
"Terima kasih," sahut Veila setelah matanya menangkap pergerakan tangan Maureen yang meletakkan sebuah gelas berisi susu di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya.
Mendapati sahutan terima kasih dari Veila, Maureen membalasnya dengan senyuman tipis, tidak sekilas, tetapi bertahan lama. Dengan tangan kanan yang bergetar, yang ia sembunyikan di balik punggungnya, bibir Maureen pun meloloskan sebuah kalimat. “Veila, maafkan aku, kau mau memaafkanku, kan?"
Diluar dugaan, air mata sudah menggenang di pelupuk mata Maureen, jika tak bisa menahannya, mungkin sekarang ini ia sudah jatuh tersungkur seraya menangis di depan Veila.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Veila keheranan, tetapi ia tak dapat menangkap suatu kegelisahan yang diperlihatkan oleh Maureen. Suatu kewajaran jika dirinya merasa heran, pasalnya, Maureen sama sekali tidak pernah berbuat jahat padanya. Predikat 'wanita baik' masih tersemat baik di dalam diri Maureen bagi Veila.
Sejurus kemudian, Maureen menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Kau boleh meminum susunya sekarang. Jika dingin, maka tidak akan enak untuk diminum lagi."
Dan kini, yang Maureen dapati adalah sebuah anggukan kecil dari Veila. Ia melihat seluruh pergerakan yang wanita itu lakukan, mulai dari pengambilan gelas sampai dengan meminum setengah gelas susu yang ia buat.
Lagi-lagi kuping Maureen terasa panas saat mendengar kata terima kasih yang lolos begitu saja dari bibir penuh milik Veila. Tidak, bukan hanya telinganya yang terbakar, jantungnya pun terasa seperti berhenti berdetak saat Veila kembali menghabiskan susu tersebut.
"Kau punya harapan kecil, Veila?" Maureen kembali bertanya dengan berhasil meminimalisir suaranya yang bergetar hebat. Veila tidak boleh tahu jika saat ini Maureen sedang gelisah dan ingin menangis, wanita yang baru saja menyunggingkan senyuman terbaiknya itu tidak boleh mengetahui apa pun, atau dirinya, akan dibenci.
Sementara yang ditanya hanya diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat untuk ia lontarkan. Harapan? Akhir-akhir ini sebenarnya Veila tidak punya harapan besar atau kecil untuk dirinya sendiri. Namun, ada satu harapan yang membuatnya tersenyum lebar di hadapan Maureen.
"Aku ingin anakku lahir dengan sehat dan bisa hidup bahagia di masa depan," tuturnya, membuat Maureen mengangguk dengan air mata yang sedikit lagi—hampir saja terjatuh membanjiri kedua pipinya.
Bagi Veila, mendoakan anaknya agar bisa hidup dengan baik di masa depan adalah sebuah harapan yang benar-benar ingin ia wujudkan. Hidupnya sudah sulit, tak dipenuhi dengan senyuman manis setiap harinya, dan hal itu memicu tekad Veila dalam memiliki harapan kecil itu. Anaknya tidak boleh mengalami rasa pahit nan menyakitkan yang dapat melukai hatinya, dia harus bahagia, apa pun caranya.
Bahagia adalah sebuah harapan, menurut Veila. Dan sekarang, diusianya yang sekarang, serta kondisinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, membuatnya tak berpikir lagi bagaimana cara membahagiakan dirinya―seperti sebelumnya, di mana dirinya berusaha keras untuk meraih kebahagiaan.
Mendapati jika delapan bulan lagi dirinya akan mendapatkan seorang teman, membuat rasa bahagia yang selama ini terpendam jauh di dasar hati mulai mencuat sedikit demi sedikit. Dan jika teman itu sudah lahir ke dunia, mungkin di masa yang akan datang walau ia tidak akan pernah bisa menemani anaknya karena kontrak—ia akan bisa bahagia hanya dengan mendengar kabar tumbuh kembang sang anak.
