
“Yakin tidak mau pergi bulan madu? Aku bisa membawa pekerjaanku jika kau menginginkannya.”
Cantika menggelengkan kepala tetap pada pendiriannya, dia tidak mau membuat Ares membawa pekerjaan ke tempat liburan. Di sana, dia yakin kalau Ares hanya akan terfokus padanya. kasihan sang suami, Cantika tidak mau Ares sakit hanya waktunya terfokus menyenangkan hatinya, sementara pekerjaannya menumpuk dan siap membuat Ares sakit kepala.
“Tidak, kita di rumah saja. aku lebih suka di sini.”
“Benar?”
“Ares jangan memporsir dirimu dengan pikiran pikiran aneh. Aku suka di sini,” ucap Cantika yang sedang memasak makan malam untuk mereka berdua. Sedangkan Ares disibukan dengan berkas, dia membuka berkas itu di ruang keluarga. Sengaja supaya tetap bisa melihat dan mengawasi sang istri.
Melihat Cantika yang sudah memasak membuat Ares heran. Bagaimana bisa sosok itu sudah kembali seperti sedia kala? Berjalan setelah tadi pagi digempur oleh Ares lagi. "Jangan terlalu kelelahan, kita bisa memanggil pelayan untuk bisa membantu membuatkan makan malam."
"Ares diamlah, aku sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan memasak."
"Kau sudah menjadi istri yang baik, Sayang. Kemarilah duduk di sini."
Cantika menoleh pada Ares. "Iam fine okay? Jangan khawatir. Selesaikan pekerjaanmu. Besok aku ingin meminta antar padamu untuk pergi ke flatku dan mengambil beberapa barang di sana."
"Okay, apa lagi yang kau perlukan?"
"Mungkin fokusmu pada pekerjaan, bukan padaku."
Ares terkekeh. Sulit sekali fokus ketika dia melihat sang istri yang sedang memasak di sana. Memiliki seorang yang melayaninya terlebih dia adalah istri dari Ares sendiri. Impiannya akhirnya terkabul. Dia hanya tinggal menunggu Cantika hamil.
Sambil bekerja, Ares sesekali menceritakan bagaimana masa kehidupannya saat sedang kuliah dan bekerja di saat bersamaan. Cantika mendengar lebih banyak tentang Ares, juga tentang bagaimana Ares memiliki banyak penggemar wanita di sana. "Kenapa tidak berkenan dengan salah satu wanita di sana?"
"Yang benar saja. Yang aku suka hanya dirimu saja, Cantika."
"Bagaimana bisa?"
"Hmm? Nanti aku jelaskan sebelum tidur ya," Ucapnya demikian dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Bagaimana kacamata itu bertengger di hidung mancung Ares membuatnya terlihat semakin tampan. Cantika mengalihkan perhatiannya, tersenyum sendiri karena memenangkan pria yang menjadi idola semua siswa di SMA. "Aku dengar akan ada reuni dua bulan lagi. Kau akan ikut?"
"Tentu saja! Aku akan memamerkan kita yang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka." Ares tidak sabaran. Dia juga berencana berhubungan kembali dengan orang orang terdekatnya, mengadakan pesta dengan anak anak basket yang sempat dia tinggalkan tanpa keterangan. "Aku yakin mereka akan marah karena aku meninggalkan team tanpa mengatakan apapun."
"Tentu saja mereka akan marah, Ares. Makannya nanti kau jelaskan saja alasan tidak ingin memberitahu keberadaan di Amerika."
"Dengan mengatakan kebenaran tentang salah diagnosis?" Ares tertawa. "Jangan harap, aku tidak mau mereka tau hal itu. Ini sangat memalukan, Sayang."
"Itu kejadian lucu. Mereka harus tau."
Ares merengek, membuat Cantika semakin gemas sendiri. Dia datang mendekat dengan makan malam yang sudah siap di tangannya. "Biar aku suapi," Ucap Cantika seperti itu dan berusaha membuat Ares membuka mulutnya. Pria itu menerima setiap suapan. Rasa masakan Cantika benar benar enak dan membuatnya terhipnotis sendiri. Tidak mau melewatkan sedikitpun hingga Ares berhenti sejenak dari kegiatan bekerjanya. Namun, Cantika langsung menepuk tangan sang suami sambil berkata, "Fokus kerja. Aku akan menyuapi. Biar nanti setelah selesai, langsung tidur."
