
Kita tidak tahu kepada siapa kita jatuh cinta.
Contohnya saja Veila. Siapa yang menyangka jika ia sempat menaruh perasaan pada pria seperti Charlie? Wajar, Charlie tampan dan punya beragam pesona untuk menjerat wanita, terlebih lagi dia selalu memperlakukan wanita dengan baik—awalnya, sebelum dijual. Veila yang hatinya ingin diisi pun tak bisa menolak kehadiran Charlie dalam hidupnya. Jika Veila boleh mengatakan sesuatu tentang dua pria baru yang masuk ke dalam hidupnya—Wilson dan Leo, mereka berdua mengingatkan Veila pada mantan kekasih yang dulu sangat ia cintai.
Leo itu diibaratkan seperti Charlie yang baik, sedangkan Wilson adalah Charlie yang jahat. Seperti yang pernah ia dengar dari tetangganya yang menderita gangguan jiwa ; kebaikan seseorang jangan ditelan mentah-mentah karena sebagian besar orang bersikap baik karena ada maunya, bukan sifat aslinya. Hanya saja Veila tidak terlalu mendengar pesan tetangganya dan malah terpikat pada kebaikan palsu Charlie. Dan untuk saat ini, sebenarnya Veila agak meragukan kebaikan yang Leo berikan untuknya.
Leo memang pria baik, selalu ada untuknya di saat Wilson menyakitinya, dia seperti malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan untuk mengambil lukanya. Namun, bisa jadi jika Leo sebetulnya adalah pria jahat seperti Charlie, 'kan? Dan juga Wilson, pria itu memang dasarnya sudah jahat ya tetap jahat—mau sebaik apa pun, Veila patut curiga. Rasanya Veila benar-benar ingin semua ini cepat selesai dan ia bisa bebas. Ia sudah sering tersakiti, sebab untuk saat ini ia harus bersikap waspada agar rasa sakit yang pernah ia rasakan tidak terulang untuk yang kesekian kalinya. Lebih baik sakit di awal daripada merasakannya diakhir.
Wilson Alexander Hovers adalah pria jahat. Jika tiba-tiba saja dia bersikap baik, bukankah itu patut dicurigai?
Veila menolehkan kepalanya ke arah Wilson yang kini masih memejamkan mata. Mereka berdua tidur dengan jarak yang terlampau dekat, dengan posisi tangan Wilson yang mengunci tubuhnya, membawanya bermalam dengan pelukan hangat. Jujur saja, dekapan Wilson bukannya membuat ia tidur pulas melainkan tidak bisa tidur. Baginya, itu mengganggu, sangat. Langit masih membiru, menandakan jika belum terlalu pagi untuk membuka mata, tetapi mengingat jika pesawat mereka akan berangkat pukul delapan, Veila harus segera berbenah. Sekarang ini yang harus ia lakukan adalah menyingkirkan tangan Wilson sepelan mungkin, berusaha agar si pria kejam ini tidak terbangun atau mulut tajamnya akan menusuk harga diri Veila.
Cukup terkaget karena awalnya Veila mengira, jika tangan Wilson akan susah untuk disingkirkan, tetapi kenyataannya tak butuh waktu lama untuk melepaskan dekapan menyesakkan itu. Napaspun kembali ia hela, dan sesaat kemudian, dirinya segera menggeser tubuhnya agar mencapai sisi ranjang dengan secepat mungkin. Namun, di saat tubuhnya sudah berbalik dan baru saja ia hendak mendudukkan diri, tubuh kembali terseret, mendekat dan membentur dada Wilson.
"Ini masih pagi, jangan sok ingin bangun pagi," gumam Wilson, suara khas bangun tidur benar-benar menyeruak masuk pada indera pendengaran Veila. Dadanya berdebar, bukan karena ada perasaan khusus, melainkan rasa takut.
"Aku memang sering bangun pagi, asal kau tahu," balas Veila dan dijawab dengan decihan meremehkan dari bibir Wilson.
"Maureen bahkan tidak pernah bangun sepagi ini," desis Wilson sembari mengeratkan kembali pelukannya.
Biasanya, pagi-pagi seperti ini yang Wilson butuhkan adalah kehangatan dari sebuah pelukan. Apalagi jika dilihat dari kebiasaannya yang selalu tidur tanpa mengenakan atasan piyama—telanjang dada—sudah hal yang memungkinkan jika Wilson tak ingin kehilangan sesuatu yang membuatnya merasa nyaman saat pagi hari. Biasanya, Maureen adalah seseorang yang selalu ia nantikan pelukan paginya.
Bahkan terkadang Wilson sering telat ke kantor karena terbuai dengan kehangatan yang istrinya berikan. Jika mau pun, Wilson betah seharian penuh di atas ranjang—dengan Maureen tentunya. Namun, karena hari ini sosok istri yang telah menorehkan luka pada hatinya sedang tidak ada, Wilson tak punya alternatif lain selain mendekap Veila.
