
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan sekarang ini Veila sedang berada di dapur, berdiri di depan kulkas guna mencari keberadaan onigiri. Padahal setengah jam lalu mereka baru saja selesai makan malam, tetapi baru saja Veila hendak membaringkan diri di atas ranjangnya, tiba-tiba saja ia jadi ingin makan sushi.
Meminta Wilson untuk membelikan nya juga tidaklah mungkin karena pria itu tidak ikut makan malam bersama. Salah satu alternatif yaitu membuat nya sendiri.
Veila sempat terkejut saat merasakan jika ada kedua tangan menyelip masuk melalui celah lengan nya, melingkari perut nya yang sudah tidak rata lagi.
"Bagaimana? Kau tidak punya alasan lagi untuk mengusirku, kan?" Wilson, berkata seraya menyodorkan tangan nya pada hidung Veila. Memberi tahu jika ia sudah mengganti sabun mandi nya dan juga aroma parfum nya.
"Oh, kau bau Leo?" tanya nya dan langsung dibalas senyuman oleh Wilson.
Sengaja, sebelum memutuskan untuk membeli bagel sore tadi, Wilson mampir ke supermarket untuk membeli sabun mandi serta parfum yang senada dengan Leo karena sadar betul jika Veila sangat menyukai aroma pria itu. Apalagi keadaan Veila yang selalu tak tahan dengan aroma nya. Tambah memicu Wilson untuk membeli sabun serta parfum yang wangi nya senada—aroma stroberi.
"Apa aromaku enak?" Wilson berta nya dan seketika kembali tersenyum lebar saat mendapat anggukan dari Veila. Sedikit terkesiap saat mendapati Veila yang berbalik dan memeluk nya erat, lalu segera berteriak kegirangan di dalam hati karena Veila yang mulai menciumi ceruk leher nya.
Tidak bisa ditampik, Veila sangat menyukai aromanya Leo, terbukti dengan Wilson yang selalu harus menahan cemburu saat mendapati Veila yang selalu memeluk Leo di saat pria itu datang.
Dan di saat Wilson tengah menikmati perbuatan, katakan saja fan service— dari Veila, bel rumahnya berbunyi. Karena jarak dapur dan pintu utama tidaklah jauh, Wilson pun memutuskan untuk menghampiri dan membuka pintunya sendiri. Lagipula, jarak tempat istirahat para pelayan jauh di belakang sana, membutuhkan waktu lama untuk datang menyambagi pintu utama.
Mata Wilson terbelalak di saat pintu utama kediamannya berhasil ia buka. Di depannya, berdiri seorang pria yang tengah tersenyum lebar dengan tangan yang melambai bermaksud menyapa.
"Hai, kak Wilson! Apa kabar?"
“Apa yang kau lakukan di sini, Xavier?" Kaget Wilson, sepupu nakal dan genitnya itu... siapa yang mengutusnya malam-malam ke sini? Dan juga, koper besar di sebelahnya—"K-kau?"
"Mommy dan Aunty menyuruhku untuk menghabiskan liburan di sini. Bagaimana? Apa Kakak senang? Oh ayolah, rumah kakak pastinya akan ramai karenaku, kan? Ya kan? Ah, apa pelayan cantik yang kugoda tahun kemarin masih bekerja di sini? Dia menuliskan nomor telepon yang salah, jumlah angkanya kurang satu—“
"Xavier, kau—“
"Siapa yang datang, Wil?" tanya Veila.
Xavier dan Wilson sama-sama menoleh, mendapati Veila yang kini berada lumayan jauh dari mereka. Dapat Wilson tangkap sekilas mata Xavier yang berbinar. Sepertinya Veila harus menyiapkan hati dalam menghadapi Xavier yang banyak tanya serta sering merayu.
Bersambung ....