STUCK WITH MY-EX

STUCK WITH MY-EX
Bersikukuh


Cantika masih membantu Ares dalam menggerakan kursi rodanya. Kini hanya tinggal mereka berdua di sana, sang supir diperintahkan oleh Ares untuk tidak mengikuti mereka.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan di sini, Tuan?”


“Tentu saja kau harus menggantikan pekerjaan asisten pribadiku, Cantika. Seperti membantuku melakukan hal hal kecil.”


“Dan sekarang, apa yang ingin anda lakukan?” Tanya Cantika mengingat mereka sudah cukup lama berhenti di ruang tengah apartemen, hanya diam di sana dengan posisi Cantika yang ada di belakang Ares; di belakang kursi roda. “Anda lapar? Ingin istirahat atau ingin berbaring.”


“Aku ingin berbaring sambil memeriksa tab ku.”


“Dimana kamar anda?”


“Di sana,” ucap Ares sambil menahan senyumannya saat Cantika membawanya ke sana. Hidungnya kembang kempis saat Cantika benar benar masuk ke sana bersama dengannya.


Dan hal yang membuat Cantik kaget adalah desain kamar Ares. Dia pikir kamar Ares akan dipenuhi warna hitam yang mendominasi, tapi nyatanya kamar Ares bertemakan luar angkasa dalam model orang dewasa. Benar benar terlihat bagus.


“Bantu aku untuk berbaring di ranjang.”


Cantika mengerutkan keningnya. Hell, Ares begitu tinggi dan juga besar, bagaimana dia bisa membantunya? “Kaki anda baik baik saja ‘kan, Tuan?”


“Tapi aku pusing jika berdiri, maka dari itu bantu aku berdiri.”


Cantika dengan terpaksa menundukan tubuhnya dan membiarkan Ares merangkul bahunya. Sementara Cantika yang terlihat terpaksa, Ares sendiri malah bersorak dalam hati, “Uhuuyyy! Peluk Cantikaa!” begitulah isi pikirannya.


Cukup berat meskipun sebentar, dan juga melelahkan. Cantika membantu Ares untuk berbaring di sana. “Di mana tab anda?”


“Itu, di nakas sisi itu. di bagian lacinya.”


Cantika berputar ke sisi lain ranjang, dia membuka laci untuk mengambil tab. Tapi ada satu obyek yang membuatnya terdiam sejenak, ada foto dirinya bersama dengan Ares dengan figura yang sama seperti dulu. Itu adalah foto yang Cantika berikan untuk Ares.


“Apakah ada?”


Cantika mengangguk dan segera memberikannya pada Ares. “Apa ada yang lainnya yang harus saya lakukan?”


“Ya, tolong masak bubur kenari. Aku menginginkannya.”


“Baik, Tuan.”


Dan saat Cantika berbalik menuju pintu.


Cekrek! Dia mendengar suara seseorang yang memotretnya, membuatnya berbalik dengan kening yang berkerut,


“Aku sedang sellfie,” ucap Ares. “Untuk laporan pada Mommy.”


Cantika mengangguk kaku, kemudian kembali melangkah.


Cekrek! Cekrek! Cekrek! Kali ini Cantika mengabaikannya, mungkin hanya perasaannya saja kalau dirinya yang menjadi obyek foto.


Begitu Cantika keluar, Ares bersorak gembira dengan suara yang tertahan. “Akan pamer pada Daddy kalau aku bisa membawa perempuan ke kamar. Hihi, mana itu Cantika lagi.”


Seperti seorang remaja yang jatuh cinta.


***


“Kenapa? Tidak mau merapikan rambutku?” Tanya Ares.


“Tapi anda akan tidur, Tuan, nanti rambut anda kembali kusut.”


“Tidak apa apa, tolong bantu rapikan. Tanganku sulit melakukannya karena sedang memegang tab.”


Dengan posisi Ares yang menyandar di kepala ranjang, Cantika hanya bisa menarik napasnya dalam. Tadi dia sudah menyuapi, sudah memotong kuku majikannya. Dan sekarang, Cantika merapikan rambut Ares yang pirang ini.


Dan dari jarak sedekat ini, Cantika bisa mencium aroma parfume yang Ares gunakan, begitupun dengan Ares. Keduanya memakai parfume yang sama setelah sekian lama.


Ares menarik napasnya dalam, dia menunduk dan focus lagi pada tab di tangannya. Dan tanpa sengaja, Cantika melihat kalau Ares menggunakan fotonya sebagai wallpaper. Dan hal tersebut membuat Cantika sendiri tidak nyaman.


Dia tidak hanya mendapati foto dirinya sekali, tapi berkali kali. Di dapur, ada figura juga yang didalamnya terdapat foto dirinya. Dan itu membuat Cantika sedih, apa Ares sedang mempermainkannya? Cantika menghentikan gerakannya menyisir Ares. “Sudah rapi, Tuan.”


Sadar dengan Cantika yang sedang sedih dan hendak pergi. Ares menahan tangannya. “Kau kenapa?”


“Tidak apa apa.”


“Hidungmu selalu memerah jika kau sedang menahan tangis. Kenapa kau ingin menangis? Katakan padaku.”


Cantika menepis pelan tangan Ares. “Saya tidak apa apa.”


“Caca….”


Dan sampailah puncak emosi Cantika di sana, dia menatap Ares dengan tajam. “Tolong hentikan ini, tolong hentikan apa yang sedang kau lakukan. Jangan libatkan masa lalu dalam pekerjaan kita, kalau kau memang membutuhkanku sebagai pegawaimu, maka lakukan. Jangan pernah lagi mengulang masa masa itu. itu adalah masa lalu. Dan kenapa fotoku masih banyak di sini? Kenapa wallpaper itu juga menggunakan fotoku? Berhenti, tolong jangan mengganggu kehidupanku dengan hal hal seperti itu. hubungan kita tidak lebih dari sekedar bos dan bawahan. Setelahnya, kita tidak terlibat hubungan apapun lagi.”


Ares menatap sedih ketika mata Cantika berkaca kaca. “Tapi aku mencintaimu.”


“Berhenti juga mengatakan hal omong kosong seperti itu. sudah cukup, aku tidak butuh kata itu lagi. Semua orang bisa mengatakannya, bahkan anak TK sekalipun. Berhenti, aku mohon jangan lakukan itu lagi.”


Ares terdiam, dia melihat air mata Cantika yang menetes dan hendak menyekanya. Tapi untuk yang kesekian kalinya, Cantika kembali menepisnya. “Tidak ada hal seperti ini juga, hentikan. Mari kita professional, sebagai atasan dan bawahan. Tolong jangan biarkan aku melihat foto fotoku lagi di sini.”


“Hanya itu yang tersisa darimu untukku. Aku tidak bisa membuangnya.”


“Kalau begitu, katakan alasanmu pergi waktu itu, memutuskanku dengan begitu teganya dengan kata kata yang menyakitkan. Kau pikir aku mau mengingatnya?”


Ares terdiam.


“Kau mau menjelaskannya?”


“Hanya satu penjelasan, aku melakukannya karena mencintaimu.”


Lagi lagi Cantika dibuat kesal, dia menarik napasnya dalam dan terkekeh. “Nenek benar.”


“Benar apa?”


“Kau goblok.”


***