STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Pengawasan


“Kenapa?” tanya Cantika ketika Galuh menatap ponselnya dengan wajah yang terlihat malas. Mereka baru sampai di apartemen setelah berkeliling Jakarta di malam hari. “Galuh, kenapa? katakan padaku. Kenapa?”


“Aku diminta oleh mereka pergi ke luar pulau.”


“Hah? Untuk apa?”


“Untuk meninjau apakah tempat di sana layak membangun Yayasan untuk anak anak terlantar.”


“Bagaimana dengan kuliahmu?”


“Kalau kuliah tidak akan terlalu berat,” ucap Galuh.


“Lalu apa yang membuatmu berat?” tanya Cantika berdiri menghadap Galuh. Sebenarnya Cantika sedang ingin berbaring, hanya saja dia tau kalau ada sesuatu yang mengganggu sahabatnya. Harus segera membantunya terlebih dahulu. “Katakan padaku, apa yang terjadi? apa yang membuatmu berat.”


“Dirimu.”


“Hah? Aku? Kenapa?”


“Aku khawatir, akhir akhir ini kau terlihat sangat Lelah dengan situasi ini. aku khawatir jika tidak ada yang menghiburmu, Ares pasti akan sering mengganggumu. Aku tidak bisa menerimanya, aku kesal dengan Ares.”


“Hei, astaga tenanglah.” Cantika tertawa. “Kau tau kalau aku punya mental yang kuat. dia hanya Ares, tidak akan menyakitiku,” berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Menyakitiku secara fisik, dia tidak akan pernah melakukannya.”


“Kau sudah lama berpisah dengannya, memang benar dia tidak akan menyakitimu secara fisik?”


“Demi Tuhan, jangan mengkhawatirkan aku. Aku baik baik saja, Ares hanya angin berlalu untukku. Sana istirahat, apa perlu aku membantumu berkemas?”


‘Tidak perlu, kau istirahatlah. Hari ini pasti sangat melelahkan.”


Cantika mengangguk, dia masuk ke dalam apartemenya dan membaringkan tubuh di sana.


TRING! Tepat ketika dia baru memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Itu dari Ares, kenapa dia bisa tau? Jelas karena pesan Ares isinya;


+6281111111111 : Cantika, ini aku Ares. Um, bisakah kita bicara lebih informal di sini? 


Me : Mana file yang harus saya baca, Tuan?”


Sambil menunggu jawaban, Cantika menyimpan kontak Ares dengan nama, 🌹Hanya Boss.🌹


Hanya Boss : Baiklah, ini. aku tidak memaksamu untuk menyelesaikannya sekarang. tolong santai saja oke.


Me : Terima kasih, saya akan melakukan yang terbaik.


Kembali memejamkan mata, dan mengabaikan pesan lain dari Ares seperti;


Hanya Boss : Apa yang sedang kau lakukan?


Hanya Boss : Aku butuh sudut pandangmu tentang perusahaan kita.


Tapi Cantika rasa hal tersebut sudah berada di luar topik, dan dia tidak ingin membahasnya. Apalagi itu Ares.


🌹🌹🌹🌹


“Izinkan aku mengantarkanmu sebelum pergi. kumohon.”


“Astaga, kau ini sedang terburu buru, kenapa harus mengantarkanku?”


“Ayolah, aku mohon.”


Cantika berdecak kesal. Perdebatan hanya akan memperpanjang durasi dan membuat Galuh menjadi terlambat. Jadi dia naik ke motor pria itu, membiarkannya mengantarkan sampai di kantor. Seperti biasa, apa yang dilakukan Galuh dan Cantika itu diperhatikan oleh sosok pria yang sudah datang lebih dulu.


Saking penasarannya dirinya tentang hubungan keduanya, Ares rela memata-matai dan melihat secara langsung bagaimana interaksi keduanya. Galuh terlihat mengajak Cantika bercanda dengan mengusap rambutnya dan mengacak acaknya dengan gemas.


“Ngapain itu sama Cantika. Udah rapi juga malah diacak acak kayak gitu. Dasar gak tau malu,” ucap Ares melihat mereka berdua. Panas sekali, hingga dia memilih untuk duduk di kursi dan menurunkan Ac semakin rendah. Dia butuh udara yang lebih dingin.


Drrttt… Drrttt…


Ponselnya berbunyi, Ares menelan salivanya kasar saat melihat siapa yang menelponnya. “Hello, Daddy?”


“Berhenti bicara dengan gaya sok imut. Sejak kapan kau bekerja di kantor yang kecil seperti itu?”


