STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
EXTRA PART 2


Semakin besar kandungan Cantika, semakin ngeri Ares melihatnya. Dan semakin tua, anaknya semakin licha. Seperti sekarang Cantika yang berdesis sambil memegang perutnya. Suara sekecil apapun yang dikeluarkan sang istri, mampu membuat Ares membuka matanya dan menatap waswas pada Cantika. “Tidak apa apa?” tanya dia seperti itu. padahal Ares baru tidur satu jam, tapi matanya langsung terjaga.


“Dia aktif sekali, tidak mau diam.”


Ares berdecak karenanya. Dia mengusap perut itu dan berkata, “Jangan membuat Mama kewalahan, Nak. Ini waktunya tidur, ayo istirahat, besok kau bisa bermain lagi dengan Papa,” ucapnya sambil menciumi permukaan kulit perut Cantika.


Sedikit lebih baik, Cantika menghela napasnya dalam. Sentuhan dan kalimat yang Ares katakan selalu berhasil membuat anaknya menjadi diam, menenang. “Sepertinya dia memang ingin mengganggu Papanya.”


“Hmmm, dia merindukanku karena seharian ini aku sibuk.”


“Tidur lagi. Maaf membangunkanmu,” ucap Cantika mengelus rambut Ares. Pria itu membalas dengan menggelengkan kepala. Tidak masalah untuknya terbangun.


“Jika ada sesuatu yang dirasa, katakan saja ya. jika anaknya kembali bergerak dengan keterlaluan, kita ke rumah sakit saja.”


“Iya, Papa,” ucap Cantika memberikan kecupan di pipi Ares sebelum akhirnya masuk ke dalam dekapan pria itu. “Besok tidak usah jadi kalau kau lelah.”


“Tidak, kau sudah menunggunya lama. Ingin berbelanja bukan?”


“Iya, ada beberapa hal yang aku lupakan.”


Ares tau kalau bukannya terlupakan, tapi sang istri sengaja menyisakan beberapa hal untuk dibeli di minggu berikutnya. Minggu kemarin, dia dan Cantika sudah berbelanja kebutuhan bayi dan menyimpannya di ruangan bayi yang sudah mereka renovasi. Namun sepertinya Cantika masih ingin melakukannya. “Kalau besok jadi, bagaimana kalau kau memakai kursi roda saja?”


“Ares, aku masih bisa berjalan. Lagipula tidak terlalu menyulitkan.” Cantika sendiri merasa baik baik saja dengan kondisinya, hanya saja Ares yang memang suka sedikit khawatir. “Tidur lagi, aku mengantuk.”


Tanpa berhenti menempelkan tangannya pada perut sang istri dan mengelusnya, sampai keduanya kembali terlelap. Dan beruntungnya, Ares yang membuka matanya lebih dulu. dia tidak menyangka akhirnya hari ini tiba, dimana dirinya menjadi suami idaman yang mempersiapkan semua kebutuhan sang istri.


Namun ketika melihat jam, Ares membulatkan mata karena ini sudah jam tujuh dan sang istri belum bangun. Membuat dirinya berspekulasi hal hal aneh, Ares merangkup pipi Cantika kemudian bertanya, “Kau baik baik saja kan?”


“Hmmm?” cantika ternyata bangun. “Kenapa memangnya?” baru saat dirinya melihat jam, Cantika sadar kenapa Ares terlihat khawatir padanya. “Ya ampun, ini sudah jam tujuh. Kenapa kau tidak membangunkanku?”


“Hei, tenanglah. Aku akan memanggil pelayan ke sini ya. kita mandi. Jangan kelelahan,” ucap Ares dengan memohon.


Kali ini, topic membereskan rumah selalu menjadi titik perdebatan dimana Cantika dilarang Ares melakukan hal hal berat. Padahal pada kenyataannya, Cantika merasa vit. Namun tidak ingin larut dalam permasalahan, Cantika akhirnya mengangguk juga. Dia membiarkan Ares menggendongnya ke kamar mandi dimana mereka akan membersihkan diri bersama di sana.


