
Dengan mata kepala sendiri, Ares melihat bagaimana perjuangan Cantika mengeluarkan makhluk tidak berdosa itu. berkeringat, penuh dengan kasakitan sampai rasanya Ares ingin berteriak pada semua orang untuk menghentikan proses ini dan berhenti membuat Cantika kesakitan dengan menggantinya menggunakan operasi saja. dia tidak mau melihat Cantika menderita. Namun, istrinya sendiri enggan berhenti. Cantika menggenggam tangan Ares dan terus mengeluarkan tenanganya demi dikeluarkannya makhluk itu.
Sampai akhirnya Ares mendengar tangisan yang memekik telinga, air matanya menetes dan langsung menciumi sang istri. Cantika berhasil dengan perjuangannya, dan Ares berhasil tidak pingsan. Dia mendampingi sang istri.
“Kau berhasil, Sayang,” ucapnya seperti itu dan berulang kali mengecupi puncak kepala sang iatri. “Kau berhasil, dia lahir.”
Cantika tersenyum, matanya terpejam merasakan sisa sakit di tubuhnya. Juga pekikan di telinganya. “Aku ingin melihatnya.”
“Ibu, kita bersihkan dulu tubuhnya ya. dan kita jahit robekannya.”
“Sebentar saja,” ucap Cantika menatap sang bayi cantik yang sekarang sedang berada di tangan perawat dan dokter.
Akhirnya bayi yang sudah dibersihkan dan masih menangis itu diberikan pada Cantika. Tangisannya langsung reda begitu mendengar suara tangisan ibunya sendiri. “Ini Mama, Cantik.” Bagaimana bisa kehidupannya dengan Ares berakhir menjadi orangtua untuk anak perempuan yang sangat cantik ini
“Ares, kau mau menggendongnya?”
“Apa tidak apa apa?”
Makhluk itu begitu kecil dan juga rapuh, Ares jadi khawatir untuk menggendongnya. Namun, Cantika perlu dibersihkan dan dirinya perlu mengambil alih makhluk mungil itu ke dalam dekapannya. Menunggu Cantika dibersihkan dan dipindahkan ke ruangan rawat, Ares memilih membawa sang anak keluar dimana Nenek dan Papa mertuanya sudah menunggu di sana.
Kelegaan menghampiri orang orang yang menunggu di sana ketika Ares menggendong sang anak keluar. “Selamat, Cantika baik baik saja. bayi kecil ini juga.”
“Ya Tuhan, Cantik sekali.” Nenek memuji, air matanya berlinang tidak menyangka kalau Cantika akan membentuk keluarga baru bersama dengan pria yang dia caci selama lima tahun terakhir.
“Kau menjadi ayah sekarang, Ares.”
“Aku akan berusaha yang terbaik, Papa.”
“Boleh aku menggendongnya?”
“Tentu saja,” ucap Ares memberikannya pada sang Papa mertua.
Anaknya hadir diantara orang orang yang menyayanginya. Dia sangat cantik, rambutnya sepirang milik Ares, semuanya milik Ares tapi dalam versi wanita. Tapi kalau dipikir pikir berarti…. “Mirip Thea ya,” ucap sang pengasuh yang sekarang sedang menatap putrinya.
“Mirip aku, Bibi. Hanya dalam versi wanita saja.”
“Ya, Thea berarti kan?”
“Tidak, dia mirip denganku,” ucap Ares kukuh pada pendiriannya.
“Iya dia mirip Ares,” ucap Nenek pada akhirnya. “Kita harus mengakuinya. Kasihan Ares sudah susah payah membayar DP untuk mendapatkan anak ini.”
Membuat Ares tersipu mengingat dulu dirinya memang melakukannya di luar pernikahan bersama dengan Cantika. Bibit premium yang sesungguhnya, hanya dalam satu malam, sudah terbentuk makhluk cantik ini.
Begitu perawat mengatakan Cantika sudah dipindahkan, mereka pindah ke sana. dimana Cantika langsung merentangkan tangannya lagi ingin menggendong sang anak. “Aku merindukanmu,” ucapnya pada bayi cantik itu.
Ares duduk di bibir ranjang, menatap Cantika yang sekarang lebih berseri. Setelah sebelumnya menaruhkan nyawa sampai wajah pucat, berkeringat dan juga pekikan kesakitan. Cantika yang sadar diperhatikan itu menoleh. “Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Kau hebat, Sayang.” Ares berucap demikian. “Terima kasih sudah memberikanku gelar Papa.”
