STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Pesta kejutan


Karena rencana pernikahannya itu, Athena dan Lily lebih sering datang ke rumah Cantika untuk menidiskusikan perihal pernikahan mereka. sedangkan Oma, dia memilih berada di apartemen karena malas jalan jalan. Dia hanya ingin melakukan perawatan di sana sendiri untuk puncak dimana Cantika akan menikah dengan Ares nantinya.


“Nenek, maaf ya kami datang lagi,” ucap Lily seperti itu.


“Tidak apa, masuklah. Cantika sedang keluar bersama dengan Papanya. Sepertinya mereka berjalan jalan sebentar,” jelas Nenek menatap lama paada Lily yang duduk di sana. dimana tangan Nenek terulur menyentuh pipi Lily. “ya tuhan, cantik sekali dirimu. Bagaimana bisa kau bisa terlihat masih umur belasan tahun?”


“Ya ampun.” Lily jadi tersipu. “Nanti aku berikan rahasiannya untuk nenek ya.”


Athena yang merasa bosan dengan percakapan itu memilih mengatakan, “Bolehkah aku pergi ke kamar Cantika dan menunggunya di sana?”


“Tentu saja, kau ingat dimana kamarnya?”


Athena mengangguk. Dia masuk ke dalam kamar itu dan merebahkan dirinya. Athena juga rindu dengan masa masa sekolah. Dia juga merasa pendidikan kedokterannya yang sekarang tidak sesuai hati dan ingin kembali belajar di bagian kosmetik. Tapi sudah tanggung. Hal menyebalkan lainnya yaitu Samuel yang terus menganggunya. Pria itu mengada ngada mengatakan kalau dirinya mencintai Athena, padahal Athena tau jelas bagaimana Samuel dulu sangat mencintai Arin. “Paling dia hanya iseng,” ucapnya.


Belum ada pembicaraan berdua bersama dengan Cantika antara dirinya, jadi sekarang adalah kesempatan yang tepat karena Cantika langsung masuk kamar begitu mengetahui keberadaan Athena di sana. “Kau sudah lama menunggu?”


“Tidak, aku baru saja datang bersama dengan Mommy. Kita akan survey, apa kau siap?”


“Hem, aku sudah memilihnya lewat gambar. Nanti saja kalau sudah mulai mendekorasi datang ke gedungnya,” ucap Cantika menggantungkan mantel di belakang pintu sebelum akhirnya ikut berbaring di samping Athena. Sosok itu langsung memeluk Cantika, membuatnya langsung merasakan kesedihan yang sedang dipendam oleh sang sahabat. “Apa yang terjadi? Kenapa kau sedih?”


“Tidak, aku hanya tidak percaya kau akan menikahi Ares yang menyebalkan itu.”


Cantika terkekeh. “Tuhan membuatku terjebak dengannya.”


“Lalu bagaimana dengan Galuh? Kau bersamanya bukan?”


Cantika menceritakan tentang pria itu yang sampai sekarang tiba tiba menghilang, tapi diyakini oleh Cantika kalau sosok itu kecewa padanya. “Aku akan bicara dengannya nanti jika dia sudah kembali. Karena aku tidak bisa meninggalkan Ares.”


“Kau sudah jatuh pada pesonanya ya?”


Cantika hanya tersenyum sebagai balasan. “Bagaimana denganmu? Kudengar Samuel tiba tiba mengejar dan menyatakan cintanya padamu bukan?”


“Haih, aku tidak percaya. Pria nakal itu mencintai semua orang, Arin saja tidak jadi dengannya dan dikhianati.”


“Dia asisten pribadinya Ares bukan?”


“Hmmm, mereka tidak pernah bekerja dengan baik. Keduanya main main saja terus.”


Cantika malah tertawa dan memeluk Athena dengan erat. “Tidak bisakah kau tinggal di sini? aku akan kesepian jika nanti berada di rumah terus?”


“Hmmm, aku tidak tau. Aku harus menuntaskan dulu pendidikanku, baru aku akan menyusul tinggal di sini. jika diizinkan oleh Mommy dan Daddy. Kau sendiri tidak bisa pindah?”


“Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Nenek dan Papaku.”


“Benar juga.” Athena iri dengan Cantika dan Ares yang kembali bersama, dia juga ingin punya pacar tapi bukan Samuel. “Cantika, dimana kau akan tinggal jika sudah menikah nanti?”


“Aku pikir di apartemen Ares saja.”