Teman yang sudah ia jaga selama sembilan bulan, kenyataannya, tak dapat ia sentuh lama. Bagaimanapun juga, teman itu akan menjadi milik Wilson dan Maureen sepenuhnya.
"Aku akan menyuruh pelayan untuk mengambil kembali gelas kosong itu. Aku permisi, Veila. Selamat malam, semoga mimpi indah," pamit Maureen, dan dengan cepat ia segera meninggalkan kamar Veila, berlari menuju rumah kaca miliknya yang berada di halaman belakang tak bisa balik ke kamar dengan kondisi yang seperti ini.
Pintu ditutup dengan rapat setelah ia berhasil masuk ke dalam sana, dan perlahan punggungnya yang bersandar pada pintu pun merosot, air matanya juga ikut merembes keluar dengan hebat. Tangan kanannya terangkat, persis di depan wajahnya. Darah akibat pecahan beling yang menusuk tangannya belum juga berhenti keluar, dan yang dapat ia lakukan hanyalah menangis dan menangis ada rasa lega yang bercampur dengan ketakutan di dalam sana, hatinya.
Sementara tangan kanannya yang berdarah masih bergetar hebat dan ia biarkan begitu saja di tanah, tangan kirinya pun berusaha meraih ponsel di saku celananya dan kemudian, setelah menekan nomor telepon milik seseorang, nada sambung pun terdengar.
Maureen kembali menangis ketika panggilannya terangkat, dan dengan susah payah ia segera berucap dengan suara yang bergetar. “Mama, maafkan aku. Aku tidak bisa membunuhnya. Aku tidak bisa melihat Veila menderita karena kehilangan anaknya. Mama, kau mau memaafkanku, kan?"
Gelas awal yang sudah ia masukkan banyak obat pengugur kandungan sengaja ia pecahkan, membuat tangan kanannya terluka akibat beling halus itu. Bagaimanapun juga, ia tidak bisa membunuh sesuatu yang tak bersalah, yang bahkan tubuhnya saja belum terbentuk sempurna.
Ia tak bisa punya anak, membuatnya selalu mendambakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan, lalu membesarkan darah dagingnya sendiri. Jadi, hatinya tidak tega untuk membunuh calon bayi di dalam perut Veila. Anak itu, mungkin, belum terikat kontrak dengan Tuhan. Ia akan menjadi orang yang kejam jika menghilangkannya dengan obat menyakitkan itu.
"Mama, maafkan aku—"
'Dasar bodoh! Anak tidak berguna! Jika kau kehilangan Wilson, jangan harap Mama mau jadi tempat keluh kesahmu!'
Rumah kaca yang gelap mampu menyembunyikan dirinya dalam diam, bunga-bunga yang ia rawat juga ikut menyaksikan tangisnya. Beruntung sekali ia tidak jadi membuat bayi itu terbunuh dengan kejinya.
Apalagi saat ia mendengar harapan seorang Veila Amor yang menginginkan anaknya untuk bisa hidup bahagia di masa yang akan datang. Jika itu terjadi, mungkin Maureen tidak bisa hidup tenang dan selalu dihantui oleh rasa bersalah. Ia lebih memilih untuk dibenci oleh ibunya daripada harus menjadi seorang pembunuh.
“Mama, sekali lagi, maafkan aku. Lebih baik aku dibenci olehmu karena ketidakbergunaanku daripada harus hidup dalam gelapnya dunia seorang pembunuh," ujarnya seraya membiarkan tangisnya mereda dengan sendirinya.
***
Setelah berganti pakaian—pakaian sebelumnya kotor karena ia sempat duduk di atas tanah, Maureen pun segera naik ke atas ranjang. Biasanya, setelah naik ke ranjang, ia akan langsung menarik selimut dan pergi tidur. Namun malam ini, ia tak bisa melakukan rutinitasnya dikarenakan Wilson yang masih sibuk memainkan ponselnya dengan kacamata anti radiasi yang sudah melorot sampai ke ujung hidung.
