Leo disebutkan."
Pertanyaan yang justru membuat kedua mata Veila membesar tak percaya. Itu artinya, ia kembali melantur saat tidur, menyebutkan nama seseorang yang sudah berhasil masuk dan menyapanya di alam mimpi.
Sejurus kemudian, Veila menggeleng dan mengatakan jika ia tidak tahu apa yang ia mimpikan, lebih tepatnya ia tidak ingat detail mimpinya sebab yang ia ingat hanyalah Leo saja.
Jawaban yang sama sekali tidak membuat Wilson puas dan malah semakin menatap Veila dengan tajam, tak percaya dengan apa yang wanita itu katakan. Bisa jadi Veila berbohong agar Wilson tidak jadi marah jika ia menceritakan mimpinya. "Aku tidak suka dibohongi," celetuk Wilson tegas dan terkesan sangat dingin, sedingin es di kutub utara.
"Aku tidak ber—Heil" Veila memekik karena Wilson sudah mendekatkan wajah mereka, membiarkan napas mereka saling bertukar dan menggelitik permukaan wajah.
Sebenarnya Wilson tahu jika wanita itu tidak berbohong, tetapi hanya dengan kepura-puraannya yang tidak percaya pada perkataan Veila, ia bisa mendapatkan morning kiss dari si wanita. Sejujurnya, ia sangat suka rasa dari bibir merah milik Veila. Saat mengecupnya, Wilson merasa seperti tengah memakan madu— sangat manis.
Karena rasa itulah, terkadang jika mencium bibir Veila—ia sampai lupa diri, tak bisa mengontrol rasa suka akan rasa, dan bahkan rasanya ingin terus menggigit. Hal itu hanya berlaku pada bibir Veila saja, tidak dengan Maureen.
Merasakan hawa-hawa yang tidak enak saat Wilson mulai menggesekkan hidungnya, wanita itupun segera memejamkan kedua matanya dengan sangat erat. Namun, baru beberapa detik setelah kedua matanya tertutup, wanita itu merasa jika perutnya bergejolak, merasa tak enak. Memaksakan kedua matanya untuk kembali terbuka dan segera mendorong dada Wilson, menepuk-nepuknya cepat agar si pria segera menyingkir dari atasnya sementara tangan kirinya sudah beralih menutup area mulutnya.
Celah yang diberikan Wilson mampu membuat Veila melarikan dirinya, membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Wilson mulai menenggelamkan wajahnya pada bantal dan mendesah frustrasi. Sepertinya, mendapatkan morning kiss di saat Veila tengah hamil seperti ini adalah hal yang tidak memungkinkan.
"Aku bisa mengantarnya, Wil," protes Maureen, tak bisa menerima suruhan yang Wilson tujukan pada Veila barusan. Hal tersebut berhasil membuat Wilson menoleh dan tersenyum, lalu mengelus kepala istrinya dan mencium puncak kepalanya. Suatu tindakan yang sukses membuat Veila membuang pandangannya, sengaja mengalihkannya ke arah lain.
"Bukankah kau bilang jika hari ini akan mengunjungi kedua orang tuamu? Akan sangat merepotkan jika kau yang mengantar bekalku karena rumah mertua dan kantorku berbeda arah. Untuk hari ini, biarkan dia saja yang membawakannya," balas Wilson, tetapi tetap saja membuat Maureen tak terima dan masih terus protes.
"Aku bisa mengantarkan bekalmu dulu, baru setelah itu pergi ke rumah orang tuaku," ujar Maureen, masih terus berusaha meyakinkan Wilson jika ia mampu untuk mengerjakan dua hal sekaligus.
"Maureen, tidak perlu, kau bisa mengantarkan bekalku besok. Hari ini, pergilah ke rumah orang tuamu dan jangan khawatirkan masalah pengantaran bekal," ucapnya seraya mengusap punggung tangan sang istri. Dan setelah mendapatkan anggukan, Wilson pun segera mengalihkan pandangannya ke arah Veila.
"Hei, aku ingin kau membuatkanku salad untuk makan siangku, dan juga antarkan sayur itu sebelum pukul dua belas siang," perintah Wilson, dan hanya Veila balas dengan anggukan.
Tak terima jika perkataannya hanya dibalas dengan anggukan ringan, Wilson pun kembali berceletuk, “Kata dibalas dengan kata, jangan cuma mengangguk."
"Iya, aku akan mengantarkannya untukmu sebelum jam dua belas siang!" celetuknya dengan penuh kekesalan, tetapi berhasil membuat Wilson mati-matian menahan senyumannya.
Berbeda dengan Veila yang tak bisa menangkap ******* senyuman itu, Maureen justru mampu melihatnya. Dan dari sinilah, rasa takut itu mulai kembali muncul dan menghantui dirinya.
Maureen, ia takut kehilangan kasih Wilson.
Bersambung ....