
“Apa maksudmu?”
Ares terdiam, dia kaget bagaimana hal ini bisa bocor. Memang kenyataannya seperti itu, Ares adalah pemilik yayasan tempat galuh bekerja. Dan dia memanfaatkan itu untuk bisa membuat Galuh menjauh dari Cantika sehingga dirinya bisa mendapatkan kesempatan berdekatan dengan Cantika.
“Ares, kupikir kau harus mengakuinya. Kalau ternyata kau adalah pemilik Yayasan tempat aku bekerja dan senngaja membuangku ke luar pulau supaya kau bisa berdekatan dengan Cantika. Benar kan?”
Cantika menoleh pada Ares yang menatap tajam Galuh, rahang pria itu mengeras.
“Cantika, harusnya aku mengatakan hal ini sejak beberapa hari yang lalu supaya kau tidak menikahi pria sepertinya.”
“Apa maksudmu?” tanya Cantika dengan nada yang tidak nyaman.
“Dia pria brengsek.”
“Bukan, dia bukan pria brengsek, dia suamiku. Jikapun benar kalau kau dipindahkan ke luar pulau karena kekuasaan Ares, hal itu menunjukan kalau Ares memang mencintaiku dan ingin mengejarku.”
Galuh terkejut dengan jawaban itu, dia mengharapkan Cantika akan marah dan melepaskan Ares, mengatainya dan membelanya. “Cantika, aku terluka karena pria di sampingmu.”
“Ares mungkin mengirimmu ke luar pulau, tapi dia tidak akan pernah melukai seseorang. Kau pasti terjatuh karena alasanmu sendiri. kau juga menyukai pekerjaanmu itu kan? Dan aku yakin nantinya Ares akan memberimu posisi yang baik karena sudah melakukan kebaikan.” Baru juga Galuh hendak berucap, Cantika lebih dulu menyela. “Aku meminta bertemu denganmu hanya ingin meminta maaf karena aku tidak bisa menepati janji, terlepas bagaimana campur tangan Ares atas kepergianmu, itu bukan urusanku. Aku hanya melihat dari sisi dimana Ares melakukannya karena mencintaiku.”
“Tapi dia mengambilmu dariku, Cantika. Ini tidak adil, dia menggunakan kekuasannya,” ucap Galuh terdengar frustasi.
Membuat Cantika menghela napasnya dalam. Dia melepaskan genggaman tangan pada Ares dan memberikan tatapan kalau apa yang akan dia lakukan ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Dimana Cantika datang mendekat pada Galuh kemudian memeluknya. “Aku tidak bisa memaksakan perasaan, aku hanya mencintai Ares selama ini. keberadaanmu di sampingku aku artikan sebagai kasih sayang seorang kakak pada adiknya.”
“Tapi aku tidak pernah menganggapmu adik, Cantika. Aku menyukaimu layaknya seorang wanita.”
“Aku tau. Makannya aku minta maaf,” ucapnya kemudian melepaskan pelukan, mundur dan menggenggam tangan Ares lagi. “Bagaimana pun suamiku, aku yakin dia akan menggantinya dengan hal yang lebih besar.”
“Tida ada yang bisa menggantikanmu dihatiku, Cantika. Ini tidak adil.”
“Maaf, Galuh.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Cantika sebelum dirinya membawa Ares pergi dari sana.
Sejak tadi, Ares kelu. Dia tidak menyangka kalau Cantika akan membelanya, menyatakan secara tegas kalau Cantika ada di sisinya meskipun dia tau apa yang dilakukan oleh Ares sebelumnya. “Sayang,” panggil Ares.
“Tidak, Ares. Jangan sekarang. Kita bicara nanti ya.” suaranya begitu lembut, dia menghadap Ares dan membelai pipi sang suami. “Kita akan bicarakan masalah ini nanti. Intinya aku merasa lega dengan Galuh yang sudah aku lepaskan. Jangan membuat para tamu tidak nyaman dengan pertengkaran kita, ayo kita nikmati saja.”
“Pertengkaran?” tubuh Ares menegang. “Apa kita akan bertengkar nanti?”
Cantika menaikan bahunya. “Aku tidak tau, tergantung dengan apa yang akan kita bahas nanti.”
“Cantika, aku tidak mau bertengkar. Ayo selesaikan saja sekarang, Sayang,” ucap Ares merengek.
