Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 37


Veila berusaha untuk menutup rapat matanya, ingin segera terlelap dan menyelami dunia mimpi yang gelap. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, matanya tak kunjung terpejam sempurna. Ia tak bisa tidur padahal malam semakin larut. Dan besok, ia harus bangun saat pagi buta karena pesawat yang mengangkutnya menuju Manhattan akan berangkat pukul delapan pagi.


Seperti kebiasaan-kebiasaan yang sudah Veila hafal diluar kepala, saat pintu kamarnya terbuka pelan, sosok Wilson muncul di balik pintu kayu, membuat Veila menegang dan segera terduduk di atas ranjang. Wanita itu menarik selimutnya secara terus menerus hingga berhenti saat sudah berada sebatas leher. Matanya bergetar, ia takut jika jika Wilson masih menyimpan setitik emosi atas kejadian sore tadi.


"K-kau mau apa?" tanya Veila, menepikan tubuhnya sampai ke sisi ujung ranjang. Bahkan salah satu kakinya sudah menjuntai ke bawah dan menyentuh keramik yang dingin.


Dapat Wilson tangkap sebuah ketakutan yang terpancar jelas pada wajah Veila. Sedetik kemudian ia segera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, menutup matanya dengan tangan kanan, lalu menjawab dengan santainya. "Tentu saja tidur, dasar buta." Ia berdecih tanpa membuka mata, membuat Veila menghela napas kasar karena perkataan menyakitkan yang Wilson lanturkan.


Wilson menyingkirkan lengan yang menutupi pandangannya, melihat ke arah samping kanan, dan mendapati Veila yang hendak beranjak dari kasur seraya membawa selimut dalam pelukannya. Dengan sigap, Wilson pun segera menarik lengan Veila, membuat wanita itu terjatuh dan kembali terbaring di atas kasur dengan mudahnya. Tak butuh waktu lama, Wilson mulai memposisikan tubuhnya tepat di atas tubuh Veila dengan tangan kiri yang menumpu tubuhnya sendiri. Saliva Veila tertelan dengan kasar, dan Wilson bisa menangkap pergerakan tenggorokan si wanita.


Manik mata cantik mereka saling bertemu pandang. Salah satu atau salah keduanya mulai merasakan debaran di dada, hanya karena tatapan yang saling mengunci. Wilson Alexander Hovers, pria itu sudah memulai permainannya, berjanji tidak akan pernah berhenti jika belum kalah. Padahal ia bisa melakukan hal seperti ini di depan Maureen, ingin membuat istri tercintanya cemburu bukan main dan kembali padanya. Namun ... entah kenapa, malam ini Wilson ingin romantisme ia dan Veila tercipta.


Dengan mata kiri yang membiru seperti ini saja Veila masih terlihat cantik. Oh, kapan terakhir kali ia memuji kecantikan Veila? Ah, saat melihat wanita ini mengenakan gaun pengantin yang super ketat?


"Kau mau ke mana? Turun dari kasur seenaknya," tanya Wilson, suaranya menggelitik pendengaran Veila.


"T-tidur di lantai," jawabnya, membuat Wilson terdiam kemudian matanya mengerjap beberapa kali.


Tak berapa ia pun kembali membuka mulutnya. "Kenapa tidur di lantai jika ada kasur di sini? Ah, karenaku? Jika Leo yang ada di sebelahmu, mungkin kau tidak akan kabur." Pria itu tertawa menyindir Veila dalam kalimatnya.


Tak terima jika dikatai seperti itu, Veila pun menyahut sebisanya. "Mau kau ataupun Leo aku tetap akan tidur di lantai!"


Wilson malah tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Veila kemudian segera mengunci pandangan mereka berdua lagi. Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya Veila merasa risih karena ditatap terus-terusan oleh sosok pria yang tengah menindihnya sekarang.


"Kenapa melihatku terus-terusan?" Gusarnya, membuat Wilson memuji tingkat kepercayaan diri Veila. Kerisihan yang Veila lanturkan sukses membuat Wilson buka suara. "Matamu masih sakit?"


"Lalu bagaimana bawahmu?"


"S-sedikit nyeri."


"Mau kuobati? Sekalian memberi sebuah kenikmatan untukmu."


"Tidak usah, terima kasih!"


Veila memalingkan wajahnya ke kanan, tak mau menatap Wilson yang sepertinya mengidap kepribadian ganda. Baru saja kemarin dia menyakiti Veila, dan sekarang dengan santainya dia melontarkan sebuah godaan mesum yang menjijikkan.


Melihat itu, Wilson mulai mendekatkan wajahnya dengan bibir yang terhenti di depan telinga. "Jika kau menjauhi Leo, maka aku akan menjadi pria baik untukmu," bisiknya. Perkataan yang pesannya hampir mirip dengan perkataan Leo sore tadi dan sekaligus membuat kepalanya kembali tertoleh ke arah Wilson.


Sangat tidak tepat untuk menoleh karena hal tersebut malah membuat hidung mereka bertemu. Pandangan Wilson bergerak turun, mengamati bibir merah Veila yang sedikit terbuka, seperti minta untuk dilumati habis-habisan. Wanita itu tidak lagi demam seperti tadi pagi, secepat itu sembuhnya.


Gugup dan takut, Veila segera mengangkat tangan kanannya untuk mendorong dada Wilson. Namun, lagi-lagi pergerakan kaku Veila sukses ia tangkap dan dengan cepat segera meraih tangan tersebut bersamaan dengan bibirnya yang datang menyapa. Wilson mencium Veila dengan lembut, entah perasaan apa yang ia tuangkan dalam ciuman malam ini, yang pasti tidak ada ******* menuntut dan penuh nafsu di sana. Perlahan, Wilson mulai melepas cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Veila, bukan maksud melepas, hanya ingin memulai untuk mengaitkan jari tangan mereka.


Beberapa detik kemudian, Wilson mengakhiri ciuman mereka, memberikan sedikit jarak pada dua bibir berbeda bentuk tersebut. Napas mereka berdua terengah, jantung pun berpacu dengan kencang hanya karena melakukan ciuman yang tidak terlalu panas. Sekilas, Wilson memamerkan senyum tipisnya.


"Ah, sayang sekali karena aku sudah melukai bagian bawahmu. Lain kali, jika itu sudah membaik, mari bercinta. Aku akan melakukannya dengan lembut di kali kedua. Kau harus segera hamil, Veila."


Aku harap anakku akan lahir tepat waktu, dan aman saat Maureen kembali padaku. Dan setelah itu aku akan membuangmu, memperbaikimu dengan uangku. Kuharap kau bisa membantuku untuk meraih Maureen kembali.