
Ada rapat yang penting, tapi Ares masih setia memejamkan matanya membuat Cantika khawatir setengah mati. Bagaimana kalau pria ini mengacaukan perusahaannya sendiri? Cantika tidak tau apa yang harus dia lakukan. Tadi dia sempat menyerah Ares dengan paksa untuk berbaring di atas ranjang. Dengan peralatan kesehatan yang ada di sana, Cantika mengobati Ares. Dia tidak mau memberitahu orang lain dulu. Khawatir jika nantinya akan menimbulkan masalah.
"Tuan Ares? Bergegaslah bangun. Nanti ada uang yang tidak bisa didapatkan lagi. Ayo lekaslah bangun." Meminta seperti itu. Namun sayangnya Ares tidak bergerak sama sekali dalam tidurnya.
"Hhh….. Aku lapar. Boleh tidak ya aku pesan makanan dari bawah? Nanti Ares yang bayar?"
Cantika pergi ke kamarnya dulu yang memiliki pintu terhubung dengan Ares. Untuk mengambil uang dan ponselnya di sana.
Saat Cantika keluar, Ares langsung membuka matanya dan menghela napasnya dalam. Pria itu mengelus dadanya sendiri. "Jangan senyum, misimu belum beres"
Mengingat tadi Cantika yang mengusap kepalanya penuh dengan kasih sayang dan mengobatinya, Area hampir saja terbang ke angkasa. "Tahan tahan," Ucapnya pada diri sendiri.
Suka sekali dengan Cantika yang khawatir. Tapi kasihan juga dengan sang kekasih hati yang kelaparan. Namun meskipun begitu, Ares masih tetap ingin melanjutkan aktingnya. Tidak peduli uang yang akan dia hasilkan, Ares lebih suka dirinya dimanja oleh Cantika seperti ini.
"Hallo? Maaf Tuan Ares ini pingsan. Bisa tolong panggilkan dokter atau apapun itu? Saya bingung harus bagaimana sekarang??" Terdengar suara Cantika yang melangkah masuk ke dalam kamar Ares lagi.
Buru buru pria itu memejamkan matanya enggan untuk ketahuan. Sepertinya Cantika sedang menelpon sang asisten. "Baik, Terima kasih banyak. Dan mohon maaf sebelumnya. Saya benar benar kebingungan."
Cantika duduk kembali di samping ranjang Ares. Pria itu masih berantakan, belum mandi dan masih tampan. Cantika tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Namun melihat Ares tidak berdaya seperti ini membuatnya kasihan dan ingin mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Mereka sudah melewati banyak hal di masa lalu. "Cepetan bangun, saya bingung harus ngapain."
Usapan di kepala itu membuat Ares tidak tahan untuk tersenyum. Dia begitu bahagia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Cantika Setelah sekian lama. Karena ketidaktahanannya itu, Ares perlahan tersenyum yang membuat Cantika berhenti mengelus dan menyadari apa yang sedang dia lakukan.
"kau pura-pura pingsan ya?! Bangun dan segera jelaskan!" teriak Cantika tidak tahan lagi dengan semua ini.
Tahu kalau Cantika sudah berada di ambang kesabarannya, akhirnya Ares membuka mata dan menatap pada Cantika dengan Tatapan yang penuh dengan penyesalan. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Aku benar benar minta maaf. Aku hanya merasa sangat nyaman mendapatkan perhatian darimu. Maafkan aku, Cantika.."
Mata Cantika berkaca-kaca. Entahlah dia merasa sangat emosional, dadanya terasa sesak di permainkan seperti ini oleh Ares.
Jadi tangannya menghindar ketika pria itu hendak memegangnya, Cantika menggelengkan kepala memberikan tanda kalau dirinya enggan untuk mendengar apapun lagi. "Lebih baik anda bersiap, saya juga akan begitu. Nanti akan ada dokter yang datang ke sini untuk memeriksa anda. Dan mohon maaf atas apa yang saya lakukan sebelumnya. Dipikir juga itu kesalahan anda, seharusnya tidak masuk begitu saja."
Cantika berdiri dari duduknya kemudian melangkah pergi dari sana, meninggalkan Ares dengan sejuta penyesalan di dadanya.
Kenapa dia harus tersenyum hingga akhirnya ketahuan kalau pura-pura pingsan? Sungguh yang Ares inginkan hanya merasakan debaran itu lagi bersama dengan Cantika, wanita yang dulu mengejarnya dengan mati-matian dan kini Tuhan memberikan posisi hingga Ares yang melakukannya.
***
Di dalam kamar, Cantika berusaha untuk menelpon Galuh. Sedikit kesal karena pria itu tidak bisa dihubungi. "Aku lupa dia tidak memiliki sinyal di sekitarnya. Hmmm. aku bosan di sini terus, Ares menyebalkan.."
Mendengar hal itu, Ares hanya mengelus dadanya sendiri merasa bersalah. "Maaf, Cantika tapi aku tidak akan berhenti untuk mencoba mendapatkanmu lagi."
Begitu ucap Ares yang sedang mendengarkan percakapan Cantika dengan menempelkan telinga pada dinding. Hingga pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Ares menatap dengan kesal karena itu adalah asisten pribadinya.
"Kenapa tiba-tiba masuk tanpa permisi dulu?"
"Maaf tuan sebelumnya Nona Cantika memberitahu saya kalau anda pingsan. Makanya saya masuk dengan membawa bekerja di hotel ini supaya bisa ke dalam."
Ares berdecak mendengarnya. "Saya tidak apa-apa, kalian boleh kembali lagi mengurusi urusan kalian sendiri."