“Jangan seperti ini, Ares. Mereka akan curiga, ayo kita biasa saja dan menikmati pesta ini.”
***
Namun bagaimana bisa Ares menikmati pesta dengan posisi sang kekasih hati belum memberikan kepastian dengan emosinya. Pertengkaran? Demi Tuhan, mereka baru saja menikah dan akan melangkah di fase itu. namun sepertinya Ares harus menerima karena apa yang terjadi itu atas ulahnya juga.
Benar kata Cantika juga, dia harus memaksakan senyumannya ketika teman temannya datang. Itu teman teman satu bisnisnya, yang satu SMA hanya Athena dan Samuel, mereka masih belum tau kalau Ares hidup.
“Whoaaa, selamat, Bro,” ucapnya begitu.
Sebagian dari mereka adalah orang Amerika asli. Dengan kesempatan ini, Ares menarik pinggang Cantika dan membawanya mendekat supaya diperkenalkan pada temannya saat kuliah yang sekarang menjadi partner bisnis.
“Pantas saja kau tidak pernah berpacaran, ternyata wanita idamanmu secantik ini.”
“Ya, dia adalah satu satunya wanita yang membuatku jatuh cinta sampai tidak bisa melihat ke yang lain hati.”
Sementara Cantika dan Ares masih menemui beberapa orang yang datang, Athena sibuk sendiri mengupas jeruk. Sedari tadi dia juga ke sana ke mari berkenalan dengan partner kerja sang Daddy.
“Sayang sekali tidak ada teman teman SMA ya? mereka entah ada di mana,” ucap Samuel duduk di samping Athena.
Membuat perempuan itu menghela napasnya dalam. “Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Aku muak denganmu.” Karena Samuel yang selalu ada di sekitarnya dan malah terus menyatakan cinta pada Athena. Ini janggal, karena sejak dulu Samuel itu hanya mencintai Arin. Bahkan dengan Athena tidak pernah berkomunikasi intens, lalu sekarang bagaimana?
“Tidak ada, aku benar benar menyukaimu. Hanya saja dulu aku tidak berani karena Ares begitu galak, jadi aku memacari Arin saja.”
“Ck, menjauh dariku.”
“Kau tau tidak? Nanti akan ada reuni SMA. Kita bisa terhubung lagi dengan teman teman di sana.” memang benar, acara besar ini tidak dihadiri oleh teman teman SMA, mereka semua entah ada di mana. Ares juga yang enggan mengundang mereka dan mengatakan kalau geng basket dan anak SMA punya pestanya sendiri nanti. “kau akan datang kan?”
“Entahlah, aku mungkin sudah ada di Amerika. Tidak di sini lagi.”
“Tidak akan menyenagkan kalau tidak ada dirimu. Aku juga butuh teman kencan ke sana, kau tidak mau?”
“Sam, kau membuatku kesal. Berhenti mendekat,” ucap Athena.
“Lihatlah, pasangan itu sepertinya akan memulai pertengkaran. Ares seperti sedang membuat Cantika mendapatkan perasaan yang lebih baik.”
Pembicaraan dengan Ares yang selalu membuat Athena tertarik, dia akhirnya berbincang dengan Samuel. “Kenapa kau sampai mau menjadi asistennya? Akan berapa lama?”
“Tidak tau, aku membutuhkan uang untuk membangunkan perusahaanku yang bangkrut, jadi sepertinya cukup lama.”
“Ares tidak mau diajak kerjasama?”
Samuel menggelengkan kepala. “Dia bilang tidak berpotensi dan buang buang uang. Dia baru mau melakukannya padaku jika aku sudah membuktikan kalau aku bisa.”
“Ya memang, lagipula tidak kan ada wanita yang mau dengan pria miskin sepertimu.”
“Jika aku tidak miskin, apa kau ingin menikah denganku?”
Athena menghela napasnya dalam. “Tidak tau, tapi aku ingin punya keluarga juga.”
“Ayo denganku saja, menikah kontrak juga tidak apa apa.”
BRUK! Seketika Athena memukul kepala Samuel dengan tasnya, perempuan itu bahkan langsung berdiri. “Pernikahan bukan untuk dimainkan tau. Kau terlalu lama dengan Ares, jadi tertular ketololannya. Aku tidak mau denganmu.”