Dengan air hangat yang mengalir di tubuh, memilih untuk mandi di bawah shower dan Ares bisa melihat bagaimana tubuh sang istri polos di bawah guyuran tetesan air, membuatnya tampak sangat seksi hingga Ares sendiri menelan salivanya kasar. “Apa kau sadar, kalau kau terlihat sangat seksi?” tanya Ares demikian


Membuat Cantika menundukan kepalanya malu. Namun ketika dia menunduk, Cantika malah melihat belalai gajah yang membuatnya kembali berpaling malu. Meskipun sudah berbulan bulan menikah dengan Ares, tetap saja dirinya merasa asing melihat benda bergelantungan itu.


***


“Sayang, sekarang belinya sekalian saja ya. minggu besok, kita jangan ke sini lagi. Aku khawatir dengan kondisi perutmu yang sekarang sudah semakin besar.”


Cantika hanya tertawa sebagai jawabannya. “ya sudah, berarti minggu depan, kita hanya berada di rumah ya?”


“Iya, tadinya aku mau mengajakmu bulan madu, tapi tanggung. Aku khawatir juga dengan perutmu yang sudah membuncit sekarang.”


Karena sekarang keduanya bergandengan tangan di mall, mencari beberapa biji kebutuhan untuk sang bayi. Di rumah, ada pelayan panggilan yang dulunya bekerja di keluarga Fernandez. Dia yang membantu Cantika membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan tadi. Untungnya, Cantika dan sosok itu langsung klop hingga tidak ada rasa canggung. Membuat Cantika mempertimbangkan untuk memperkerjakan sosok itu, apalagi masakannya enak.


“Pengasuh dari Amerika akan datang hari ini. bukankah lebih bagus untukmu mengenalnya sekarang sekarang?”


“Ya, apa dia akan langsung tinggal bersama dengan kita?” tanya Cantika yang dibalas gelengan kepala oleh Ares.


“Tidak, aku sudah menyiapkan flat untuknya. Tapi aku berharap nantinya dia akan tinggal bersama dengan kita. Supaya kau tidak sendirian.”


“Akan aku pertimbangkan hal itu.”


Sampai mata Ares menatap kursi roda yang disediakan mall di sana. “Sayang lihat, mereka memberikan fasilitas itu. kau mau?”


“Tidak, aku baik baik saja dengan berjalan kaki sendiri.”


“Oke baiklah.” Ares benar benar khawatir, apalagi ketika Cantika dan dirinya memasuki sebuah toko dan melihat kaos kaki lucu. Cantika melompat lompat hingga membuat perut dan dadanya bergerak naik turun.


Sampai meringis Ares dan mengatakan dalam hati, “Semoga otak anakku baik baik saja di dalam sana.”


“Ares lihat, ini lucu bukan?”


“Hmm. Kita akan membeli banyak bukan? Kita panggil sopir saja ya untuk membawakan barang baarang kita?”


Cantika hanya mengangguk, mengabaikan Ares lagi karena terlalu senang memilah pakaian pakaian lucu. “Cantika, bagaimana dengan ini? kenapa celana ini memiliki tempat yang keras mengembung?”


“Ares, itu untuk anak laki laki saat kau selesai disunat. Supaya lukanya tidak kena. Kau dulu juga memakainya kan?”


Ares menunduk menatap selangkangannya dan menyimpan lagi. “Hmm, aku rasa iya. Aku lupa.” Kemudian sisanya, Ares hanya mengikuti kemana sang istri melangkah.


Sampai akhirnya lelah, Cantika mengajak untuk beristirahat di salah satu food court, dia memesan sushi. “Tunggu di sini, aku yang memesan oke?”


Cantika mengangguk dan membiarkan sang suami yang mengantri untuk memesan. Sampai selesai Ares memesan dan kembali lagi ke bangku, dia mendapati Cantika sedang menatap tajam sebuah obyek. “Apa yang kau lihat?”


“Itu Galuh, sudah lama sekali aku tidak melihatnya.”


Karena Galuh sekarang aktif di dalam organisasi kemanusiaan. Ares juga memberinya yaayasan amal, Galuh focus membangunkan sekolah sekolah di pedalaman. “Pak Boss,” ucapnya saat mendapati Ares.


Profesionalnya Galuh, sekarang dia sudah berdamai. Ares juga tidak mempermasalahkan masa lalu dimana Galuh menyalahkannya. Itu hal yang wajar bagi seseorang yang sakit hati. “Bagaimana kabarmu?” tanya Ares. “Kau melakukan perkembangan yang signifikan.”


“Aku baik, karena aku berhasil. Boleh aku duduk di sini dan bergabung bersama kalian?”


