Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 36


Kedua kelopak mata Veila terbuka, awalnya menyipit karena harus membiasakan cahaya lampu gantung yang begitu terang menyinari kamarnya. Jam dinding yang kebetulan berada satu jalur dengan pandangannya pun dapat ia lihat. Pukul lima, tetapi Veila tidak tahu pasti apakah sekarang pukul lima sore atau pagi karena karena jendela kamarnya tertutup rapat oleh tirai. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya, terlihat gemetar dan agak terlalu susah untuk terangkat, Veila terlalu lemah.


Awalnya ia belum mengingat kejadian seperti apa yang menimpanya sampai-sampai tubuhnya melemah seperti ini. Dan juga, ini kali pertama ia jatuh sakit, parah pula. Namun, saat pandangannya tertuju ke arah pintu kamar mandi, kejadian mengerikan yang membuatnya seperti ini pun terlintas.


Mulai dari Wilson yang menyeret Veila, mendudukkannya di wastafel, menyuruhnya untuk mengangkang, mengurungnya, percobaan bunuh dirinya, sampai dengan mimisan yang ia alami. Mengingat itu membuat dada Veila terasa sesak dan matanya mengabur akibat air mata yang mulai mengumpul. Wilson Alexander Hovers, pria itu terlalu jahat padanya.


Selang beberapa detik setelah menarik kembali air matanya yang sempat mendesak keluar, Veila pun memaksakan diri untuk duduk di tepian ranjang. Kaki jenjangnya menjuntai, berusaha untuk menemukan sepasang sendal rumah yang sudah disiapkan khusus sejak awal kedatangan. Kepalanya terasa berdenyut saat ia mulai berdiri, terasa sakit dan sukses membuatnya sedikit oleng dan hampir jatuh. Beruntung sekali ia masih mampu menahan bobot tubuhnya sendiri dan perlahan mulai berjalan ke arah jendela.


Terasa gelap dan pengap, Veila ingin membuka tirai tersebut untuk melihat lautan yang luas dan terkadang bergelombang tenang. Ia ingin menghapus segala kesakitannya semalam dengan melihat objek nan indah di depan sana. Akan lebih beruntung jika sekarang pukul lima pagi, yang menandakan jika burung-burung camar akan mulai berkumpul di bebatuan dan bernyanyi merdu di sana.


Namun sayangnya, di saat tirai terbuka, yang Veila lihat adalah matahari yang hampir dimakan oleh lautan. Langit senja kekuningan membuat warna biru laut memudar karena ikut berwarna jingga. Tidak ada burung camar yang berkumpul di bebatuan, dirinya hanya melihat satu pesawat yang melintasi lautan dengan lampu kelap-kelipnya.


Ia ingin menjadi tenang seperti lautan sekarang, tetapi kasihan sekali, ia tidak bisa. Rasa perih pada **** ********** serta mata kirinya sungguh membuat Veila ingin menjerit dan bertanya jika seluruh tubuhnya bisa menjawab. Kenapa rasa sakitnya belum hilang dan malah menjalar sampai ke hati? Andai ramuan kebahagiaan ada yang jual, maka Veila akan menabung mati-matian untuk membelinya. Ia ingin itu, sangat menginginkannya.


Kepalanya tertoleh ke belakang saat telinganya menangkap suara pintu kamar yang terbuka dengan pelan. Sosok Leo berdiri di depan pintu, menatapnya dalam kemudian segera berjalan mendekat ke arah Veila setelah pintu kamar ia tutup rapat.


"Kau sudah siuman? Syukurlah, aku lega," ujar Leo dengan kaki yang semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depan Veila. Pria itu tersenyum manis, tetapi terkesan dipaksakan karena memang saat ini, dirinya tak bisa menyunggingkan senyuman tulus.