Dan meninggalkannya Samuel di sana, dimana pria itu hanya bisa mengelus kepalanya yang terasa sakit.
***
“Tapi kami sudah menyiapkan kamar untukmu. Sayang sekali jika tidak ditempati,” ucap Oma seperti itu, dia memakasa Ares untuk menggunakan kamar yang sudah dipesan. “Harganya mahal, kau ingin buang buang uang?”
“Nanti uangnya akan Ares ganti, kalian jangan khawatir ya. kami mau ke apartemen dulu.” Karena Ares sendiri mencurigai sesuatu jika tidur di hotel ini.
“Jangan seperti itu, tidur saja di sini. toh kalian bebas mau di sini beberapa malam juga. Oma yang menanggungnya.”
Tadinya Ares hendak menolak lagi, tapi Cantika malah berkata, “Tidak apa apa, ayok kita ke sana saja. kasihan Oma sudah memesannya.”
Ketika Oma tersenyum misterius, Ares sudah menduga kalau sosok itu menyimpan sesuatu di kamar mereka. jadinya terpaksa Ares membawa Cantika ke kamar yang dimaksud. Sebuah suite room dengan pemandangan yang sangat indah. Dalam langkahnya, Ares membantu Cantika memegangi gaun. “Apakah kesusahan?”
“Ini lebih mudah, sepertinya aku terbiasa.” Cantika berucap dengan nada datarnya. “Setelah aku mandi, ayo berbicara.”
Kini malah Ares yang terlihat seperti perawan akan ditiduri, ketakutan bukan main. Khawatir menjadi boom dalam kehidupan rumah tangganya. Ares menghela napas, tapi jika dia tidak melakukan itu, bagaimana bisa Cantika selalu bersama dengannya?
Sambil menunggu Cantika yang ada di kamar mandi, Ares memeriksa sekitar. Dia yakin kalau Oma nya menyimpan sesuatu di sini, seperti kameran atau hal lainnya. Bahkan Ares memeriksanya sampai ke bawah meja yang ada di kamar.
Biwir berem berem jawer hayam…. BRUK! Ares reflex mengangkat kepalanya karena mendengar ponselnya berbunyi, dia segera mengangkatnya sambil memegangi kepala yang terasa sakit. “Hallo, Mommy?”
“Sayang, Mommy lupa memberitahukan ini. mommy dan keluarga akan pergi ke Bali untuk berlibur seminggu. Kami tidak bisa mengajakmu karena kau harusnya melakukan liburan terpisah, bulan madu tidak harusnya disatukan bukan?”
“Aku paham, Mom. Jangan khawatir.”
“Nah begitu. Mommy juga mengajak keluarga Cantika, tapi mereka menolak. Dan kami akan berangkat besok pagi. Sepertinya besok pagi kau tidak bisa ditemui ya?”
“Tidak bisa, Mom.” Ares tidak tau, besok dirinya akan mati karena kenikmatan, atau sekarat karena dipukuli Cantika.
“Iya Mommy paham,” ucap Lily sambil terkekeh. “Jangan sampai terluka ya.”
“Mommy doakan semoga Ares selamat ya, Mom.”
Lily tertawa di sana, pemikiran Ares dan sang Mommy itu berbeda. “Sudah ya, Mommy tutup dulu telponnya oke?”
“Oke, nanti Mommy akan kembali ke Jakarta kan sebelum ke Amerika?”
“Tentu saja, Mommy akan berpamitan pada kalian. Untuk hadiah pernikahan, sebutkan saja apa yang kalian butuhkan ya.”
Karena memang, keluarganya belum memberikan hadiah pernikahan. Mereka menunggu Ares yang meminta dengan mengatakan apa yang dibutuhkan seperti rumah, atau yang lainnya.
Ketika telpon ditutup, Ares kembali mencari sesuatu untuk menjadi bukti kalau Oma memang menyiapkan hal mengerikan untuknya.
“Ares, apa yang kau lakukan?” tanya Cantika keluar dari kamar mandi.
“Ini dia!” ares merasa senang. “Lihat, Oma jahil. Dia menyimpan alat perekam suara di sini. lebih baik kita pergi ya. aku khawatir desahanmu mala mini dikonsumsi orang lain.”
