
Sebelum nyonya Hovers pulang ke rumahnya, beliau sudah lebih dulu berpesan pada Veila agar segera mengatakan soal kehamilannya pada Wilson. Sebenarnya, Nyonya Hovers ingin menunggu sang putra pulang, tetapi sampai waktu pulang kerja telah tiba—sore hari, Wilson belum juga menampakkan batang hidungnya.
Begitupun dengan Maureen, selepas sejak siang tadi dia meninggalkan rumah, wanita itu tak kunjung kembali juga. Sepertinya mereka berdua menghabiskan waktu bersama, itu yang nyonya Hovers pikirkan.
Sementara Veila sekarang sedang duduk di tepi ranjangnya dengan bibir dalam yang sengaja ia gigit. Entah kenapa ia gugup sekali, padahal hanya mengatakan perihal kehamilan, tetapi rasanya sudah seperti maju ke medan perang. Dirinya takut jika Wilson tidak menyukai ini walau pria itu benar-benar menginginkan seorang keturunan.
Suara deru mobil yang menyambangi pekarangan rumah membuat Veila beranjak dari ranjangnya, berjalan mendekat ke arah jendela yang tirainya belum tertutup rapat, melihat ke bawah, di mana mobil Wilson terparkir rapi di sana.
Veila menghela napasnya sejenak, ia tidak boleh merasa iri seperti ini. Lagipula sekarang statusnya hanyalah seorang budak yang bertugas mengandung dan melahirkan anaknya Wilson, tidak boleh ada benih-benih cinta di dalam hatinya atau hal tersebut akan menyakiti hati Maureen Cruz.
Memang, cinta itu bisa hadir kapan saja, tak akan pernah tahu kepada siapa hati ini terjatuh. Veila sempat menyesali kenapa dirinya bisa jatuh cinta pada Wilson, padahal pria itu selalu mengasarinya secara fisik maupun verbal. Semuanya dimulai ketika di pulau xxx, saat Wilson mengatakan padanya jika ia akan menjadi pria yang baik untuk Veila.
Wanita itu merasa menghangat hanya karena perkataan tersebut, seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan kecil yang dapat membuat air matanya keluar. Selama ini tidak ada satu pria pun yang mengatakan hal tersebut padanya. 'Aku akan menjadi pria baik untukmu' hanyalah bunya tidur yang setiap hari selalu ia sambangi dalam tidurnya.
Dulu berharap jika sang ayah tiri dapat menjadi pria baik untuknya, yang melindunginya seperti seorang ayah kebanyakan, tetapi sayangnya, ayah tirinya tidak bisa menjadi pria baik dan malah mengasarinya, membuat hidupnya benar-benar berat dan air mata kesedihan selalu mengucur deras.
Lalu, saat bertemu Charlie, Veila berharap jika pria itu adalah pria baik yang Tuhan kirimkan padanya. Seseorang yang akan menariknya dari lingkaran siksaan sang ayah tiri.
Namun faktanya, Charlie bukanlah pria baik yang mampu menjaganya, dan malah membawanya ke lubang hitam yang lebih dalam. Veila menyebutnya sebagai neraka kehidupan. Dan di sana, ia bertemu dengan Wilson serta Leo, dua pria yang memiliki sifat bertolak belakang, bagaikan malaikat hitam dan putih yang menorehkan sayap berbeda warna di punggung Veila.
Yang satu selalu menyakiti dan yang satu selalu mengobati. Namun lucunya, Veila malah jatuh hati pada yang menyakiti.
Sebenarnya, akan lebih baik di saat sudah jatuh cinta seperti ini jika Wilson tidak berbaik hati padanya. Maksudnya, biarkan Wilson tetap menjadi Wilson yang kasar padanya, karena dengan itulah, Veila mempunyai satu alasan kuat untuk menghapus perasaannya pada Wilson.
Dan juga, sebenarnya, jatuh hati pada Wilson adalah suatu kesalahan besar yang mengakibatkan satu perasaan hancur. Veila tak mau wanita baik seperti Maureen terluka karena perasaannya, lagipula Wilson Alexander Hovers tidak akan pernah membalas perasaannya karena sudah menambatkan hati pada Maureen terlebih dahulu, berjanji untuk tidak meninggalkan sang istri tercinta. Ini bukankah namanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Menyedihkan sekali, kisah percintaannya sama tidak mulusnya dengan kisah hidupnya.
Merasa jika terlalu lama melamun dan tak melihat keberadaan dua orang itu lagi di pekarangan luar, Veila pun segera meraih kembali testpack yang ia letakkan di atas nakas, menggenggamnya, dan kemudian segera keluar dari dalam kamarnya.