Pertikaian kecil dengan Maureen di bandara membuat suasana hatinya memburuk. Di mana saat itu, dengan entengnya Maureen menyebut nama Wilson padahal jelas-jelas hanya ada Leo di sampingnya. Leo tahu, otak wanita itu dipenuhi dengan Wilson, Wilson, dan Wilson, tetapi Maureen sama sekali tidak mengakui hal tersebut. Dia terus meyakinkan Leo, berkata jika ia tidak sengaja menyebut nama Wilson karena terlalu sering memanggilnya.


Leo yang mendengar itupun tak serta merta mempercayainya. Setiap orang pasti akan melontarkan hal yang sama seperti yang Maureen katakan tadi jika otaknya hanya dipenuhi dengan satu orang itu. Dan ya, tak bisa dipungkiri, Maureen tengah memikirkan suaminya, Wilson Alexander Hovers. Setelah berdebat dan akhirnya boarding pass yang berhamburan di lantai, Leo pun pergi meninggalkan Maureen dengan perasaan kesal. Wanita itu tidak konsisten dengan perasaannya. Sedikit-sedikit memikirkan Wilson, lalu beralih memikirkan Leo. Apa Maureen tahu jika kelakuannya tadi membuat hati Leo sakit?


Karena itu, sejak awal ia sudah mewanti-wanti hubungan yang tengah mereka berdua jalin secara diam-diam ini. Bagi Maureen, jikapun hubungan in kandas di tengah jalan, wanita itu tidak akan rugi karena masih memiliki Wilson? Namun, Leo? Pria itu rugi besar! Sudah memberikan cinta yang banyak, tetapi tak memanen hasil apa pun. Kalau boleh jujur, Leo tidak suka jika Maureen memperlakukannya seperti itu—seolah tak pernah ada kejelasan dalam hubungan mereka. Mungkin jika diasumsikan, Maureen memiliki sedikit perasaan kepada Wilson yang berhasil menyumbat pikirannya. Hal itu membuat Leo merasa marah dan cemburu.


Dan tentunya, Veila adalah orang yang tepat untuk dijadikan tempat pelampiasan. Persetan dengan interogasi yang akan Wilson berikan saat pria itu berhasil menemukan keberadaannya di vila, yang Leo inginkan sekarang hanyalah sebuah pelukan hangat dari Veila—obat dari segala rasa sakit yang Maureen berikan.


Segaris senyuman berhasil Veila sematkan pada sudut bibirnya. Pria yang ia klaim sebagai orang baik ini sudah berstatus sebagai temannya sekarang.


"Kau sedang ada masalah? Wajahmu murung," celatuk Veila, hanya sekedar basa-basi untuk memecah keheningan di sore hari ini.


Mendengar perkataan Veila, Leo tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. Ia memang sedang berada pada masalah, yaitu masalah hati.


"Jika kau mengizinkan, aku ingin memelukmu. Seperti kejadian di bawah hujan, rasa sakitku dan sakitmu hilang karena kita berdua saling membaginya. Dan tanpa ditebak pun, kau pasti merasa sakit, 'kan?" Tebakan Leo anehnya tak pernah meleset, atau memang hidup Veila yang sungguh dipenuhi dengan rasa sakit. Leo adalah malaikat tanpa sayap yang datang di saat Veila baru saja disakiti oleh Wilson.


"Tapi ...."


Tidak menunggu jawaban Veila yang memiliki dua kemungkinan, diterima atau ditolak, Leo pun langsung memeluk Veila, mendekapnya dengan kuat, berharap jika rasa sakit yang tengah menggerogotinya bisa terobati dengan pelukan ini. Sedang yang dipeluk hanya bisa diam membeku, tak berniat membalas pelukan dari Leo.


"Jika kau meninggalkan Wilson, aku akan datang menjemputmu dan terus menjagamu—"


Bersamaan dengan selesainya kalimat yang Leo ucapkan, pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Wilson yang tengah berdiam di depan pintu, menatap dua orang yang tengah berpelukan tersebut—tidak, lebih tepatnya hanya Leo yang memeluk. Pria itu diam sesaat, menatap lekat dua orang di depannya kemudian bercelatuk dengan emosi yang tertahan.


"Leo Zhang? Apa yang kau lakukan?"


