STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Susu Basi


Lelahnya, itu yang dirasakan oleh Cantika begitu dirinya pulang ke apartemen dan berbaring di ranjangnya. Dia harus lembur tadi, dan Ares pulang lebih dulu karena alasan dia butuh istirahat. Bersyukur sekali karena hal tersebut, Cantika tidak diganggu sama sekali.


Akhirnya, Cantika bisa membuka ponselnya dan melihat pesan yang masuk. Terdapat satu pesan yang membuatnya menghela napas dalam, itu dari Galuh yang mengatakan, “Cantika, sepertinya kita tidak bisa berkomunikasi untuk beberapa minggu. Aku benar benar pergi ke pedalaman dan mengajar anak anak, juga menjangkau beberapa suku yang ketinggalan teknologi. Maafkan aku harus pergi saat situasi seperti ini.”


Bahkan ketika Cantika mengirimkan pesan balasan, pesannya tidak terkirim menandakan Galuh sudah memasuki area yang susah sinyal.


Ting tong.


Sebuah bel pintu apartemen yang membuat Cantika merasa kesal, siapa yang mengganggunya saat dia harus istirahat. “Nenek?” Tanya Cantika kaget, ternyata sosok inilah pelakunya. “Ada apa?”


“Hehehe, Nenek ingin memberikan ini padamu. Makan yang banyak ya.”


“Nenek dengan siapa ke sini? Apa Papa ikut?”


“Tidak, Nenek diantar oleh taksi online. Ada yang harus Nenek lakukan dulu.”


“Nenek jangan buat Cantika khawatir, Nenek mau apa? Mau kemana?”


Namun, Nenek malah mengeluarkan semprotan cabe. “Aman, Nenek hanya akan menemui teman lama. Kau ingat yang ada di dekat sungai itu? Katanya dia sakit dan ingin ditemani.”


“Kalau begitu Cantika antar.”


“Tidak usah, lihat dirimu yang masih memakai pakaian kerja. Istirahat saja dan abaikan Nenek,” ucap sosok tersebut berbalik dan berjalan dengan cepat seolah tidak ingin diikuti oleh Cantika.


Mencoba untuk mempercayai sang Nenek, Cantika kembali ke dalam dan membuka pemberian Neneknya, cukup kaget karena mendapati makanan yang begitu banyak. “Wah, Nenek pasti ingin aku gemuk.” Begitu ucap Cantika.


Di sisi lain, Nenek segera masuk ke dalam mobil yang sedari tadi menunggunya. “Kau janji akan membawa Nenek membeli buku baru.”


Ares tertawa mendengarnya. “Tentu, Nenek. Akan aku berikan apapun untuk Nenek. Terima kasih.”


“Sampai kapan kau akan menyembunyikan kebenaran itu, Ares? Katakan saja pada Cantika.”


Ares yang menyetir itu menghela napasnya dalam. “Aku takut Cantika menjadi kesal padaku, Nek. Apa dia masih akan menyukaiku setelah mengetahui kebenarannya?”


“Tapi lebih baik memberitahunya di awal saja.”


Ares menggeleng. “Aku akan memberitahu Cantika saat dia sudah mencintaiku lagi, Nek. Hingga apa yang aku lakukan di masa lalu, tidak akan menjadi masalah untuknya.”


“Goblok,” gumam Nenek meledek rencana Ares.


***


Seperti biasa, Cantika kembali ke kantornya. Kini hidupnya tidak terasa monoton, karena Cantika selalu dibuat serangan jantung oleh tingkah atasannya itu. Cantika lebih suka rutinitasnya yang sama daripada sekarang. Mana dia tidak memiliki teman di sini, beberapa pekerja terlihat iri saat melihatnya. Cantika bahkan bisa merasakannya dalam jangkauan beberapa kilometer.


“Aku dengar dia mahasiswa biasa, kenapa bisa menjadi sekretaris Tuan Ares ya?”


“Namanya Cantika, lulusan S1 dan tidak ada riwayat pendidikan juga pengalaman bekerja yang menarik tentangnya.”


“Apa dia dari keluarga kaya?”


“Akan masuk akal jika dia salah satu orang kaya, tapi dia orang biasa saja. Bagaimana caranya dia bekerja di sini ya? Dengan posisi itu?”


Cantika berdehem, hingga dua orang yang ada di depannya menoleh. “Oh astaga!” teriak salah satunya kaget. “Hallo, selamat pagi,” lanjutnya mencoba untuk normal.


Saat pintu lift terbuka, mereka buru buru keluar. Meninggalkan Cantika yang tersenyum, kemudian memperlihatkan wajah marah saat pintu lift tertutup. “Harusnya ada lift khusus untuk sekretaris,” ucap Cantika yang diharuskan ke ruangan paling atas.


Sepertinya Ares belum datang, jadi Cantika memilih menyelesaikan pekerjaannya yang belum terselesaikan. “Ada email.”


Cantika membukanya, dan isinya adalah pekerjaannya yang sudah terselesaikan.


“Hallo, Cantika. Aku mantan sekretaris Tuan Ares. Aku menyelesaikan pekerjaan ini karena pekerjaan ini datang sebelum kau masuk. Terima kasih.” Begitu pesan email di bawahnya.


Membuat Cantika terdiam. “Tapi, pekerjaan ini baru datang dua hari yang lalu.”


Sementara itu, ketika mendengar pintu lift terbuka, Cantika menoleh dan mendapati wajah bersinar milik Ares. Membuatnya memicingkan mata, pasti ada yang salah dan itu disebabkan pria blasteran tersebut.


“Selamat pagi, Cantika.”


“Pagi, Tuan.”


“Ini untukmu,” ucap Ares memberikan susu strawberry dan juga roti. “Tadi ada penjual jalanan yang menjajakan ini, jadi aku membelinya untukmu. Jangan salah sangka, aku kasihan pada penjual kelilng itu.”


Cantika mengangguk dan menerimanya. “Terima kasih.”


Kemudian Ares kembali melangkah masuk, meninggalkan Cantika yang memegang susu yang sudah lama tidak dia temukan dimanapun, karena katanya pabrik tidak lagi memproduksi. “Wah, sudah lama tidak meminum ini.” Sampai maatanya melihat tanggal kadaluarsa, senyuman Cantika luntur. “Apa dia ingin membunuhku?”


Sementara itu, Ares juga memiliki satu susu yang sama, dia menikmati susu itu di dalam kantornya sambil tersenyu. “Huah, akhirnya aku membayar mahal untuk mendapatkan susu ini kembali.”


Bahkan Ares membeli pabrik serta merk untuk memproduksinya lagi. Sampai ada telpon masuk dari Samuel. “Hallo?”


“Woy, susunya baru bisa dikirim besok pagi katanya.”


Seketika Ares diam. “Lah, susunya sampe pagi ini kok?”


“Hah? Kagak, kan belum produksi.” Samuel terdiam sejenak. “Alamak, gue salah kirim alamat. Itu susu basi, ***. Tadinya buat gue jadiin bahan percobaan.”


“Samuel, Goblok!” Ares langsung memuntahkan isi perutnya. “Plis atuh keluar ini susu.”


***