
“Galuh, apa kau mendengarku?”
“Ya, aku mendengarkanmu.”
Cantika terdiam sejenak, dia sendiri bingung dengan apa yang harus dikatakannya pada Galuh lagi. “Kau tidak keberatan bukan?”
“tentu saja tidak. Itu hanya sebatas pekerjaan saja. selama kau tidak mencintai Ares, aku tidak apa apa. Benar bukan?”
Cantika mengangguk, tapi kemudian dia diam lagi tanpa membalas kalimat sosok itu.
“Cantika, kau tidak mencintai Ares bukan? apa kau masih mencintainya?”
“Mana mungkin aku mencintai pria yang sudah meninggalkan aku di hari ibuku meninggal,” ucapnya kemudian terkekeh. “Tidak mungkin, aku tidak mencintainya.”
“Itu artinya, kau masih memberikan izin padaku untuk membiarkan aku melakukan yang terbaik selama dua bulan bukan?”
“Tentu saja.” cantika mengulum bibirnya kemudian menatap jam. Rasanya canggung sekali melakukan hal ini dengan Galuh, namun Cantika merasa kasihan jika dia mendorong pria itu secara tiba tiba dan memintanya menjauh pergi. “Aku tutup telponnya sekarang?”
“Oke, nanti aku hubungi kau lagi.”
Cantika mengangguk, dia menghela napas lega ketika panggilan tertutup.
“Cieeee, jadian ya?”
“Apasih, Mbak,” ucap Cantika tidak suka, dia segera pindah ke meja sekretarisnya yang ada di depan pintu ruangan Ares sebelum teman kerjanya kembali meledeknya. Cantika menatap pintu yang tertutup itu, kemana Ares pergi?
Bahkan sampai sore hari datang, Ares belum juga kembali. Cantika terpaksa harus menunda beberapa meeting karena dia sendiri tidak mendapatkan jawaban dari Ares. Mengingatkannya pada masa lalu, dimana Cantika diabaikan oleh Ares.
Menghela napasnya dalam, Cantika mengelus dadanya sendiri. “Sudah berakhir. Ayo pulang,” ucapnya kemudian melangkah keluar dari gedung itu.
Cantika berencana untuk makan malam sendirian di apartemennya. Hatinya belum bisa tenang sekarang ini, dia takut sesuatu yang buruk terjadi di masa yang akan datang. Dimana dia dan Ares akan sering bertemu. Bukan dirinya yang merasa tidak baik baik saja, tapi hatinya….
*****
“Lu gila, Ar. Jangan gitulah. Nanti kalau Cantika jadi sekretaris lu, gue apa kabar?”
“Jadi asisten pribadi lah, tapi ngumpet jangan ketauan Cantika.”
“Jadi secara gak langsung, gue yang jadi tangan kanan lu gitu? Lu Cuma butuh raganya Cantika aja gitu?”
“Lu jujur coba sama Cantika kenapa dulu lu ninggalin dia.”
“Gue maunya jujur sama dia kalau dia udah sama gue lagi.”
“Ya gimana dia mau sama lu kalau dia keinget lu ninggalin dia pas ibunya ninggal. Kebayang gak gimana sakitnya dia? Mana sekarang dia Cuma punya bokap doang, dia bener bener gak punya siapa siapa lagi.”
Ares menghela napasnya dalam. dia mengambil jasnya. “Keputusan gue mutlak, dia bakalan dipindahin ke kantor utama, gue gak bisa kerja di tempat kecil yang bahkan Cuma ngasih recehan. Nanti bokap gue marah.”
“Apa kabar Cantika? Jangan permainin dia lagi.”
“Enggak, lu lakuin aja apa yang gue suruh. Tapi jangan sampai lu ketemu sama Cantika, apalagi ngaku sebagai asisten gue,” ucapnya kemudian melangkah pergi dari sana.
Samuel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana ya nasib Cantika ke depannya? Atau lebih tepatnya, Samuel penasaran dengan apa yang terjadi dua bulam ke depan? Dimana itu akan menjadi puncak akhir dari keduanya.
Samuel ikut keluar dari bar tersebut dengan perasaan yang gundah, dia pasti akan menjadi anjing peliharaan Ares untuk ke depannya.
Begitu melangkah keluar bar, Samuel mendengar suara rame dari pinggir tempat itu. Dia segera datang ke dana. “Kenapa, Pak?”
“Itu, ada gembel masuk got.”
“Hah?” Samuel kaget, dia melihat ke arah got dan membulatkan matanya. “Wah, majikan saya itu. Bantu batu.”
Mereka membantu mengeluarkan Ares yang masuk got.
“Kok bisa ke sana sih pak?”
“Mabuk dia, Mas.”
“Perasan dia gak mabuk berat deh.”
“Kata yang lain dia ngoceh mulu.”
Samuel menggelengkan kepalanya sambil menutup hidung. “Anjirlah, gue kira suhu. Ternyata cupu. Segitu aja udah teler.” Samuel berjongkok untuk melihat. "Tuan besar yang mulia, ayo pulang."
****