Eh, lagipula Veila tak kalah hangat dan nyaman untuk dipeluk—sebuah kejujuran yang tak ingin Wilson akui, sebenarnya.
"Dan aku bukan Maureen, jadi lepaskan aku," ujar Veila seraya menyingkirkan tangan Wilson dari perutnya.
Karena tahu jika posisi ini—mendekap dari belakang—memungkinkan bagi Veila untuk melepaskan diri darinya, Wilson pun dengan sigap memindahkan dirinya ke sisi kiri, sempat menindih Veila sebentar, dan berakhir dengan mendekap Veila lebih kuat, meletakkan dagunya di puncak kepala si wanita. Ini lebih dekat daripada posisi yang pertama.
Jika rambut Maureen mengeluarkan aroma cedarwood, rambut Veila malah memancarkan aroma apel hijau yang menyegarkan. Walau sebenarnya aroma rambut Maureen lebih baik, tetapi tidak bisa dipungkiri jika aroma yang kini tengah menusuk penciumannya berhasil membuat Wilson tergila-gila—jadi ingin memakan apel.
"Hei seratus ribu dolar, jika kau patuh padaku maka aku akan menjadi pria baik untukmu. Jadi, bersikaplah seperti anjing yang menurut pada tuannya. Kau selalu mengadu kesakitan tiap disakiti, tetapi sebenarnya kesakitan yang kau dapat adalah akibat dari ketidakpatuhanmu sendiri," celatuk Wilson, matanya masih terpejam dengan hidung yang terus menghirup aroma apel hijau dengan kuat.
"Cih, memutar balikkan fakta," gumam Veila pelan. Ketidakpatuhan apa? Jelas-jelas Wilson melakukan kekerasan padanya setiap saat dengan alasan yang tidak Veila mengerti.
"Apa kata—" perkataan Wilson terhenti saat ponsel yang berada di tengah-tengah dua bantal berbunyi nyaring. Bibirnya mengeluarkan sebuah decakan halus tanda tak suka, lalu segera meraih ponselnya. Matanya menyipit saat melihat nama Maureen terpampang nyata di layar ponselnya, dan setelah dipikir-pikir, ia harus segera melibatkan Maureen dalam permainannya.
"Katakan pada Maureen jika aku masih tidur," pinta Wilson. Veila tentunya tidak mau dan sempat menggeleng, tetapi Wilson segera mengangkat telepon tersebut lalu meletakkannya di telinga kanan Veila. Suara Maureen di seberang sana dapat ia tangkap, membuat salivanya tertelan cukup susah dan matanya melirik ke arah Wilson yang kembali menutup kedua matanya.
"Wil?"
"Ah, ini aku Veila," balasnya, dapat ia tangkap jika Maureen sedikit terkejut saat mendengar jika yang bersuara bukanlah suaminya.
"A-ah, Veila ya? Wilson, dia ada di mana?"
Veila melirik Wilson sesaat lalu segera menjawab, "Wilson masih tidur."
"Kalian ... tidur berdua? Seranjang?"
Veila agak sedikit canggung untuk membalas pertanyaan Maureen. Bagaimanapun juga Veila tahu betul perasaan seorang istri saat mendengar kabar jika suaminya tidur dengan orang lain tersebut walaupun sudah menjadi bagian dari keluarga mereka juga.
Maureen terdiam lebih lama dari kondisi diamnya yang pertama kali. Lalu samar-samar Veila dapat mendengar suara kekehan kecil dari seberang sana. Apa Maureen sungguh tidak apa-apa dengan semua ini?
"Tidak usah sungkan. Lagipula sekarang kau dan Wilson sudah resmi menikah. Ah, jika Wilson sudah bangun, katakan padanya kalau aku meneleponnya."
"Dia bahkan sudah bangun," ucap Veila dalam hati.
Dan setelah itu Veila hanya membalasnya dengan anggukan serta kata 'ya'. Merasa sedikit jengkel karena Wilson menipu Maureen dan malah menyuruhnya untuk berbicara dengan sang istri. Bukankah hal ini membuat Maureen merasa tersakiti?
"Sampai jumpa," balas Maureen di seberang sana.
Suara sambungan telepon yang terputus langsung membuat Wilson menjauhkan ponselnya dari telinga Veila, meletakkannya lagi di antara kedua bantal kepala kemudian membuka kedua matanya perlahan. Wilson sengaja mengeraskan suara teleponnya agar ia bisa mendengar apa yang Maureen bicarakan.
"Kau boleh pergi sekarang," ujar Wilson, melepaskan pelukannya lalu berbalik arah memunggungi Veila.
