Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 68


Semalaman ia dan Veila bercerita banyak sekali. Sebenarnya Veila tak mau memberitahukan seluruh kehidupannya pada Wilson karena takut jika di masa depan hal itu akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


Namun, diluar dugaan, Wilson adalah pria yang pandai memancing, membuat Veila mau tak mau keceplosan menceritakan kehidupan suramnya. Namun, dari sekian panjang cerita mereka kemarin malam, ada satu pertanyaan yang tak mendapat jawaban.


Pertanyaannya simple, Wilson hanya bertanya, apa Veila menaruh perasaan pada Leo? Namun, bukannya jawaban memuaskan yang ia terima, dirinya hanya mendapati senyuman manis dari Veila.


Sebuah senyuman yang tak dapat ia artikan. Saat itu Wilson benar-benar menunjukkan sisi cemburunya, tetapi Veila tak menanggapi sisi yang ia keluarkan, membuat hatinya terbakar dengan hebatnya.


Sebenarnya hari ini Wilson bisa bernapas lega karena tidak satu pesawat dengan Leo sebab pria itu pulang lebih lambat beberapa jam-beda maskapai. Setidaknya ia bisa bergerak leluasa tanpa harus mengkhawatirkan kedekatan dua orang itu - Veila dan Leo.


Memang, penyesalan selalu datang terakhir, dan sekarang ia tengah merasakannya. Harusnya dulu ia tidak perlu selalu menyuruh Leo untuk datang menghampiri Veila di saat wanita itu ia lukai hati maupun fisiknya. Dan di saat ia tengah memikirkan kedekatan itu, suara Veila yang meminta Wilson untuk memberi jalan pun membuyarkan lamunannya.


Wanita itu baru saja balik dari toilet di dalam pesawat dan sekarang tengah meminta Wilson dengan hati-hati agar si pria mau memberinya sedikit jalan untuk masuk dan kembali duduk.


Merasa jika Wilson sama sekali tidak membuka jalan dan memberikan akses lebih, Veila pun mulai menghela napasnya pelan. Jika seperti ini, tentunya ia harus berjalan memutar agar bisa kembali duduk di kursinya. Sepertinya, Wilson sengaja melakukan itu karena sisi jahatnya kembali muncul.


Namun, siapa yang menyangka, di saat tubuhnya sudah berbalik ke rute sebaliknya, pergelangan tangan Veila tertarik, membuatnya jatuh terduduk di atas paha Wilson dengan kedua matanya yang membesar.


"K-kau-" Veila hendak beranjak, dan tentunya Wilson tidak mau membiarkan Veila pergi dari atas pahanya.


"Ini tempat umum," gumam Veila dengan suara yang terlampau kecil, persis seperti tengah berbisik.


Justru, perkataan Veila barusan berhasil membuat Wilson terpacu untuk terus menahan Veila dan menanyainya sebuah pertanyaan. "Apa yang paling berkesan di hatimu selama dua hari berada di Paris?"


Tak mau berpikir panjang, Veila pun menjawabnya dengan jujur. "Jalan-jalan dengan Leo tentunya. Dia mengajakku pergi ke fashion week, mentraktirku makanan enak, mengajakku ke berbagai tempat yang bagus untuk mengambil gambar-"


"Aku bahkan membelikanmu pakaian! Apa itu bukan traktiran yang berkesan? Kita berdua bahkan melihat festival kembang api sampai selesai," cerocos Wilson tak terima.


Baginya, kenangan yang Leo torehkan selama beberapa jam bersama Veila tidaklah sebanding dengan kenangan yang ia buat. Mendengar itu, kedua mata Veila pun terkedip beberapa kali, dan tak lama kemudian segera menyahut, "Itu juga termasuk traktiran, tapi bukankah konteksnya berbeda?"