“Rumah lebih baik. Keluarga Fernandez memiliki rumah yang kosong.”


“Aku tidak mau menempati rumah besar itu.” memikirkannya sudah mengerikan. “Kecuali jika nanti aku sudah punya banyak anak.”


“Aku iriiiii! Aku ingin menikah juga.”


“Dengan Samuel saja.”


“Lebih baik aku tidak menikah.”


Sampai Cantika tiba tiba teringat sesuatu. “Thea, bukankah dulu kau menyukai Galuh?”


Athena langsung membulatkan mata dan menggeleng kuat. “Tidak, dia hanya sainganku. Aku tidak pernah menyukainya.”


***


semakin hari berganti, Ares semakin disibukan dengan pekerjaannya. Seolah ayahnya ini sengaja supaya dirinya tidak bisa bertemu dengan Cantika. “Dad, kapan kita selesai bekerja? Aku ini pengantin baru dan seharusnya diam di rumah. kenapa sekarang aku malah menderita di sini?”


“Diam, Ares. Kau harus menghasilkan banyak uang,” ucapnya seperti itu.


Helaan napas keluar, Ares dan David baru pulang ke apartement saat jam makan malam tiba. Meeka berdua menyadari kalau Oma dan Athena tidak ada. “Kemana mereka berdua?”


“Um, mereka pergi ke hotel, Athena butuh tempat tenang untuk mengerjakan tugas dan Oma menamaninya.”


“Oh, bagus kalau begitu,” ucap David datang mendekati sang istri dan mengecup bibirnya. Berhasil membuat manik Ares berbinar. Dia tidak sabar bisa melakukan ini bersama dengan Cantika nantinya.


“Matanya mau keluar,” ucap Alden berucap dengan dingin ketika melewati sang kaakak yang melotot.


“Mupeng dia, biarin aja, Al. kakak kamu emang kebelet pengen nikah.”


Membuat Ares mendengus mendengarnya. “Mom? Bagaimana hasilnya? Sudah?”


“Suah, semuanya sempurna. Hanya tinggal menunggu hari kelian menikah.”


Mendengar itu, Ares terlihat kecewa. “Ares belum melihat bagaimana Cantika memakai gaun yang indah, kenapa tidak boleh bertemu?”


“Nanti saja jika di altar, Ares.” Lily menekankan. Dia khawatir sesuatu terjadi pada mereka berdua, kepercayaannya kalau pengantin tidak boleh saling bertemu. “Hanya tinggal beberapa hari juga. Dan jangan melanggar apa yang Oma katakan, jangan melakukan video call ya.”


Ares merasa sungguh pening, dia ingin menelpon Cantika karena merindukannya. Diam diam di kamar mandi, Ares melakukan video call, sayangnya Cantika menolak dan malah menelpon kembali dengan panggilan suara. “Ares, Nenekku bilang tidak boleh melakukan video call. Lagipula wajahku sedang tidak baik baik saja karena sedang melakukan perawatan.”


“Ya ampun, aku sangat merindukanmu. Padahal kalau aku menemuimu sekarang, itu bukan masalah karena kita sudah melakukan hal yang iya iya.”


“Ares jangan mengatakannya dengan keras, aku malu,” ucap Cantika dengan suara yang terdengar direndam oleh bantal.


“Itu memang kenyataannya. Kenapa menikah rumit sekali ya?”


“Hmmm, mungkin memang harus seperti ini. kita juga melakukannya dengan mendadak, jadi aku melakukan banyak hal dengan Mommy dan Athena. Berakhir dengan aku yang lelah dan malas juga bertemu denganmu.”


“Aku semakin tampan loh, yakin tidak mau bertemu denganku?” tanya Ares yang membuat Cantika terkekeh di sana.


“Ares, apa kau tau?”


“Aku semakin merasa bersalah dengan Galuh. Dia akan pulang dengan statusku yang berbeda, yaitu menjadi istrimu. Awalnya hanya pacar, sekarang naik tingkatan.”


“Jangan mengkhawatirkannya, semua kesalahan itu ada padakku. Jadi jangan berfikir dia akan membencimu, akulah yang pantas dia benci karena mengambilmu setelah lima tahun ditinggalkan.”


Ares pikir dirinya akan dibela karena mengatakan hal tersebut pada dirinya sendiri. tapi ternyata Cantika malah berkata, “Benar, kau yang bajingan.”


Berhasil membuat Ares terbatuk batuk di sana.


