STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Status akhir


Setelah mengungkapkan perasaannya, kebenaran tentang kebodohannya bahkan Ares yang hampir bunuh diri karena enggan merasakan sakitnya kanker, lalu mendapatkan pukulan dari sang Daddy karena bodoh memikirkan itu. ketika divonis palsu, Ares juga sempat hujan hujanan layaknya anak kecil, katanya dalam tahapan menikmati hidup sampai dia membuat ritual pemanggil hujan yang diakhiri dengan Oma yang marah marah dengannya.


“Hahahaha! Kenapa bisa seperti itu?” tanya Cantika tidak percaya, kini dirinya merasa bebas mendengarkan Ares, percaya padanya dengan perlahan.


“Aku hanya ingin hari hari terakhirku terasa menyenangkan.”


“Lalu bagaimana nasib dokter Alzheimer itu?”


“Daddy menuntut rumah sakit, tapi direktur disana malah menawarkan kerjasama. Jadi Daddy tidak jadi menuntut.”


“Ah, bagaimana dengan Daddy mu sekarang? Sudah membaik?” tanya Cantika saat ingat Ares menceritakan kalau David drop saat perusahaan turun.


“Dia baik baik saja sekarang, dia sudah mulai bekerja lagi. Tapi lebih banyak berada di rumah, katanya ingin berduaan bersama dengan Mommy. Walaupun Oma sering mengganggu.”


“Ah, aku merindukan mereka,” gumam Cantika, dia ingat kalau keluarga itu sangatlah hangat dan juga menyambutnya dengan baik.


“Mereka baik baik saja, sehat sekali.” Ingin sekali melanjutkan dengan kalimat, “Mereka menunggu seorang yang bisa menjadi menantu mereka, yaitu kau.” Tapi Ares menahan dirinya, bahkan dia mengepalkan tangan sendiri. enggan membuat Cantika tidak nyaman setelah tadi tertawa lepas. “Athena juga baik baik saja, dia sehat. Ingin bertemu dengannya?”


“Dia dimana?”


“Dia sekarang sudah di rumah, dia masih kuliah. Ingin menjadi dokter, karena sebelumnya orangtua kami maalah memasukannya ke sekolah bisnis. Kadang di asrama, kadang di rumah. tapi dia baik baik saja.”


Cantika mengerucutkan bibirnya. “Athena juga pergi tanpa kabar.”


“Maaf, setelah kabar aku kanker, mereka semua ikut panic dan kemudian ya… hal tidak terduga terjadi. Athena juga beberapa kali ingin ke Indonesia, tapi keadaan tidak memungkinan, ditumpuk juga dengan beberapa kejadian tidak menyenangkan.”


“Tidak apa, aku paham. Keluarga yang utama.”


“Aku menyesal tidak memaksakan diri datang ke pemakaman Kakek dan juga Mamamu. Maafkan aku.”


“Ares berhenti minta maaf. Aku baik baik saja sekarang, terima kasih sudah terbuka. Harusnya kau mengatakan itu sejak awal supaya aku tidak berprasangka buruk kepadamu.”


“Hmmm. Aku malu karena kebodohanku,” ucap Ares memainkan kakinya yang diselimuti sepatu di atas rumput. “Jadi setelah ini…. bisakah kita?”


“Berteman? Tentu saja.”


“Cantika. Apa kita sudah putus?”


“Aku menganggapnya sudah,” ucap Cantika berdehem dan menatap ke depan. Tidak boleh melihat Ares lama lama, dia khawatir kalau dirinya akan terjerumus pada pesonanya lagi. “Itu sudah menjadi bagian dari masa lalu.”


“Kau belum memaafkanku?”


“Aku memaafkanmu, hanya tidak untuk mengulang kembali cerita yang lama.”


“Tapi aku janji kalau mendapatkan kesempatan, aku akan menjadi pendamping yang baik untukmu.”


Memang Ares sudah menjelaskam alasannya pergi, menjelaskan kenapa dirinya melakukan hal itu. bisa dimaklum, Ares ketakutan dan keluarganya yang berantakan kala itu. hanya saja, Cantika lebih suka kalau Ares jujur saja bagaimanapun keadaannya. “Ares, aku rasa kita lebih cocok kalau berteman.”


“Tidak ada kesempatan sama sekali?”


Cantika menelan salivanya kasar. “Aku memiliki seseorang yang dekat denganku sekarang. Namanya Galuh. Ingat dia?”


Oh, Cantika mengakui pria itu. artinya dia mengakui keberadaan Galuh dan perasaannya. “Kalian pacaran?”


“Tidak, kami hanya dekat saja. mungkin suatu saat nanti akan.”


“Kau benar benar tidak memiliki perasaan lagi padaku?”


