
Menuruti keinginan Ares, Cantika mencoba sabar dengan naik ke penthouse dengan lift pribadi. Bahkan sang asisten pribadi sudah menunggu kedatangannya dan mengantarkannya sampai Cantika pintu lift kembali terbuka.
"Silahkan."
"Eung, dimana Tuan Ares?"
"Tadi ada di kamarnya. Silahkan," ucap sang asistennya Ares seolah menyuruh Cantika untuk segera keluar. Cantika mendengus kesal, dia akhirnya melangkah keluar dari dalam lift kemudian melihat lihat sekitar. Tempat tinggal yang sangat mewah, Cantika terkesima sampai akhirnya tatapannya terpaku pada foto Ares yang sedang wisuda. Dia terlihat sangat tampan, membuat Cantika ikut tersenyum karenanya.
Apa saja yang pria itu lakukan selama ini? Kenapa tidak ada dirinya di sana untuk ikut berfoto kelulusan? Kenapa tidak ada kabar? Kenapa hanya ada kesendirian untuk dirinya saat melihat Ares yang terlihat bahagia memakai toga.
"Aku tau aku tampan sampai kapanpun. Tolong berkedip, aku takut matamu sakit."
Cantika menarik napasnya dalam dan mengalihkan pandangan pada pria yang baru saja keluar dari kamarnya. "Tuan, bukankah anda tidak enak badan?"
"Ya, tapi melihatmu aku merasa seembuh saat ini juga."
"Apa yang harus saya lakukan untuk anda?" Cantika langsung mengganti topik pembicaraan, dia perlu untuk segera pergi dari sini.
"Yang harus kau lakukan untukku? Jadilah pendamping hidupku."
"Maaf, Tuan. Saya harus bergegas kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang tidak berjalan sesuai rencana hari ini karena anda sakit. Jadi, apa yang harus saya lakukan?"
Ares berdeham mendapatkan tatapan tajam dari Cantika. "Oke, kau rapat dengan pimpinan perusahaan ini, dengarkan apa kata mereka dan catat hal hal buruknya. Bilang pada mereka juga kalau keputusannya akan aku katakan lima hari dari sekarang."
"Baik, saya akan mempelajarinya. Kalau begitu saya permisi, apa ada lagi yang harus saya lakukan?"
"Ya, jadi pendamping hidupku."
"Saya permisi, semoga anda lekas sembuh," ucap Cantika kemudian melangkah pergi dari sana.
Ares hany tersenyum melihat kepergian Cantika, tapi begitu sang mantan menghilang saat tertutupnya pintu lift, Ares langsung berteriak, "Waaaaaaa!" Kemudian terdiam dan bergumam, "Mantanku cantik sekali. Eh mantan? Tapi belum putus kan?"
*****
"Please. Gue cuma punya waktu beberapa bulan buat deketin dia lagi. Please."
"Lagian lu gak perlu buat deketin dia kalau lu jujur sama dia. Bilang kalau lu itu cinta sama dia, dan jelasin tentang kepergian lu."
"Tapi itu aib gue," gumam Ares dengan malu malu. "Masa gue bilang tentang aib gue sendiri? Gila aja, gue malu ih."
"Ya terus? jangan kalau Cantika sama Galuh nantinya."
"Oh! Lu mau gue pecat? Terus gue bikin lu gak bisa kerja di mana mana?"
Samuel langsung terdiam. Dia mana berani berkata kata lagi jika Ares sudah seperti itu. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menggelengkan kepalanya kemudian mengangguk sambil berkata, "Aku akan melakukannya, Tuan."
Ares kemudian melangkah menuju balkon setelah mengibaskan rambutnya.
Sore hari menjelang, matahari terbenam. Namun fokus Ares lebih pada sosok di bawah sana yang mencari keberadaan taksi. Sosok yang sangat dia kagumi dan sangat dia rindukan. Andai dirinya bisa memeluk sosok tersebut.
"Tuan?" Panggil Samuel dari belakang.
"Jangan ganggu aku, aku sedang mencoba untuk mendapatkan kekasih hatiku lagi."
"Anda sedang flu, tidak baik berada di luar."
"Uhuk uhuk!" Ares langsung menyadarinya dan menatap kesal pada Samuel karena mengingatkannya pada hal ini. "Ini gara gara kau, Asisten!"
"Ma- maaf, Tuan."
"Kau mengingatkanku sedang flu! Uhuk! Uhuk!" Kemudian dia melangkah pergi dari sana dan kembali ke dalam sambil memeluk dirinya sendiri. "Cepat carikan dokter, aku tidak sabaran untuk bisa berduaan dengan sekretarisku sendiri."
****