Ares mengangguk meskipun pada kenyataannya dia masih was was saat Cantika dan Galuh saling melempar senyuman.


***


Untungnya, Galuh tau diri, perbincangan bersama Cantika hanya sebatas menanayakan kabar saja. mereka juga memiliki benteng tersendiri untuk membatasi diri masing masing. Sekarang, Ares hanya tinggal membawa barang barang bersama dengannya dimana di basement sudah ada sopir yang menunggu.


Ini hari minggu, tapi Ares masih mendapatkan pesan dari Samuel kalau harus ada berkas yang diperiksa di kantor. Ares dengan penuh keberatan mengatakan pada Cantika, “Sayang, kau duluan dengan sopir tidak apa? Aku harus ke kantor dulu. nanti aku menyusul ke rumah ya?”


“Ada apa? Kenapa masih bekerja di hari libur?”


“Bagaimana dengan orang orang lain?”


“Tidak bisa, di kantorku banyak rahasia.”


Cantika sih tidak masalah, dia hanya khawatir dengan suaminya yang terlalu banyak bekerja hingga kelelahan. Tidak lupa Cantika memberikan kecupan di pipi sang suami sambil mengatakan, “Jangan lelah lelah ya, langsung pulang.”


“Okay.”


Menatap kepergian sang istri bersama dengan sopirnya, Ares mendapatkan telpon ketika masih di basement. Itu dari Samuel. “Lu dimana?”


“Gue masih di jalan ini.”


“Lu aja deh yang ambil dah.”


“Gue takut gak keburu, Ar. Lu harus liat gimana statistiknya sebelum nanti sore kontrak dibuat sama pihak ketiga.”


Ares mendengus kesal mendengarnya. “Yaudah, gue ke sana.” menutup telpon dan hendak masuk ke dalam mobil. Sayangnya telpon lain datang, mengatakan kalau ada barang tertinggal di toko.


Karena Ares malas untuk masuk lagi, dia meminta pegawai toko yang membawanya ke basement, sementara mata Ares tertarik pada kursi roda yang bisa dikendalikan lewat remote. Kenapa ada di sana?


Senyuman Ares mengembang, dia selalu penasaran bagaimna rasanya menaiki kursi roda dan mengendalikan lajunya di tangan. Ketika dia duduk di sana, senyuman Ares mengembang. Ini terasa menyenangkan apalagi kursi rodanya masih berfungsi. “Astaga, siapa yang meninggalkan benda ini di sini? sayang sekali kalau tidak dimainkan,” ucapnya maju mundur sambil tertawa sendiri.


Melihat jam di tangan, Ares merasa masih memiliki waktu untuk berkeliling basement menggunakan kursi roda ini. karena dikendalikan oleh remote di tangan, rasanya sangat menyenangkan sekali. “Hahahaahah!” rambutnya terkena angin seiring kecepatan yang naik. “Ini menyenangkan sekali.”


Ares kembali lagi ke tempat sebelumnya, takut ada orang yang mencarinya. Tapi, dia tidak beranjak dari duduknya. “Mana si pengantar baju anakku itu? kenapa sangat lama?”


Ketika mata Ares menangkap sosok pegawai yang memakai kemeja teddy bear, dia langsung berdiri dan berdehem. Tidak ingin terlihat konyol. “Maaf menunggu lama, Pak.”


“Tidak apa.” Ares menerimanya dan membawa papper bag itu ke dalam mobil.


Harusnya dia masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi ke perusahaan. Namun, matanya tetap terpaku pada kursi roda di sana. “Tidak ada yang mengambil, tidak ada orang di sini juga.” Ares menggigit bibir bawahnya. “Satu putaran lagi tidak apa apa,” ucapnya pada diri sendiri kemudian segera kembali pada kursi roda itu.


Ares melajukannya lagi sambil tertawa tawa. Sampai matanya membulat ketika melihat mobil mundur dan.. BRAK! Dia menabrak mobil itu hingga terjungkal.


“Apa kau orang tidak waras karena bermain main di basement hah?!” tanya sosok yang keluar dari mobil, marah marah karena ada yang menabrak mobilnya.


Ares yang terjungkal itu membulatkan mata. Dia segera berakting dengan… “Aaaa… aaaa….” Seperti orang bisu yang sedang memberikan isyarat kalau kakinya tidak bisa digerakan.