Veila pun segera mendudukkan diri di ranjang, bernapas lega karena Wilson tidak menahannya lagi. Wanita itupun segera membuka tirai dan jendela, membuat Wilson mengumpat karena rasa dingin menyeruak menerpa kulitnya. Tidak ada pilihan bagi Wilson selain menarik selimut, dan tak berapa lama setelah itu, mata kirinya pun terbuka, melihat Veila berjalan masuk ke kamar mandi. Senyuman tipis terukir manis di bibirnya, sekarang ini Wilson merasa menang. Maureen hanya perlu disadarkan saja, Wilson yakin.
***
Karena ini adalah pagi terakhirnya di pulau xxx, setelah selesai berbenah, Veila pun segera membawa dirinya menuju pekarangan depan vila. Ia tersenyum kecil saat memperhatikan burung-burung camar yang mulai berkumpul, kemudian segera mendudukkan dirinya di bangku cokelat yang berada persis di belakangnya. Sayang sekali, ia tidak punya ponsel untuk mengabadikan para burung menawan tersebut. Ponsel satu-satunya menghilang entah ke mana, sewaktu terbangun dari pingsannya waktu itu, ia tidak pernah melihat benda canggihnya.
Veila tersentak saat merasakan jika tangan seseorang tengah menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga, membuat Veila menoleh dan mendapati Leo yang kini tengah meletakkan sesuatu di telinganya. Pria itu tersenyum setelah berhasil menyelipkan bunga di telinga kanan Veila.
"Kau cantik, Nona Amor. Sepertinya aku tidak salah mencuri bunga di depan sana untuk diselipkan di telingamu," puji Leo dengan mata yang tidak lepas dari wajah Veila.
Melihat Veila yang terdiam dan tak membalas perkataannya, Leo pun terkekeh pelan lalu segera ikut duduk di samping Veila. "Kenapa? Harusnya kau bilang terima kasih karena aku sudah memujimu, 'kan?" tanya Leo, menoleh dan terus tersenyum.
"Kalau begitu, terima kasih atas pujiannya," balas Veila canggung. Veila terkesan malu karena Leo memujinya di pagi hari seperti ini.
Leo yang tak bisa melepaskan pandangannya dari Veila pun membuka suara. "Apa ada yang salah dengan ucapanku? Oh, apa kau tidak terbiasa menerima pujian dan merasa risih karena perkataanku tadi?"
Mendengar perkataan Leo, Veila pun segera menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah dipuji seseorang selain mamaku, karena itu aku merasa sangat canggung saat kau memujiku," ucapnya. Mantannya sekalipun tak pernah mengatakan jika ia cantik secara terang-terangan. Bisa dikatakan jika Leo adalah yang pertama.
"Benarkah?" Mata Leo terlihat berbinar. Ia sangat antusias karena menjadi yang pertama. Ini aneh bagi Leo, tetapi rasanya terlalu sulit untuk menjauhkan diri dari hal-hal seperti ini. Ia suka menjadi seseorang yang pertama.
Veila mengangguk sejenak. "Ya. Kau yang perta—" perkataan Veila terhenti saat sebuah tangan kekar menarik dagunya, membawah wajahnya untuk melihat seseorang yang sepertinya tampak ingin dilihat juga.
"Kau cantik, cantik, dan cantik, bahkan tanpa bunga ini sekalipun kau tetap cantik."
Itu Wilson Alexander Hovers, dengan bibir yang meloloskan kalimat tak terduga tersebut dan juga tangan yang membuang bunga selipan Leo dari telinga Veila. Wanita itu tidak tahu sejak kapan Wilson sudah duduk di sebelahnya.
Setelah puas menatap wajah Veila dan menendang bunga yang sempat ia buang ke rerumputan, tatapannya pun kini ia alihkan ke arah Leo. Untuk beberapa saat mereka saling tatap, sebelum akhirnya Wilson berkata.
"Kenapa masih di sini? Bukannya kau harus memanaskan mobil?" Pertanyaan yang sungguh membuat Leo melayangkan senyum palsunya, merasa kesal karena Wilson yang selalu memerintahnya di saat momen-momen seperti ini. Leo mengangguk, kemudian segera pamit pergi, sengaja melamakan langkahnya karena tidak rela semua berakhir begitu saja. Dasar Wilson, tidak bisa ditebak!
Tujuan utama Wilson Alexander Hovers adalah ; pertama, membuat Maureen kembali padanya. Kedua, membuat Leo selalu di belakangnya. Dan yang ketiga, memiliki keturunan. Jika semua tujuannya tercapai, Wilson yakin jika dirinya akan menjadi orang yang paling bahagia sedunia.
Veila Amor tidak ada di dalam daftar tujuan utama Wilson.