
Cantika menyimpan susu basi itu, dia mengerutkan keningnya heran. Kenapa Ares memberikannya minuman ini? Apa pria itu benar benar membencinya hingga melakukan hal tersebut?
Mencoba berfikiran positive, Cantika menggelengkan kepalanya dan kembali bekerja. Sampai dia mendapatkan notifikasi pengingat kalau ada rapat yang harus dihadiri oleh Ares, jadi Cantika berdiri dan melangkah menuju ke ruangan sang majikan.
Tok. Tok. Tok.
Tidak ada jawaban yang menyuruhnya untuk masuk. Cantika semakin kebingungan. Dia melakukannya berulang kali bahkan dengan memanggil, “Tuan?”
Dikarenakan sudah lebih dari lima menit berdiri, Cantika akhirnya memutuskan untuk masuk. “Tuan Ar… ya tuhan!” cantika terkejut tatkala dirinya mendapati Ares yang berbaring di atas lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Tuan Ares… bangun… Tuan….?”
Namun tidak bergeming sama sekali, ada cairan putih juga yang keluar dari mulutnya. Cantika panic. Dia langsung menelpon ambulance, kemudian beberapa menit setelahnya, kehebohan terjadi karena tuan besar mereka pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.
Yang mengikuti ke rumah sakit adalah Cantika, dua bodyguard dan satu asisten pribadi Ares yang tidak dikenal oleh Cantika; seorang pria tua.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Tanya sang asisten pribadi tersebut.
“Saya…. Saya tidak tau,” ucap Cantika ikut panic, dia khawatir setengah mati.
Namun begitu dokter keluar kemudian menjelaskan kalau Ares baik baik saja, hanya teracuni susu dan tidak parah. Semuanya menghela napas lega.
“Saya akan menggantikan Tuan Ares untuk rapat, tolong Nona jaga dia terlebih dahulu di sini.”
“Bagaimana dengan pekerjaan saya?” Tanya Cantika yang enggan tertanam di sini.
“Pekerjaan anda akan dipegang dulu oleh saya, tolong anda jaga Tuan Ares.”
“Bukankah seharusnya anda sebagai asisten pribadinya yang mengurus beliau?”
“Nona Cantika.”
“Maaf,” ucap Cantika saat pria itu menyebutkan naamanya dengan penuh penekanan. “Saya akan menjaganya di sini.”
“Terima kasih, masuklah ke dalam ruangannya.”
Cantika mengangguk, tapi sepertinya asisten pribadinya Ares enggan meninggalkannya sebelum dirinya masuk ke dalam kamar pria itu. cantika menarik napasnya dalam, dia masuk ke dalam ruangan VVIP dimana Ares berada di sana.
Alasan Cantika tidak ingin berada di sini karena hatinya tidak benar benar kuat, melihat Ares lemah seperti ini hanya akan membuat hatinya luluh lagi. Cantika tidak mau jatuh cinta lagi, apalagi pada Ares yang sudah menyakitinya.
“Apa dia masih belum sadarkan diri?” Tanya Cantika pada perawat yang masih berada di sana.
“Tuan Ares sedang tidur, Nona.”
Seketika raut wajah Iba dari Cantika hilang seketika, dia mendengus kesal. “Dia sedang tidur? Tidak pingsan?”
***
“Waktuku hanya dua bulan, tolong bantu aku.”
Kalimat yang dikeluarkan Ares sambil memejamkan mata membuat Cantika bingung. “Dia bicara sendiri? Melantur?” cantika mendekat, Ares menggumamkan hal yang sama dengan suara yang semakin kecil.
Hingga tiba tiba mata itu terbuka, membuat Cantika kaget dan memundurkan tubuhnya seketika.
“Belum,” jawab Cantika santai. “Susu itu basi bukan?”
“Ya Tuhan, untunglah. Ya susu sialan itu basi,” ucap Ares, kemudian keheningan melanda mereka berdua. Sama sama bingung ingin mengucapkan apa. “Maaf,” ucap Ares.
“Kenapa? Ingin meminta dipanggilkan perawat?”
“Apa? Tidak, aku minta maaf karena memberikanmu susu basi. Itu tidak sengaja, aku juga meminumnya.”
“Tidak apa apa,” ucap Cantika berdehem. Agak canggung jika dirinya bicara secara informal pada Ares, bisa bisa dirinya mengeluarkan opini pribadinya sebagai seorang Cantika, bukan sebagai seorang sekretaris. “Anda ingin dipanggilkan perawat, Tuan?”
“Lakukan saja, dan tolong ambilkan ponselku.”
Cantika menurutinya. Dan saat perawat datang, Cantika hanya memperhatikan Ares yang sedang chatting sambil diperiksa oleh mereka. cantika melamun, tatapannya jatuh pada kaki Ares yang tidak terselimuti. Jika saja mereka masih bersama, Cantika tidak akan keberatan merawatnya.
“Huft, perasaan ini,” gumamnya memalingkan wajah. Bahkan Cantika tidak sadar saat Ares dipindahkan ke kursi roda.
“Cantika,” panggil Ares membuatnya menoleh. “Aku meminta supir menjemputku. Bisa kau membantuku? Aku ingin menggunakan kursi roda.”
Cantika mengengguk. “Kita akan pulang sekarang? Secepat ini, Tuan? Anda mungkin belum benar benar pulih.”
“Tidak apa apa, ada yang harus aku lakukan di apartemen.”
Begitu katanya, jadi yang bisa Cantika lakukan sekarang hanya menuruti permintaan Ares. Dia mendorong kursi rodanya sampai ke basement, dimana di sana sudah ada supir yang menunggu. “Kau ikut denganku ke apartemenku.”
“Kenapa harus?” Tanya Cantika reflex.
“Ini masih jam kerjamu bukan? Dan kau sekretarisku.”
“Tapi saya bukan asisten pribadi anda, Tuan.”
“Ya, tapi sekarang pekerjaanmu sedang dipegang oleh asisten pribadiku. Dan kau harus menggantikannya. Lagipula ini masih jam kerjamu, Cantika. Ingin pergi kemana kau memangnya?” Tanya Ares yang membuat Cantika tidak bisa berkutik.
“Baiklah.”
Dan berakhir dengan Cantika dan juga Ares yang duduk di bangku belakang. “Ingin makan siang apa?” Tanya Ares saat mereka dalam perjalanan.
“Bertanya kepada saya?” Tanya Cantika yang dibalas anggukan oleh Ares. “Tidak perlu, Tuan.”
“Oke, baiklah,” ucap Ares dengan nada bicara yang tiba tiba datar. Pria itu memalingkan wajahnya keluar jendela mobil. Dan dapat Cantika lihat dari pantulan kalau pria itu menyeringai sambil berkata, “Kita lihat apa yang akan aku lakukan nanti ya, hingga kau tidak akan pernah bisa menolakku lagi.”
Cantika meremas pakaiannya, kenapa Ares terlihat menakutkan? Dia tidak akan melakukan hal yang macam macam padanya bukan?
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” hingga batuk pria itu menghentikan semua imajinasi liar yang ada di kepala Cantika. “Air… uhuk! Air… uhuk! Uhuk!” teriaknya panic.
“Sebentar, Tuan,” ucap Cantika ikut panic mencari air.
***