"Apa yang sedang kau baca, Wil?" la memberanikan diri untuk bertanya, yang sukses membuat Wilson menoleh dan tersenyum. Namun, selang beberapa detik, senyumannya luntur saat melihat mata Maureen yang membengkak.
Bukannya menjawab, pria itu malah balik bertanya, "Kenapa matamu bengkak seperti itu? kau habis menangis? katakan padaku, siapa yang membuatmu menangis, Maureen."
Maureen menggelengkan kepalanya, mulai tersenyum dan mengelus punggung tangan Wilson yang kini sudah berada pada pipi kirinya. "Hanya terbawa suasana saat menonton film yang sedih," pungkasnya, lalu melanjutkan, "kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Wil. Apa yang sedang kau baca? Sepertinya sangat fokus sekali."
Pria itu diam sejenak, pikirannya melayang di mana ketika dirinya masih berada di kantor, tepatnya di ruangan kerjanya sendiri. Saat itu, ia ingin mengajak Veila untuk pulang, sudah memanggil, tetapi wanita itu malah tidak menyahut dan masih fokus pada majalahnya, membuat Wilson kesal sekaligus penasaran, hingga akhirnya melihat dari arah belakang—apa yang sedang wanita itu lihat sampai-sampai tidak fokus dengan sekitar. Paris, bukankah kotanya indah?
"Memesan tiket ke Prancis—"
"Memangnya ada pekerjaan di luar negeri yang mengharuskanmu pergi?“ Maureen kembali bertanya dan langsung mendapat gelengan dari Wilson.
Pria itu membuka bibirnya guna berkata, "Tidak. Aku dan Veila akan pergi ke Prancis. Sepertinya dia ingin pergi ke sana. Ya, setidaknya aku harus mengabulkan permintaan ibu hamil." Ia menjawabnya dengan rasa tak enak, walau di dalam skenario tiba-tiba ini, terselip sebuah tujuan dalam permainannya apakah Maureen akan cemburu?
Maureen tidak lama berdiam, singkat cerita, bibirnya pun langsung menyunggikan senyuman terlampau manis dan mulai berkata, "Ah, ide yang bagus. Anggap saja sebagai pengganti bulan madu yang kacau waktu itu karena kehadiranku dan Leo."
Sebenarnya, Maureen tak bisa tersenyum, hanya saja ini adalah keterpaksaan. Ia tak boleh memancarkan keegoisannya di depan Wilson. Namun, hal tersebut malah membuat Wilson bertanya dalam hati, apa Maureen sama sekali tidak mencintainya? Benar-benar tidak mencintainya?
"Padahal aku juga ingin mengajakmu-"
"Tidak perlu." Maureen menyambar, dan kemudian melanjutkan. “Lagipula aku sudah pernah menapaki Prancis beberapa kali. Kau pergi saja berdua, dengan Veila." Agak sulit, tetapi itu yang harus ia lakukan sekarang.
Mungkin, ada saatnya di mana ia akan berontak karena Wilson mengerahkan seluruh perhatiannya pada Veila, tetapi itu bukanlah sekarang. Wilson pun tak mampu mengatakan apa pun lagi dan hanya bisa menghela napasnya.
"Aku percaya, kau mencintaiku, Wilson Alexander Hovers," gumam Maureen, meraih kedua pipi Wilson dengan tangan, menariknya lembut agar mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan manis pada bibir si pria.
"Aku menyayangimu," lanjut Maureen, mengusap puncak kepala Wilson sebentar, lalu segera membalikkan tubuhnya ke arah lain membelakangi Wilson. Sampai kapan pun, Wilson tak akan pernah bisa mendengar Maureen mengeluarkan kata aku mencintaimu—mungkin. Ini terlalu menyakitkan, sungguh.
Bersambung ....