Mata Cantika menyipit. “Kau yakin aku akan mendesah malam ini?”
Yang berhasil membuat Ares menelan salivanya kasar, dia tidak tau bagaimana nasibnya nanti.
***
Sesuai keinginan Ares, Cantika ikut pulang ke apartemen dengan kondisi yang sudah mandi. Dalam perjalanan, dia hanya diam saja. ketika Ares berkata, “Bisa kita bicara sekaarang?”
“Nanti, kita sedang berada di perjalanan. Aku takut kita tidak sampai di apartemen.”
Membuat Ares menelan salivanya kasar, dia pernah mendengar kalau Uncle Luke saangat takut dengan istrinya. Ternyata seperti inilah rasanya, dimana Ares sendiri tidak bisa berkutik dan terus bertanya tanya apakah umurnya akan bertahan lama?
Begitu sampai di apartemen, Cantika masuk ke kamar Ares lebih dulu. kopernya belum dibawa ke sini, masih ada di rumah sang Nenek dan hanya membawa pakaian ganti sebagian saja. itu jua masih ada di hotel karena Cantika malas membawanya. “Tidak mau mandi dulu?” tanya Cantika.
“Tidak, aku ingin cepat cepat menyelesaikan hal ini. aku ingin tidak ada kesalahpahaman diantara kita, aku ingin menjelaskannya.”
“jadi?”
Berakhir dengan mereka yang duduk di bibir ranjang saling berhadapan. Ares menarik napasnya dalam dan mulai menjelaskan kenyataan kalau dirinya memang membuat Galuh pergi dari Jakarta untuk melakukan kegiatan social di luar pulau, tujuannya juga untuk mendapatkan Cantika. “Tapi demi Tuhan, aku tidak berniat melukainya. Aku juga berniat memberikan yayasan itu atas nama Galuh karena dia memang berpotensi. Aku tidak pernah berniat hal yang lain, aku hanya menginginkanmu.”
Cantika menghela napasnya dalam. “Kalau aku memilih untuk bersama dengan Galuh meskipun kau sudah memindahkannya ke luar pulau, apa yang akan kau lakukan?”
Ares kaget, bahunya lemas mendengar pertanyaan itu. dia memandang Cantika dengan penuh kekecewaan. “Memangnya apa lagi yang aku bisa lakukan? Kau menginginkannya, dan kebahagiaanmu adalah segalanya untukku. Jadi aku tidak akan masalah kalau kau menginginkan itu, Cantika.”
Cantika diam, memandang pria yang terlihat menyesali perbuatannya itu.
Ares memberanikan diri untuk bertanya, “Apa kau akan kembali padanya? di malam pernikahan kita?”
“Jangan konyol, aku sudah terjebak denganmu. Kau berfikiran dangkal.”
“Jadi? Kau memilihku kan?”
“Ares, aku menikahimu. Jelas aku memilihmu. Aku tau kau sangat mencintaiku.”
Ares tersenyum lega. “Jadi kau memaafkanku?”
“Kau tidak salah, kau hanya sedikit bodoh,” ucap Cantika terkekeh kemudian memeluk Ares dengan erat, “Aku akan selalu jadi milikmu, terjebak denganmu. Jadi jangan lakukan hal hal aneh lagi ya.”
Ares mengangguk kuat, dia tidak mau apa apa lagi setelah mendapatkan Cantika. Pelukan pada sang istri, dia eratkan dan berikan kecupan berulang kali di bahu telanjangnya karena kerahnya yang terbuka. “Cantika, ini malam pertama kita kan?”
“Ah iya,” ucap Cantika jadi malu malu, dia melepaskan pelukan. Tapi tidak bisa melarikan diri karena Ares menahan pinggangnya hingga Cantika duduk di pangkuan Ares. “Ares…”
“Bisa aku mendapatkan hakku?”
Cantika mengangguk malu malu, tangannya terangkat membuka kancing pakaiannya sendiri. ini memang hak Ares, lagipula Cantika mencintai pria itu.
Sementara, Ares pertama kali melihat tubuh Cantika dalam keadaan sadar sepenuhnya. Jantungnya berdetak kencang melihat bagaimana bongkahan dua gunung kenyal itu hanya tertutup braa saja. hingga saat Cantika melepaskan braa nya.
“Ares! Kau mimisan!” teriak Cantika panic.