***


Setelah hari hari yang berat untuk Ares dengan bekerja dan dijauhkan dengan Cantika, akhirnya dia bisa berdiri di sebuah ruangan dengan pakaian yang rapi. Ares akan menunggu di altar, dimana Cantika benar benar akan menjadi miliknya.


Sementara itu di sisi lain, Cantika melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Dia sangat cantik dengan aksesoris tiara di kepalanya, gaun putih yang dibuat khusus untuknya. Bahkan Cantika tidak mengenali dirinya sendiri.


“Anak papa angat cantik.”


“Papa,” ucap Cantika menatap sang Papa lewat pantulan kaca, dia tidak bisa bergerak karena masih dalam proses dihias.


“Tenang saja, tidak ada media sesuai keinginanmu. Yang datang juga hanya pejabat dan juga petinggi perusahaan. Tidak akan ada bisikan bisikan aneh. Lagipula anak Papa ini pantas dengan Ares, berhenti berfikir yang aneh aneh.”


Sang perias juga ikut menambahkan. “Benar, Nona. Anda pantas dengan Tuan Ares. Selama saya bekerja di Keluarga Fernandez, Tuan Ares tidak pernah punya pacar, ternyata dia setia pada orang yang sama.”


Berhasil membuat Cantika tersipu, dirinya tidak pernah menyangka akan berakhir bersama dengan Ares. Dari awal terjebak dalam hubungan boss dan bawahan, kini terjebak dalam hubungan rumah tangga yang mustahil untuk dilepaskan. Ikatan diantara mereka akan lebih kuat nantinya.


Tidak menyangka, hanya dalam waktu hitungan bulan, Ares sudah menariknya ke dalam hidup pria itu. tidak menyangka, hanya dalam waktu satu malam dirinya sudah berubah status menjadi kekasih Ares, melupakan seseorang yang berjuang bersamanya. Sebenarnya, Cantika sudah menghubungi Galuh dari semalam, meminta sosok itu datang. Dan Cantika juga menghubungi Galuh di setiap harinya, menyematkan kata maaf juga permintaan untuk datang. Sayangnya, Galuh sama sekali tidak meresponnya. Cantika mencoba memahami, mana ada pria yang berjuang selama lima tahun dan ditinggalkan begitu saja oleh wanita tidak tau diri sepertinya.


“Cantika, berhenti berfikiran yang aneh aneh. Ini hari bahagiamu.” Nenek mengingatkan.


“Iya, ini hari yang membahagiakan.” Cantika tersenyum.


“Nah, sekarang tahap akhir,” ucap sang perias memberikan isyarat pada tiga bodyguard di belakang untuk membawakan koper berisi perhiasan.


Ini adalah kalung milik Oma yang dibelinya dari hasil lelang senilai 15 juta dollar. Memakainya saja membuat Cantika menahan napasnya. “Ya ampun, bagaimana kalau ada yang memenggal leherku demi mengambil kalung mahal ini?”


Beratnya saja lebih dari satu kilo, membuat Cantika lelah sendiri. namun karena ini pemberian Oma, dia tidak bisa menolaknya.


“Cantika sudah siap?” sang Papa mengulurkan tangan.


Cantika mengangguk. Siap atau tidak, hari ini akan datang bukan? Dimana dirinya berdiri di depan pintu. Ketika pintu dibuka, sudah ada sosok pria tampan menunggunya di altar. Oh lihatlah Ares si arogan itu yang sekarang menyunggingkan senyumannya yang ditunjukan pada sang Daddy, seolah menunjukan kalau dirinya ini berhasil menaklukan wanita yang dia incar selama ini.


Semakin melangkah Cantika pada Ares, semakin erat genggaman pada sang Papa. “Tidak apa apa, Nak. Kau memilih jalan yang benar.” Menyerahkan tangan itu pada Ares. “Jangan sia siakan putriku.”


“Tidak akan pernah,” ucap Ares menggenggamnya dengan erat hingga mereka kini berhadapan.


Ares menahan napasnya, jantungnya berdetak kencang ketika melihat betapa cantiknya Cantika. Perjuangannya tidak sia sia, sosok itu kembali ke dalam pelukannya.


“Ares, jangan pingsan di sini,” ucap Cantika yang mengingatkan Ares akan bernapas.


Sampai pada waktunya mereka mengucapkan janji suci dan itu giliran Ares, keluarga Ares sudah bersiap untuk rasa malu, tegang dan juga hal hal lainnya jika saja Ares mimisan, gagap atau sampai pingsan.