Kembali tidak terima dengan jawaban Veila, Wilson pun segera mengaitkan sabuk pengaman yang sedari tadi ia pakai, mengunci tubuh mereka berdua ke dalam jeratan sabuk pengaman yang menyesakkan. Tentu perlakuan Wilson tersebut membuat dirinya mendapat tamparan di punggung tangan di mana saat itu kedua tangannya tengah melingkari perut Veila.


Tak mendengar sampai tuntas, Wilson pun segera melepaskan pengaman tersebut, lalu mulai mengusap perut Veila yang belum menunjukkan perubahan berarti dan mulai meminta maaf pada calon anaknya di dalam sana.


"Aah, aku ingin mencium baby Hovers, tapi sepertinya tidak bisa ...." Wilson sengaja mengakhiri kalimatnya dengan nada yang lebih panjang serta pandangan yang teralihkan ke arah lain.


Mendengar keluhan Wilson barusan, membuat Veila tergerak untuk menanggapi, "Anakmu bahkan belum terbentuk sempurna di dalam sana dan masih butuh waktu delapan bulan lagi untuk dilahirkan. Aku mengerti, kau menyayangi anakmu, karena itu bersabarlah sebentar lagi sampai anakmu sudah lahir dengan pipi dan bibir yang―"


"Karena itulah." Wilson tersenyum ke arah Veila dengan penuh arti dan melanjutkan. "Biarkan aku mencium pipi dan bibirmu dulu agar sekarang ini, calon anakku bisa merasakannya. Aku pernah membaca artikel di internet yang menjelaskan jika seorang anak yang tengah berada di dalam kandungan akan merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya. Aku tahu kau tidak bodoh dan bisa mengerti maksudku."


Nyatanya, perkataan Wilson barusan berhasil membuat Veila terdiam. Memang benar apa yang pria itu katakan, tetapi tidak harus sampai membawa-bawa ciuman, kan?


Veila menggeleng, membuat Wilson kembali berceletuk cepat, "Aku hanya mau memberi anakku ciuman lewat dirimu, bukannya mau menciumimu! Cih, pelit sekali. Padahal cuma meminjamkan bibir saja—”


Plak!


Mata Wilson terbelalak saat pipi kirinya dihadiahi sebuah tamparan dari Veila. Dapat Wilson tangkap jika saat ini kedua mata Veila sudah berkaca-kaca, hampir menangis.


"Seratus ribu dolarmu ini masih kau anggap murahan ternyata—“ dan setelah itu Veila benar-benar menangis, membuat Wilson kelabakan sendiri dan teringat akan artikel yang sempat ia baca saat awal-awal mengetahui kehamilan Veila.


Ibu hamil itu sensitif, tetapi Wilson sama sekali tak paham dengan sensitif menurut ibu hamil. Bukan hanya itu, sekarang ini beberapa orang mulai memperhatikan mereka berdua, membuat Wilson berkata lewat matanya jika semua ini bukanlah masalah serius yang perlu dicampuri oleh orang asing.


"Cup, cup ... berhentilah menangis atau anak kita akan jadi cengeng nantinya," ujar Wilson, berusaha menenangkan dengan cara menepuk-nepuk puncak kepala Veila. "Dan itu tidak baik untuk kondisi baby Hovers Sayang, maksudku, Veila," lanjutnya, hampir saja keceplosan memanggil Veila dengan panggilan sayang.


Tak punya banyak akal dalam menenangkan Veila, dengan sigap, pria itupun segera mengecup pipi si wanita berkali-kali, seperti tengah menghilangkan jejak air mata yang tertinggal di pipi. Hingga akhirnya, bibirnya bertemu dengan permukaan bibir milik sang istri kedua, dan mulai memberikan sebuah ciuman lembut dalam rangka penenangan yang sekaligus menyimpang ke arah tujuan utamanya sejak tadi -menciumi birai Veila.


'Aku menyayangi anakku, dan ibunya, tentu saja.'


Bersambung ....