STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Boss besar


Inilah hari yang ditunggu tunggu untuk Cantika kembali ke kantor. Dia tidak sabar untuk bertemu dengan atasannya yang baru. Entah siapa itu, tapi Cantika benar benar tidak mengharapkan Ares yang ada di sana. Dia juga berharap Ares tidak pernah menemukannya, dirinya hanya ingin hidup tenang dan menerima gaji.


Sulit sekali mendapat pekerjaan saat ini. jikapun ada, gajinya tidak sesuai yang diinginkan, terlebih lagi pekerjaannya tidak sesuai basic dan kesenangan Cantika. Itulah alasan dia bertahan di perusahaan ini, dia merasa cocok dengan apa yang harus dia kerjakan. 


“Kenapa kau melamun?” tanya Galuh sambil memberikan sepotong daging pada mangkuk Cantika.


Ngomong ngomong mereka sarapan di sebuah restaurant Korea, sekalian Galuh mengantarkan Cantika ke kantor. Pria itu ingin memberikan semangat pada Cantika lewat sarapan sederhana ini. “Hei, aku bertanya padamu.”


“Aku khawatir dengan boss yang baru.”


“Masih memikirkan kalau itu adalah Ares?”


Cantika mengangguk. “Bagaimana kalau itu benar benar dia?”


“Tidak akan, Ares punya banyak pekerjaan. Dia tidak akan berada di sana. Sudah makanlah dengan tenang, lebih baik membahas yang lain, mengkhawatirkan yang lain. Seperti cintaku padamu.”


“Cheesy!” teriak Cantika kesal, dan itu membuat Galuh hanya tertawa. Setidaknya dia membuat perempuan yang dia suka tertawa seperti sekarang ini. “Nanti aku ingin makan rendang.”


“Nanti kita beli, aku akan menjemputmu saat jam pulang. Bagaimana?”


Sambil mengunyah, Cantika menggelengkan kepala. “Tidak usah, aku hanya perlu berjalan satu menit ke apartementku.”


“Aku memaksa.”


Pada akhirnya, Cantika terdiam saja. dan mereka melanjutkan perjalanan setelah selesai sarapan. Galuh juga sempat terkejut dengan perubahaan kantor Cantika, kini terlihat lebih estetik dan lebih berkelas. Apalagi terdapat taman di pinggirnya, dan pohon rindang yang menghilangkan kesan gersang. “Ini menakjubkan.”


“Um, terima kasih, Galuh.”


“Tidak perlu mengatakan itu. Sudah sana masuk, nanti aku akan menghubungimu.”


Cantika mengangguk dan menatap kepergian pria itu. Menarik napas dalam saat Galuh keluar dari area kantornya dan mulai memasuki jalanan. “new Day,” gumam Cantika kemudian masuk ke dalam.


🌹🌹🌹🌹🌹


Dan semua itu benar benar berubah. Bagian dalamnya terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi dinding lusuh dengan interior yang umum. Kini hanya ada interior yang setingkat dengan perusahaan internasional. Kaca dimana mana, bahkan untuk masuk saja memerlukan kartu pengenal.


Cantika dibuat terkesan olehnya, apalagi saat dia mendengar kalau akan ada tunjangan untuknya nanti. “Ini menyenangkan,” gumamnya sambil naik lift menuju lantai dua.


Karena bingung, Cantika mendekati divisi keuangan untuk bertanya. “Mbak maaf, divisi saya dipindahkan ke mana ya?”


“Rancangan ya? Ke lantai tiga.”


“Loh kok? Lantai tiga? Bukannya itu tempat boss ya? Kan kita Cuma tiga lantai.”


“Liat aja ke sana, soalnya tadi Dinda juga naik ke lantai tiga.”


Tidak ingin membuat kesal seseorang yang ditanya olehnya, Cantika buru buru naik ke lantai tiga. Dan dia kaget. Biasanya saat lift terbuka, hanya ada koridor menuju ruangan boss. Namun kini, tidak ada koridor. Melainkan ruangan terbuka dengan beberapa meja milik Divisinya, meskipun pintu ruangan boss tetap pada tempatnya.


“Cantika,” panggil Dinda saat melihat teman satu pekerjaannya.


Cantika buru buru mendekat. “Mbak, kok kita di sini sih?”


“Gak tau, tadi kata ketua divisi disuruh ke sini. Aneh ya? Harusnya yang deket sama ruangan boss itu ya yang divisi keuangan. Iya kan?”


Cantika mengangguk sambil duduk di kursinya, matanya tidak berhenti melihat ke sekitar.


Namun baru juga duduk, dirinya dikejutkan oleh ketua divisi yang baru saja keluar dari lift. “Semuanya berdiri, boss baru mau lewat. Gak usah bilang apa apa, soalnya nanti pengenalan akan dilakukan saat jam makan siang.”


Mau tidak mau, semua orang berdiri sambil menunduk mendengar boss besar mereka akan tiba.


TING! Pintu lift eksekutif terdengar terbuka, disusul suara Langkah dari sepatu mahal. Awalnya Cantika tetap menunduk, tapi dia tidak tahan melihat siapa boss barunya. 


Dan ketika tatapannya terangkat, Cantika benar benar menyesal karena mempertahankan pekerjaannya. Di sana sosok sang mantan tengah melangkah dengan begitu angkuh, terlihat dingin. Dan membuat Cantika muak dengan wajahnya yang dipaksa terlihat mendominasi.


“Cantika, udah duduk lagi,” ucap Dinda pada Cantika yang masih memandang pintu boss besar yang sudah tertutup.


“Gila ya, yang ke sini langsung si boss muda. Mana ganteng lagi.”


Cantika hanya menghela napas dalam. “Ganteng, kentut sembarangan juga,” omelnya dengan jantung yang terus berdetak kencang. Dia takut.


🌹🌹🌹🌹🌹