
Cantika melepaskan genggaman tangannya pada Galuh. Setelah malam di bianglala itu, Cantika mencoba untuk membiasakan diri untuk bergandengan dan melakukan beberapa skinship seperti ini. catatan, hanya berpegangan tangan. Itupun tidak langsung hari itu, hanya hari ini yang menjadi permulaannya.
Besok adalah hari kerja, dan Cantika sudah pulang sejak kemarin. Menyisakan beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan. “Ingin aku buatkan makan malam?”
“Tidak perlu, bukankah kau harus melakukan penelitian? Kau juga punya banyak pekerjaan. Sana pergi saja,” ucap Cantika mencoba mendorong tubuh Galuh untuk menjauh. Mengingat Galuh menyukainya, tidak heran jika pria itu terus saja mengikutinya. Tapi Galuh juga punya kehidupan, Cantika tahu betul bagaimana sibuknya pria itu. “Aku tau kau punya banyak kesibukan, Galuh. Tolong jangan buat aku merasa bersalah karena kau mengabaikan tugas tugasmu.”
“Aku hanya melakukan itu untuk calon pacarku. Aku hanya akan membuatkanmu makan malam, kemudian tidak mengganggu. Bagaimana?”
“Hanya makan malam.”
Galuh mengangguk, dia mengacak rambut Cantika dengan menahan rasa gemas. “Masuklah lebih dulu.”
Biasanya Cantika akan marah jika Galuh mengacak acak rambutnya, tapi untuk saat ini dia akan membiarkannya begitu saja. dia juga ingin tau bagaimana Galuh memperlakukan orang yang disayanginya.
Masuk ke dalam apartemen, Cantika menidurkan dirinya di atas ranjang sambil menatap keluar jendela. bahkan apartemennya yang sempit hanya memiliki balkon kecil untuk menjemur.
“Cita citaku hanya ingin menjadi kaya.”
Perusahaan Papahnya tidak bisa kembali seperti semula. Namun, Cantika tetap bersyukur Papahnya masih diberi Kesehatan. Bersyukur untuk semua yang masih ada, termasuk Galuh yang sangat setia menemaninya. Cantika sendiri sadar kalau dirinya hanya menganggap Galuh sebagai sahabat, tapi melihat exitednya pria itu, dia tidak bisa melakukan apa apa.
“Baiklah…. Jalani saja kehidupan ini.”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Kenapa kau terlihat tidak bersemangat?” tanya Galuh yang kini sedang menyuapkan makanannya. Setelah makan malam, dia tetap menetap di apartemen Cantika untuk menunggu perempuan yang dia cintai, pasalnya hari ini Cantika harus bergadang menyelesaikan beberapa hal. “Hei, katakan padaku apa yang kau pikirkan.”
“Aku merindukan Thea, apa menurutmu dia masih bersama dengan Ares?”
“Masih bersama dengan Ares?”
“Maksudnya ikut pulang ke sini?”
“Aku tidak tau. Kau begitu merindukannya?” tanya Galuh yang dibalas anggukan kepala oleh Cantika.
“Astaga, kemarilah. Aku akan memberikanmu pelukan.” Galuh beringsut mendekat kemudian memeluk Cantika.
Menurut Galuh, ini adalah pelukan dimana dirinya bisa mengantarkan getaran cinta pada perempuan itu. Namun bagi Cantika, dia merasa ini adalah pelukan yang biasa dia lakukan bersama dengan Galuh sebagai seorang sahabat. Bahkan sebelum 2 bulan pun, Cantika tau apa yang akan dia jawab nanti, dan itu semakin membuatnya takut.
“Sudah, terima kasih. Aku merasa lebih baik sekarang.”
“Kau ingin hotpop agar mood mu meningkat?”
“Kau punya di apartemenmu?”
Sementara sosok perempuan itu menghela napas lega. Masih ada perasaan aneh ketika Galuh bersikap manis padanya. Dimana dirinya terbiasa menendang pria itu, memberinya teriakan dan juga pukulan, kini tidak lagi. Cantika bahkan mengakui kalau dirinya sedikit canggung.
Karena cintanya masih berlabuh pada pria yang menyakitinya. Ares. Berharap sosok itu tidak dipertemukan lagi dengannya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Sementara itu, di sisi lain. Seorang CEO muda tengah menatap desain yang diperlihatkan padanya oleh sang asisten pribadi.
“Bukankah aku meminta agar team desain berada di lantai tiga.”
“Dan kami melakukannya, Tuan.”
“Lalu dinding ini untuk apa?”
“Supaya memberi anda privacy jika anda ada di ruangan. Dan untuk mencegah tamu tamu anda melihat bagaimana karyawan berserakan.”
“Kau pikir mereka barang?”
Sosok itu menghela napasnya dalam. Kemudian mengusap wajahnya kasar. “Ar, ini udah ideal. Gila aja kalau nanti ada tamu, terus liat karyawan yang dimana mana. Bagus kalau mereka lagi kerja, kalau mereka lagi ngupil? Ngegosip?”
“Ada apa dengan perkataanmu?”
Samuel menghela napasnya dalam. Ketika dirinya sedang tenang bekerja dan kuliah di luar negara, tiba tiba sosok Ares yang menghilang selama lima tahun itu menariknya dengan begitu mudah. “Plis lah.”
“Gue gak mau tau, lu harus nurutin apa yang gue bilang.”
“Heran ya, lima taun lu ngilang, sekarang tiba tiba gencar deketin si Caca lagi. Emang dia mau balikan sama lu?”
“Yang boleh manggil Caca Cuma gue!” teriaknya sambil menatap Samuel yang berdiri di depannya.
Bahkan sosok itu heran pada Ares, kenapa pria itu sekarang sibuk memikirkan cara mendekati Cantika, buka memikirkan cara minta maaf padanya. “Bilang dulu sama gue, lu kemana lima taun terakhir ini.”
“Gak bisa, gue gak bisa bilang. Apalagi sama lu, emang lu siapanya gue?”
Tuhan, beruntungnya Samuel memiliki kesabaran yang tebal. Yang lebih gila lagi, Ares akan memimpin sendiri perusahaan di tempat Cantika bekerja. Supaya pria itu bisa kembali melakukan pendekatan. Dan untuk perusahaan pusat, Samuel yang akan mengambil alih?
Gila bukan? tapi itulah seorang Ares, memang dipenuhi kegilaan.
🌹🌹🌹🌹🌹
l