Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 66


Sementara itu, di sisi lain, Veila sedang berdiri sembari memperhatikan menara Eiffel yang mengeluarkan cahaya terang. Setiap detik, semakin banyak orang yang datang berkumpul, membuat Veila berpendapat jika festival kembang api adalah sesuatu yang sangat ditunggu oleh para penduduk ataupun turis yang sedang berkunjung.


Di Paris, festival kembang api terjadi untuk menyambut empat musim yang menyapa kotanya. Melihat orang yang semakin memadati lapangan pun membuat Veila terpaksa untuk bergeser. Niatnya ingin menghindar dan mencari space yang luas agar lebih tidak terlalu berdesakkan.


Namun, yang ada dirinya malah semakin terjebak, kali ini ia berada di tengah-tengah keramain. Yang Veila bisa sekarang hanyalah menghela napas pelan sembari menundukkan kepalanya, merutuki orang-orang yang menyenggol bahunya tanpa ada niatan meminta maaf. Ingin rasanya ia menjauh dan mengurungkan niat untuk melihat festival kembang api yang pastinya akan sangat cantik.


Namun, kehendaknya untuk melihat butiran-butiran yang meledak di udara dengan menampilkan indahnya tujuh warna dasar sangatlah kuat, sampai-sampai ia harus menahan langkahnya untuk menjauh.


Dan di saat ia mendongakkan kepalanya, sosok yang pertama kali matanya tangkap adalah Wilson Alexander Hovers. Menimbulkan satu pertanyaan, bagaimana bisa pria itu berada di sini?


***


Butuh kesabaran bagi Wilson untuk mendapat balasan pesan dari Leo. Setelah panggilannya tak di jawab beberapa kali, Wilson pun akhirnya mengirimi Leo sebuah pesan. Menurutnya, ini sudah keterlaluan karena Leo membawa Veila pergi sampai malam yang di mana Wilson memberi istilah 'lupa waktu'.


Pesan singkat tersebut ia kirimi sejak pukul tujuh malam, dan baru mendapat balasan pada pukul delapan lewat lima belas.


Dan balasan tersebut pun berisi sebuah kalimat yang mendeskripsikan jika mereka berdua tengah berada di lapangan luas menara Eiffel untuk melihat festival kembang api dan pria itu berjanji akan membawa Veila pulang dengan selamat jika festivalnya sudah selesai.


Mendapati itu, Wilson tentunya tidak terima dan langsung meraih mantel hitamnya, memakainya asal, lalu segera keluar meninggalkan kamar hotel untuk pergi menyusul dua orang tersebut.


Sayang sekali, di saat Wilson tiba di tempat yang Leo maksud, sudah banyak orang yang memadati area tempat berlangsungnya festival tersebut. Membuatnya kesusahan untuk menemukan Veila ataupun mencari sosok Leo yang warna rambutnya paling mencolok, biru muda.


Namun, kebetulan sekali, di saat pandangannya tengah mengarah ke sekeliling, tiba-tiba saja ia menangkap sosok seorang wanita yang memakai sebuah pakaian berwarna biru, sangat familiar bagi Wilson. Mengingat kembali, pria itu yakin jika itu adalah Veila karena pakaian tebal warna biru terang tersebut adalah pilihannya.


Tak mau kehilangan, Wilson pun segera berlari kecil, menerobos kerumunan orang, berharap bisa menyusul dan menarik lengan si wanita. Sedikit merutuk karena walaupun tubuhnya besar, tetap saja arus manusia tidak bisa ia tepis.


Namun akhirnya, kedua tungkai miliknya berhenti melangkah saat ia kembali-kali ini benar-benar melihat Veila di depannya, tengah menunduk dan menghela napas. Semuanya terpatri jelas dan dapat Wilson tangkap. Jarak dirinya sedikit jauh, sekitar beberapa langkah dari si wanita, tetapi tidak membuat ia kehilangan jarak pandang untuk mengamati Veila yang sudah menghilang sejak pagi.


Dan di saat wanita itu mulai mengangkat kepalanya, pandangan mereka bertemu. Wilson merasa buruk saat ini, pasalnya ia terlihat mengerikan karena tengah sibuk mengambil pasokan udara sebanyak mungkin untuk menutup kekurangan akan oksigen setelah melewati aksi lari-larian untuk mencapai tempat dilangsungkannya festival kembang api.


Tidak ada yang mendekat, baik Veila ataupun Wilson. Hingga pada detik berikutnya, punggung mereka berdua sama-sama tersenggol tiada henti, membuat kehilangan tempat berpijak saat itu, lalu berhenti di saat ujung sepatu mereka saling bersinggungan. Tidak seperti detik sebelumnya, kali ini, tidak ada jarak yang memisahkan mereka. Di dalam kerumunan orang, mereka berdua saling berhimpit dengan tangan Wilson yang berada di pinggul Veila, tidak direncanakan, itu relfeks.


Diluar dugaan, tidak ada kata yang bisa mereka lontarkan. Padahal Wilson sudah menyiapkan banyak kalimat, tetapi di saat ia bertatap muka langsung dengan Veila, semuanya mendadak tertahan di ujung lidah.


Sampai akhirnya, di mana Wilson mulai memberanikan diri untuk bertanya, "Kenapa tidak minta izin dulu padaku jika kau akan pergi dengan Leo?"