"Biarkan mereka mengobati luka di kepala anda terlebih dahulu, tuan muda. Setelah itu saya akan pergi mengurusi rapat yang seharusnya Anda hadiri pagi ini."
Tubuh Ares menegang, pria ini adalah jelmaan dari ayahnya yang harus mengawasi kinerja Ares selama berada di Indonesia. Dia menelan salivanya kasar kemudian menatap pria yang lebih tua sambil mengatakan, "tolong jangan beritahu daddy perihal ini ya. Saya akan berusaha lebih keras untuk kedepannya, Saya tidak akan lembek lagi. Untuk kali ini saja tolong bereskan semuanya dan Nantinya saya akan menjadi penguasa."
Pria itu hanya tersenyum melihat Ares yang merentangkan tangannya seolah menggambarkan kalau dirinya adalah penguasa. "Tolong luruskan dulu tangan anda dan biarkan perawat ini menyelesaikan pekerjaannya."
Ares kemudian terdiam, dia memikirkan cara bagaimana untuk meminta maaf pada Cantika. Dia harus melakukannya, menjadi pria gentle dan mengakui semua kesalahannya.
"Halo pak bos?"
"Derita apa yang akan saya tanggung sekarang?"
"Pastikan kalau Galuh benar-benar sibuk di sana, dia tidak boleh pulang sebelum Cantika kembali pada pelukanku. Lakukan yang terbaik atau kamu akan saya blacklist di semua perusahaan hingga tidak ada lagi yang menerima kamu di manapun."
Di sana, samuel ter batuk-batuk terdengar menderita. "Tuan muda Ares yang sangat terhormat, saya akan melakukan apa yang anda minta. Namun jika suatu saat nanti saya mati di Pulau terpencil ini, tolong katakan pada ibu saya kalau saya Mencintainya."
Ares memutarkan bola matanya malas, dia memeriksa berapa lagi uang yang ada di dalam rekeningnya. "Kalau kau bertahan di sana selama yang aku inginkan, kau akan mendapatkan hadiah, apapun yang kau minta."
Samuel terkekeh di sana. "Akan aku keluarkan permintaanku nanti jika memang mengharuskannya."
Jika Ares sudah mengatakan kalimat nonformal seperti ini, maka dirinya benar-benar membutuhkan bantuan Samuel sebagai seorang sahabat dan juga asisten tersembunyinya.
Dia mengandalkan sosok tersebut.
"Memangnya kau mau apa?"
"Mungkin nanti saja, kalau kau sudah berbaikan dengan Cantika."
"Baiklah. Jangan aneh aneh."
"Iya Pak Bos, sekarang selamat menikmati liburan berdua di California. Semoga dengan adanya liburan ini kalian bisa bersama-sama lagi."
Aras tersenyum hanya dengan mendengar doa itu. Setelah panggilan terputus dirinya menarik nafas dalam, harus mengumpulkan keberanian untuk menemui Cantika dan meminta maaf karena sudah menipunya dengan pura-pura pingsan.
"Cantika?" Panggil Ares dari pintu yang terhubung di antara kamar mereka. "Aku ingin minta maaf karena sudah membuatmu khawatir dan jadi orang yang menyebalkan. Serius, aku menikmati apa yang kaulakukan, sedalam itu cintaku padamu. Aku tahu apa yang aku lakukan di masa lalu itu salah, dan aku belum bisa menceritakan apa yang terjadi. Tapi tolong Lihatlah aku, aku rela kelaparan, rela pura-pura pingsan demi mendapatkan perhatianmu. Bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua? Cantika? Maukah kau bersama denganku lagi? Setidaknya kita bersahabat kalau kau belum ingin menjalin hubungan yang serius."
Tok tok tok tok. Tangannya kembali mengetuk pintu tersebut. "Cantika? Aku menyebalkan ya? Aku minta maaf karena jadi bos yang tidak peka sama sekali. Ayo mulai saat ini kita bersahabatan dulu, aku tidak masalah kok."
Ketika pintu terbuka, senyuman Ares mengembang. Sepertinya dia diterima oleh Cantika dan bersiap untuk kalimat manis selanjutnya.
Namun ternyata ketika pintu terbuka seutuhnya, itu bukanlah Cantika, melainkan asisten pribadinya. Seorang pria tua bangka yang menatap Ares dengan bingung.
"Maaf tuan muda, tadi Nona Cantika meminta saya datang ke sini untuk penjelasan berkas menjadi Project di sini. Lima menit yang lalu beliau sudah turun untuk sarapan di bawah."
Ares terdiam, kemudian menatap sosok itu dengan helaan nafas yang sangat berat.
"Tolong jangan bilang apa-apa sama daddy ya."
Pria tua itu tersenyum kemudian mengatakan. "Apa yang anda lakukan bukan menjadi urusan saya, hanya saja tolong lebih giatkan diri anda sendiri untuk perusahaan. Saya permisi."
Ares berdecak ketika pintu di depannya kembali tertutup, dia menggelengkan kepalanya heran kemudian bergumam. "Pasti itu kakek kakek tidak pernah jatuh cinta, belum pernah ngalamin masa muda sepertiku."
Kemudian teringat lagi tentang Cantika.
"Kenapa sayangku meninggalkanku?"
Buru-buru keluar dari kamar tanpa mengingat kalau dirinya belum mandi, dia hanya ingin bersama dengan Cantika. Sarapan bersama.
Apalagi ketakutannya menjadi-jadi jika memikirkan Cantika di sana digoda oleh pria bule.
"Pokoknya yang boleh dipanggil ganteng oleh Cantika hanya aku saja."
****