Namun ternyata tidak, Ares mengucapkan janji suci itu dengan lancar sampai membuat pastor mengizinkan untuk mencium sang mempelai wanita. Ares terkekeh, “Aku menunggu ini sejak lama. Memperlihatkan pada semua orang kalau menciummu di bibir adalah hal legal untukku,” ucapnya kemudian membelai pipi Cantika dan menyatukan bibir mereka. ares yang agak ganas dan tidak bisa menahan diri melakukan sedikit *******. Yang berhasil membuat sang pastor berdehem.


Cantika memalu, seberapa banyak orang berdehem setiap kali mereka akan berciuman?


***


Pesta ramah keluarga, tidak ada alcohol karena para tamu di sini adalah petinggi dari berbagai pemilik perusahaan. Sesuai dugaan Cantika, beberapa orang yang datang akan mengatakan, “Ya ampun, tidak menyangka kalau sekretaris yang selalu dibawa kemana mana ternyata akan menjadi menantu dari keluarga Fernandez ya.”


Hal itu cukup menyenangkan untuk Cantika, ada sebagian yang mengatakan, “Wah, Cantika ini keluarganya bergerak di bidang apa?”


“Perusahaan apa kalau boleh tau?”


Cantika mana bisa menjawab, keluarganya ini orang biasa. Namun untungnya, Ares yang menjawab dengan mengatakan, “Mereka memproduksi cinta dan juga kasih sayang hingga membuat saya sadar kalau uang bukanlah segalanya. Attitude dan juga kasih satu sama lain adalah yang utama.” Kemudian sisa kalimat, Ares akan memukul telak perusahaan lawan bicaranya dengan kelemahan mereka.


Cantika hanya terkekeh, suaminya ini memang selalu memiliki cara untuk melindunginya. “Lelah? Ingin duduk?” tanya Ares saat mereka sudah berdiri sejak tadi dan berbicara dengan orang orang.


“Aku mau berdansa, impianku adalah melakukan itu saat menjadi pengantin.”


“Woah, aku lupa. Ayok kita berdansa.” Ares memberi isyarat pada orchestra untuk memainkan music yang sesuai dengan irama yang mereka lakukan.


Cantika tersenyum manis, tangannya meremat pundak Ares. Dia begitu bahagia bisa melaksanakan pernikahan impiannya, bersama dengan pria yang dia sayangi juga. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama, karena Papanya memberikan isyarat padanya. yang mana membuat Cantika berbisik pada Ares, “Bisa kita menepi?”


“Tentu, Sayang. kau lelah ya?” sedari tadi Ares menahan diri untuk tidak mimisan.


Untungnya, banyak tamu yang ikut masuk ke lantai dansa hingga mereka bisa meninggalkannya. dimana Cantika dan Ares menemui sang Papa. “Kenapa, Pa?” tanya Cantika.


“Ada Galuh di sana, dia ingin menemuimu.”


“Galuh? Dia di sini?”


“Hemm, dia baru saja masuk.”


Tangan Cantika meremat jemari Ares, dimana sang suami langsung mengatakan, “Ayo, aku antar. Kita bicara bersama dengannya.”


Melangkah mendekati sosok yang sedang duduk sambil minum juice di sana. menyadari Cantika mendekat, dia langsung berdiri dengan manik yang berbinar. Terlihat begitu terpesona dengan Cantika yang begitu Cantik. “Woah, kau tampak menawan sekali, Cantika.”


“Berhenti mengatakan itu dan membuatku malu,” ucap Cantika dengan suara yang pelan. “Galuh, aku minta maaf.” Tidak bisa menahannya lagi.


Dimana Ares tidak mau sang istri terus dilanda rasa itu, dia ikut masuk ke dalam percakapan. “Bukan salah Cantika, aku yang menyeretnya kembali ke dalam hubungan ini.”


“Ya, ini memang salahmu.” Galuh menatap tajam Ares. “Aku tidak rela kau dengannya, Cantika. Tapi jika kau bahagia, aku bisa apa?”


“Aku benar benar minta maaf.”


“Tidak, jangan lakukan itu. ini hidupmu dan kebahagiaanmu.” Galuh tersenyum. “Tapi aku tidak suka bagaimana cara pria ini mendapatkanmu. Apa kau tau dia yang membuatku terluka dan terus tertahan di luar pulau? Pria ini menjauhkanmu dariku, Cantika.”


“Apa?” cantika mencoba menangkap apa yang dikatakan Galuh. “Maksudnya bagaimana?”