"Langsung tidur ya?" Tanya Ares menggoda.
"Jangan macam macam, Ares. Tubuhku masih pegal," Keluh nya yang berhasil membuat Ares tampak khawatir.
"Aku janji tidak akan apa apa lagi kok."
***
Sesuai yang dijanjikan oleh Ares, dimana dia menceritakan kalau banyak sekali wanita yang mengejarnya ketika dia kuliah dulu. “Ada yang memberikanku surat cinta, ada yang memberikanku hal hal lainnya yang mana membuatku pusing sendiri.”
“Kenapa tidak mau mencoba berpacaran?”
“Aku ingin mengejarmu dan aku ingin membuktikan kalau aku benar benar serius.”
“Kenapa kau sangat mencintaiku?”
“Tidak tau, rasanya senang ketika bersamamu, aku bisa menjadi diriku sendiri. aku senang bersamamu, pokoknya seperti itu.”
Cantika tertawa mendengar penjelasan Ares yang begitu simple, dia hanya nyaman bersama dengannya. Tidak apa, Cantika juga demikian. Ares tidak mungkin selingkuh, karena buktinya pria ini masih setia padanya.
“Jadi, besok kita akan kemana dulu?’
“Ke rumah Nenek dulu, lalu setelahnya baru kita ke flatku membawa barang barang.”
“Butuh mobil besar tidak?”
“Tidak perlu, aku hanya membawa laptop dan juga pakaian saja,” ucap Cantika, dia menyamankan tubuhnya di pelukan Ares dengan memeluknya semakin erat. Namun ketika Cantika merasa Ares menggeram, Cantika langsung menjaga jarak. Khawatir Ares akan bangun dan membuatnya kewalahan, Cantika enggan menerima semua itu lagi. Rasanya lelah.
Dan Ares benar benar menepati janjinya. Malam itu, mereka tidak melakukan apapun, hanya tidur sambil berpelukan. Dan akhirnya, Cantika bisa merasa seperti istri seutuhnya dimana dia bangun lebih dulu dan mendapati Ares yang tidur pulas. Meskipum Ares masih mengontrol pekerjaan di rumah, tetap saja Cantika harus bersiap dengan menyiapkan sarapan dan juga melakukan hal hal lainnya layaknya ibu rumah tangga.
Sebelumnya, Cantika mandi dulu, dia ke ruang mencuci. Setelah memasukan pakaian ke sana, Cantika kembali ke dapur, dia melakukan dua tugas sekaligus. Pagi ini, Cantika membuat sesuatu yang simple, roti, salad dan beberapa makanan yang sehat juga. Dia kembali memeriksa pakaian yang tinggal dilipat saja.
Sejenak, masih ada waktu sebelum membangunkan Ares. Cantika diam sendiri di balkon dan melihat kea rah langit seolah Mamanya ada di sana. senyuman yang begitu manis sampai membuat air matanya menetes, kemudian Cantika berucap. “Mama jangan khawatir, sekarang Cantika menemukan tempat untuk Cantika bahagia sendiri. cantika memiliki Ares yang akan menjaga Cantika. Tenang ya,” ucapnya seperti itu.
Setelah mengatakan itu, Cantika melangkah ke dalam untuk membangunkan sang suami. Kakinya melangkah dengan berjingkrak sesekali karena bahagia yang dia rasakan hari ini. menjalani peran yang berbeda, dimana sekarang Cantika membangunkan Ares dengan ciuman berulang kali.
Namun, sepertinya metode yang dilakukan Cantika salah karena hal tersebut malah membuat Ares semakin memejamkan mata sambil tersenyum. “Ares, kalau kau tidak bangun, aku akan makan duluan dan pergi sendiri ke rumah kakek.”
Berhasil, Ares langsung membuka matanya dan menatap Cantika dengan tajam. “Jangan berani melakukan itu. kau harus pergi denganku kemana mana,” ucapnya bergegas mendudukan diri kemudian mencium Cantika. “Selamat pagi, Sayang, kau bahkan terlihat Cantik saat bangun tidur. terlihat sudah mandi.”
“Ares, aku memang sudah mandi,” ucap Cantika dengan tatapan matanya yang tajam.
***
Setelah sarapan, Cantika memastikan dulu Ares tidak memiliki pekerjaan yang wajib dia kerjakan dengan kalimat, “Kau benar benar bebas? Tidak apa?”
