Wanita Seratus Ribu

Wanita Seratus Ribu
Part 46


Wilson bangun lebih awal, sudah membersihkan diri kini sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Pagi tadi Maureen sempat mengabarinya jika akan pulang sore hari karena sang ibu minta untuk ditemani, dan tentu saja Wilson tak bisa menyuruh Maureen pulang begitu saja. Ia paham, orang tua adalah dua orang penting yang harus di prioritaskan.


Kini pria tersebut tengah berdiri di depan sofa, melihat Veila dan rolex miliknya secara bergantian. Sebenarnya ia sudah telat satu jam dari jadwal masuk yang perusahaan tetapkan, tetapi karena ia adalah pimpinan yang bisa datang di waktu kapan pun, Wilson agak tidak mempermasalahkan hal tersebut.


Di meja makan sudah tersedia berbagai macam menu sarapan pagi yang sudah Wilson atur pada sebuah jadwal makan. Namun, bukannya segera mengisi perut yang kosong, Wilson malah sibuk memperhatikan wanita yang ia katai sebagai pemalas ini. Perkataannya waktu di pulau xxx tak salah lagi perihal bangun pagi, tetapi kenyataannya, saat jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan pun, Veila masih belum membuka mata.


Tak ada pilihan lain, Wilson pun berniat untuk membangunkan Veila dengan cara meneriakinya, sengaja membuat wanita itu terkejut karena suaranya. Namun, di saat Wilson sudah membuka mulutnya, hendak meneriaki Veila, wanita itu sudah lebih dulu beranjak dengan tangan yang menutupi mulutnya. Wilson mengerutkan dahinya, memperhatikan Veila yang kini tengah berlari menuju lantai atas dengan kondisi seperti orang yang sedang masuk angin mual-mual.


Karena terlalu buru-buru, serta tangga dan sandal rumah yang bertemu mengakibatkan satu kondisi yang sangat buruk, licin. Wanita itu terpeleset, membuatnya memekik pelan karena tubuh ringannya oleng ke belakang.


Melihat itu, entah kenapa Wilson segera berlari ke arah Veila—padahal ia sudah berniat ingin melihat wanita itu terjatuh karena kecerobohannya, menangkap pinggang si wanita, hendak menahan tubuh yang melawan gravitasi.


Namun sayangnya, Wilson pun kurang hati-hati, membuat mereka berdua jatuh ke bawah dengan Veila yang terselamatkan karena tubuh Wilson langsung yang bergesekan dengan tajamnya anak tangga. Untung saja saat itu Veila baru menaiki sepuluh anak tangga, tak akan membuat Wilson mati karena telah menjadi pahlawan kesiangan untuknya.


Dapat di dengar jika kini Wilson tengah meringis sakit, dan sadar jika ia tengah berada di atas tubuh Wilson, Veila pun segera beranjak.


Wilson kira wanita ini hendak membantunya berdiri, tetapi kenyataannya Veila langsung melesat pergi ke arah wastafel cuci piring di dapur, menyalurkan rasa mualnya yang menyiksa, membuat Wilson menggeram kesal. Ia hendak mengangkat tubuhnya sendiri, tetapi sayang rasanya terlalu sulit untuk bergerak. Wilson mulai berspekulasi jika kakinya terkilir atau bahkan kemungkinan terburuknya yaitu patah.


"Hei! Jangan diam saja! Ini semua ulahmu! Cepat, bantu aku berdiri!" Marah Wilson dan kemudian segera membuat Veila bergerak cepat, membantu Wilson berdiri serta memapahnya menuju sofa, walau sebenarnya cukup sulit. Setelah itu, Wilson segera mengeluarkan ponselnya, melemparkannya pada Veila dan menyuruh wanita itu untuk menghubungi Robert.


"Jika sampai terjadi sesuatu hal yang serius, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu," peringat Wilson, yang sejujurnya membuat Veila sedikit tidak terima. Dirinya kan tidak minta ditolong? Itu yang diri Veila tanyai.


Tak butuh waktu lama untuk mendatangkan Robert ke rumah Wilson. Sekitar dua puluh menit setelah telepon dimatikan, batang hidung si pria tampan pun terlihat.


Melihat kondisi Wilson yang sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya, membuat Robert panik dan segera memeriksa kondisi sahabatnya. Sedikit lega saat sadar jika kaki Wilson hanya keseleo dan tidak butuh waktu lama untuk memulihkannya. Namun, tetap saja, bagi seorang Wilson Alexander Hovers yang tidak pernah cedera, kaki yang keseleo adalah suatu masalah besar yang dapat menghambat segala pergerakannya.


Mendengar celetukan Robert yang mengatakan bahwa kakinya keseleo pun membuat dirinya segera melayangkan tatapan membunuh ke arah Veila.


"Hei, kau harus tanggung jawab. Jadilah kaki kiriku sampai aku pulih," ujarnya dengan penuh kekesalan, membuat Veila mengangguk pasrah dan menerima segala konsekuensinya padahal bukan salah Veila sepenuhnya.


BERSAMBUNG ....