
Tidak seperti biasanya di mana Maureen masuk ke ruangan kerja Wilson dengan mengetuk pintu di awal, kini wanita itu langsung masuk tanpa melakukan hal tersebut. Semua itu karena Jack berkata jika Wilson tengah menghadiri rapat khusus dengan para komisaris.
Sebenarnya, mengantar makan siang untuk Wilson adalah rutinitasnya setiap hari kerja. Walau makanan yang ia bawa bukanlah masakannya melainkan masakan pelayan, Maureen tetap bersikeras mau mengantarkan kotak bekal makanan ke kantor Wilson. Kotak bekal tersebut ia letakkan di atas meja kerja Wilson yang rapi― Wilson tak suka hal yang berantakan, lalu ia pun segera duduk di kursi putar yang sudah tersedia di depan meja kerja.
Jack berkata jika rapat akan berakhir dalam lima belas menit lagi, karenanya, Maureen jadi bersemangat dan terus menunggu dengan sabar kedatangan Wilson. Dan tepat di saat ia baru saja menempelkan bokongnya di kursi, ponsel Wilson bergetar sekaligus mengeluarkan sebuah suara.
Ah, perlu diketahui, jika sedang rapat, Wilson tidak pernah membawa ponsel. la pasti akan meninggalkannya di ruangan atau menitipkannya pada Jack dan Leo. Pria itu akan merasa terganggu jika tiba-tiba saja ada suara lain selain karyawan atau rekan bisnis yang tengah presentasi di depan sana, suasana hatinya akan kacau dan berakibat ia akan meninggalkan ruang rapat sebelum tiga puluh menit.
Matanya menyipit, melihat nama ibu terpampang nyata di layar ponsel milik suaminya. Hatinya bergejolak, kenapa ibu menelepon Wilson? Memang, orang tua menelepon anak adalah sesuatu yang wajar, tetapi jika menelepon di jam kerja belum masuk waktu makan siang pasti ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan.
Awalnya, Maureen hanya membiarkan, membuat panggilan masuk tersebut menjadi sebuah panggilam tak terjawab. Namun, akhirnya ia penasaran juga, membuatnya segera mengambil ponsel Wilson dan menerima panggilannya. Maksud hati ingin mengatakan jika Wilson sedang rapat dan akan kembali dalam lima belas menit, tetapi itu hanyalah sebatas niat karena perkataan Nyonya Hovers yang sukses membungkam rapat mulut Maureen.
'Lex, selamat! Kau akan menjadi seorang Daddy! Veila Amor, dia hamil!'
Perkataan mertua yang kelewat senang sangat membuat hati Maureen merasa sedikit sakit.
Mendengar kabar Veila yang tengah hamil membuat Maureen kembali merasa buruk. Bayangkan saja, dirinya tidak bisa menghasilkan seorang anak dari rahimnya sendiri. Dalam konteks ini, ia tidak melibatkan Wilson ataupun Leo, ia hanya melibatkan dirinya sendiri. Merasa kecewa dan marah karena ia tidak bisa menjadi seorang wanita yang sempurna.
Tiba-tiba saja bayangan tentang Wilson yang bercerita mengenai impiannya untuk mengisi kekosongan rumah dengan anak-anak pun terbesit membuat perasaan takut yang terkubur pun kembali mencuat.
'Alexander, kau tidak bahagia?'
Tak mengatakan sepatah katapun, Maureen segera mengakhiri panggilan tersebut, mematikannya secara sepihak dan membuat Nyonya Hovers di seberang sana bertanya-tanya.
Sang kekasih—Leo—bahkan sudah berkali-kali mendesaknya, menyuruhnya untuk meninggalkan Wilson agar kekecewaan yang dirasakan tidak besar. Namun, Maureen tidak bisa, ia tidak bisa pergi dan kehilangan kasih sayang dari suaminya. Katakan saja ia tidak bisa hidup tanpa perlakuan manis Wilson—semacam candy. Walau ia tidak bisa mencintai suaminya, tetapi bukankah cinta bisa ditutupi dengan luapan kasih sayang sebagai orang yang penting dan berharga?
Maureen menghela napasnya pelan, mengambil kembali ponsel Wilson dan menghapus riwayat panggilan dari Nyonya Hovers. Ia harus melakukan ini karena tak mau jika Wilson melihat itu, menelepon ibunya balik, lalu meninggalkannya dan tidak jadi memakan bekal yang ia bawa.
"Maafkan aku," gumamnya pelan dan segera meletakkan kembali ponsel tersebut di atas meja ke posisi semula.
Tak berapa lama setelah itu, pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Wilson bersama Jack.
Melihat Maureen yang berada di dalam ruangannya membuat kekusutan suasana hati Wilson perlahan terurai. Pria itu tersenyum manis, menyuruh Jack segera pergi dan kemudian berjalan mendekat ke arah Maureen. Diciumnya puncak kepala sang istri, lalu bertanya, "Sudah menunggu lama?"
Pertanyaan yang sukses membuat Maureen menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak. Hanya lima belas menit dan itu tidak masalah bagiku."
Wilson kembali tersenyum dan kemudian segera duduk di kursi kebesarannya. Matanya membulat saat melihat kotak bekal yang sudah dibuka oleh Maureen barusan, merasa lapar seketika saat melihat susunan rapi makan siang di hadapannya.
Tanpa menunggu lama, Wilson pun segera meraih sendok yang sudah disediakan dan mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Bibi yang memasaknya?" tanya Wilson, merasa jika kini level penatnya sudah hilang karena makanan enak yang tengah dikunyahnya.
Sontak, Maureen menggeleng. Memang, biasanya pelayan yang bertugas di dapurlah yang memasaknya, Maureen hanya mengantarkannya saja. Tapi kali ini, tidak ada campur tangan pelayan dalam menyiapkan seluruh isi di dalam kotak bekal. "Bukan bibi, tapi Veila."
Dan di saat itulah, Wilson tersedak dan berhenti mengunyah makanan di dalam mulutnya. Veila Amor, dia pandai memasak, membuat Wilson benar-benar ingin memakan masakannya setiap hari dan memberhentikan para pelayan saja. Semua itu, kecintaannya terhadap masakan Veila, bermula dari satu piring nasi goreng.