“Tidak ada potensi apapun di sana. Perusahaan itu stuck di tempat yang sama, lagipula bukan keahlian kita dalam alat alat music. Kembali ke kantor pusat dan bekerja dengan benar.”


Ares terdiam, dia tidak bisa melakukannya sebelum mendapatkan Cantika.


“Ares, apa kau mendengar Daddy?”


“Beri aku kesempatan, Dad. Kumohon ada masa depan cerah di tempat ini.”


“Kau harus kembali ke Amerika. Tugasmu di Indonesia hanya menyelesaikan masalah, bukan memimpin.”


“Daddy…. Hiks…. tega sekali… apa harus Ares bicara dengan Mommy?” tanya Ares dengan nada suara yang dipaksakan imut.


Sosok di balik telpon itu mual mendengarnya. 


“Bolehkan, Dad? Berikan tempat ini kesempatan.”


“Waktumu hanya dua bulan.”


“Dua bulan? Astaga itu sangat sebentar.”


“Jika dua bulan tempat itu belum berkembang, termasuk semua perusahaan kita di Indonesia, mak—”


“Hei, kenapa jadi semuanya? Hanya perusahaan music ini saja bukan?” tanya Ares panik. Demi tuhan, banyak sekali perusahaan Daddynya di Indonesia. Tidak mungkin Ares membuat semuanya berkembang maju di waktu yang bersamaan. “Daddy gila jika harus semuanya.”


“Semuanya atau pulang ke Amerika?”


“Oke, aku akan melakukannya.”


“Kerja bagus, Nak.” kemudian panggilan terputus, membuat Ares menghela napasnya dalam. Dia sadar akan sesuatu, kalau dia harus bergerak cepat untuk masa depannya yang cerah.


🌹🌹🌹🌹🌹


Cantika menyibukan dirinya dengan melakukan pekerjaannya. Pikirannya terus melayanng pada pesan pesan yang Ares kirimkan, sebuah perhatian yang hilang. Cantika tidak ingin kembali merasa Bahagia, dan ditinggalkan. Namun perasaannya masih sama lemah jika itu tentang Ares, jauh di dalam sana Cantika merindukannya. Namun amarah dan juga rasa kesal lebih mendominasi. Bagaimana dia mengingat perasaan ketika mamanya meninggal, dan Ares tidak ada di sana.


“Cantika, apa kau baik baik saja? apa yang terjadi?”


“Memangnya aku kenapa, Mbak?” tanya Cantika.


“Kau melamun dari tadi. Apa butuh bantuan, pekerjaan Mbak sudah selesai.”


Cantika menggelengkan kepala. “Tidak usah, Mbak. Aku juga akan menyelesaikannya kok.”


“Kenapa dia memberikanmu pekerjaan sebanyak ini? astaga pantas saja kau tidak suka dengan pimpinan baru kita.”


Ketika keduanya sedang bercengkrama, suara ribut lebih menarik perhatian. Berasal dari daerah pimpinan utama, dimana para bapak bapak sepertinya sedang mengangkat seseorang yang pingsan.


“Astaga, ada apa ini?” tanya Dinda pada temannya yang lain.


“Sekretaris Tuan Ares pingsan, sepertinya dia sedang sakit,” jawab mereka.


Sementara di sisi lain; Ares di ruangannya, hanya tersenyum. Dia menelpon Samuel. “Kirim duit 200 juta ke rekening atas nama Sumanta Gunawan.”


TUT. Langsung menutupnya kembali. Kemudian Ares bertepuk tangan riang, pintar sekali acting sekretarisnya itu.


“Sekarang waktunya dapat sekretaris baru,” ucapnya kemudian berdehem. Dia menelpon salah satu bawahannya; di divisi desain, untuk memberitahukan tugas baru pada Cantika. Karena jika Ares yang mengatakannya, Cantika pasti akan memperlihatkan langsung wajah marahnya. Ares kan tidak tahan, wajah marah Cantika itu membuatnya gemas.


“Saya menggantikan pak Sumanta?” tanya Cantika dengan nada tidak percaya. “Pak, saya tidak punya Riwayat dalam memanagement jadwal orang lain. Saya bukan orang yang tepat.”


“Tapi Tuan Ares merasa kau orang yang tepat. Jangan membantah lagi.” Kemudian sosok itu menoleh pada yang lain. “Dinda, kamu bantu Cantika buat bawa barang barangnya ke meja sekretaris di sana.”


Cantika seketika mengambil gunting dan melangkah pergi dari sana.


"Hei, kau mau kemana?!"


Namun Cantika tidak mendengarkan, tujuannya saat ini adalah ruanga Ares.


🌹🌹🌹🌹