“Ya tuhan, maafkan aku. Aku pikir kau orang yang sedang main main, ternyata kau benar benar butuh bantuan ya? mari aku tolong.” Sosok itu membantu Ares untuk kembali duduk di kursi roda.


Namun ketika lengah, Ares langsung berlari. “Woi!”


Dia berlari kencang dan masuk ke dalam mobil dengan terengah engah, dengan bergegas dia menghubungi Samuel dan mengatakan, “Gue lakuin kesalahan, gue mau lu beresin. Pokoknya gak boleh ada pencemaran nama baik! Lu harus beresin!”


“Hah? Lu kenapa sih?”


“Kasih duit sebanyak yang dia mau! Gue gak mau nama baik gue tercemar.” Kemudian menarik napas dalam dalam karena jantungnya berdetak kencang. “Harusnya tadi satu putaran saja,” gumam Ares demikian.


***


Setelah mengambil berkas di kantor, Ares menjemput sang pengasuh yang nantinya akan membantu Cantika mengurus anak mereka. “Ya ampun, anak tengil ini aakan menjadi ayah?”


“Hallo, Bibi, senang bertemu denganmu lagi.”


“Iya, Bibi juga senang, bibi kaget karena akan diperkerjakan lagi sebagai pengasuh keluarga Fernandez. Bibi kira, Nyonya Lily memiliki lagi anak, ternyata anaknya yang beranak.”


Ares tersenyum malu. “Ayo bergegas, istriku pasti senang bertemu dengan Bibi.”


Mengendarai mobil menuju pulang ke apartemennya. Untungnya masalah kursi roda tadi sudah terselesaikan oleh Samuel, jadi Ares bisa tenang dan pulang dengan senyuman tanpa kekhawatiran. Begitu smapai di apartemen, Ares mendapati Cantika yang sedang tertawa bersama dengan pembantu mereka. dimana hal itu membuat Ares merasa tenang, sepertinya Cantika menerima teman di kehidupannya setelah khawatir tidak akan nyaman nantinya.


“Hallo,” ucap Cantika menyadari ada yang datang.


“Hallo, perkenalkan saya pengasuh bayi anda, Nona.”


“Berhenti mengatakan itu, tolong panggil aku cantika saja ya, Bibi, aku mendengar kau pernah mengasuh Ares juga.”


“Ya, dulu dia sangat nakal dan jahil pada kembarannya. Sekarang anaknya satu kan?”


Cantika mengangguk dan tertawa. Hari itu, Cantika beradaptasi dengan pengasuh dan juga pembantu barunya. Mereka memiliki kamar sendiri, sampai Cantika mengajak Ares berdiskusi untuk pindah ke sebuah rumah. “Kau benar, harusnya kita pindah ke sebuah rumah saja.”


“Tidak apa, kita di sini saja dulu sampai anak kita membutuhkan ruang untuk berlai. Okay?”


Cantika mengangguk. Dia menarik napasnya dalam. “Perutku sakit, aku mau ke kamar mandi dulu ya,” ucapnya beranjak dari duduk di pinggir ranjang.


Namun begitu Cantika berdiri, manik Ares membulat melihat ada genangan darah di sana. “Cantika, kenapa kau berdarah?”


Barulah Cantika sadar kalau keluar darah dari tubuhnya. Dia juga mulai merasakan mulas dan menyadari kalau ini bukan sakit perut biasa. “Ares, aku rasa kita perlu ke rumah sakit.”


“Hah? Kau akan melahirkan? Sekarang? Sekarang?”


“Ares, Tarik napas dalam. Keluarkan…. Ya seperti itu… aku baik baik saja okay? Lihat aku masih bisa berdiri. Sekarang, ayok kita pergi. Okay?”


“Okay… okay.” Ares terus mencoba mengatur napasnya.


Dia meminta bantuan bibi pengasuh untuk membawa Cantika. Bahkan, sopir yang mengendarai karena Cantika khawatir Ares tidak akan focus.


Di bangku depan, ada supir dan bibi pengasuh. Ketika bibi pengasuh menoleh, dia malah mendapati Cantika yang sedang minum dengan santai sementara Ares yang menarik napasnya berulang kali. “Tuan Ares, tenang. Semuanya akan baik baik saja.”


Cantika menoleh pada sang suami. Dia kecup pipi Ares. “Aku akan baik baik saja, tenang saja.”


“Bagaimana bisa kalian sesantai itu?” tanya Ares menahan rasa kesalnya sendiri.