“Sayang, lihat, aku hanya tinggal meninjau beberapa hal.” Ares memang agak santai beberapa hari ke depan, makannya mengajak Cantika untuk bulan madu. Tapi sekali lagi, perempuan itu lebih senang berada di rumah dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga.
“Ya sudah kalau begitu. Ayok kita berangkat, ke rumah Nenek dulu ya.”
“Iya.” Ares merangkul pinggang sang istri saat membawanya melangkah pergi keluar dari apartemen, mengendarai mobil sambil berbincang. “Bagaimana kalau kita melakukan program kehamilan?”
“Apa kau benar benar menginginkan anak dalam waktu dekat?” tanya Cantika.
Mendengar nada suara sang istri, Ares yakin ada yang dipikirkan oleh sosok itu. “Kenapa memangnya? Kau belum siap? Aku tidak memaksa, Sayang. tapi alangkah baiknya jika kita melakukan program sekarang kan? Untuk melihat apakah kita sehat atau tidak.”
“Itu yang aku takutkan, aku takut rahimku tidak baik baik saja dan mengecewakan kecebongmu yang unggul.”
Ares sontak tertawa. “Sepertinya kau akan datang bulan ya, makannya menjadi sensitive seperti ini. kita konsultasi saja dulu dengan dokter di sana. bagaimana baiknya.”
“Jangan, nanti saja. kita nikmati kebersamaan ini selama satu bulan. Bagaimana?”
Cantika mengangguk antusias. Memang ini yang dirinya inginkan, mendapatkan waktu jeda dengan beradaptasi dengan posisi barunya. Sampai di rumah Nenek, hanya ada keheningan. Cantika untungnya punya kunci cadangan yang diduplikatkan oleh sang Papa. mereka berdua masuk, rumah tua yang begitu memiliki banyak kenangan.
Melihat bagaimana kondisinya, Ares bertanya, “Apa ada keinginan untuk merenovasi?”
“Ya, Nenek mengharapkannya. Tapi Papa belum memiliki uang.”
“Aku sekarang anggota keluarga kalian, aku ingin membantu,” ucap Ares yang berhasil membuat Cantika terkekeh. “Bukan maksud untuk merendahkan atau apa, tapi aku ingin keluargaku memiliki tempat yang nyaman untuk mereka sendiri. kau paham kan?"
“Tentu saja aku paham, Ares. Untuk masalah ini, nanti kita bicara bersama dengan Nenek ya, sekarang bantu aku mengemasi pakaian.”
“Semuanya?”
“Jangan, aku juga ingin berkunjung dan menginap di sini sesekali.” Cantika menunjuk beberapa barang yang harus Ares bawa. Pria itu menjadikannya kesempatan untuk melihat lihat barang pribadi sang kekasih, khususnya foto foto masa kecil Cantika. Membawa Ares dalam memory ketika Cantika mengejarnya dan selalu mengatakan Ares tampan, sementara Ares menjauhinya karena tidak suka dengan Cantika.
Dipertemukan lagi ketika SMA, Ares memiliki getaran hati yang kuat ketika dirinya tidak terima saat Cantika tidak mengatakan kalau dirinya tampan. “Apa yang kau lihat?” tanya Cantika.
“Kau harus mengatakan pada gadis kecil ini kalau pria impiannya sudah menjadi suaminya, Sayang.”
Melihat foto masa kecilnya, Cantika tersipu sendiri. menyebalkan sekali ketika Ares terus membahas bagaimana dulu dirinya selalu mengejar dan membuat Ares ketakutan. Jika bisa, Cantika ingin memukul suaminya.
Selesai dari rumah Nenek, mereka lanjut ke flat Cantika yang akan mulai disewakan pada orang lain bulan depan. Karena hanya flat kecil, barang barangnya pun tidak banyak. Seperti sebelumnya, Ares yang membantu. “Kenapa ada parfum laki laki di sini?” tanya Ares.
“Ah, itu milik Galuh. Dulu aku kehabisan parfume dan meminta padanya. apakah masih ada?”
“Masih ada, mau dikemabalikan?”
“Tentu saja. tapi sepertinya Galuh tidak ada di sini,” ucap Cantika menerima parfume itu dari Ares.
Sementara Ares hanya terdiam, mereka benar benar dekat smapai parfume juga bertukar aroma.