Cantika tidak tahu, dia hanya tidak mau menyakiti orang lain khususnya Galuh yang selama ini membantunya. Kalau dirinya kembali pada Ares, Cantika juga tidak siap. Entah dalam hal apa, tapi terikat dengan Ares membuatnya merasakan beban. “Kita berteman saja ya?”


“Tapi kau masih akan mengizinkanku untuk terus berusaha kan? Aku masih punya kesempatan kan?”


“Jangan keterlaluan, Ares. Tetap tau batasan,” ucapnya dengan nada suara yang terdengar lirih. “Ayok kita berteman saja seperti dulu. aku masih tetap mengagumimu. Tenang saja, kau masih keren.” Mengajungkan jempol pada wajah Ares.


Sampai tiba tiba hujan melanda, Ares maupun Cantika langsung berlari kembali ke dalam dan tertawa bersama di sana.


***


“Um, besok ada pesta besar yang kita datangi di malam hari. Karena besok pagi sampai sore kita tidak ada acara. Ingin mengunjungi Athena?”


“Serius?” tanya Cantika sambil menoleh pada Ares dengan mata yang membulat tidak percaya.


Pria itu menyisir rambutnya ke belakang, dan menjawab, “Hmmm.” membuat Cantika menelan saliva kasar. Ares lebih berbahaya kalau dirinya cool dan seperti ini. tidak bertingkah menyebalkan seperti biasanya. Cantika jadi khawatir dirinya akan kembali jatuh pada pesona pria itu. tidak, dia tidak boleh melakukannya.


“Pagi?”


“Tentu, jam berapapun kau siap.”


“Lalu untuk pestanya?”


“Um, mendatangi beberapa orang yang mungkin tertarik ke dalam circle project baru kita.”


“Jadi sebelumnya, kita mengumpulkan orang dulu?”


“Orang orangnya sudah terkumpul. Hanya saja, kita mungkin butuh tambahan, mereka biasanya menguntungkan.”


Cantika tidak membawa gaun apapun yang cantik.


“Sekalian besok minta antar Athena mencari gaun untukmu juga.”


“Ah oke.” Tangan Cantika menyentuh kalung yang diberikan oleh Ares. Persis seperti kalung yang dirinya inginkan di masa lalu. Dimana Cantika mengatakan, “Kalung kayak gitu lucu ya. kayak di sophie the first, ajaib gitu.”


Dan kini dia mendapatkannya.


Ares yang peka bahkan mematikan AC ketika Cantika menggigil. “Pakai ini.”


“Tidak perlu.”


“Pakai, Cantika.” Menyerahkan jas pada Cantika. Terpaksa perempuan itu memakainya. Dan memberikan senyuman pada Ares.


Duh, dalam hati Ares berusaha keras untuk menahan diri agar tidak menerjang Cantika. Dia harus tetap waras. PLAK! Memukul dirinya sendiri.


“Ares! Apa yang kau lakukan?!” tanya Cantika kaget.


“Huh, aku mengantuk. Hehehe, aku takut membahayakan diri kita,” ucapnya seperti itu. pada kenyatannya, dirinya mencoba untuk waras dan tidak melakukan apapun pada Cantika.


Begitu mereka sampai dan kembali ke kamar, keduanya masih berbincang. “Kenapa tidak diteruskan saja? menjadi pianis?”


“Um, masih ada pekerjaan yang lebih menguntungkan.”


“Kalau kau mau….” Ares menggantungkan kalimatnya, dia menggigit bibir bawahnya. Tidak, cara mendapatkan Cantika dengan cara merayunya tidak akan berhasil.


“Mau apa?”


Tadinya hendak menawarkan Cantika untuk bisa bersama dengannya dan menjalani hari sebagai pianis sekaligus istri darinya. “Tidak ada.”


Ketika keduanya sampai di depan kamar masing masing. Keduanya saling berpandangan. “Selamat tidur, sekali lagi aku minta maaf karena selalu bertingkah konyol, menyebalkan dan aneh, dan bodoh.”


“Hei, berhenti mengatakannya. Aku memaafkanmu,” ucap Cantika. Kemudian tiba tiba perempuan itu datang dan memeluk Ares. “Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Ares. Kau pria yang baik.”


“Ya, sama sama,” ucap Ares yang menahan napasnya sejak tadi.


Sebelum Cantika masuk ke dalam kamar, perempuan itu mengatakan, “Selamat malam, Tuan Ares. Hari ini anda hebat.” Kemudian membungkuk dan memberikan senyuman manis sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.


Ares pun demikian, dia masuk ke kamarnya sendiri dan senyumannya mulai luntur. Punggungnya yang bersandar pada pintu mulai luruh, Ares berjongkok di belakang pintu. “Teman katanya,” ucap Ares nelangsa meratapi nasibnya di sana.


****