
"Kenapa tidak mau turun?" tanya Wilson, saat ini mobilnya sudah terparkir rapi di basement sebuah supermarket besar yang terletak di pusat kota.
Berbeda dengan Wilson yang bahkan sudah membuka pintu mobil, Veila bahkan belum melepaskan seatbelt-nya, dan terlihat tak ada niatan untuk keluar dari dalam mobil.
Wanita itu menggeleng pelan, berbicara dengan suara kecilnya, "Jika kau dan aku dilihat orang bagaimana? Kau saja yang turun, aku tidak mau disalahkan olehmu nantinya."
Wilson itu adalah pria yang mampu mencari kesalahan Veila apa pun caranya, bisa dikatakan, sekecil apa pun kesalahan Veila, Wilson bisa menemukannya sekalipun itu bukanlah kesalahan yang ia buat. Sikap Wilson yang kasar membuat Veila tak mau bertindak gegabah, apalagi sekarang ini ia tengah hamil. Sudah seharusnya ia tidak membangunkan singa yang sedang tertidur dengan aroma daging yang menyeruak.
"Jadi, kau menyuruhku belanja sendirian, begitu? Tidak, tidak. Apa pun alasannya, kau tetap harus turun dan temani aku ke dalam," sembur Wilson dengan tangan yang sudah mulai melepas seatbelt yang menyangga tubuh Veila, lalu membuka pintu mobil yang berada disisi si wanita.
"Wil, aku tidak mau kau memarahiku karena—" perkataan Veila otomatis terpotong karena Wilson yang tiba-tiba saja menyela.
"Tidak ada yang memarahimu. Jadi segeralah keluar dari dalam mobil atau aku yang akan menyeretmu keluar.“
Tak mau ditimpa hal-hal buruk, Veila pun segera keluar dari dalam mobil dengan napas pelan yang sengaja ia embuskan. Detik ini Wilson bisa berkata seperti tadi, mengatakan jika dia tidak akan memarahi Veila. Namun, beberapa detik ke depan? Bisa saja Wilson mengamuk dan memarahinya.
Dalam perjalanan menuju dalam supermarket, Veila sedikit menjaga jaraknya dari Wilson, sengaja membiarkan pria itu berjalan terlebih dulu dengan memberi jarak sekitar seratus meter di antara mereka. Jujur, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di supermarket sebesar ini— ia tidak pernah belanja di supermarket. Agak sedikit terkesima karena supermarket ini berbeda dengan minimarket, setelah sebelumnya ia sempat mengira jika supermarket dan minimarket tidak ada bedanya, sama persis.
Nyatanya, supermarket lebih besar dan lengkap, banyak karyawan juga yang berlalu lalang di dalam sini. Di dalam hati, ia berceletuk, mengatai dirinya sendiri sebagai wanita kampungan. Saat dirinya tengah celingukan melihat sekeliling supermarket yang ramai akan orang-orang dan barang-barang, iapun segera mengalihkan pandangannya ke depan saat pergelangan tangannya dicekal oleh Wilson.
Butuh beberapa detik untuk memproses sesuatu yang ia lihat pergelangan tangannya hingga akhirnya, saat ia hendak menarik tangannya agar terlepas dari cekalan, Wilson sudah lebih dulu menarik dirinya pelan, membawanya menuju susunan rak yang paling ujung yang paling sepi akan pengunjung.
Tak ada yang bisa Veila lakukan selain melihat Wilson yang memasukkan dua kotak susu ibu hamil rasa cokelat sekaligus ke dalam troli belanja mereka. Dan di saat Wilson hendak melajukan trolinya berpindah ke tempat lain, Veila segera menghadang dan mengambil kembali dua kotak susu tersebut, membuat Wilson bertanya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat letakkan kembali susu itu ke dalam troli."
Gelengan kepala berhasil mata Wilson tangkap, mendengarkan dengan seksama tiap kata yang keluar dari bibir Veila.
"Aku tidak suka rasa cokelat," ungkap si wanita seraya mengembalikan dua kotak susu cokelat tersebut ke tempatnya semula.
Wilson memandangi setiap pergerakan yang dilakukan Veila dan kemudian berdecih saat melihat si wanita yang kesusahan dalam meraih kotak susu rasa vanila yang kebetulan tiga tingkat lebih tinggi dari deretan susu rasa coklat.
Lagi-lagi Veila dibuat terkesiap dengan perlakuan Wilson. Dengan mudahnya, tangan kiri si pria meraih perut Veila, membuat si wanita berhenti berjinjit dan menapaki kedua kakinya pada sepatu Wilson.
Veila mengira jika Wilson akan marah karena dirinya telah menginjak kaki si pria, tetapi yang ia dapati bukanlah sebuah bentakan, melainkan sebuah usapan pada perutnya yang masih bisa dikatakan rata.