Seperti takdir saja, pintu flat yang sudah terbuka itu diketuk, mengalihkan perhatian Cantika dan juga Ares.
“Galuh?”
“Hai, maaf jika aku mengganggu,” ucap pria itu. “Kau akan pindahan?”
Ekspresi Galuh yang terlihat biasa saja membuat Cantika tenang, sepertinya sosok itu sudah menerima apa yang menjadi keputusanya. “Ya, ada barang barangmu di sini, mau diambil?” tanya Cantika.
“Tentu saja.” galuh masuk dan menatap Ares. “Mana barang barangku, Bro.”
Ares terkekeh, sepertinya Galuh sudah mengalah. “Ini.”
“Thanks, jaga Cantika ya, dan maaf atas perbuatanku. Terima kasih juga atas jabatannya, akan aku pastikan anaka anak di pelosok mendapatkan pendidikan yang layak.”
“Tentu saja. aku mempercayakan itu padamu, kau yang terbaik untuk memimpin.”
“Haruskah aku mulai memanggilmu Boss?”
Yang dijawab tawa oleh Ares.
Melihat dua pria yang dia sayangi bersama sama melempar tawa, menjadikan Cantika merasa tenang. Galuh adalah sahabatnya, dan Aress adalah suaminya. Setidaknya jika mereka akur, Cantika tidak akan menuduh Galuh jika suatu saat Ares pulang dalam keadaan babak belur.
***
Seminggu suda Cantika menjadi istri seorang Ares, Keluarganya dan keluarga Ares pulang ke Jakarta hari ini. dan mereka memutuskan untuk berkumpul di kediaman keluarga Cantika mengingat sekarang Cantika sudah ada di sana lebih dulu menanti dua keluarga itu.
“Mereka masih lama?” tanya Ares yang terlihat gelisah.
“Masih, kenapa memangnya?”
“Aku tidak sengaja menjatuhkan kue pesanan Oma, apa masih ada waktu kalau aku membelinya lagi?”
“Tentu saja. sana beli. Aku tidak mau menjadi obyek amukan Oma.”
“Tidak apa aku tinggal sendiri?”
“Ares, aku bukan anak kecil.”
Karena itu, akhirnya Ares bergegas pergi dengan menggunakan mobil dan meninggalkan Cantika sendiri di rumah Nenek. Sayangnya, beberapa menit setelah Ares pergi, dua keluarganya itu datang dengan hebohnya, membuat Cantika tersenyum senang saat mereka menggoda.
“Ini dia pengantin baru yang kita tinggalkan.”
“Bagaimana malam pertamanya?”
“Astaga, Cantika terlihat kelelahan.”
Kalimat kalimat seperti itu contohnya. Di sisi lain, Ares sedang terburu buru ketika mendapatkan pesan dari Cantika kalau orang orang sudah datang, sementara dirinya masih saja mengantri kue yang Oma inginkan.
Menunggu beberapa menit, akhirnya Ares segera kembali ke rumah Nenek. Namun sayangnya, dia tidak melihat banyak orang di sana. hanya ada Alden dan juga Nenek di sana. “Kemana yang lain?”
“Cantika pingsan, dia masuk rumah sakit. Sana susul.”
Ares panic bukan main, dia langsung kembali ke dalam mobilnya dan pergi ke rumah sakit. Begitu dia berlari di koridor, sudah ada keluarganya di sana. dia mendekat dengan terengah engah. “Bagaimana kondisi Cantika? Bagaimana dia bisa pingsan?”
“Dokter belum keluar,” jawab Papa mertuanya. “Cantika tiba tiba pingsan ketika mengambil gelas, padahal sebelumnya dia baik baik saja.”
Sampai akhirnya, sang dokter keluar dan membuat suasana di sana menjadi hening. Athena, Ares, David, Lily, Oma dan juga Papa Cantika di sana mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh dokter.
“Bagaimana keadaan istri saya?”
“Istri anda baik baik saja, Tuan. Ini hanya efek dari kelelahan saat mengandung.”
“Apa? Dia mengandung?” tanya Lily kaget.
“Ah, kalian belum mengetahuinya? Nona Cantika sedang mengandung dengan usia kandungannya 4 minggu.”
Yang seketika membuat semua orang terdiam kecuali Oma. Semuanya menatap tajam Ares kecualo Oma.
“Ares, tiga minggu?” tanya David dengan tajam.