Dua orang itu saling bertatapan. Hendak berciuman sampai akhirnya terdengar rengekan dari sang anak, membuat niat keduanya terhapuskan.
“Kalian harus ingat ada anak diantara kalian,” ucap nenek menyindir. “Berhenti melakukan hal hal aneh.”
Ares terkekeh. “Kenapa? Aeri tidak sabaran ingin menyusu?” kemudian Ares melihat bagaimana sang istri mengeluarkan daadanya dan menyusui sang anak. Berhasil membuat Ares menatap sedih, dia belum mengatakan kata kata perpisahan dengan benda yang menemaninya selama 9 bulan ini. “Bukan milikku lagi,” ucapnya seperti itu.
***
Karena ingin Cantika benar benar pulih total, maka Ares memilih untuk meminta sang istri dirawat dulu di rumah sakit. Ini cicit pertama Nenek, jadi sosok itu memaksa untuk berada di sana juga. Padahal Ares sudah meyakinkan kalau di sini ada pembantu, pengasuh dan juga dirinya yang akan menjaga Cantika. Namun tetap saja, Nenek bersikeras.
Masalahnya, kamar VVIP ini memiliki dua ruangan yang berbeda. Satu ruangan kamar tidur untuk Cantika dan Ares beserta sofa di dalamnya, dan ruangan lain adalah tempat keluarga untuk menunggu. Dan dua kamar mandi di dua ruangan tersebut.
“Masa Nenek nanti tidur diluar sama pengasuh sama pelayan sih?” tanya Ares khawatir. Yang berhasil membuat Cantika menoleh. “Kenapa?” tanya Ares.
“Ya masa Nenek diluar.”
“Terus aku yang diluar?”
“Yaaa gak gitu juga.” Cantika bingung sendiri. “Gak papa kalau Nenek mau tidur di mana aja.”
“Aku pengen berduaan sama kamu.” Tadinya Ares hendak mengatakan kalimat itu, tapi dia tidak boleh egois apalagi akan menjadi seorang ayah. Jadi menahannya saja. dia sudah menjadi seorang Papa, harus menjadi lebih dewasa. Ares menatap sang putri yang sekarang ada di pangkuan Cantika.
“Mau menggendongnya lagi?”
Ketika sosok itu mengangguk, Cantika memberikannya pada sang suami. Dia menumpukan kepalanya pada bahu Ares dan menatap dalam sang putri yang kini mulai bergerak di dalam tidurnya. Terlihat sangat menggemaskan. “Aeri….,” panggil Ares pada sang anak.
Nama itu diberikan oleh Ares, nama yang mirip dengannya supaya kelak sang anak juga bisa sepertinya, apalagi tentang kesetiaan. “Nanti, Aeri ingin punya adik laki laki atau perempuan?”
Pertanyaan itu berhasil membuat Cantika mencubit sang suami. Baru juga dirinya melahirkan, kini sudah mendapatkan pertanyaan itu. “Kita focus dulu saja pada Aeri, jangan terbelah dengan yang lain.”
“Inginnya seperti itu, tapi kasihan jika dia tidak ada temannya. Jujur, aku dan Athena sering bertengkar. Tapi kami juga saling menyayangi satu sama lain dan akan kehilangan jika tidak ada salah satunya.”
“Aku paaham.” CUP. “Tapi jangan sekarang dulu ya. mari bahas anak ini dulu. jangan adiknya.”
“Ngomong ngomong, apa aku harus menunggu 40 hari dulu sebelum bisa….” menggantungkan kalimat saat mendapatkan tatapan tajam dari sang istri. Ares berdehem dan mengalihkan pandangan pada putri cantiknya. “Hah, sayangku. Hari ini tidurlah dengan tenang, karena besok orang orang Amerika itu akan datang.”
“Loh, bukannya tidak jadi sekarang sekarang?”
“Jadi, Mommy tidak akan melewatkan hal ini.” Ares menatap Cantika.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Anak ini, apakah mirip dengan Thea?”
“Benar! Thea harus datang ke sini dan melihat kembarannya,” ucap Cantika antusias yang mana membuat senyuman Ares luntur dengan perlahan.
“Tapi dia mirip denganku, hanya versi perempuan saja.”