Veila mulai membuka suaranya guna membalas pertanyaan Wilson barusan. "Aku kan sudah meletakkan secarik kertas di bawah pintu. Lagipula aku tahu kau tidak suka diganggu jika sedang tidur. Dan juga, aku tidak pergi bersama dengan orang asing," tuturnya, membuat Wilson diam dan tak berniat untuk membalas lagi. Apalagi saat sadar jika Veila selalu saja membela Leo di saat Wilson mulai menyalahkan si pria.


Dan di saat aksi saling diam itulah, Wilson mulai memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia pikirkan. Kapan terakhir kali ia merasakan jantungnya berdebar kencang? Ah, iya, saat ia mengutarakan perasaannya pada Maureen dulu, lalu semuanya menghilang saat mereka sudah menikah, Wilson menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar kala itu. Dan sekarang, jantungnya kembali berdebar kencang di saat ia menatap wajah ataupun mendengar suara kecil Veila yang menggelitik pendengarannya.


"Veila Amor ...." Panggilan Wilson sukses membuat Veila mendongak, menatap mata si pria yang tubuhnya lebih tinggi daripada dirinya.


Tanpa diminta, kedua telapak tangannya sudah menghangatkan pipi Veila, mengusapnya lembut dengan ibu jari. Membuat napas si wanita ikut tercekat karena perbuatan Wilson.


Dengan lambat, Wilson pun mulai mendekatkan wajahnya seraya melanjutkan kalimatnya, "Sepertinya, aku...." Dan di saat hidung mereka mulai bersinggungan, pria itu masih belum melanjutkan perkataannya, melainkan mulai menutup kedua matanya perlahan, membuat Veila mau tak mau juga ikut menutup erat matanya.


"Aku ...."


'Telah jatuh hati padamu.'


Dan tepat di saat hatinya mengatakan hal itu, bibir mereka pun bertemu, disertai dengan festival kembang api yang juga turut dimulai. Kembang api yang naik ke udara, lalu meledak menghasilkan berbagai warna pun menyertai ciuman lembut yang diberikan Wilson. Pria itu tersenyum saat merasakan tangan Veila yang mulai mencengkram mantelnya karena terkejut dengan suara letusan kembang api. Namun, hal tersebut tentunya tidak menghentikan ciuman mereka.


'Sekarang ini, aku sudah kalah total. Kata 'game over' sesungguhnya sudah terlihat di layar, tak bisa menggapai tujuan akhir. Jatuh hati adalah kekalahan yang sebenarnya. Dan yang paling disesalkan adalah permainan ini tidak bisa aku reset kembali. Veila yang sama sekali tidak melakukan apa pun adalah pemenangnya.'


Leo Zhang yang melihat adegan ciuman itupun segera membalikkan tubuhnya, memandang Crepes yang tengah tangan kanannya genggam. Melihat itu, ia semakin yakin jika Wilson tidak akan pernah meninggalkan Veila dengan mudah. Pria itu—Wilson Alexander Hovers— sudah jatuh cinta.


***


Wilson melirik Veila yang kini tengah tersenyum seraya melihat indahnya menara Eiffel dari balkon kamar. Mereka berdua sudah pulang sejak beberapa puluh menit yang lalu, dan kini tengah berdiri di balkon kamar dengan angin malam yang bisa dibilang cukup dingin menemani mereka.


“Kenapa kau tersenyum terus?" Wilson bertanya, membuat Veila berhenti tersenyum sejenak dan menjawab, "Hanya mengingat hari yang kulewati tadi."


"Jangan bilang kau sedang jatuh cinta dengan seseorang? Biasanya jika sedang jatuh cinta, maka orang-orang tidak bisa menahan senyumnya. Leo? Pria itu yang membuatmu tersenyum seperti orang gila sekarang ini, kan?" Wilson menuduh dengan asal, memberikan asumsi berdasarkan jawaban terakhir yang Veila lontarkan.


"Bukan. Aku sedang jatuh cinta dengan keindahan kota Paris—"


"Cih, dasar wanita yang pintar mengelak. Jika kau menempel dengan Leo terus-terusan, aku akan kembali menjadi pria jahat," gumam Wilson pelan yang nyatanya mengisyaratkan sebuah ketidakrelaan.


Veila mendengarnya, tetapi tidak menanggapi perkataan Wilson dan sibuk melihat pemandangan kota yang cantik di hadapannya. Dan di saat yang bersamaan, setelah ia mengucapkan kalimat itu, tangan kanannya mulai bergerak perlahan, hendak meraih jari-jari kecil milik Veila dan menyatukan dengan jari miliknya.


Bukankah jarak kita cukup dekat saat ini? Namun, kenapa rasanya ada batasan yang membuatku susah untuk menggapaimu?


Wilson segera menarik kembali tangannya, menyembunyikannya dibelakang punggung saat sadar jika Veila mulai mengalihkan tangan kirinya, meletakkan pada besi balkon. Karena itu, Wilson pun mengurungkan niat untuk kembali meraih dan mulai ikut memperhatikan pemandangan gratis yang cantik di depannya.


Suatu saat apa kau akan seperti tanganmu sekarang, Nona seratus ribu dolar? Apa kau akan pergi disaat aku sedang berusaha atau justru sudah bisa meraih dirimu?


Sejurus kemudian, Wilson berdehem pelan. Membuka mulutnya lalu berkata kecil, "Ceritakan padaku tentangmu lebih dan lebih, aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi, Veila Amor."


Bersambung ....