"Baby Hovers, jika kau lahir dan sudah besar nanti, jangan sampai kau sependek Mommymu. Lihat saja, Mommymu ini bahkan tidak bisa meraih satu kotak susu vanila akibat tingginya yang tidak semampai. Pokoknya, kau harus setinggi Daddymu agar bisa menggapai tempat-tempat yang tinggi," akhiran yang diberikan Wilson adalah kecupan singkat pada pipi kanan Veila yang mampu membuat si wanita terkejut.
"Kenapa malah menciumiku?" Protes Veila dengan jantung yang sudah berdetak dua kali lebih cepat karena perlakuan Wilson.
Sementara Wilson justru berdehem lalu membalas, "Aku tidak bisa menciumi baby Hovers yang masih ada di dalam perutmu. Ini tempat umum, bisa-bisa aku dituduh sebagai pria mesum karena persepsi aneh setiap orang yang berbeda."
Untuk mengalihkan pembicaraan tentang kecupan singkat tadi, Wilson pun segera meraih dua kotak susu rasa vanila dan meletakkannya pada troli.
"Kau mau buah? Supermarket ini menyediakan banyak jenis buah-buahan," tanyanya seraya mendorong troli belanjaan ke tempat buah-buahan yang tersusun.
"Apel?"
Veila menggelengkan kepalanya, membuat Wilson kembali meletakkan satu buah apel yang sempat ia pegang ke tempatnya semula.
"Jeruk?"
Wilson mendapatkan gelengan lagi, membuat dirinya harus meletakkan kembali buah jeruk yang baru beberapa detik tangannya genggam.
"Alpukat?"
Gelengan Veila membuat Wilson menghela napasnya kasar, lalu meletakkan kedua buah alpukat tersebut ketempatnya semula.
Wilson bahkan sempat mengerang karena Veila masih saja tetap menggeleng. Empat jenis buah yang bagus dikonsumsi untuk ibu hamil—ia sempat seraching di internet—semuanya mendapat gelengan dari Veila.
Dengan pisang yang sudah ia letakkan kembali di tempatnya dengan sedikit kasar, Wilson pun bertanya, "Lalu apa yang kau mau, Nona cerewet?"
Seperti mendapatkan lampu hijau, yang artinya ia diizinkan untuk memilih buah yang ia inginkan, dirinya pun segera mengambil satu buah berwarna kuning pucat dan memperlihatkannya pada Wilson dengan bibir yang mengulas senyuman manis.
"Lemon," ujarnya, membuat Wilson menganga tak percaya karena dari sekian banyak buah yang bergizi dan manis-manis, Veila malah memilih buah yang rasanya masam, lemon.
Napas kecil berhasil Wilson embuskan, mengambil ponselnya dari dalam saku dan mulai mencari di internet apakah buah lemon baik untuk dikonsumsi. "Ambil itu seperlunya dan jangan penuhi kulkasku dengan lemon masammu," celetuk Wilson, yang akhirnya membuat senyuman Veila makin melebar.
Kepala Wilson merasa hampir pecah saat melihat troli belanjaannya yang hampir dipenuhi dengan buah lemon, membuatnya tak berniat untuk membeli barang lainnya dan segera menuju kasir. Namun, di saat matanya sudah bisa menangkap antrean pada beberapa kasir, tangan kecil Veila meraih jari tangannya, membuat dirinya merasakan sengatan listrik yang mengejutkan jantungnya.
"Kau mau membelikanku es krim? Aku ingin memakannya, sedikit saja. Ukuran yang paling kecil." Veila terus membujuk dengan mengurangi sedikit demi sedikit keinginannya dengan telunjuk yang sudah mengarah pada freezer, di mana es krim tersimpan rapi.
"Tidak boleh," tutur Wilson, sukses membuat binar di mata Veila memudar. Dan setelah mengatakan itu Wilson pun segera melanjutkan langkahnya menuju kasir, tetapi tidak sadar jika Veila tak mengikutinya di belakang. Wanita itu malah berjalan ke arah freezer dan mulai merogoh saku mantelnya.
Harga es krim yang paling murah adalah dua dolar, sedangkan uangnya sekarang kembalian dari naik taksi siang tadi hanya berjumlah satu dolar. Di saat Veila tengah memasukkan kembali uang recehnya ke dalam saku mantel, seorang wanita yang usianya lebih tua dari Veila kira-kira datang dan menyindir. "Jika tidak mampu beli, jangan menghalangi jalan. Aduh, masih musim ya belanja dengan uang receh?" Wanita tersebut pun mendorong bahu Veila menggunakan telunjuknya, membuat Veila mau tak mau harus menyingkir.