Suara rendah nan mematikan tersebut berhasil membuat Veila merasa takut, apalagi saat melihat kedua tangan Wilson yang mengepal erat. Hal tersebut memicu Veila untuk mendorong dada Leo dengan pelan, mengatakan lewat tatapan mata jika yang baru saja mereka lakukan sudah diluar batas kewajaran. Bagaimanapun juga, Veila tak ingin semuanya berakhir dengan kekerasan lagi. Ia tak ingin Leo kembali terkena tinjuan dan ia yang akan mendapat kekerasan tak terduga.


Kemarin sudah cukup ia terluka, bahkan lukanya pun belum sembuh dan masih terasa perih. Perlu diketahui, mata sebelah kirinya belum bisa terbuka dengan lebar dengan sempurna.


"Bukankah seharusnya kau sudah berada di Manhattan?" tanya Wilson, berusaha untuk tidak terlalu emosi karena saat ini ia mampu menangkap sirat ketakutan dari wajah cantik Veila.


Wanita itu terlihat meremas pakaian Leo saking takut dan butuh perlindungan, sedangkan Leo hanya bisa bergumam tanpa suara, mengatakan 'tidak apa-apa' dengan begitu lembutnya.


Sejurus kemudian, Leo tersenyum ke arah Wilson dan membalas perkataannya. "Aku mengkhawatirkan Veila, karena itu aku kembali lagi ke sini dan memutuskan untuk pulang besok hari." Ia menjawabnya dengan santai, membuat Wilson benar-benar kesal dibuatnya.


Bagaimanapun juga, Wilson tak mau berada selangkah di belakang Leo. Pria itu sudah merebut Maureen darinya, dan sekarang dengan santainya mendekati Veila yang tanpa diumbar pun Wilson sudah tahu alasannya; pelampiasan. Ia ingin menertawakan Leo yang sok baik, padahal mereka berdua sama-sama brengsek. Oh, tetapi bukankah Leo lebih brengsek dari Wilson? Dia perebut istri orang!


"Apa yang perlu kau perhatikan dari wanita ini?" tanya Wilson, ia membuang wajahnya sambil berdecih. Namun, seolah sadar jika hanya Leo yang berada di sini, Wilson pun kembali bertanya. "Maureen? Di mana dia?"


"Sudah pulang lebih dulu ke Manhattan," jawab Leo singkat, lalu segera melirik ke arah Wilson yang mulai mengecek ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Maureen yang mengatakan jika dirinya akan segera terbang menuju Manhattan. Wilson memicing, bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang itu? Padahal jelas-jelas Leo terlihat sangat senang saat ia memberitahu perihal kepulangan dua orang itu terlebih dahulu.


"Kau membiarkan istriku pulang sendirian. Karena itu gajimu kupotong sepuluh persen!" ujar Wilson lalu segera pergi meninggalkan kamar Veila. Pria itu menutup pintu kamar dengan kasar, membuat Veila terkejut kemudian segera melepaskan remasan pada ujung pakaian Leo. Merasa lega karena Wilson sudah pergi dari kamarnya.


"Dia memotong gajimu," celatuk Veila seraya menatap Leo, sukses membuat pria itu tersenyum kecil. Wajahnya pucat, tetapi masih menggemaskan, Leo menyukainya—ini adalah sebuah kejujuran.


"Tidak apa. Aku masih bisa hidup walau gajiku dipotong sepuluh persen," balasnya.


Sementara Wilson kini tengah menahan kekesalannya di luar kamar Veila. Jika saja perkataan Robert tidak menusuk kalbunya, mungkin ia sudah menarik paksa Veila, menyingkirkannya dari sisi Leo yang menyebalkan.


"Kau sebenarnya mau apa, Leo Zhang? Huh, lihat saja, Maureen akan kembali padaku dan Veila akan tunduk padaku. Kau ... pria sialan sepertimu tidak akan mendapatkan apa pun!" geram Wilson dan setelah itu segera pergi meninggalkan area depan kamar Veila.


Bersambung ....