STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Akhir


“Paham? Jangan memperlakukan Daddy yang mendapatkan predikat sebagai lady killer,” Ucap David yang membuat Ares memutarkan bola matanya malas. Kenapa sang Ayah terus saja membanggakan dirinya yang merupakan pecinta wanita? Celup sana sini sampai akhirnya bertemu wanita yang tepat. Kalau saja Ares menjadi Mommy nya, dia tidak akan mau.


“Ares yang benar. Jangan melamun seperti itu!” Teriak Sebastian kesal.


“Uncle, aku lelah. Ingin istirahat saja.”


“Jangan. Satu set permainan saja lagi.” Luke yang meminta.


Ingin tau berada dimana mereka sekarang? Mereka ada di sebuah tempat bermain tennis. Awalnya, mereka akan bersenang senang di klab malam. Namun sayangnya, mereka malah berakhir di lapangan tennis dengan alasan istri Sebastian mengancan tidak akan memberikan izin pulang kalau sosok itu tetap minum alkohol.


Sebastian yang sebelumnya memberi masukan masukan pada Ares tentang cara membunuh hati perempuan, kini menciut setelah mendengarkan ancaman dari istrinya tersebut. Seketika membuat Sebastian ketar ketir dan meminta David untuk membawanya pergi ke tempat olahraga saja.


Untungnya, Luke dan David menurut. Bukan karena mereka kasihan pada Sebastian, tapi Sebastian mengancam akan memberitahukan rahasia terbesar mereka pada Lily dan Rara jika tidak ikut bersama dengannya.


“Uncle, aku benar benar lelah. Ingin pulang saja.” Ares melangkah untuk duduk di samping lapangan.


Tidak tahan karena rasa lelah itu, Ares membaringkan dirinya dan menatap langit yang gelap. Mulai memejamkan mata, membayangkan kalau yang ada di sisinya adalah Cantika, dengan hubungan mereka yang sudah terjalin baik. Oke, Ares akan berusaha untuk mendapatkan kembali hati sosok tersebut.


Sampai rintikan hujan mulai mengenai wajahnya, Ares tersenyum kecil. Rasanya begitu menenangkan dan juga menyejukan, seolah Tuhan memberikannya pertanda kalau dirinya akan diberikan jalan mudah jika bersama dengan Cantika.


Hingga hujan semakin deras, dan… JDER! “Ares ayok pulang! Berhenti terlentang di sana! Daddy belum siap mengeluarkan uang untuk pemakaman!”


Teriakan itu sontak membuat Ares membuka mata, dia melihat keadaan sekitar dan merasa kaget ketika sadar kalau orang orang yang tadi bermain sudah tidak ada di sana. Mereka sudah berada di dalam mobil, menunggu dirinya.


Ares berlari dan masuk ke dalam mobil. “Kenapa kalian tidak membangunkan Ares?”


“Kami suka melihatmu gelisah seperti itu.” Sebastian, si uncle yang paling menyebalkan itu berbicara. Ares mengerucutkan bibirnya sambil mengganti pakaian dengan jaket yang ada di sana. “Ini terlalu awal untuk pulang. Pasti Oma akan mengejek.”


“Uncle Bas, jangan aneh aneh. Ayok pulang saja,” Ucap Ares dengan wajah yang terlihat menahan lelah.


“Benar kata Sebastian, kita tidak boleh langsung pulang. bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat lagi?”


Ares lagi lagi berdecak, apalagi di sampingnya itu Sebastian yang terus saja mengganggu. “Kalian mungkin harus membuat klab orang orang tua supaya banyak ide dari semua orang.”


Dan tidak ada yang menanggapinya. Di sini, Daddy nya seolah tidak membela keberadaannya yang ingin pulang dan menghabiskan waktu untuk mengintip pada apa yang sedang dilakukan Cantika sekarang. Khawatir Cantika didoktrin oleh Athena hingga kadar cinta Cantika untuk Ares berkurang.


“Iya?”


“Apa Joy masih gendut?”


“Bagaimana?” tanya Sebastian dengan suara yang penuh penekanan.


Dengan sedikit rasa takut, Ares menoleh dan mendapati pelototan dari Uncle nya itu. “David, kita turunkan saja bocah ini.”


“Uncle jangan marah, aku suka Joy, meskipun lebih suka Cantika.”


David terkekeh melihat bagaimana dua orang di belakang sana sedang saling merajuk. “Kita pulang saja, besok kalian akan ada perjalanan bukan?”


“Aku tidak mau menginap di rumahmu,” ucap Luke.


“Hujan, aku malas mengantarmu ke hotel. Aku juga tiba tiba rindu Lily di saat hujan seperti ini.” david yang memegang kendali, jadi dia membawa semua orang kembali ke mansion miliknya.


Karena hujan disertai petir, kedatangan mereka berempat yang rusuh saja tidak membangunkan siapapun.


“Kau dan Luke tidur di satu kamar yang sama saja,” ucap David.


“Kau miskin sampai kekurangan kamar?” tanya Sebastian kesal.


David terkekeh dengan wajah jahilnya. “Hanya mengetes seberapa normalnya kalian.”


Ares masih di sana, mendengar percakapan absurd orang orang itu. dan setiap Ares melihat David tertawa menyebalkan, membuat Ares bertanya pada dirinya sendiri, apa dia seperti itu di mata orang lain? Sampai lamunannya membuat Ares mengadah karena memikirkan apa yang dia lakukan di masa lalu. Namun bukannya mengingat, manik Ares malah menangkap sosok berjubah dengan wajah yang hitam legam di lantai dua.


“Aaaaa!” jeritnya langsung memeluk lengan David.


Tiga orang dewasa itu melihat ke arah yang sama, dan merespon dengan sama. “Aaaa!” sama sama ketakutan dan memeluk satu sama lain sampai saling berguling.


***