Suara deheman yang terkesan berat sukses membuat si wanita kaya tersebut menghentikan pergerakan tangannya dalam meraih es-krim. Bukan hanya si wanita kaya, Veila pun juga ikut menoleh, melihat si pemilik suara deheman yang super dingin.
"Kau mau es-krim apa? Ambil saja sesukamu, jika perlu bawa saja dengan freezernya sekalian. Black card suamimu ini setidaknya harus digunakan dengan baik." Itu Wilson, berkata sembari memamerkan black card miliknya. Wilson berhasil membuat si wanita kaya itu merasa kecil- karena ia tidak mempunyai black card, lalu ia segera pergi meninggalkan area tersebut dengan cepat, meninggalkan Veila dan Wilson berdua.
"Benar ingin membelikanku es-krim?” tanya Veila, memastikan kebenaran dari perkataan Wilson barusan. Pria itupun tentu saja menggeleng, lalu balas berkata, "Ambil satu saja. Jangan makan es-krim terlalu banyak." Dengan segera, Veila pun menganggukkan kepalanya dan mengambil satu buah es-krim caramel yang sangat ia nanti untuk dicoba.
"Terima kasih karena telah baik padaku-"
"Aku baik untuk memanjakan bayiku, bukan dirimu," potong Wilson, sukses membuat Veila diam sesaat dan setelah itu langsung tersenyum dan kembali membalas, "Kalau begitu aku mewakili bayinya dalam mengucapkan terima kasih. Nanti jika bayinya sudah lahir ke dunia, kata pertama yang akan kuajari adalah terima kasih, supaya dia bisa terus berterima kasih padamu."
Wilson berdecih, hampir saja tertawa karena perkataan Veila. Namun, lagi-lagi ia berhasil menahan semuanya. "Tidak usah sampai begitu juga,“ celetuknya, lalu segera pergi mendahului Veila menuju barisan antrean pembayaran.
***
"Mau membuatkan susu untuk Veila, ya?" tanya Maureen, memergoki Wilson yang kini sedang membuka bungkusan susu ibu hamil yang sempat ia beli di minimarket sore tadi.
Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Bayiku, ah tidak, maksudku bayiku dan bayimu di masa depan juga, harus terlahir sehat.“ Mendengar itu, Maureen tersenyum kecut dan memperhatikan setiap hal yang tangan Wilson lakukan.
"Biar aku saja yang membuatkannya. Sebaiknya kau mandi terlebih dulu, baju kantormu bahkan masih melekat pada tubuhmu. Bahkan kau makan malam dengan masih mengenakan pakaian kerja, tidak biasanya," kekeh Maureen, segera mengambil alih bungkusan susu bubuk yang berada di genggaman Wilson.
"Tidak apa-apa jika kau yang membuatkannya?" Wilson memastikan, memandang wajah istrinya dengan seksama. Segaris senyuman tipis berhasil membuat Wilson melega. Maureen meyakinkan Wilson lewat kalimat-kalimat manisnya, hingga akhirnya, sang suami mempercayakan semuanya pada sang istri dan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
Melihat Wilson yang sudah masuk ke dalam kamar, Maureen pun mulai memasukkan beberapa sendok bubuk susu—sesuai takaran kedalam gelas, menuangkan air hangat secukupnya, lalu mengaduk bubuknya hingga larut. Dan setelah semua itu selesai, yang Maureen lakukan adalah diam disertai dengan wajah yang memucat. Perlahan, ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya, menyembunyikan obat tersebut dalam genggaman tangannya.
Setelah tahu jika misoprostol harus digunakan bersamaan dengan mifepriston, Maureen pun segera kembali lagi ke apotek yang siang tadi ia kunjungi guna untuk membeli obat tersebut, dan kembali meminta si apoteker untuk menghaluskannya agar menjadi semacam puyer yang bisa larut dalam air.
Tak tanggung-tanggung, dengan keringat dingin yang sudah bercucuran di dahi, Maureen pun segera menuangkan seluruh obat—dua-duanya ke dalam satu gelas susu untuk Veila. Tidak peduli efek samping yang akan Veila rasakan, Maureen tetap memasukkan sekitar lima bungkus untuk kedua obat ke dalam gelas susu dan mengaduknya dengan tangan yang bergetar.
Pendarahan yang berkepanjangan, kehamilan ektopik, aborsi tidak sempurna, peradangan panggul, serta efek samping psikologis. Efek tersebut, yang ia baca di internet berhasil membuat sekujur tubuhnya panas dingin. Namun, mau tidak mau, ia harus melarutkannya, membuat Veila meminummya, dan kemudian kehilangan janinnya yang perlahan sudah mulai terbentuk. Wilson Alexander Hovers adalah alasan ia melakukan perintah ibunya kini.
"Veila, maafkan aku—" gumamnya pelan dengan suara yang bergetar hebat.
Bersambung ....
Apakah rencana Maureen berhasil?