Langkah buru-burunya pun terhenti tepat di depan Wilson, dengan radius sekitar tiga meter mereka berdua saling menatap presensi masing-masing. Bukan hanya Wilson yang langkahnya turut terhenti, melainkan sosok Maureen yang tengah berjalan di sisi Wilson juga ikut berhenti. Dua orang tersebut melihat ke arah Veila, tentunya dengan pikiran yang berbeda.
Maureen tak bisa lagi menyembunyikan kehamilan Veila dari Wilson jika sudah berada dalam situasi ini. Ekor matanya sudah menangkap satu benda kecil yang tengah Veila genggam, apa lagi jika bukan alat pendeteksi kehamilan.
Belum sempat Wilson menahan keberadaan Maureen, wanita itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mereka, membuat Wilson menghela napas gusar dan kemudian menatap Veila dengan pandangan tidak suka.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ujar Veila dengan suara yang cukup kecil dan bergetar.
Melihat Wilson yang menatapnya dengan tajam seperti ini membuat ia merasa bersalah dan tidak enak. Apa keberadaannya menganggu? Apa ia datang di saat yang tidak tepat. Ditambah lagi saat melihat Wilson yang mengacak-acak rambutnya, membuat dirinya berantakan dan menambah kesan pria lelah yang terpatri jelas pada wajah tampannya.
"Kau tidak lihat jika aku baru pulang? Dan juga, tidak bisakah kau mengatakannya besok?" cerca Wilson, merasa malas karena tebakannya yang menganggap jika Veila hanya akan mengatakan sesuatu yang tidak penting, yang mungkin masih bisa dikatakan esok hari.
"A-ah," gumamnya kecil, mengeratkan genggamannya pada testpack tersebut dan mulai menyembunyikannya di balik punggung.
Ia membenarkan perkataan Wilson barusan, seharusnya ia mengatakan hal penting ini besok pagi saja dan membiarkan pria yang baru pulang ini istirahat selepasnya kembali ke rumah. Lagipula, hal penting baginya belum tentu merupakan hal penting bagi Wilson.
Mendengar Wilson yang membalas perkataannya dengan nada tak suka, Veila pun mulai mengurungkan niatnya untuk mengatakan perihal kehamilannya, menunda sampai besok bukanlah hal yang sulit bagi Veila.
Lagipula Wilson sedang lelah, dirinya juga sudah salah karena telah menghentikan langkah Wilson secara tiba-tiba hanya karena ingin mengatakan hal ini.
Ekor mata Wilson nyatanya melihat pergerakan tangan Veila, dan kemudian segera bertanya, "Apa yang kau genggam dan senbunyikan di balik punggungmu?" Pertanyaan yang sukses membuat Veila menggeleng pelan, mengisyaratkan jika hal yang ia sembunyikan bukanlah sesuatu yang penting bagi Wilson.
"Kalau begitu aku balik ke kamar dulu dan akan mengatakan sesuatu itu jika kau sedang berada di waktu senggang. Selamat malam," pamitnya dan segera berbalik.
Namun, belum beberapa langkah ia berjalan, Wilson memanggilnya, bukan dengan nama, melainkan panggilan 'hei' yang sering kali ia lontarkan saat memanggil Veila. Wanita itu berbalik, memperhatikan Wilson yang berjalan mendekat ke arahnya dan hampir saja menjatuhkan testpacknya saat si pria mulai mencium bibirnya sebentar.
Melihat wajah Veila dengan jarak sedekat ini, hanya berkisar satu senti, wajah Wilson mulai terasa panas dan kedua pipinya memerah. Mendapati ada yang salah dengan reaksinya, Wilson pun segera membuang muka sebelum akhirnya pergi begitu saja.
Dirinya pun segera menggelengkan kepalanya guna menetralkan air mukanya, lagipula ia mencium Veila barusan bukan tanpa alasan, hanya ingin berterima kasih karena Veila sudah membuatkan bekal makan siang untuknya. Dan perbuatan Wilson tersebut membuat Veila salah tangkap dengan kebaikan terselubung si pria.
Kali ini tanpa disadari dirinya semakin jatuh ke dalam lubang neraka, dan perlahan mulai melahapnya habis, menyisakan luka tanpa setitik kebahagiaan. Wilson Alexander Hovers, pria itu mulai menimbulkan luka baru, persis seperti yang Charlie lakukan pada Veila dulu—tetapi kali ini lebih parah.
Bersambung ....